Yang Terdalam

Yang Terdalam
Hari Ke Empat Avant Part 1


__ADS_3

[Episode 042 - Hari Ke Empat Avant Part 1]


"Apa aku telepon saja ya?"


Ponsel yang ada diatas meja ruang tamu diambil oleh Aufia. Nama kontak Avant adalah hal yang pertama ia cari.


"Angkat, Avant!"


Cemas.


Aufia cemas karena Avant tak kunjung menerima telepon darinya. Ini tidak seperti biasanya. Atau Avant masih tertidur? Tidak mungkin.


Padahal hari ini Aufia sangat butuh Avant untuk mengantarnya ke perpustakaan kampus karena Qevna sibuk saat Aufia minta tolong tadi. Tapi kemana Avant? Aisshhh...!!!


Menghela nafas. Aufia kini melanjutkan untuk membuang sampah. Ternyata pekerjaan rumah begitu banyak dan menumpuk. Astaga...


...•...


...•...


...•...


Wanda Ayu Kanuraga, istri dari Hadiyata Kanuraga atau Ibu dari Avant Kanuraga.


Wanda sekarang berada di dalam kamarnya dan duduk diatas tempat tidur. Setelah berdebat dengan putra semata wayangnya tadi, kini Wanda merasa sangat bersalah. Keputusan yang ia ambil terlalu tergesa dan terburu-buru hingga tidak melihat keinginan Avant. Wanda menangis untuk itu.


"Maafkan, Ibu..."


Tidak bisa disembunyikan lagi. Kesedihan jelas terpampang di mata cantik milik Wanda.


Qevna adalaha perempuan yang baik dan berpendidikan, namun harus bagaimana lagi jika semua itu belum mampu membuat Avant mencintai atau setidaknya tertarik untuk mengenal. Wanda berfikir jika Qevna adalah perempuan polos yang cocok untuk anaknya. Namun langkah yang diambil Avant bertolak belakang dengan keputusannya.


Tidak bisa menahan lagi, Wanda mengambil ponsel dan menelpon suaminya, Hadiyata.


Sambungan terhubung namun Hadiyata belum menerima panggilan masuk dari istrinya.


"Ayah... ada hal penting yang ingin Ibu bicarakan dengan, Ayah!"


Gumam Wanda sendirian.


Bagaimana ini?


Keluarga Hearama adalah keluarga terpandang, tidak mungkin jika melangkah mundur untuk keputusan yang sudah diambil oleh kedua keluarga besar ini. Wanda tidak ingin kehormatannya hancur, namun ia juga cemas dengan masa depan anaknya. Avant Kanuraga.


Wanda memang bermimpi sangat ingin melihat putranya yang sudah menginjak usia 28 tahun itu bersanding dengan seorang perempun cantik yang akan menjadi menantu kesayangannya. Namun impian itu berubah jadi hal yang ditakuti Wanda. Wanda takut jika karena tidak memiliki rasa diantara hubungan, maka akan sangat sulit untuk mengerti satu sama lain. Suatu hubungan akan sangat awet jika dua insan yang menjaga hubungan itu memiliki rasa saling mengerti. Tidak lebih dari itu. Cinta adalah bonus untuk rasa yang semakin mempererat suatu hubungan.


"Setuju? Setuju dari mana, Ibu? Kenapa Ibu mengambil keputusan sebesar ini tanpa berbicara padaku?"


"Aku pergi dengan Qevna? Tidak Ibu! Ibu tahu sendiri bukan jika pertemuan waktu itu saja aku terpaksa, lalu untuk apa aku membeli gaun pernikahan dengannya? Ibu... Ibu dapat cerita itu dari mana? Avant yakin jika Ibu pasti bermimpi!"


"Ibu, jujur Avant sudah punya pilihan sendiri untuk pendamping Avant."


"Jadi tolong jangan atur kehidupan Avant, ini adalah langkah besar untuk Avant yang tidak bisa diambil keputusannya dari orang lain kecuali Avant sendiri."


"Ibu tahukan? Aku tidak suka dengan Qevna. Jadi tidak mungkin aku menikahinya. Aku tidak bisa, Bu!"


