
Yang Terdalam
20
Kamu tahu apa itu rindu? Dekatnya bagaikan jantung yang berdetak. Namun, sejauh langit yang tak tergapai.
❤️❤️
Wanita itu lama menatap foto di tangannya. Tak lama ia menggeleng berkata, "maafkan aku, kenapa aku tidak ingat, jika aku istrimu, kenapa aku tidak bisa merasakan cinta? Maaf ...." Dengan air mata berderai ia meninggalkan ruangan itu menuju ke kamar.
Aryo memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam. Ia membaringkan tubuh di sofa dengan mata menerawang.
***
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Aryo sibuk dengan bisnis restorannya juga ikut mengurus Archie. Siang itu saat ia tengah duduk bersama Tomi di sebuah kafe.
"Jadi dia masih belum ingat?"
Aryo menggeleng kemudian meneguk capuccino di depannya.
"Sampai kapan, Yo?"
"Maksud kamu?"
"Iya, sampai kapan kamu bertahan dengan kondisi Bella seperti itu?" Tomi tak ingin Aryo hanya berpikir tentang wanita itu, "dia lupa ingatan, Bro! Sedangkan banyak cewek lain yang ...."
Aryo mengangkat jari memberi isyarat agar diam.
"Sampai dia tak ingin aku ada disampingnya!"
Tomi menggeleng heran dan tersenyum kecut. Ia tahu, ada beberapa wanita teman kuliah mereka dulu yang mencoba mendekati Aryo. Bahkan sampai saat ini, masih ada saja yang mencoba menghubungi pria itu, tapi semuanya tak diindahkan oleh Aryo.
"Yo, kita bicara realitanya, amnesia retrogade itu bukan masalah sepele, Bro! Aku nggak mau kamu jadi pria pemuja cinta yang absurd!" cetus Tomi serius.
Pria itu melirik sahabatnya, lalu kembali menyeruput minuman hingga habis.
"Kembalikan saja ke orang tuanya, Yo! Ayolah, kamu pria single yang bebas! Maksudku itu semua bukan tanggung jawabmu, bahkan bayi itu, dia bukan anakmu, Aryo!"
Aryo diam mendengarkan penuturan Tomi. Meski tak ada yang salah dari niat pemuda itu, tapi ia merasa bahwa perasaannya pada Bella adalah hal yang patut diperjuangkan. Dia bisa saja mengembalikan Bella juga Archie ke Pak Santoso.
Namun, ia bukan pria pengecut yang tidak bertanggung jawab atas ucapannya.
"Kamu benar, tapi ...." Aryo menghentikan kalimatnya. Mata pria itu menatap ke satu titik.
"Tapi apa, Yo?" Tomi mengikuti arah tatapan sahabatnya.
"Doni!" desisnya dengan rahang mengeras. Ia melihat pria itu dengan seorang wanita tengah duduk menikmati makan siang. Tampak keduanya sangat bahagia, sesekali Doni menyematkan kecupan singkat ke kening sang wanita.
"Doni? Dia Doni, lelaki ...."
Tomi tak melanjutkan ucapannya, sebab Aryo tiba-tiba beranjak dari duduk menghampiri pria bernama Doni itu.
"Yo, tunggu! Kamu mau ngapain?" Tomi menahannya.
"Aku harus beri pelajaran pada pria ******** itu!" tegasnya menepis tangan Tomi, kemudian melanjutkan langkahnya. Saat Aryo hendak melayangkan tinju ke arah Doni, cepat Tomi menahan.
"Kamu jangan gila! Dia bisa nuntut kalau seperti ini!"
Doni dan teman wanitanya terkejut dengan kedatangan tiba-tiba pria itu. Ia menatap lekat Aryo. Ada senyum miring terbentuk di bibirnya.
"Kamu ... sopir Bella, 'kan?" sinis Doni mengejek. Aryo tak menjawab, tangannya mengepal dengan rahang masih mengeras.
"Aku dengar dia kecelakaan ya? Anak manja itu memang pantas mendapatkannya."
__ADS_1
Bugh!
