Yang Terdalam

Yang Terdalam
Rasa Yang Ada


__ADS_3

[Episode 027 - Rasa Yang Ada]


"Baiklah, sekarang kau pulang! Waktumu dimulai besok pagi."


"Kau memberiku kesempatan kedua?" tanya Avant ditambah senyumnya yang mengembang.


"Lepaskan pelukannya!" Gertak Aufia sontak membuat Avant melepaskan pelukannya.


"Maaf, aku terlalu senang! Baiklah akan ku tunjukkan padamu jika aku bisa membuatmu bahagia dalam waktu seminggu! Ak-"


"Pulang!"


Avant terdiam mendengar Aufia yang menyuruhnya pulang hingga membuatnya tidak jadi melanjutkan kalimat yang ingin terlontar. Untuk itu Avant lebih memilih untuk pulang dan berpamitan pada Aufia.


"Selamat malam, wanitaku." Ucap Avant lembut dengan mencium kening Aufia.


DEG!


Apa ini?


Entah apa yang dirasakan Aufia saat ini, ia terdiam tanpa menolak perilaku Avant padanya. Padahal waktu dimulai besok, namun malam ini saja Avant sudah memberikan perasaan yang membuat Aufia hanyut.


Jujur saja ini kali pertama yang Aufia rasa maupun dapatkan. Jujur perilaku kecil ini pasti juga impian semua wanita ketika laki-lakinya pergi, ciuman kening adalah pamitan yang manis.


Motor Avant melaju pergi untuk pulang. Aufia masih berdiri ditempatnya bahkan sampai motor Avant menjauh tak terlihat. Kemudian tangan berjari lentik dengan ujung kuku yang cantik itu terangkat mengusap kening yang baru saja disapa lembut oleh Avant.


Apa ini?


Bingung. Aufia tidak paham dengan dirinya sendiri, untuk itu ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu serta tidak lupa menguncinya.


"Paketan apa lagi, Fia?" tanya Bibi keluar dari dapur menemui Aufia.


Fiuhhh... untung saja Bibi di dapur dan tidak melihat drama Aufia dan Avant.


"Hm, iya... gak tahu, aku suruh bawa pulang, Bi. Biar dikembalikan sama pengirimnya." Jawab Aufia berbohong.


"Fia!" Panggil sang Bibi menghentikan niatan Aufia yang ingin masuk ke dalam kamar.


"Ada apa, Bi?" tanya Aufia polos.


"Sebenarnya siapa yang mengirim paket sebanyak ini? Sudah seminggu kiriman paket datang terus, pagi, siang, sore, bahkan malam seperti baru tadi. Ini semua dari siapa?" tanya sang Bibi penasaran.


Duh... bagaimana ini? Jujur tidak ya?


Aufia sedikit bingung untuk menjawab, bahkan ia memainkan ujung-ujung kukunya tanda Aufia gugup ataupun bingung.


"Fia? Bibi hanya ingin tahu siapa pengirimnya. Kenapa sebanyak ini? Dan dari semua paket yang datang, hanya paket makanan yang kau sentuh, yang lain? Kamu berikan pada tetangga." Imbuh sang Bibi.


Itu karena aku tidak suka, Bibi!


"Dari temanku, Avant." Jawab Aufia memutar matanya jengah. Terpaksa jujur dari pada harus diam dan dihantui pertanyaan 'siapa' dari sang Bibi. Setidaknya memang Avant yang mengirim paket-paket ini.


"Avant?" ulang Bibi bertanya lagi untuk memastikan.


"Iya, namanya Avant." Jawab Aufia mengangguk.


"Itu dia, Fia! Pemuda yang menabrak Bibi."


Apa?


Aufia membulatkan matanya mendengar pengakuan dari Bibinya. Pantas saja dulu pernah menitipkan bouquet bunga pada Bibi. Sekarang Aufia tahu darimana Avant bisa kenal dengan Bibinya. Ternyata kejadian waktu Bibi terkena musibah. Dan ternyata Bibi jauh lebih dulu kenal Avant ketimbang dirinya.


"Lalu ada masalah apa diantara kalian? Kenapa Nak Avant mengirimkan paket sebanyak itu, dan itu setiap hari seminggu ini lho, dulu juga pernah nitip bunga ke Bibi untuk diberikan ke kamu, katanya ada sedikit kesalahpahaman. Benar tidak?"


Sedikit? Itu bukan sedikit, tapi banyak!


"Fia, kenapa tidak menjawab pertanyaan Bibi?" lanjut Bibi butuh jawaban.


"Maaf, Bibi! Untuk ini biar menjadi hal yang privasi untuk aku dan Avant. Kami berdua bisa menyelesaikan masalah ini." Jawab Aufia tidak ingin bercerita lalu masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Aufia menutup pintu lalu bersandar pada pintu, dadanya naik turun karena harus berkata bohong pada Bibinya. Kemudian Aufia menatap ponsel dan meraihnya. Dilihatnya ponsel itu sangat bagus dengan desain yang mewah namun sederhana. Seperti ponsel mahal.


