Yang Terdalam

Yang Terdalam
Pernikahan Part 2


__ADS_3

[Episode 022 - Pernikahan Part 2]


Ketenangan dalam hidup adalah impian dari semua orang. Tanpa beban dan bebas melakukan apapun adalah keinginan semua orang. Namun karena kau hidup berdampingan maka rasa iri dan saling menjatuhkan akan selalu hadir dalam menghiasi hidupmu.


Rasa kecewa dalam hidup selalu ada, namun jangan sampai rasa kecewa itu mengubah jati dirimu.


Aufia salah satunya, ia merasa kecewa dengan pilihan takdir dalam hidupnya. Aufia merasa ini tidaklah adil untuknya yang tidak bersalah. Pasti ada seseorang yang tidak menyukainya hingga membuat fitnah tak berdasar ini. Tapi siapa? Entahlah.


Malam ini, setelah makan dan minum, Aufia kembali mengurungkan diri di dalam kamar. Aufia sangat tidak nyaman jika harus diam di hadapan Bibi. Sangat ingin sebenarnya menangis tersedu di pelukan sang Bibi. Namun Aufia tidak sanggup menyakiti hati Bibi. Tanpa bercerita apapun, Bibi sudah cukup mendapatkan rasa sedihnya dengan tangis yang tertahan. Apalagi jika semua yang Aufia alami didengar oleh Bibi, Aufia tidak ingin melakukan itu. Tidak.


"Maafkan aku, Bibi."


Aufia menangis kembali mengingat bagaimana usaha Bibi untuk bisa mencari uang demi Aufia bisa kuliah. Apa ini balasan yang pantas untuk Bibi? Tidak ini bukan balasan. Ini masalah untuk Bibi.


Tangan berjari lentik itu mengambil ponsel dan mulai membuka menunya. Aufia memilih nomor ponsel dengan nama Qevna.


"Angkat Qevna, aku ingin bicara denganmu!"


Aufia berharap Qevna mengangkat teleponnya karena dari tadi hanya berdering tanpa diterima.


"Kau kemana, Qevna?"


Aufia menggigit bibirnya namun malah sakit karena bekas luka yang bertengger disana.


"Aw..."


Rintih Aufia merasakan bibirnya perih. Kemudian Aufia memutuskan untuk tidak menelpon Qevna lagi mungkin karena dia masih sibuk.


Aufia menelan ludahnya susah payah, disentuhnya sendiri bibir itu dengan ujung jari lentiknya. Aufia merasakan hal yang berbeda. Ia ingat betul bagaimana Avant memainkan bibir mungilnya.


"Aku bukan gadis yang baik lagi."


Keluh Aufia menundukkan kepalanya menyandar pada lutut kaki yang ditekuk. Entah berapa kali Aufia menangis dengan mengingat apa yang terjadi pada dirinya.


Sebuah mutiara yang ia jaga dengan susah payah sedari kecil pecah begitu saja di tangan orang yang tanpa Aufia kasih kepercayaan. Sakit.


"Jujur, kau adalah orang yang sangat aku cintai."


"Kau adalah satu-satunya yang mampu membuatku menyerah padamu. Kau satu-satunya diantara mereka yang menggilaiku, tapi kau justru membuatku tergila-gila padamu!"


Kata itu tiba-tiba terlintas dalam ingatan Aufia. Kata dimana Avant menyebutkan kata 'cinta'. Aufia sendiri terkejut bukan main setelah mendengarnya. Bagaimana bisa Aufia yang sesederhana itu mampu menarik perhatian Avant?


"Tapi kesalahanmu ini tidak bisa aku terima. Akibat dari ulahmu, Ayahku harus dirawat di rumah sakit. Aku hampir kehilangan Ayahku. Itu karena mulutmu yang begitu hebat dalam membuat kekacauan ini."


Tapi benarkah Avant mencintai Aufia?


Aufia pikir itu hanya kata manis saja untuk mengurangi luka dan rasa sakit yang Aufia dapatkan. Aufia tidak sebodoh yang lain dengan mudah menyerahkan hati dan cinta mereka pada pria tak beradab seperti Avant. Meski semua telah direnggut Avant, namun Aufia tidak akan menyerahkan segalanya.


