Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam part 12


__ADS_3

Dan ingatlah matahari itu tetap bersinar meski tertutupi awan hitam. Seperti rasa ini padamu ... dia selalu ada untukmu meski tetap terbungkus rapi.


***


Bella merasakan bahagia terlebih saat permintaannya untuk memberi nama bagi sang bayi dituruti oleh pria itu. Hari-hari menjelang kelahiran sang putra ia dan Aryo semakin dekat.


Lelaki itu tak sedetikpun meninggalkannya dalam waktu yang lama. Terkadang ia mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. Sejenak Bella melupakan rencana kedua orang tuanya.


Sore itu mereka menghabiskan waktu berdua di halaman belakang. Bunga yang ditanam Bella beberapa waktu lalu berbunga. Hal itu membuatnya gembira. Aryo memetik beberapa anggrek berwarna putih dan ungu, juga mawar, kemudian merangkainya menjadi buket bunga yang manis.


"Buat calon Bunda," tuturnya memberikan pada Bella. Dengan wajah merona ia menerima dan mengucap terima kasih.


"Aryo, aku harap kamu nanti hadir saat ia lahir," pintanya pelan. Mendengar itu Aryo hanya menarik napas dalam-dalam lalu mencoba tersenyum.


"Kenapa? Kamu keberatan? Apa karena dia bukan siapa-siapa bagimu?" Suara Bella terdengar parau. Aryo mendekat ke arah wanita di sampingnya.


"Bella, aku usahakan hadir. Percayalah!"


Perempuan itu menyibakkan rambut menatap Aryo. Lamat ia mengucap terima kasih.


"Aryo."


"Ya?"


"Kamu sudah tahu semuanya?"


"Tentang?"


Bella diam sejenak, ia menarik napas dalam-dalam. Tangannya menggenggam erat buket bunga yang diberikan pria itu.


"Tentang aku ... tentang rencana papa yang akan ...."


"Aku tahu. Papamu bercerita beberapa waktu lalu," potongnya. Bella menoleh menatap intens padanya.


"Lalu?" tanya Bella, "mengapa tidak menceritakannya padaku?"


Aryo tersenyum menggeleng. Ia mengatakan bahwa hal itu sudah bukan kewajiban dia lagi.


"Aku sudah bukan siapa-siapa lagi setelah hari itu. Setelah kamu melahirkan, perjanjian itu selesai," tuturnya menatap pada kuntum melati yang jatuh tercecer di tanah.


Wajah Bella berubah muram. Ada genangan air mata terlihat hendak tumpah. Cepat ia membuang pandangan ke arah lain sebelum Aryo mengetahuinya.


Suasana mendadak hening. Aroma melati menyapa indra penciuman mereka. Sementara angin semilir membuat suasana syahdu.


"Dan kamu membiarkan itu terjadi?" gumam Bella yang lebih terdengar seperti sebuah bisikan, sehingga pria itu tak mendengar.


Air yang sejak tadi ditahan pelan jatuh membasahi pipi. Ada rasa nyeri terasa di hatinya seolah ditusuk ribuan anak panah saat mendengar penuturan pria itu.


"Setelah semua berakhir, apa rencanamu?" tanyanya pelan menahan getar kesedihan.


"Seperti biasa, tetap bekerja. Tidak ada rencana," timpal Aryo menghela napas.


  Bella tak lagi bertanya. Perempuan itu beringsut dari duduk meninggalkan Aryo sendiri.


"Maaf, Bella. Aku memang pengecut! Aku hanya ingin mengatakan bahwa hidupmu lebih berharga dari sekedar rasa ini," lirihnya.


Lelaki itu tepekur di tempat semula hingga senja menjelang.


🥀🥀🥀


Hari perkiraan lahir semakin dekat. Bella justru terlihat tak antusias seperti bulan-bulan sebelumnya. Ia menghubungi Vera agar datang ke rumah. Perasaan yang tak menentu membuat dirinya ingin berbagi dengan sahabatnya itu.


Sambil menunggu kedatangan Vera, ia membuat orange juice untuknya juga untuk Vera. Tak lupa juice tomat kesukaan Aryo, 'suaminya'


Tak lama ketukan pagar terdengar, dari pintu Bella memberi isyarat agar Vera masuk.


"Jadi apa yang terjadi sekarang?" tanya Vera seraya menikmati minuman yang disuguhkan.


"Aku nggak ngerti, Ver. Apa iya aku mencintainya?" jawabnya dengan mata menerawang. Mata sahabatnya itu membulat dengan senyum yang tak bisa dia sembunyikan.