"Fia, Bibi baru saja ada rejeki, untuk itu Bibi belikan ponsel ini untukmu!"


Aufia ingat betul bagaimana sang Bibi membelikan ponsel baru untuknya. Sepulang kerja Bibi memberikannya saat Aufia makan hingga piring yang di meja terjatuh karena saking senangnya Aufia menerima ponsel itu. Ponsel mahal dengan warna kesukaan Aufia.


"Hei! Tunggu! Dari semua hadiahku apa ponsel ini yang paling berguna?"


"Iya, aku memberimu ponsel baru karena aku dengar waktu di kampus ponselmu rusak. Dan sekarang kau menelponku, apa kau ingin mengucapkan terima kasih?"


Kemudian Aufia ingat bagaimana Avant mengatakan jika dia yang membelikan ponsel. Hancur.


Sekarang Aufia tahu jika ponsel itu memang Avant yang membelikannya namun menyuruh Bibi untuk mengakuinya.


Aufia mengusap wajahnya baru sadar kenapa semua ini terjadi padanya. Sejauh apapun usahanya untuk menjauh, tapi tidak mungkin karena Avant juga mengenal Bibinya. Jadi dengan mudah dia meraih Aufia.


"Bibi, kenapa kau juga mengenal Avant?"


Gumam Aufia sendirian lalu meletakkan ponsel itu di atas nakas. Jujur Aufia suka ponselnya yang berwarna kecokelatan.


Tunggu!


Jadi pemuda yang suka kue kering buatannya itu Avant?


Lagi-lagi Aufia dibuat terkejut hingga menutup mulutnya yang terbuka.


Kejutan apa lagi ini?


Aufia menjatuhkan tubuhnya dalam empuknya kasur.


...•...


...•...


...•...


Senyum terus mewarnai wajah Avant sepanjang jalan. Ia sangat senang dengan keputusan yang diambil Aufia. Memberinya kesempatan kedua adalah harapan Avant. Avant akan membuktikan cintanya pada Aufia, meski jika gagal maka Avant yang akan pergi dengan sendirinya. Tapi hal itu tidak akan Avant biarkan.


"Aku pulang!" Seru Avant nyelonong masuk begitu saja.


"Avant!" Gertak sang Ibu menatap Avant yang baru masuk.


Sontak Avant menghentikan langkah kakinya melihat ada tamu yang sedang duduk di sofa. Ada Ibu, Ayah, dan satu wanita seumuran ibu yang Avant sendiri tidak kenal, satu lagi pria serumuran dengan Ayah, ini Avant juga tidak kenal. Dan terakhir seorang gadis yang memakai dress pendek berwarna kuning.


"Qevna?" Ucap Avant begitu melihat Qevna yang duduk diantara para orang tua.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya sang Ayah senang melihat putranya sudah kenal dengan gadis yang ingin ia sandingkan untuk Avant.


"Iya, Om. Kami kenal tapi tidak begitu dekat." Sahut Qevna tersenyum malu lalu yang lain mengangguk mengerti.


"Tunggu! Ada apa ini?" tanya Avant dengan wajah tidak pahamnya yang terpampang nyata.


Kemudian sang Ibu berdiri menghampiri Avant dan dibawanya lebih masuk untuk meninggalkan ruang tamu.


"Ibu, ada apa? Kenapa ada Qevna dengan dua orang tua itu?"


"Mereka Ayah dan Ibunya Qevna." Sahut Wanda menarik anaknya masuk.


"Terserah mereka siapa, ini ada apa sebenarnya?" tanya Avant lagi karena pertanyaannya tak kunjung di jawab.


"Avant, dengarkan Ibu!" Ucap Wanda tegas sambil merapikan baju Avant. Mereka berhenti masuk saat sudah di ruang tengah.


"Ayahmu, berniat menjodohkan kalian berdua."


APA?


Avant membulatkan matanya.


"Jadi lepas jaketmu dan bersiap untuk menemui mereka, ya?"

__ADS_1


Wanda pergi untuk kembali ke ruang tamu dan meninggalkan anaknya yang sekarang tidak terima dengan keputusan ini.


Apa?


Hei! Apa-apaan ini?


ASTAGAAAA!!!


Avant tidak terima, JELAS TIDAK TERIMA!!


"Apa-apaan ini? Mereka mengambil keputusan tanpa membicarakannya denganku? Ini hidupku! Ayah! Ibu!"


Ucap Avant dengan nada tertahan karena tidak mungkin bersuara dengan nada tinggi, yang ada makin memperburuk situasi dan kondisi. Apalagi gadis pilihan orang taunya sahabat baik Aufia. Qevna. Selucu inikah takdir?


