
[Episode 034 - Hari Ke Dua Avant Part 2]
Sepanjang jalan pulang Aufia hanya diam tanpa bicara pada Avant. Begitu juga dengan Avant yang memilih lebih fokus pada jalanan di depannya.
Aufia berfikir dan mencerna apa yang dikatakan Avant. Benar. Avant benar. Jika dalam satu minggu tidak berurutan, maka akan semakin lama Aufia bersama Avant. Jika satu minggu selesai dalam 7 hari maka akan lebih cepat selesai. Iya, ini benar. Apa sebaiknya Aufia mengambil cuti seperti Avant?
"Maaf."
Satu kata dari Aufia yang terdengar lirih namun dapat terjangkau oleh pendengaran Avant. Untuk itu Avant menoleh pada Aufia lalu kembali pada jalanan di depannya. Tangan Avant terulur dan mengusap puncak kepala Aufia.
"Tidak masalah, aku tidak marah, hanya saja aku sudah terlanjur mengambil cuti demi kesempatan kedua yang kau berikan. Untuk itu mari kita selesaikan misi kita, jika aku gagal, aku berjanji akan pergi tanpa kau pinta."
Senyum itu, senyum hangat Avant yang membuat Aufia menatapnya ikut menjadi hangat. Damai. Aufia mengangguk menyetujui kesepakatan ini.
"Iya, aku akan mengambil cuti juga jika begitu. Tapi kau harus menepati janji, jika gagal kau harus pergi."
"Jika tidak?" sahut Avant menatap Aufia sebentar yang membuat Aufia berhenti untuk melontarkan kalimatnya.
Huh?
Jika tidak?
Tidak! Aku tidak akan mungkin hanyut begitu saja, ini kesempatanku untuk mengusirnya.
"Kita lihat saja bagaimana nantinya." Ucap Aufia kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran.
"Baiklah, tapi akan kupastika kau akan jatuh cinta padaku."
DEG!
Jatuh cinta?
Aufia menoleh menatap Avant yang fokus pada jalanan namun dengan senyum yang tersimpul. Entah apa ini, yang jelas detik demi detik seakan melambat. Waktu mulai menghentikan segalanya kecuali degup jantung Aufia yang semakin membara. Hanya dengan menatap tanpa ditatap saja sudah seperti ini, bagaimana jika Avant juga menatap Aufia? Entahlah. Namun saat itu benar-benar terjadi mak-oh!
Sontak Aufia memalingkan wajahnya saat Avant menatapnya.
Jantung seakan melompat dari habitatnya. Jantung! Tenanglah... tenang, ya!
"Tunggu!"
Aufia menepuk pundak Avant saat melewati sebuah tempat pembelanjaan. Untuk itu Avant menghentikan mobilnya di tepi jalan lalu menatap Aufia yang sekarang menoleh ke belakang.
"Ada apa?" tanya Avant mencoba menoleh ke belakang. Avant tidak tahu apa yang membuat Aufia tertarik hingga menoleh ke belakang.
"Putar balik! Ayo!" Suruh Aufia kepada Avant.
"Putar balik kemana?" Avant masih tidak tahu harus kemana.
"Cepat! Cepat! Putar balik ke sana!" Ulang Aufia menunjuk ke arah belakang mobil.
Avant menoleh dan belum menemukan apa yang ditunjuk Aufia.
"Kesana mana? Sebutkan tempat apa yang ingin kau kunjungi?" Avant sungguh belum tahu kemana tujuan untuk putar balik.
"Kau ini!"
Aufia memukuli Avant karena tidak segera putar balik sesuai permintaannya. Avant mencoba melindungi diri namun tetap terkena serangan pukul dari Aufia.
"Menyebalkan! Ayo, putar balik!! Cepaat!!" Lanjut Aufia masih bertahan memukuli Avant dengan kedua tangannya.
"Hei! Heii!! Tunggu dulu! Kau menyuruhku putar balik kemana? Hei! Astaga!" Avant mencoba untuk menangkap tangan gesit Aufia namun tidak bisa.
"Dasar menyebalkan! Disuruh putar balik tidak mau! Aku ingin belanja di Gallery Shop Mall!" Seru Aufia menghentikan serbuan tangannya ke Avant.
Astaga...!!
Avant hanya menghela nafas melihat Aufia yang sekarang justru memasang wajah marahnya.
__ADS_1
Hei! Siapa yang salah, siapa yang marah?! Dasar perempuan.
