Yang Terdalam

Yang Terdalam
Ketinggalan


__ADS_3

[Episode 032 - Ketinggalan]


Setelah Avant pulang, Aufia menutup pintu dan tidak lupa menguncinya. Namun saat ingin masuk kamar, ada perasaan yang berbeda tumbuh di hati Aufia. Mengingat hari ini membuat Aufia tersenyum tertahan. Mulai dari pemilihan gaun pernikahan, memas-oh?


Gaunku?


Aufia baru ingat jika ia meninggalkan kotak merah berisi gaun pernikahannya di mobil Avant. Astaga! Ditepuknya jidat yang berponi itu, Aufia memang bodoh.


"Aish! Kenapa tadi tidak ku bawa saat turun?"


Sesal Aufia terhadap tingkahnya sendiri.


"Nanti malam saja aku menelpon Avant, biar dia simpan kotaknya dan membawanya besok pagi."


Selesai mandi, Aufia duduk di sofa ruang tamu seperti biasanya. Melanjutkan acara membaca sebuah buku novel bersampul ungu. Tidak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar.


"Bibi!"


Aufia beranjak dari sofa dan langsung membuka pintu yang memiliki warna putih.


"Qevna?"


Aufia sedikit terkejut namun lebih tepatnya tertegun melihat Qevna yang sudah berdiri di depan pintu. Melihat sahabatnya datang, Aufia segera mengembangkan senyum manisnya.


"Boleh aku masuk?" tanya Qevna yang masih berdiri di depan pintu.


"Tentu saja! Ayoo!"


Aufia menarik Qevna untuk masuk ke dalam rumahnya. Rindu. Aufia sebenarnya merindukan Qevna yang belakangan ini tidak terjamah olehnya. Apalagi disaat Aufia terpuruk, ia sangat ingin bercerita kepada Qevna namun sepertinya Qevna sibuk.


"Tumben kesini tanpa memberiku kabar." Aufia menarik Qevna untuk duduk di sofa.


"Kupikir Bibi tadi, ternyata kau, Qev! Ada apa ya kesini? Apa kau merindukan aku?" lanjut Aufia senang melihat sahabatnya datang ke rumahnya.


"Ya, ya, ya, simpan dulu pertanyaanmu! Kau lihat ada hal yang berbeda denganku?" Qevna memberikan tebakan untuk Aufia jawab.


Seketika Aufia yang tadinya tersenyum senang berubah jadi serius untuk mencerna perkataan Qevna, sahabatnya.


"Apa? Ku lihat kau sama saja. Atau berat badanmu yang berubah?"


"Aufia! Kumohon jangan bercanda!" Sahut Qevna yang melihat Aufia tertawa kecil.


"Maaf, akukan bukan paranormal ataupun anak indigo, jadi ya aku tidak tahu." Aufia kembali menahan senyum lalu ia menegapkan tubuhnya tanda siap jadi pendengar yang baik untuk Qevna.


"Aku sebentar lagi menikah."


Huh?


Aufia menatap heran pada Qevna.


"Iya, aku tidak bohong! Sebentar lagi aku akan menikah!" Ulang Qevna tahu saat melihat Aufia dengan tatapannya yang bingung dan penuh tanya.


"Menikah?" tanya Aufia dengan otak yang mencerna dan mengartikan dari kata 'menikah'.


"Iya! Menikah! Kau tahukan men-"


"Bagaimana bisa?!" sahut Aufia memotong perkataan Qevna.


"Awalnya aku tidak tahu, setelah Ibuku berbicara tentang pria yang ingin dikenalkan denganku, akhirnya aku setuju."


Aufia semakin tidak paham dan tidak mengerti. Bagaimana bisa menikah hanya dengan tahu namanya tanpa perkenalan lebih lanjut? Menikah dengan orang yang tidak dikenal? Astaga! Qevna sadar!


"Tunggu! Artinya kau menikah dengan orang yang tidak kau kenal?" tanya Aufia ingin memastikan.


"Iya, kenapa?" Qevna justru balik bertanya.


"Bagaimana bisa kau putuskan hal sebesar ini tanpa kau mengenal siapa yang akan ku nikahi?" protes Aufia karena tidak ingin sahabatnya salah melangkah. Terlebih disaat ini usianya yang masih menginjak 21 tahun. Muda.


"Aku memang tidak mengenalnya, tapi yang ku tahu pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang membuatku jatuh cinta di perpustakaan." Jelas Qevna dengan senyum kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.


Huh? Perpustakaan?


"Ooohhh...!" Sontak Aufia ingat dan saat itu juga ia menutup mulut tidak percaya. Jika seperti ini, kali ini Aufia bisa tersenyum bahagia juga mendengarnya.