Aufia masih punya hal yang jauh lebih tinggi dari Avant.

__ADS_1


"Kau boleh merebut harga diriku, tapi tidak dengan kata maaf  ku."


Ucap Aufia lirih lalu mengusap air matanya yang bahkan mengalir lagi. Dengan pelan Aufia merubah posisinya menjadi berbaring di tempat tidur. Rasa nyeri dan sakit menyelinap setiap Aufia bergerak, namun tetap Aufia tahan.


Selimut kini menjadi pelindung Aufia. Selinut berwarna cokelat tebal itu menutupi sepenuhnya tubuh Aufia kecuali kepala. Aufia merasa hangat meski dibeberapa bagian tubuhnya merasakan sakit yanh nyeri


...•...


...•...


...•...


Tak terasa sang waktu melewati tidurnya tanda pagi menjelang mengganti malam.


Pagi ini yang berkabut dengan udara dingin tidak membuat Bibi terlambat bangun pagi. Sejak bangun Bibi sudah menyiapkan sarapan untuk Aufia yang masih tertidur didalam kamarnya. Meski Bibi sangat penasaran apa yang terjadi pada Aufia, namun Bibi tidak memaksa Aufia bercerita. Ini bukan tentang rasa penasaran sang Bibi melainkan rasa siap dari Aufia.


Untuk itu Bibi tidak memaksa Aufia bercerita. Bibi siap kapanpun, namun Bibi harus menunggu Aufia untuk siap.


Setelah memasak dan membersihkan rumah, Bibi ingin pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti sayur dan bumbu dapur. Namun niatnya terhenti saat melihat sebuah kotak kardus kecil diatas kursi yang ada diteras. Bibi mengambilnya dan melihat kotak itu. Tak ada nama Aufia berarti ini bukan paket untuk Aufia.


"Dari siapa? Apa ini?"


Bibi penasaran, maka dari itu Bibi membawanya masuk ke dalam rumah.


"Aufiaaa! Paketmu datang!"


Teriak Bibi meletakkan kardus itu diatas meja ruang tamu. Bibi kembali keluar untuk pergi ke pasar. Meskipun tidak ada nama Aufia, tapi Bibi tidak berani membuka karena juga tak ada namanya di paket tersebut. Pasti untuk Aufia namun lupa memberi nama.


Paket?


Seingat Aufia, dia tidak memesan apapun tapi kenapa ada paket datang? Karena penasaran, akhirnya Aufia beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya. Pandangannya tertuju pada kardus kecil diatas meja ruang tamu. Dengan cepat Aufia mengambil kotak itu dan membukanya.


"TIDAAAAKKKKK!!"


Teriak Aufia melempar kardus itu ke lantai. Dua foto tampak terlempar menjauh dari kardus yang terbalik. Foto yang memperlihatkan Aufia tengah bersama Avant di kedai kopi.


Melihat foto itu membuat Aufia ingat bagaimana Avant begitu kasar padanya, bagaimana Avant tidak maafkannya. Sakit akibat luka batin dan fisik membuat Aufia kembali menangis terduduk di lantai. Tubuhnya lemas tanpa daya. Aufia sudah tidak berharga lagi.


"Maafkan aku, Bibi."


Dengan tangan gemetar, Aufia mencoba meraih dua foto itu. Sakit namun harus berani. Aufia merobek-robek kertas itu dengan tangisnya yang kembali pecah. Hancur. Aufia hancur.


"Maafkan aku, Bibi!"


Dengan berusaha sekuat tenaga, Aufia berdiri dari tempatnya terduduk. Dengan tertatih Aufia menuju dapur dan membuang sobekan kertas itu pada tempat sampah.


"Kau boleh menyakiti aku, tapi tidak dengan Bibiku!" ujar Aufia menatap tempat sampah dengan sobekan foto yang berhambur didalamnya.


...•...

__ADS_1


...•...


...•...


"Pernikahan?"