"Kau ini ya, yang salah siapa, yang marah siapa? Jika kau bilang ingin ke Gallery Shop Mall, maka aku sudah dari tadi putar balik. Aku tanya kau hanya menyuruhku putar balik tanpa memberitahuku tempat apa yang ingin kau tuju, bagaimana bisa aku putar balik tanpa tujuan?"
Avant hanya bisa menahan senyum dan menggeleng. Perempuan memang aneh. Setelah tahu tempat mana yang Aufia tuju, akhirnya Avant memutar balik mobilnya untuk menuju Gallery Shop Mall.
Lihat Aufia! Dia masih setia dengan marahnya dan memasang wajah masam. Bahkan saat Avant sudah memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang ada di Gallery Shop Mall.
"Ayo, turun!"
Avant melepas sabuk pengamannya lalu keluar dari mobil. Ia meregangkan ototnya saat sudah di luar. Namun Avant melihat bagaiman Aufia masih bertahan di dalam mobil tanpa melepas sabuk pengamannya. Eh?
"Kenapa kau tidak turun? Jangan bilang jika kau sudah tidak ingin pergi ke sini!" Ucap Avant yang menunggu Aufia dari luar.
"Yak! Aku tidak bisa melepas sabuk pengamanmu!" Teriak Aufia dari dalam mobil yang sontak membuat Avant tertawa diluar.
"Itulah akibatnya jika kau marah tanpa alasan." Masih setia dengan tertawanya, namun Avant kini tengah melepas sabuk pengaman Aufia.
"Turunlah!" Suruh Avant ketika sabuk pengaman terlepas tanpa hambatan.
Aufia turun namun mukanya masih masam tidak sedap dipandang.
"Hei? Masih belum tersenyum?"
Heran. Avant menggelengkan kepala melihat tingkah Aufia saat ini.
"Ayo!"
Ajak Avang kemudian memeluk Aufia dari belakang dan mendorong Aufia untuk jalan. Dengan hal ini, sontak Aufia mencubit-cubit tangan Avant yang melingkar indah di perut ratanya meski ia juga melangkahkan kakinya.
"Avant! Lepas!"
Meski sakit, namun Avant tidak peduli dan tetap melingkarkan tangannya di perut Aufia.
"Tidak mau!"
"Malu dilihat orang! Cepat lepaskan!" Aufia berusaha melepas tangan Avant karena malu dilihat orang lain.
"Senyum dulu, baru aku lepaskan!"
AVAAAANNNNT!!!
"Kau sudah pernah kesini atau belum?"
Setelah kejadian memalukan tadi, akhirnya Aufia mengalah untuk tersenyum. Kini mereka berdua tengah berkeliling di Gallery Shop Mall, hanya berkeliling. Sudah lebih dari 2 jam, Avant dan Aufia belum membawa satu paperbag yang artinya mereka belum membeli satu produk apapun.
"Aku sudah pernah kesini. Tapi aku bingung apa yang harus aku beli." Jawab Aufia dengan mata indahnya yang melihat ke kanan ataupun kiri. Avant hanya mengikuti kemana langkah Aufia pergi.
"Memangnya kau ingin membeli apa?" tanya Avant. Lelah.
"Aku? Entahlah, aku bingung." Jawab Aufia lagi-lagi membuat Avant hanya bisa bersabar.
Mereka berdua berkeliling dari lantai dasar, kedua, ketiga dan sekarang tengah naik eskalator untuk menuju lantai yang ke empat.
"Aufia, tolong beritahu aku sedikit apa yang kau inginkan, mungkin aku bisa membantumu. Jika begini akan lama kau mencari sesuatu yang kau sendiri tidak tahu."
Avant mencoba memecahkan masalah ini, 2 jam pertama hasilnya nihil dan sekarang bertambah 2 jam lagi, jadi totalnya sudah 4 jam mereka berdua hanya berkeliling tanpa tujuan.
"Baiklah, aku ingin memberi hadiah pada sahabatku!" Ucap Aufia melangkah setelah eskalator membawanya ke lantai empat.
"Sahabat?" ulang Avant memastikan, jika benar berarti ini untuk Qevna. Siapa lagi sahabat Aufia jika bukan Qevna?
"Iya, aku ingin hadiah yang spesial, yang nantinya akan membuatnya ingat bahwa hadiah itu dariku." Lanjut Aufia tanpa menatap ke Avant karena ia tengah mencari barang ataupun benda yang pas untuk dijadikan hadiah.
Avant terdiam namun otaknya berfikir hadiah apa yang tepat seperti yang Aufia inginkan.