"Astaga! Kau menikah dengan pria itu? Sungguh? Apa aku sedang mendengarkan dongeng? Bagaimana bisa? Astaga...!"


Sungguh banyak pertanyaan Aufia kali ini. Ia gemas melihat sahabatnya yang bisa menikah dengan orang yang ia cintai.


"Ceritanya panjang. Pokoknya saat ini aku bahagiaaa sekali."

__ADS_1


Dapat terlihat jika Qevna sangat bahagia. Melihat sahabatnya yang tersenyum bahagia, Aufia ikut senang namun hatinya kali ini terasa tersayat pisau tajam. Mengingat hal yang baru ia alami, Aufia mencoba untuk tetap menampilkan senyum meski takdir menuliskan hal yang berbeda untuknya dan sahabatnya. Dua garis takdir yang tidak sama dan bertolak belakang. Bahagia dan menderita. Dua kata yang mampu mencerminkan isi hati dua gadis itu.


Kenapa disaat Qevna mendapatkan kebahagiaannya, disitulah Aufia memetik kepedihan hatinya?


"Aku ikut senang mendengarnya." Ucap Aufia mencoba tetap terlihat baik-baik saja meski sakit.


Untuk saat ini sepertinya bukan waktu yang tepat Aufia bercerita tentang apa yang ia alami. Aufia tidak ingin merusak kebahagiaan hati dari sahabatnya, Qevna.


...•...


...•...


...•...


Mobil jeep Avant berhenti tepat di halaman depan mantionnya. Ia turun untuk keluar dari mobil, namun langkahnya terhenti saat melihat kotak merah berukuran besar tertinggal di jok belakang. Avant yang tahu menggelengkan kepalanya. Bocah.


Avant sudah bisa menebak jika Aufia lupa untuk mengambil kotak merah berisi gaun pernikahan ini sehingga terbawa lagi oleh Avant. Untuk itu Avant membawanya masuk agar ingat besok ia harus membawanya kembali untuk Aufia.


Langkah kaki Avant memasuki mantion yang berlantaikan putih, dinding putih dengan tambahan hiasan lukisan abstrak tak berbentuk. Avant tidak perlu menunggu izin dari siapapun, ia melangkah menuju anak tangga akses ke lantai dua.


"Avant?"


Tungkai panjang milik Avant berhenti melangkah tatkala mendengar suara sang Ibu memanggil namanya.


"Kau sudah pulang, Nak?"


Ibu?


Avant berbalik dan melihat Ibu yang berdiri diujung bawah tangga.


"Sudah, Ibu. Kenapa?"


Kini Wanda melangkah menaiki tangga dan berdiri disamping Avant yang membawa kotak berwarna merah.


"Apa ini?" tanya Wanda penasaran namun tidak ingin mengganggi privasi sang anak. Untuk itu ia hanya melirik kotak yang memiliki warna merah.


"Oh ini, ini hadiah untuk temanku." Jawab Avant mencoba menutupi fakta yang ada.


"Teman?" Wanda mengernyitkan dahi menatap anaknya.


Avant mengangguk dengan cepat.


"Perempuan atau laki-laki? Kenapa sebesar ini? Apa Ibu boleh melihat isinya?"


"Maaf, Ibu. Tidak bisa!" Elak Avant menolak.


"Avant! Dengarkan Ibu!"


Wanda kini memilih duduk di ujung tangga paling atas, lalu menepuk lantai disampingnya agar Avant juga ikut duduk. Karena Ibu yang meminta akhirnya Avant duduk dan meletakkan kotak merah dibelakangnya.


"Ibu ingin bercerita? Tentang apa?" tanya Avant.


"Tentang tanggung jawab." Jawab Wanda tersenyum.


Tanggung jawab?


"Jika kau sudah memilih jalan hidupmu, apapun yang ada di jalanmu, lewati dengan tenang tanpa kau memilih jalan pintas. Hidup tidak mudah saat kau naik dalam status yang berbeda."


Berbeda?


"Maksudnya, Bu?" Avant belum paham, maka dari itu dia bertanya.


"Ibu tahu, entah itu kapan kau pasti juga akan menikah. Untuk itu statusmu bukan menjadi seorang anak, tapi seorang suami." Jelas sang Ibu pada Avant.


Suami?


Iya, aku suaminya Aufia. Aku suaminya.


"Ibu tidak perlu khawatir, umurku sudah 28 tahun, Bu, aku bisa memilih jalan yang terbaik untukku. Lagi pula saat ini aku sedang dekat dengan perempuan yang mengisi hatiku, nanti akan ku kenalkan pada kalian. Ibu dan Ayah pasti senang bertemu dengannya." Avant tersenyum menatap Ibunya.