Membuang nafas adalah hal yang dilakukan Avant agar amarah tidak mengendalikannya lagi seperti apa yang sudah ia lakukan pada Aufia.


Aufia?


Yah, korban amarah dari Avant.


Tuhan, sebenarnya apa rencanamu? Kenapa kau putar balik hidupku?


Avant terpaksa lebih memilih untuk menurut. Ia melepas jaketnya yang dilempar begitu saja hingga jatuh ke lantai. Langkah kaki Avant terasa berat untuk melangkah.


Hati.


Hati Avantlah yang berat untuk melangkah. Kenapa ini harus terjadi disaat Avant ingin melangkah maju untuk mendapatkan Aufia?


Tidak!


Ini tidak boleh terjadi!


Tapi bagaiamana dengan nama Ayahnya? Kehormatannya?


"Selamat malam, Om! Tante! Qevna!


Avant mengalah dulu yang akhirnya ia mau untuk menemui keluarga Hearama. Qevna Hearama.


Setelah hormat sopan, Avant duduk disamping Ibunya. Malu, tapi sebenarnya Avant tidak suka. Astaga ini seperti cinta segitiga saja.


"Ini anak saya, Avant Kanuraga, dia juga kuliah di tempat yang sama dengan Qevna, mengambil jurusan kedokteran pula. Benar-benar sama kan, Bu Rumi?" Wanda begitu senang memperkenalkan anak semata wayangnya.


Mereka berenam banyak mengobrol hingga akhirnya Avant dan Qevna disuruh untuk saling kenal sendiri di taman depan mantion. Disana Avant maupun Qevna hanya berdiri berdampingan menatap langit yang kebetulan berbintang.


Sebenarnya sangat ingin Avant menolak namun ia masih tidak tega melihat Qevna yang nantinya sedih karenanya. Untuk itu ia masih menuruti permainan ini. Setidaknya setelah keluarga Qevna pulang, Avant bisa bilang pada Ayahnya jika dirinya sudah memiliki calon. Aufia.


"Apa kabarmu? Tidak disangka pertemuan kita selanjutnya akan seperti ini."


Avant angkat bicara terlebih dahulu karena yakin Qevna masih dirundung rasa canggung.


"Eumh... iya, baik. Benar-benar diluar dugaan." Sahut Qevna belum berani menatap Avant. Tahukan bagaimana perasaan Qevna? Orang yang membuatnya jatuh cinta kini ada disampingnya terlebih dalam ikatan perjodohan. Lengkap bukan?


"Apa kau senang dengan ini?" tanya Avant menoleh ke samping, Qevna yang jauh lebih pendek darinya.


Qevna menghelan nafas kemudian tersenyum tanpa menatap Avant. Detik berikutnya Qevna melirik Avant. Mereka bertemu dalam satu pandangan.


"Aku? Entahlah... perasaan ini sangat sulit dijelaskan, tetapi aku tahu pilihan kedua orang tuaku adalah yang terbaik untukku. Itu yang aku tahu." Jawab Qevna meski sebenarnya dia sangat senang dengan perjodohan ini. Tapi tidak mungkin ia jujur.


Avant terdiam lalu menatap langit lagi. Bisa dilihat dari binar matanya, Avant tahu jika Qevna bahagia. Senyum yang disembunyikan, kaki yang kadang berayun kedepan, dan caranya memegang handbag yang terus ia remat. Avant tahu jika Qevna bahagia.


"Kau tahukan ini hanya perkenalan saja, diantara kita mungkin ada yang tidak nyaman atau mungkin memang diantara kita tidak ada kecocokkan, jadi aku berharap kedepannya kita jangan terpaku dengan langkah ini. Kau bisa mencari yang lain yang mungkin lebih tepat untukmu, karena kau tahukan? Langkah terbaik adalah melangkah dengan kakimu sendiri."


Jelas Avant agar Qevna tidak bergantung pada hubungan yang belum dimulai ini. Avant tidak mau memberi harapan palsu karena ia sudah punya kandidatnya sendiri. Aufia.


Mendengar hal itu, Qevna menundukkan kepalanya dengan menyelipkan anak rambut yang terlepas. Qevna sudah dapat menilai juga jika Avant tidak terkesan padanya ataupun perjodohan ini. Tapi Qevna tidak mau kehilangan Avant.


"Aku tahu, kedepannya kita sendiri yang menentukan hubungan ini apakah harus lanjut atau berhenti. Tapi apa salahnya jika kita mencoba untuk melangkah bersama?" Qevan menatap Avant dan menyimpulkan senyum.


Melangkah bersama? Tidak! langkahku dengan Aufia!

__ADS_1


[Bersambung...]


__ADS_2