Aryo tak bisa menguasai diri, satu tonjokan bersarang di wajah Doni. Tak terima diserang tiba-tiba, Doni melawan, tapi tentu saja bukan masalah bagi Aryo yang mahir bela diri, ia mengelak santai. Sementara Tomi menarik tangan Aryo agar mereka menjauh. Namun, Aryo menolak.
"Kamu tidak ingin melihat anak laki-lakimu yang dilahirkan Bella?"
Teman wanita Doni yang sejak tadi diam kali ini terkejut mendengar penuturan Aryo. Ia menatap penuh selidik pada pria di sampingnya. Mendengar itu Doni tampak pias.
"Anak? Kamu bilang kamu sudah bercerai dan tak memiliki anak? Lalu Bella itu siapa? Bukankah istri kamu bernama Lusi?" cecarnya tak suka seraya memukul dada pria itu.
Aryo menatap puas ke Doni.
"Kamu akan tahu seperti apa manusia satu ini! Jawab pertanyaan wanitamu itu!" Setelah mengucapkan kalimat itu ia melangkah keluar kafe.
"Lain kali jangan asal tonjok, Yo!" cetus Tomi saat mereka berdua di mobil. Aryo mengusap wajahnya kemudian menarik napas dalam-dalam.
"Paling nggak aku sedikit lega, Tom!"
Tomi terkekeh mendengar ucapan Aryo.
"Oke, kita ke mana sekarang?"
Aryo meminta agar Tomi mengarahkan ke toko bukuyang terletak di salah satu mall. Ia mengatakan pada Tomi bahwa ingin belajar lebih banyak tentang amnesia. Dengan anggukan, Tomi mengemudikan mobil ke tempat yang diinginkan pria itu.
Sesampainya di sana, mereka berdua langsung menuju toko buku. Mereka asik memilih buku sesekali tampak mendiskusikannya. Mata Tomi menyipit melihat dua sosok wanita berjilbab yang tengah berdiri tak jauh dari tempat mereka.
"Aryo! Coba lihat, itu Kayla sama Dina, 'kan?" Ia menepuk lengan Aryo. Mata lelaki itu menoleh ke arah yang ditunjuk. Ia mengangguk lalu kembali membaca buku di tangannya. Tomi melirik sahabatnya kemudian kembali menepuk bahu Aryo.
"Kamu nggak lupa, 'kan siapa Kayla?"
Aryo tersenyum tipis lalu menggeleng. Bagaimana mungkin pemuda itu lupa, Kayla adalah teman sekolah mereka. Gadis itu sukses mencuri hatinya saat itu.
Namun, saat itu ia tidak punya nyali yang cukup untuk sekedar dekat dengan gadis berlesung pipi itu. Kayla, gadis pintar, cantik dan kaya membuat dirinya perlahan mundur dari para 'pengagumnya', hingga mereka berpisah.
"Kenapa diam? Ah aku tahu, pasti kamu sedang teringat masa saat ngecengin Kayla, 'kan?" goda Tomi terkekeh, "aku ke sana ya." Lelaki itu tak menunggu jawaban dari Aryo. Ia mendekati kedua gadis itu.
"Tomi?" Gadis berjilbab coklat itu membalas sapanya.
"Nggak nyangka masih ingat aku, Din! Eum ... Kayla, masih ingat aku?"
Dengan senyum dikulum, Kayla mengangguk.
"Kamu ... sendirian?" Dina bertanya.
"Kamu ingat siapa dia?" Tomi menunjuk ke arah Aryo dengan dagunya.
"Aryo?" gumam Kayla. Gadis berjilbab biru itu tertegun menatap lelaki itu dari kejauhan.
"Ehem, udah, jaga pandangan, Kay!" tegur Dina menjentikkan jarinya. Sontak wajahnya memerah menyadari kesalahannya. Melihat itu Tomi terkekeh memanggil Aryo.
"Apa kabar, Kayla, Dina?" sap Aryo saat sudah berada di tengah-tengah mereka.
"Baik," jawab mereka berdua.
"Cari buku apa?" Tanpa sengaja Kayla dan Aryo menanyakan hal yang sama sehingga mereka semua tertawa.
