Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam part 13


__ADS_3

Jangan pernah mencari kesempurnaan dalam suatu hubungan, karena kesempurnaan milik Tuhan. Namun, hadirkan Tuhan dalam suatu hubungan, niscaya akan kau temui kesempurnaan.


❤️❤️❤️


Bibir Bella tak lagi bisa berkata saat Aryo membungkam dengan bibirnya. Lumatan lembut penuh kasih dirasakan wanita itu. Ia tak mengelak, matanya memejam membiarkan dirinya tenggelam menikmati cecap lembut dari pria bermata tajam itu.


Tangan kokoh Aryo menahan tubuh Bella dengan kuat. Ciuman lembut itu perlahan berubah panas. Keduanya larut dalam perasaan yang dalam. Hingga akhirnya tersadar, keduanya menyudahi ciuman panas itu. Sesaat mereka saling diam, hanya tersisa suara napas yang masih tersengal.


Bella melipat wajahnya, ia merasa ciuman pria itu sudah memberi jawaban dari semua pertanyaannya. Berlama-lama di kamar Aryo dengan kejadian barusan membuat dirinya serba salah. Debar jantungnya terasa semakin kuat , ia tak ingin lelaki itu tahu jika ia menikmati saat-saat itu.


Sementara Aryo masih diam di tempatnya. Pria ia menyugar rambutnya berulang kali, kemudian menahan Bella yang hendak pergi.


"Tunggu, Bella. Dengarkan aku ...."


Bella menghentikan langkah kembali berbalik ke Aryo. Mata mereka saling menatap, ada percik asmara jelas tergambar di kedua netra mereka.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Bella meringis menahan sakit. Melihat itu Aryo panik, cepat ia memapah Bella untuk duduk di ranjang kamarnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu tunggu di sini, aku menyiapkan mobil." Segera pria itu menyiapkan segala sesuatunya. Tak lupa ia menelepon orang tua Bella.


"Kita berangkat!" Perlahan kembali ia menuntun wanita itu ke mobil. Bella masih meringis menahan kontraksi yang datang lebih sering. Telaten Aryo melayani perempuan itu hingga memasangkan sabuk pengaman untuknya.


"Sabar, ya. Kita akan segera sampai," bisiknya ketika ia sudah berada di belakang kemudi.


Sepanjang perjalanan, tak henti Bella mendesis menahan sakit. Hal itu membuatnya panik dan tak tega.


"Ini, remas atau gigit saja tanganku jika itu membantu meringankan sakitnya," tutur Aryo mengulurkan tangannya pada Bella. Wanita itu menatapnya tak percaya.


"Nggak usah ngaco!"


"Aku nggak ngaco! Aku serius," balasnya. Bella menepis pelan lalu kembali meringis.


Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Setelah memarkir kendaraan, sigap ia mengambil kursi roda yang diberikan petugas kemudian mendorong wanita itu menuju ke ruang bersalin.


Bella berbaring dibantu Aryo. Lelaki itu kemudian kembali sibuk menghubungi keluarga Bella. Melihat Bella tak henti meringis kembali Aryo mencoba meredakan dengan mengusap kening dan menggenggam erat tangannya.


"Sakit ...," keluhnya meremas tangan lelaki itu.


"Aku tahu, tapi aku juga tahu, kamu perempuan yang kuat!" balasnya berbisik.


Bella terlihat semakin kesakitan. Keringat bercucuran dari dahinya. Lembut Aryo mengusap kemudian kembali membisikkan kalimat memberi semangat pada Bella.


"Hai, Archie jangan lama-lama di sana ya, kita semua menunggu kehadiranmu, kami semua mencintaimu, Archie," bisik Aryo tepat di perut Bella. Melihat hal itu Bella seolah mendapat suntikan semangat yang besar dari Aryo. Genggaman tangannya seolah enggan lepas dari tangan kokoh pria itu.


Selang beberapa menit kemudian, kedua orang tua Bella datang dengan wajah tegang.