Tangis Wanda semakin menjadi ketika lontaran kata berhambur dari anaknya melintas begitu saja di ingatannya. Wanda tidak bisa melangkah kemanapun. Mundur? Kehormatan taruhannya. Maju? Masa depan putranya taruhannya. Hanya suaminya, keputusan Hadiyata yang akan mengakiri kegelisahan hati Wanda. Namun ketika itu belum terjadi, Wanda berharap dan sangat berharap bahwa Hadiyata bisa mengerti keinginan putra semata wayang mereka.


Semoga saja.


...•...


...•...


...•...


Ponsel yang terus berdering tidak Avant gubris karena otaknya bekerja lebih dari sekedar mengangkat ponsel.

__ADS_1


Menikah.


Satu kata yang Avant pikirkan dan terjemahkan untuk masa depan yeng cerah. Namun semua itu hancur ketika salah paham muncul menganggu impiannya.


Avant tidak mengeti dengan kedua orang tuanya yang mengambil keputusan sebesar ini tanpa berunding atau setidaknya memberitahunya. Avant tidak mengerti.


"Bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku?"


Gumam Avant yang berada di dalam kamarnya.


Tilam berwarna abu-abu menjadi tempat tubuhnya terhempas. Avant merasa penat. Beban diotaknya seakan lepas dari habitatnya. Baru saja Avant ingin memulai kebahagiaan bersama Aufia, gadis yang ia cintai, namun takdir lagi-lagi mempermainkan kehidupannya.


Apa salahku?


Sekali lagi ponsel berdering namun tetap tidak digubris oleh Avant.


"Aku harus bicara dengan Ayah jika aku sudah memilik pilihanku sendiri untuk menjadi pendamping hidupku."


Avant beranjak dari tempat tidur namun ponsel kembali berdering.


"Astaga! Siapa ini?" Seru Avant meraih ponselnya.


Aufia? Mengetahui siapa yang mengusik ponselnya, dengan cepat Avant menerima panggilan masuk.


"Selamat pagi, bidadariku!"


"Kenapa lama sekali?"


Eh?


"Iya, maaf. Aku tadi masih sibuk." Avant sadar jika ia salah.


"Jadi kau sibuk? Tidak bisa mengatarku ke kampus?"


Kampus?


"Untuk apa kau ke kampus? Apa kau masuk kuliah? Bukankah kau sudah izin untuk tidak masuk? Kenapa sekarang kau ingin pergi ke kampus?"


Avant terkekeh mendengar suara Aufia melalu telepon.


"Baiklah, sekarang jawab pertanyaanku!"


"Pertanyaan? Apa?" Avant penasaran dengan pertanyaan yang akan di ajukan oleh Aufia.


"Kau sibuk?"


Eh?


Hanya itu?


"Kenapa? Kau merindukan aku? Atau kau ingin bertemu denganku?" Avant senang melontarkan kata-kata yang membuat Aufia geregetan.


"Avant! Ini bukan waktunya bercanda!"


"Baiklah, aku minta maaf. Memangnya kenapa jika aku sibuk dan tidak sibuk?"


"Jadi kau sibuk atau tidak?"


Avant terkekeh mendengar pekikan suara dari Aufia lewat ponsel.


"Kenapa? Oh... jadi aku senang jika aku marah-marah seperti ini?"


Avant masih setia dengan suara tawa lirihnya.


"Baiklah, jika kau tidak mau menjawab pertanyaanku tidak apa, aku pergi sendiri saja jika begitu!"


"Ehh!! Kau mau pergi kemana?" Sahut Avant tidak ingin jika Aufia pergi sendiri apalagi dalam keadaan marah seperti ini.

__ADS_1


"Aufia! Katakan padaku! Kau ingin pergi kemana? Biar aku yang mengantarmu!" Lanjut Avant mengambil kunci mobil yang ia simpan di laci nakas.


"Peduli?"


"Hei! Tentu saja aku peduli dengammu! Katakan kau ingin pergi kemana hari ini?" tanya Avant lagi dengan memakai jaket lalu melangkah keluar kamar.


"Aku tidak yakin, kau pasti lebih mementingkan kesibukanmu."