__ADS_1


"Seriusan, Bell? Kamu serius jatuh cinta sama dia?"


Bella mengangkat bahu, wajahnya terlihat muram. Ia menceritakan perihal orang tuanya yang berniat menjodohkan dirinya.


"Lalu?"


"Lalu apa?" Bella menatap Vera.


"Lalu sikapmu gimana? Terima atau tolak?" Sahabatnya itu terlihat gusar.


"Entah, aku hanya takut perasaan ini bertepuk sebelah tangan. Aku takut dia tidak mencintaiku," tuturnya lirih.


"Kamu jangan sok tahu, Bella! Kamu itu cantik, berwawasan, baik. Aku rasa nggak ada yang bisa menolakmu!" timpal Vera.


"Nggak, Ver! Aku bukan perempuan baik-baik, aku perempuan bodoh yang sudah tidak berguna! Aku bukan perempuan suci! Aku kotor, Vera!" sergahnya histeris.


Bella tak dapat menguasai emosinya. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya menangis sesenggukan. Melihat itu Vera memeluknya mencoba menenangkan.


"Siapa bilang kamu bukan perempuan baik-baik? Nggak, Bella. Kamu perempuan baik, hanya saja kamu pernah jatuh pada suatu kesalahan," sanggahnya seraya mengusap bahu Bella.


"Kamu berhak mendapatkan cinta terbaik dari seseorang yang benar-benar mencintaimu. Jika kamu merasa dia yang terbaik, kenapa kamu ragu?"


Bella menggeleng lalu berujar, "aku hanya tidak yakin, Ver. Aku akut setelah dia tahu perasaanku, dia pergi."


"Kamu belum mencobanya, 'kan? Cobalah katakan hal ini padanya. Aku yakin dia tidak pergi, dia pria baik, 'kan?" Bella mengangguk pelan.


"Lalu jika dia tidak mencintaiku?"


Vera diam kemudian tersenyum lalu berkata, "lalu bagaimana jika dia juga mencintaimu?"


Bella terdiam, ia mencoba merangkai semua potongan kejadian saat bersama Aryo. Ia tak memungkiri kehangatan dan semua perhatian pria itu, lebih dari sekedar kewajiban yang tertera di surat perjanjian.


Namun, ia tidak berani menyimpulkan bahwa itu adalah ungkapan tak langsung yang ia terima dari Aryo. Ia tak ingin mematahkan hatinya dengan semua kesimpulan yang ia buat.


🥀🥀🥀


Dengan segenap keberanian yang telah ia kumpulkan, juga tekat bulat untuk berlepas diri dari keluarga Santoso, Aryo mengetuk pintu ruangan majikannya.


Pria itu mengatur napas sejenak sebelum menyerahkan amplop coklat berisi surat pengunduran dirinya.


"Katakan ada apa? Oh iya, Bella akan segera melahirkan di minggu-minggu ini, 'kan?"


"Iya, Pak. Saya sudah siapkan juga surat perceraiannya. Tinggal menyerahkan pada Non Bella agar ditandatangani," jawabnya lugas. Pak Santoso mengangguk-angguk mengerti.


"Lalu, itu apa?" Pak Santoso menunjuk dengan dagunya ke tangan Aryo.


Pria berhidung mancung itu tersenyum lalu menyerahkan amplop kepada bos-nya. Pak Santoso menerima dengan kening berkerut.


"Saya meminta maaf sebelumnya. Itu adalah surat pengunduran diri saya, Pak."


Mendengar penuturan itu, sang majikan terpaku menatap Aryo. Wajahnya terlihat penuh tanya.


"Kamu mengundurkan diri?"


"Iya, Pak. Saya ingin berwirausaha di rumah. Kebetulan sudah ada beberapa rencana yang sudah jalan."


Aryo menceritakan bahwa ia dan beberapa tetangganya bersama membuka usaha rumah makan sehat bagi para vegetarian. Sengaja ia tak perah mengatakan hal ini karena mereka masih merintis.


"Alhamdulillah, sekarang usaha sudah mulai berkembang, dan kami sudah membuka beberapa cabang, Pak."


Lelaki paruh baya di depannya itu menatap takjub. Ia tak menyangka lelaki yang telah banyak menolongnya keluarganya itu mempunyai banyak keterampilan.


"Kamu luar biasa, Aryo. Semoga usahamu lancar! Saya mendukung penuh apa pun keputusan itu, dan jangan sungkan jika membutuhkan bantuan."


Aryo tersenyum lega mendengar ucapan Pak Santoso. Ia tak merasa kesulitan untuk mundur dari perusahaan itu. Setelah berbasa-basi, Aryo melangkah ringan meninggalkan kantor tersebut.