Ulang Avant saat kedua orang tuanya berbicara tentanf pernikahan. Avant mengusap wajahnya kasar lalu membuang nafas.


"Ayah, tolong! Jangan atur kehidupanku!"


"Avant!" Sahut Ibu agar Avant tidak menggunakan nada tinggi saat berbicara dengan Ayahnya.


Ayah, Ibu, dan Avant kini duduk di ruang tengah. Mereka sedang membicarakan kekacauan yang menyangkut hatga diri keluarga Kanuraga. Ibu sengaja membuatkan teh juga cemilan kue kering agar pembicaraan tidak memanas. Ayah dan Avant pun juga tengah memainkan catur agar mereka tak saling beradu argument.


Sang Ayah diam saat ada penolakan dari putra semata wayangnya tentang pernikahan. Hadiyata membiarkan anaknya berselimut amarah dulu hingga suasana hatinya berubah jadi sejuk.


"Ayah, aku bisa memilih sendiri siapa yang akan menjadi istriku, Ayah!" Jelas Avant tidak terima lalu menatap Ibu agar pecaya padanya.


"Ibu tahu, Nak... tapi ini juga demi kebaikanmu." Ibu kembali berbicara.


"Aku tahu yang terbaik untuk diriku, tolong... untuk kali ini biarkan aku sendiri yang memilih siapa yang akan jadi pendamping hidupku, Ayah, Ibu." Avant mengatakannya dengan sangat memohon kepada Ayah dan Ibunya.


Pembicaraan tentang pernikahan selalu menjadi hal yang Avant tidak sukai. Ini bukan hal yang kecil, ini menyangkut masa depan Avant untuk selamanya. Maka Avant ingin dia sendiri yang menentukan dengan siapa dia menghabiskan waktu hingga akhir hayatnya.


"Avant, Ayah tahu kamu bisa memilih perempuan mana yang akan jadi pendamping hidupmu, tapi untuk saat ini apa salahnya kalian saling kenal dulu? Siapa tahu berjalannya waktu kalian jadi saling suka? Ayah dan Ibu juga tidak sembarangan memilih perempuan untuk calon istrimu." Jelas sang Ayah pada Avant supaya mengikuti sarannya.


Avant terdiam setelah mendengar Ayah bicara, tapi Avant juga tidak ingin menikah terburu-buru apalagi untuk menyangkal berita yang tidak benar ini.


"Tidak, Ayah! Ak-"


"AVANT!!! APA KAU INGIN AYAHMU INI PERGI LEBIH CEPAT???" teriak Hadiyata, Ayah Avant membuat Avant terhenti bicara dab tidak melanjutkan perkataannya.


Apa?


Tidak! Ayah tidak boleh pergi.


"Apa Ayah kurang memenuhi keinginanmu? Apa Ayah kurang dalam memberikan semua kasih sayang? Hanya ini permintaan terakhir dari Ayah. Ayah ingin melihatmu menikah sebelum Ayah pergi."


Avant terdiam tanpa suara. Apa yang harus dikatakan lagi jika ini menyangkur pada kesehatan Ayah. Terlebih permintaan terakhir. Tidak, Avant tidak ingin kehilangan sosok Ayah dalam hidupnya. Semua Ibu yang memperkenalkan seluruh dunia, tapi Ayah yang membuat Avant berani menghadapi seluruh dunia.


"Avant, coba dengarkan dulu, Nak. Jangan kau campurkan amarahmu dengan nasehat dari Ayahmu." Tambah sang Ibu menenangkan Avant.


Avant masih terdiam.


Menikah? Apa harus aku menuruti permintaan Ayah? Tapi bagaimana dengan Aufia? Apalagi aku sudah menodainya, tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja.


"Jika aku sudah memiliki pilihan, apa kaliak akan menyetujuiku untuk menikah dengan pilihanku?" tanya Avant dengan menatap Ayah dan Ibunya.


"Tidak masalah, yang penting dari keluarga yang baik-baik." Jawab sang Ayah.

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat Avant tersenyum lega. Dengan begini ia masih ada waktu untuk memperkenalkan Aufia kepada kedua orang tuanya.


[Bersambung...]


__ADS_2