"Bagaimana, Bella?" tanya perempuan paruh baya menatap Aryo. Lelaki itu perlahan melepaskan tangannya dari Bella. Perempuan yang tengah berbaring itu tampak kecewa saat genggaman tangan itu terlepas.


"Sudah diperiksa dokter tadi, Nyonya. Dokter bilang sudah bukaan tujuh." Sang mama menggantikan posisi Aryo. Sementara lelaki itu mundur perlahan lalu keluar bergabung dengan Pak Santoso.


***


Meski bukan darah dagingnya, tapi tak pelak lelaki itu ikut gelisah menanti di luar. Keresahan Aryo ditangkap oleh Pak Santoso. Lelaki yang rambutnya sedikit memutih itu tersenyum menepuk bahu Aryo.

__ADS_1


"Percayalah, dia akan baik-baik saja. Bukankah kamu telah menjaga dia sedemikian rupa?"


Lelaki itu mengangguk tersenyum mencoba meredakan resahnya. Terlihat Pak Santoso sedang menanti kedatangan seseorang. Bolak-balik ia melihat kearah telepon selulernya kemudian beralih ke arloji. Sedang Aryo masih mondar-mandir dengan wajah yang tetap tegang.


Detik-detik terasa lambat baginya, menunggu kepastian Bella di ruang bersalin. Dari jauh terlihat dua orang datang mendekat. Satu dari keduanya membawa bunga dan Aryo sudah mengenali. Dengan senyum lebar Pak Santoso menyambut keduanya dengan pelukan hangat.


"Aryo, ini Dika yang tempo hari saya ceritakan," jelas Papa Bella menatap Aryo. Pria bernama Dika itu mengulurkan tangannya disambut Aryo hangat. Tak lama suara tangis bayi melengking terdengar, semua yang berada di ruangan itu mengucap syukur. Wajah  sukacita tergambar di wajah Pak Santoso. Tampak perawat keluar mengucapkan selamat pada mereka.


"Silakan masuk, ibu dan bayinya sehat. Tidak ada masalah," tuturnya.


"Ayo masuk, Satya! Dika, ayo masuk!" ajak pria itu dengan wajah berbinar.


Aryo menarik napas dalam-dalam, ia hendak melangkah pergi.


"Aryo."


"Ya, Pak?"


Pria paruh baya itu diam sejenak kemudian mangucapkan terima kasih padanya.


"Sama-sama, Pak. Saya juga berterima kasih. Saya permisi dulu. Sampaikan salam saya pada Non Bella," ucapnya tersenyum.


Pak Santoso mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan. Aryo berjalan pelan menyusuri lorong, belum jauh dari ruang bersalin, ia melihat seorang perawat menggendong bayi keluar dari ruangan Bella tadi.


"Maaf, Suster. Itu bayi ...."


"Bayi Nyonya Bella," perawat itu terlihat berpikir, "bukankah Anda suaminya? Kenapa Anda pergi?" Pria itu menarik napas dalam-dalam.


"Welcome to the world, Baby Archie ... sayangi Bundamu ya. Dia wanita hebat!" bisiknya.


" Sudah, Sus."


"Anda tidak ke ruangan Nyonya?"


Aryo menggeleng kemudian meninggalkan tempat itu.


***


Sementara di dalam ruangan bersalin, Bella mencoba tersenyum mengikuti skenario sang papa. Ia merasa bukan saatnya protes saat ini. Pria bernama Dika itu tampak terlihat bahagia. Tak lupa ia menyerahkan buket bunga pada Bella.


"Ma, Aryo mana?" tanyanya pada sang mama.


"Aryo? Ngapain lagi nyariin Aryo?"


"Ma! Aryo mana?" Kali ini suaranya sedikit meninggi. Ratih sang mama menatap heran pada putrinya. Sejenak ia melirik sang suami yang tengah mengobrol dengan Satya sahabatnya juga Dika.