Pak Santoso berharap dirinya tidak begitu saja melupakan ia dan keluarganya. Pria paruh baya itu sebenarnya merasa keberatan jika dirinya mundur. Namun, karena ia merasa Aryo memiliki banyak potensi untuk maju, maka pria itu mendukung keputusan Aryo sepenuhnya.


🥀🥀🥀

__ADS_1


Aryo memasukkan mobil ke garasi. Ia melihat Bella tengah duduk di teras rumah. Memakai baju cokelat muda dengan rambut dikuncir kuda dan polesan make up tipis cukup membuat Aryo membeku. Lama ia menatapnya dari kejauhan, bibirnya menyungging senyum mengingat kedekatan mereka belakangan ini.


"Sore, Bella."


"Sore," balasnya tersenyum.


"Aku bawakan martabak telor kesukaanmu, mau?"


Bella mengangguk tersenyum. Pria itu duduk di samping Bella. Mempersilakan wanita itu menikmati kudapan favoritnya.


"Aku ... aku sudah merasakan kontraksi dari siang tadi, Aryo."


Wajah pria itu mendadak tegang.


"Kita ke dokter sekarang, Bella. Kenapa nggak kasi kabar dari tadi? Kenapa kamu terlihat santai?" cecarnya khawatir. Merasa dikhawatirkan, Bella tersenyum.


"Nggak apa-apa, nanti aja. Kita tunggu sampai kontraksinya semakin sering, nanti baru kita ke dokter."


"Iya, tapi ...."


"Aryo, kenapa kamu begitu mengkhawatirkan aku?"


Lelaki berkemeja putih itu terdiam. Ia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Bella.


"Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk, dan menjaga amanat dari kedua orang tuamu, Bella."


Wanita itu menghela napas dalam-dalam. Jemarinya terlihat mengusap lembut perutnya.


Sepi sejenak.


"Tunggu, aku ambilkan sesuatu." Aryo beringsut melangkah ke dalam. Tak lama ia keluar membawa map lalu menyerahkan pada Bella.


"Apa ini?" Bella tak menunggu penjelasan dari Aryo. Wajahnya berubah pias, terlihat mata Bella berkaca-kaca.


"Aku sudah tanda tangan, sesuai dengan perjanjian itu." Bella tercenung, ia seolah tak mendengar perkataan Aryo di sampingnya.


"Baik, aku akan tanda tangan nanti." Ia meletakkan kertas itu di meja kemudian masuk meninggalkan Aryo sendiri. Bella menuju kamar menumpahkan air mata disana. Tangisnya berhenti saat teleponnya berdering.


"Hallo, Ma."


"____"


"Nggak apa-apa, mungkin agak malam kalau kontraksi semakin sering."


"____"


"Apa? Mengundurkan diri? Kapan?"


"___"


Bella tak lagi meneruskan pembicaraan. Segera ia memutus percakapan itu, kemudian keluar kamar. Mencari sosok Aryo di seluruh ruangan, tak ia temui. Wanita itu melihat kamar pria itu terbuka, bergegas Bella melangkah ke sana.


"Aryo," panggilnya. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah menyisakan air yang menetes ke bahunya. Tubuh kokohnya pun masih tampak basah.


Menyadari penampilan pria itu, Bella membuang pandangan ke arah lain.


"Tunggu sebentar." Pria itu memakai t shirt putih kemudian mendekat.


"Ada apa? Apa kita ke rumah sakit sekarang?" tanyanya lembut.


Bella menatap lekat pria itu, tak bisa menahan diri ia melayangkan tangannya ke pipi Aryo dengan mata berkaca-kaca. Pria itu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Kamu kenapa, Bella? Aku salah apa?"


"Katakan kenapa kamu mundur dari pekerjaan? Kenapa kamu mengajukan surat pengunduran diri? Kenapa?" Suara Bella meninggi. Berkali-kali ia memukul dada Aryo.


Pria itu sejenak diam saja membiarkan wanita di depannya menumpahkan kekesalan. Lalu tak lama, dengan sabar Aryo menahan tangan Bella menggenggam erat lalu menguncinya.


"Kamu jahat, Aryo! Mau kamu apa sih? Kamu ...."

__ADS_1


Bibir Bella tak lagi bisa berkata saat Aryo membungkam dengan bibirnya. Lumatan lembut penuh kasih dirasakan wanita itu. Ia tak mengelak, matanya memejam membiarkan dirinya tenggelam menikmati cecap lembut dari pria bermata tajam itu.


❤️❤️❤️


__ADS_2