
Yang Terdalam
17
***
Cinta itu bukan apa yang dipikirkan oleh akal, tetapi yang dirasakan oleh hati
❤️❤️❤️
Aryo menarik napas dalam-dalam, pelan ia mendekat, sedang Bella masih tampak kesal.
"Katakan, ada apa? Maafkan jika aku salah." Ia meraih jemari wanita di sampingnya. Terlihat bulir bening mengalir di pipi Bella.
"Tatap aku, Bella." Aryo meraih dagu wanita itu, "kamu nggak mau cerita?"
Tanpa menjawab pertanyaan pria itu, Bella beranjak dari duduk, tapi cepat Aryo menahan lengannya sehingga Bella terjatuh tepat di pangkuannya. Sejenak mereka saling tatap.
"Aku melihat tadi, Mas dengan dia ...." Suaranya terdengar parau. Kembali Aryo mengernyitkan dahi kemudian ia tersenyum mengusap pipi wanita di pangkuannya.
"Kamu tadi di sana?"
Bella mengangguk masih melipat wajah.
"Kenapa nggak memanggilku?"
"Mas sedang bicara serius sepertinya dengan dia." Bella enggan menyebut nama Aira. Aryo tersenyum lebar gemas menatapnya.
"Cemburu? Kamu cemburu?" tanyanya tersenyum mengangkat dagu Bella.
"Apa aku tidak boleh cemburu melihat pria yang kucintai sedang ber ...."
Aryo menghentikan ucapan Bella dengan bibirnya, perempuan itu tak bisa mengelak. Meski hatinya diliputi cemburu, tapi tubuhnya menginginkan sentuhan dari pria itu.
"Kamu boleh cemburu. Aku suka, itu artinya kamu benar-benar mencintaiku." Aryo melepas pagutannya. Pria itu menceritakan pertemuan yang tak disengaja dengan Aira. Ia juga bercerita bahwa perempuan masa lalunya itu mengundang mereka berdua pada pembukaan toko buku miliknya.
"Masih cemburu? Heum?" goda lelaki itu seraya mengusap puncak kepala Bella. Tak sanggup menyembunyikan rasa malu, ia menyembunyikan wajah ke dada Aryo. Pria itu mendekap erat tubuh langsingnya.
"Maaf," tuturnya lirih.
"Kamu nggak salah, lalu kenapa tadi minta jemput Dika? Apa aku nggak boleh cemburu juga?" ledeknya mencubit gemas hidung mancung Bella.
"Maafin aku, Mas. Aku hanya ...."
"Marah dan cemburu?" Lagi-lagi ia menggoda sang istri. Merasa digoda tanpa henti, ia mencebik lalu mencubit lengan pria itu.
"Kamu suka bunganya?" Aryo mengalihkan pembicaraan. Wajah Bella cerah seketika, ia mengangguk dan kembali mengucapkan terima kasih.
"Eum ... kamu mau duduk di sini terus? Atau aku gendong ke kamar?" seloroh Aryo dengan wajah nakal. Sontak pipi Bella bersemu, cepat ia beringsut dari pangkuan pria itu.
"Aku pingin ketemu Archie, kita ke kamar yuk!" ajaknya melangkah diikuti Bella.
Aryo berbaring di sebelah bayi mungil itu, bak seorang ayah yang merindukan bercengkrama dengan sang anak. Tak henti ia menatap Archie. Sementara Bella mengawasi mereka berdua dari sofa.
"Mas," panggilnya pelan tak ingin Archie terbangun. Aryo menatap ke arah Bella. Wanita itu memberi isyarat agar ia duduk di sebelahnya. Lelaki itu mengecup lembut kening Archie lalu beranjak mendekati Bella.
"Ada apa, Sayang?" bisiknya lembut. Mendengar Aryo memanggil dengan sebutan sayang membuat wajahnya bersemu merah, dan Aryo sangat menyukainya.
"Mas bicara apa tadi dengan Dika?"
Pria itu menarik napas dalam-dalam, kemudian menceritakan apa yang ia bicarakan dengan teman masa kecil Bella itu.
"Jadi sekarang tinggal kembali bicara ke papamu," tuturnya tersenyum. Perempuan di sampingnya ikut tersenyum. Membayangkan akan selalu bersama kembali dengan Aryo membuat dirinya bahagia.
"Kalau papa ...."
__ADS_1
"Ssttt, kita belum mencoba. Jangan berprasangka," potongnya.