"Ibu yakin perempuan pilihanmu adalah perempuan yang baik." Ucap Wanda menepuk pundak anaknya.


Semoga pernikahanmu dengan Qevna berjalan dengan lancar. Batin Wanda tersenyum bahagia.


Ibu dan anak itu saling tersenyum ketika sudah saling memahami tentang apa yang mereka bicarakan.


...•...


...•...

__ADS_1


...•...


Setelah berbincang banyak dengan Qevna dan sang Bibi pulang. Kini Aufia menyiapkan makan malam untuk dia dan Bibi. Qevna berpamitan pulang saat ingin menyiapkan makan karena Ibu menelponnya. Untuk itu Aufia membiarkan sahabatnya pulang daripada harus ditahannya untuk makan malam bersama.


Di dapur sempit ini, Aufia menyiapkan makan malam. Sayur sisa siang dengan tambahan telur mata sapi ia hidangkan.


"Bibi! Ayo, makan!"


Seru Aufia kemudian duduk di kursi meja makan.


"Iya, Fia! Kau masak apa? Bibi tadi pagi lupa tidak belan-"


Perkataan Bibi terhenti melihat Aufia sudah menyiapkan makan malam. Ia baru saja keluar dari kamarnya lalu duduk di kursi sebelah Aufia.


"Kau belanja sendiri?" lanjut Bibi bertanya.


Aufia mengangguk dengan cepat mengiyakan pertanyaan dari Bibinya. Mereka berdua makan bersama dan untuk masakan Aufia, Bibi menilainya dengan dua acungan jempol. Enak.


Aufia memang pintar memasak, bahkan dulu saat Ibunya masih ada, Aufia kecil sering di ajak masak bersama oleh mendiang Ibunya.


"Biar Bibi yang mencuci piringnya."


Bibi berdiri lebih dulu lalu membawa piring kotor ke wastafle untuk di cuci. Sedangkan Aufia membersihkan meja makan.


"Bibi, aku ke kamar dulu."


Aufia melangkah pergi dari dapur menuju kamarnya sambil membawa satu toples kue kering buatannya sendiri.


Astaga!


Lagi-lagi Aufia menepuk jidatnya. Dilihatnya toples berisi kue kering cokelat buatannya.


"Avant, kan suka kue buatanku! Kenapa tadi tidak ku beri satu toples? Aishh... besok sajalah!"


Gumam Aufia sebelum masuk ke kamarnya. Di kamarnya ia duduk bersandar di kepala tempat tidur. Satu kue masuk ke dalam mulutnya, satu tangan lagi memainkan ponsel. Aufia mencari nomor ponsel Avant di riwayat panggilan.


"Ketemu!"


Seru Aufia menekan nomor itu dan diberi nama kontak 'voodoo'. Yang artinya, boneka dengan penuh pin yang dimasukkan ke dalam boneka. Seperti itulah Aufia ingin memberikan pembalasannya.


"Kenapa lama sekali?"


Gumam Aufia yang memanggil nomor ponsel Avant namun tak kunjung di terima.


Aishhh...


Sekali lagi Aufia mencoba untuk menelpon karena sore tadi ia sudah berjanji akan menelpon Avant pada waktu malam. Tapi kenapa ini tidak diangkat?


Kemana dia?


Masuk tapi tidak diangkat.


Untuk sekali lagi, Aufia kembali menghubungi Avant, namun tetap sama belum diangkat.


"AUFIAAA!!"


Bibi?


Aufia segera keluar kamar setelah mendengar sang Bibi berteriak memanggil namanya.


"Ada apa, Bibi?" tanya Aufia saat keluar kamar dan menemukan Bibinya yang duduk di sofa ruang tamu.


"Ponsel siapa ini?" Bibi memegang sebuah ponsel dengan warna hitam di tangannya.


Ponsel?


Aufia mengernyitkan dahinya lalu mengambil ponsel itu dari tangan Bibinya. Ponsel yang berdering karena ada panggilan masuk dengan nama kontak 'wanitaku'.


Pantas saja!


Aufia sekarang tahu kenapa Avant tidak menerima panggilannya, ternyata ponselnya ketinggalan di rumahnya.


Astagaa...!!


Dengan begitu Aufia mematikan panggilannya.


"Ini ponsel temanku, Bi."


Ucap Aufia mengambil ponsel itu dari Bibi, kemudian membawa masuk ponsel Avant ke kamarnya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa ditelepon jika ponselmu saja tertinggal dirumahku? Dasar merepotkan." Lanjut Aufia kemudian menyimpan ponsel Avant di atas nakas.


[Bersambung...]


__ADS_2