"Cieee ... biasanya itu tanda jodoh loh," ledek Dina menahan tawa. Kayla menutup bibirnya menatap ke arah Dina dengan mata melotot.
Aryo hanya menggeleng tertawa. Sedang Tomi tampak tak sanggup menahan bahagia.
"Oke, aku rasa harus pulang sekarang. Ayo, Tom!" ajak Aryo. Tampak Tomi terkejut tak menyangka Aryo mengajaknya pulang.
"Yah, kita kan baru aja ketemu, Yo. Masa pulang?"
__ADS_1
Aryo tersenyum kemudian berkata, "ya udah, aku pulang duluan ya. Kayla, Dina, aku balik dulu." Pria itu meninggalkan mereka bertiga. Tak terima ditinggal, Tomi memanggil Aryo memintanya agar menunggu.
"Aku tunggu di mobil!" Pria itu ngeloyor pergi. Sedang Tomi meminta nomor telepon keduanya setelah itu berlari mengikuti Aryo.
"Yes! Aku punya nomor teleponnya," ungkap Tomi gembira. Aryo hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Yo! Kayla guru di sekolah Mutiara Kasih loh!"
Sekolah Mutiara Kasih adalah sekolah terkenal dan mahal di kota itu. Tak heran, sebab dengan prestasi Kayla ia dengan mudah meraih impiannya sejak dulu. Menjadi guru di sekolah terkenal itu.
"Terus apa hubungannya denganku?" Aryo acuh menatap ke depan fokus mengemudi.
"Ya keren aja! Eh satu lagi, dia belum menikah, bisa tuh clbk!" kelakarnya menatap sang sahabat.
Aryo menarik napas dalam-dalam. Ia tak menanggapi ocehan Tomi yang tak henti bercerita tentang masa sekolah dulu.
"Tom, bisa diem nggak? Lama-lama aku tonjok juga itu mulut!" Aryo tampak gusar. Melihat itu ia segera mengunci mulutnya rapat.
***
Setelah mengantar Tomi pulang, ia menuju ke kediamannya. Dengan harapan beberapa buku yang ia beli sedikit bisa membantunya membantu memulihkan ingatan Bella.
"Bella mana, Mbok?" tanyanya saat masuk rumah. Mbok Win menunjuk ke halaman belakang, mengatakan bahwa Archie juga bersama Bella. Dengan senyum ia melangkah ke halaman belakang. Ia melihat pemandangan yang membuat hatinya menghangat. Bella tampak penuh kasih mengajak Archie berbicara. Matanya tampak berbinar.
"Sore ... Bella," sapanya tersenyum.
Wanita yang tengah menatap Archie itu menengadah membalas sapaannya.
"Archie wangi sekali!" Ia duduk di sebelah Bella dengan mata yang terus menatap padanya.
"Dia sudah mandi, jadi wangi. Kalau kamu?" ujar Bella melirik sekilas kemudian beranjak meninggalkan Aryo seraya menggendong Archie.
"Eh kok aku ditinggal?" protesnya.
"Mandi dulu sana!" Wanita itu tersenyum menatapnya. Sejenak Aryo berharap ada keajaiban, ia menahan lembut lengan Bella.
"Kenapa? Ada yang salah?" Wanita itu menatap heran padanya. Aryo membalas tatapan itu, seraya berdoa meminta agar ingatan Bella kembali.
"Kamu kenapa sih? Lepasin!"
"Maaf ....."
Bella mengangguk kemudian pergi. Aryo lagi-lagi harus menahan diri untuk lebih bersabar.
Saat makan malam selesai, ia mengajak Bella duduk di teras depan.
"Bella."
"Ya?"
"Kamu mau aku ajak ke suatu tempat besok?"
"Ke mana?"
"Aku harap kamu suka, sebab dulu ...."
"Dulu aku kenapa?" potongnya.
"Dulu kamu sangat menyukai tempat itu."
Bella sejenak diam. Kemudian ia berkata, "apa tempat itu bisa membantu mengingatkan aku padamu?"
Aryo menarik napas dalam-dalam kemudian mengangguk.
__ADS_1
"Aku harap begitu."
❤️❤️❤️❤️