"Aku mau kita berdua besok ke papa," pinta Bella.
"Nggak perlu, biar aku aja."
"Kamu yakin?"
"Kenapa tidak yakin?"
Bella mengangguk kemudian menyandarkan tubuhnya ke bahu Aryo.
"Kamu harus yakin, semua akan baik-baik saja," tutur pria itu meraih lembut bahunya.
***
Ruangan kerja Pak Santoso terasa lebih dingin dari biasanya bagi Aryo. Baginya kali ini ia harus memperjuangkan cintanya. Lelaki itu bersyukur, Dika mendukung penuh keputusannya. Lelaki putra Pak Satya itu mengerti kegalauan dirinya.
"Dika, apa kamu benar-benar dengan keputusan itu?" Suara Pak Satya memecah sunyi.
"Iya, Pa. Dika mungkin mencintai Bella. Tapi ... apa bisa Dika bahagia jika di mata Bella hanya ada Aryo?" Lelaki itu melirik Aryo yang duduk di sebelahnya.
Pak Satya, pria yang tak lagi muda tapi sangat sadar akan penampilan itu tersenyum mengangguk. Pak Santoso yang sedari tadi diam ikut mengangguk.
"Aryo. Jika memang kalian saling mencintai ... saya bisa apa? Lalu, kapan rencanamu untuk menikah ulang dengan Bella?"
Aryo menatap Pak Santoso takjub. Ia tak menyangka lelaki paruh baya itu bisa mengerti perasaannya juga Bella.
"Sebab kalian berdua saat itu kan menikah dengan kondisi Bella berbadan dua, menurut agama hal itu tidak sah, bukan?" sambungnya tersenyum.
Dika menepuk bahu Aryo seraya berkata, "ayolah, mumpung aku masih di Indonesia, aku bisa membantu apa pun ...mungkin nanti bisa menemukan jodoh." Ucapan itu ditanggapi tawa oleh lainnya.
Pria bertubuh kekar itu tersenyum lega. Tidak perlu bersitegang untuk mendapatkan restu. Ia ingat pesan mendiang ibunya, dan itu hingga kini ia jadikan pedoman.
"Oke, Aryo. Saya merestui hubungan kalian, kamu atur jadwal kapan kamu dan Bella menikah ulang, nanti beri kabar!"
Dengan senyum Aryo mengangguk setuju.
"Oh iya, Pak Santoso bilang kamu punya beberapa restoran vegetarian?" Pak Satya bertanya menatapnya.
"Iya, Pak. Kalau bapak juga Dika sudi mampir, saya akan senang sekali."
Dika, Pak Satya juga Pak Santoso senang dengan tawaran itu. Merek kompak mengatur jadwal untuk datang ke sana. Saat mereka saling berbagi cerita, telepon seluler Aryo dan Pak Santoso secara bersamaan berbunyi.
Keduanya kompak membuka kemudian saling mematung tanpa suara.
"Saya ke rumah sakit sekarang! Permisi." Aryo bergegas keluar ruangan dengan berlari. Ia tidak peduli suara Dika memanggilnya.
"Bella, tunggu aku! Aku harap kamu baik-baik saja!' gumamnya .
Mobil meluncur cepat ke rumah sakit. Kabar yang diterima Aryo, bahwa wanita itu kecelakaan. Situasi jalan yang cukup padat siang itu membuat dirinya frustrasi. Berkali-kali ia membuang napas kasar lalu mengetuk-ngetuk kemudi untuk meredam gelisah.
Seolah teringat sesuatu Aryo menghubungi Mbok Win.
"Mbok, Archie baik-baik saja, 'kan?" tanyanya cepat saat telepon dijawab.
"___"
"Oke, jaga Archie! Saya sedang menuju rumah sakit sekarang!"
"____"
"Oke, oke, Mbok. Hati-hati di rumah."
Ia kembali meletakkan gadget ke dashboard, kemudian fokus mengemudi. Hingga akhirnya tiba di pelataran parkir rumah sakit. Cepat ia berlari menuju lobby menanyakan tentang Bella. Penjelasan dari pihak rumah sakit bahwa istrinya tengah berada di ruang ICU dan masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
Aryo menelan saliva menatap perempuan yang ia cintai tengah tergolek tak berdaya. Di sekelilingnya penuh dengan alat bantu. Ruang kaca yang membatasi dia dan Bella seakan tersenyum angkuh.