"Aryo pergi kali, mana mama tahu, Sayang," timpal mamanya.


"Aku mau Aryo, Ma!"


"Ck! Kamu kenapa, Bella?"


Bella tampak kesal, tak lama perawat datang dengan membawa bayi mungil ke tengah-tengah mereka.

__ADS_1


"Bella, putramu. Kamu sudah punya nama untuknya?" Sang papa bertanya mendekat.


Perempuan itu tersenyum mengangguk.


"Archie Raditya, itu namanya, Pa."


Satya, Dika, Bu Ratih juga Pak Santoso, mereka semua menyukai nama itu.


"Nama yang bagus! Kamu yang mencarikan nama untuknya?'


Bella menggeleng.


"Aryo, Pa. Aryo yang memberikan nama untuknya," tutur Bella bangga.


Pak Santoso mengangguk-angguk.


"Oh iya, dia tadi menitipkan salam untukmu."


Bella menegang bertanya, "dia? Dia siapa, Pa? Aryo?"


Papanya mengangguk kembali. Bella tampak panik.


"Dia pergi, Pa? Pergi ke mana?"


Bu Ratih menggamit lengan putrinya memberi isyarat agar berhenti bertanya tentang Aryo. Perempuan itu memejamkan mata menahan air yang mendadak mengembang di pelupuk.


"Ma, tolong suruh dia kembali, Ma" bisiknya tertahan.


***


Malam telah larut, saat Aryo memasuki rumah tempat ia menghabiskan waktu dengan Bella. Berkali-kali ia menarik napas panjang, kemudian menuju ke kamar. Sejenak ia menyandarkan tubuhnya di ranjang. Matanya tertumbuk pada satu bingkai kecil pernikahan dirinya dengan Bella. Ada sungging samar tercetak.


"I love you, Bella," bisiknya mengucapkan kalimat yang seharusnya ia ucapkan tadi sore.


Pria itu memejamkan mata menahan rasa yang bergejolak. Tak lama kemudian ia bangkit menuju lemari untuk mengemas baju-bajunya. Tak menunggu lama, ia keluar kamar, menyapu setiap ruangan di rumah itu lalu melangkah pergi.


Aryo meninggalkan rumah itu menuju ke rumah almarhum ibunya. Selama perjalanan ia tak tenang, bayangan Bella menari mengganggu pikirannya.


Senyuman perempuan itu tak bisa ia hapus begitu saja. Tentu saja ciuman panas mereka sore tadi telah cukup menjadi jawaban pertanyaan atas keraguan dirinya tentang perasaan Bella.


Tak tahan dengan perasaan itu, cepat ia memutar balik mobil memacunya menuju rumah sakit. Ia lebih cepat mengemudikan mobilnya, dengan satu keinginan mengatakan perasaan pada perempuan itu.


Setelah tiba di pelataran parkir, cepat ia menuju ruangan tempat Bella dirawat. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah sakit telah sepi. Aryo terus melangkah hingga tiba di depan ruangan. Tidak ada Pak Santoso atau pun Bu Ratih di sana. Dengan menahan luapan rasa ia perlahan masuk. Matanya melihat Bella tengah tertidur pulas. Wajahnya terlihat lelah. Pelan ia mendekat, mengusap kening wanita itu, lalu menyematkan satu kecupan manis di sana.


"Selamat, Bella. Aku ikut bahagia," bisiknya lembut kemudian kembali menatap penuh cinta pada wanita itu.


"Oke, aku mau meneruskan pembicaraan kita sore tadi, aku ... aku mencintaimu, Bella," tuturnya dengan suara bergetar.


"Maafkan aku yang tidak bisa mengatakan ini sejak dulu. Tapi, itulah kenyataannya. Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu."


Hening, Bella masih terpejam. Aryo melirik ke arah jam dinding, kemudian bangkit meninggalkan tempat itu.


"Aryo!" Suara seseorang menghentikan langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2