"Siapa bilang? Kau jauh lebih penting dari apapun!" Sahut Avant kemudian mulai mengendarai mobilnya untuk pergi menjemput Aufia yang entah ingin pergi kemana.


"Baiklah, buktikan!"


Eh?


"Hei! Tunggu!"


Avant protes ketika sambungan terputus begitu saja. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Avant harus menunjukkan jika dia mengambil langkah yang serius dengan Aufia. Apalagi kesempatannya untuk membuktikan bahwa ia pantas untuk Aufia tinggal 4 hari lagi. Waktu yang tidak lama namun juga tidak singkat.


Mobil jeep Avant melaju dengan cepat agar sampai di rumah Bibi dengan cepat pula. Ia tidak mau membuat Aufia kecewa karena menunggu lama. Dan Avant tahu jika menunggu itu hal yang paling orang hindari.


Tidak butuh waktu lama, apalagi jalanan senggang.


"Aufiaa!"


Teriak Avant begitu keluar dari mobil dan melompat untuk sampai ke teras.


"Aufia! Aku sudah datang!"


Avant lagi-lagi berteriak ditambah dengan mengetuk pintu yang memiliki warna putih.


"Auf-"


Avant menghentikan ucapannya saat Aufia sudah membuka pintu. Cantik. Satu kata yang sempat terlintas pada otak Avant. Tidak dapat dipungkiri, kecantikan Aufia mampu membuat Avant menyerahkan hati dan cintanya di kali pertama bertemu. Bahkan setiap hari Avant jatuh cinta pada gadis yang memiliki nama Aufia Fidianza. Sungguh jika Avant ingat bagaimana ia membiarkan amarah menguasai hingga menyakiti Aufia, ingin rasanya Avant membantai dirinya sendiri.


"Hei! Hmm... aku tidak terlambat, kan?" Avant memasang senyum paling manisnya agar Aufia tidak marah.


"Antarkan aku ke kampus." Jawab Aufia yang melangkah keluar rumah lalu mengunci pintu utama dari rumah tersebut.


Kampus?


"Tunggu! Kau masuk kuliah? Bukankah kau sudah izin untuk tidak masuk ke dosenmu? Kenapa hari ini kau masuk?" tanya Avant jelas tidak terima.


Bahkan kini Avant mendengus tidak suka ketika Aufia bukannya menjawab pertanyaan justru memilih masuk ke dalam mobil begitu saja.


"Hei!! Kau tidak bisa lakukan ini padaku! Aku sudah izin satu minggu untukmu, jadi tolong hargai aku!"


Aufia diam saja mendengar celoteh dari Avant. Bahkan kini Aufia sudah siap karena sudah memasang sabuk pengaman. Berbeda dengan Avant yang masih berdiri di teras rumah.


"Aufi-"


"Cepat antarkan aku!" Sahut Aufia menatap tajam Avant.


Tanpa basa basi lagi, Avant juga ikut masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengamannya.


"Kau marah?"


Tanya Avant yang menyalakan mesin mobil lalu melaju untuk pergi ke kampus.


"Baiklah aku salah, aku minta maaf." Lanjut Avant.


Avant melirik Aufia yang masih terdiam dengan buku yang dipeluknya. Beberapa buku tebal dengan sampul berwarna biru tua. Avant tidak tahu, mungkin Aufia tidak diberi izin oleh dosennya sehingga hari ini ia masuk kuliah. Menyebalkan sebenarnya, harusnya menjadi hari ke 4 namun gagal.


Sedangkan Aufia terdiam lebih memilih melihat pemandangan luar dari pada harus menjawab pertanyaan dari Avant. Ia kesal karena sudah menunggu sejak pagi namun Avant baru datang. Apalagi pagi tadi ia sudah puluhan kali menelpon Avant namun tak kunjung dijawab. Menyebalkan, bukan? Pantaskan Aufia marah pada Avant?


"Aku marah."


Satu kata dari Aufia yang mampu menarik Avant untuk menoleh dengan tatapan tidak percaya.

__ADS_1


Marah? Tapi Avant sadar itu karenanya.


[Bersambung...]


__ADS_2