Gemeretak suara gigi pria itu menahan luapan kesedihan. Bayangan sang ibu melintas, ia seolah kembali dihadapkan kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya harus sama-sama merasakan kondisi berada di ruangan bisu seperti itu.
"Bella, bangun, Sayang!" desisnya.
Menurut perawat yang sempat dia tanya tadi, bahwa Bella tertabrak motor yang melaju kencang sehingga wanita itu terlempar dengan posisi kepala terbentur aspal.
"Luka dalam. Semoga istri bapak bisa cepat kembali," pungkas perawat itu sebelum meninggalkan dia sendiri.
Pria itu mengusap wajahnya kasar kemudian mengepalkan tangan penuh penyesalan. Menurut keterangan Mbok Win, Bella pergi ke kantor papanya, ia berniat untuk meyakinkan cinta mereka.
Sunyi, Aryo hanya bisa mematung menatap dari kaca. Matanya tak lepas melihat pergerakan monitor yang merekam detak jantung wanitanya. Ada ruang yang hilang saat ini. Berkali-kali ia menggumam memohon serta merapal doa.
"Aryo ...." Sebuah sentuhan pelan di bahu membuatnya menoleh. Kedua orang tua Bella bersama Dika dan Pak Satya telah berada di belakangnya. Tatapan sedih jelas tertangkap dari netra mereka. Sementara mata Bu Ratih terus mengeluarkan bulir bening. Berulang bisa memanggil nama sang putri.
"Kita berdoa, semoga Bella bisa melewati ini semua," ucap Pak Satya menjajari Aryo. Pria itu tak menjawab, ia kembali menatap perempuan yang masih diam bak manekin yang tengah berbaring.
Seorang dokter bidan dua perawat tampak masuk ke ruangan. Setelah mengecek cukup lama kondisi Bella, mereka bertiga keluar.
"Maaf, apa saya bisa bicara dengan suami atau orang tua pasien?" tanya dokter berkepala sedikit botak itu ramah. Sejenak Pak Santoso dan Aryo saling tatap.
"Aryo, kamu suaminya!" tutur Pak Santoso menatap pria itu.
Dengan ramah dokter mengajaknya ke ruangan untuk membicarakan kondisi Bella.
Keterangan dari dokter mengatakan bahwa Bella mengalami cidera kepala sedang, meski begitu dokter terus mengobservasi.
"Dokter, tolong sembuhkan istri saya," mohonnya.
"Kami tentu akan berusaha menyembuhkan istri Anda, Pak! Percayalah."
***
Tiga hari sudah pasca kecelakaan, tetapi Bella masih belum sadar. Seperti hari-hari sebelumnya Aryo tak pernah beranjak sedikit pun dari ruang tunggu. Ia pun tak lelah mencoba mengajak wanita itu berkomunikasi, meski belum ada respon sama sekali.
"Mas Aryo." Suara Mbok Win mengejutkannya. Asisten rumah tangga Bella telah berdiri di depannya bersama Archie.
Mata Aryo berkaca-kaca melihat bayi mungil itu. Ia bahkan hampir saja melupakan Archie.
"Mbok naik apa ke sini?" Ia mengambil Archie dari gendongan perempuan itu.
"Saya diantar Mas Tomi," tuturnya.
"Tomi?"
"Katakan kenapa kamu nggak cerita, Aryo! Kamu anggap apa aku?" Sahabatnya itu muncul di tengah-tengah mereka.
"Thanks, Tomi. Sorry, aku nggak bisa berpikir apa pun! Aku ...."
"Oke, aku tahu. Tapi setidaknya, ingat Archie," potongnya menepuk bahu Aryo.
Dengan lembut ia mencium kening bayi mungil itu.
"Hai, Sayang. Kita sama-sama berdoa ya, semoga mama bisa kembali bersama kita ...." bisiknya tak bisa menahan haru.
Tangis Mbok Win pecah melihat itu semua. Perempuan yang terlihat jelas garis ketuaan itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Yang sabar ya, Mas. Semoga setelah ini, ada kebahagiaan buat kalian," tuturnya seraya menyeka air mata.
"Terima kasih, Mbok."
"Yo! Kamu istirahat dulu sebaiknya, coba lihat betapa berantakannya dirimu!" tutur Tomi mengomentari kondisi sahabatnya.
💞💞
__ADS_1