"Jika begitu berikan saja dia poto kalian berdua. Itu akan membuatnya ingat padamu dan persahabatanmu."
__ADS_1
"Yak! Terlalu sederhana." Sahut Aufia tidak setuju.
"Baiklah, ditolak."
"Ah! Bodohnya aku!" Seru Aufia menepuk jidatnya.
Baru tahu? Avant melihat Aufia yang menepuk jidatnya sendiri.
"Aku sudah menemukan hadiahku! Yah! Benar!" Lanjut Aufia senang dengan bertepuk tangan tersenyum menatap Avant.
"Apa? Kau akan membelikannya apa? Aku bantu memilihkan warnanya." Tawar Avant senang akhirnya menemukan apa yang dicari.
"Tapi tidak disini belinya." Ucap Aufia dengan entengnya.
AUUUFIIIAAAA!!!!
Matahari mulai tenggelam tanda hari sudah malam. Aufia dan Avant kini baru pulang namun tidak membawa apapun yang kononnya Aufia ingin membeli hadiah.
Bibi segera membuka pintu saat mendengar suara ketukan pintu. Aufia dan Avant masuk ke dalam rumah, Avant langsung duduk di sofa dan menyandarkan punggungnya, sedangkan Aufia masuk ke dalam kamar. Sang Bibi yang melihatnya tampak heran tidak paham.
"Nak Avant? Ada apa?"
Tanya Bibi yang ikut duduk disamping Avant yang terlihat penat.
"Lelah, Bi! Tadi hanya berputar di Gallery Shop Mall tanpa membeli apapun disana. Bayangkan, Bi! 5 jam aku dan Aufia disana namun hasilnya nihil." Jelas Avant yang membuat Bibi semakin tidak paham.
"Mencari apa kalian? Sampai selama itu?" tanya Bibi lagi dengan polos.
"Hadiah, Bi!" Sahut Aufia yang keluar dari kamar kemudian menuju dapur.
"Hadiah?" Ulang Bibi.
"Iya, Bi. Tapi belum beli, katanya Aufia sendiri yang membeli, ingin aku bayarin tapi Aufia tidak mau. Nanti hadiahnya jadi dariku, bukan darinya." Jelas Avant sekali lagi.
"Aku benarkan, Bibi? Aku yang ingin memberi hadiahnya, maka harus dengan uangku membelinya." Lagi-lagi Aufia menyela pembicaraan, ia keluar dari dapur dan membawa satu nampan berisi satu toples kue kering buatannya ditambah satu cangkir teh hangat.
"Terimakasih." Avant tersenyum melihat Aufia yang menyajikan itu semua untuknya. Astaga, betapa indahnya jika hal ini dilakukan Aufia padanya saat menjadi sepasang suami istri nanti. Hanya membayangkannya saja sudah membuat Avant tersenyum.
"Baiklah, lanjutkan saja kalian mengobrol, Bibi akan masih banyak pekerjaan. Mau lipat-lipat baju." Pamit sang Bibi kemudian pergi meninggalkan Avant dan Aufia sendiri di ruang tamu.
Aufia duduk disamping Avant dan menyimpan nampan di bawah meja ruang tamu.
"Kau membuatnya untukku?" tanya Avant mengambil toples yang berisi kue kering buatan Aufia.
"Tidak, aku membuatnya karena aku suka." Jawab Aufia kemudian mengambil ponsel yang ia simpan di saku.
Kue kering buatan Aufia memang enak, sudah beberapa keping yang ia lahap karena enak. Sedangkan Aufia masih berkutik dengan ponselnya.
"Kau mengetik apa?" Avant penasaran karena melihat Aufia beberapa kali menekan layar ponsel dengan jari-jari tangannya.
"Aku bilang ke dosenku untuk cuti 5 hari kedepan." Jawab Aufia masih berkutik dengan ponselnya.
CUP
Yak!!
Sontak tangan Aufia memukul kepala Avant yang tiba-tiba mengecup pipi lembutnya yang seperti pantat bayi.
"Aaw..!" Rintih Avant kesakitan.
"Kenapa memukulku?" lanjut Avant protes.
"Siapa yang menyuruhmu untuk mencium pipiku? Kau pikir itu kejutan yang manis? Tidak! Itu tidak manis!"
Aufia bukanlah perempuan yang manja-manja dengan tingkah romantis yang manis.
"Iya-iya, maaf!"
__ADS_1
Avant mengalah. Ia yang salah.
[Bersambung...]