Yang Terdalam

Yang Terdalam
Hari Ke Tiga Avant Part 1


__ADS_3

[Episode 037 - Hari Ke Tiga Avant Part 1]


Aufia masih menatap pada mobil Qevna yang kini menjauh dan bahkan tidak terlihat lagi. Tangan lentik itu ia gunakan untuk mengusap air mata yang sempat membasahi pipi. Sakit. Meski Aufia sebelumnya tidak menginginkan gaun itu, tapi itu sudah menjadi milik Aufia. Bahkan ia berfikir jika suatu hari akan memakainya disaar pernikahan, entah dengan siapapun itu.


Hati yang terluka tidak boleh lemah, hanya sebuah gaun tanpa ada uang yang keluar untuk membelinya. Untuk itu Aufia kembali berdiri agar tidak larut dalam kesedihan lagi. Namun, rasa sakit enggan pergi. Hati tidak bisa berbohong saat ini. Ada rasa tidak rela sejak kemarin hingga kini.


Maafkan aku, Avant.


Aufia kembali masuk ke dalam dan menutup pintunya.


...•...


...•...


...•...


Di kedai kopi, Avant terdiam. Satu cangkir sudah lenyap isinya. Dalam hitungan detik, kopi hitam sudah berpindah tempat didalam perut Avant.


Pikirannya kembali di penuhi berbagai perasaan yang gundah. Avant berfikir bagaimana jika Qevna menceritakan perjodohannya pada Aufia. Qevna adalah sahabat Qevna yang sudah pasti akan berbagi rasa. Terlebih Aufia kemarin bilang ingin memberikan hadiah untuk sahabatnya, meski tidak disebutkan sahabat dengan nama siapa, Avant sudah tahu jika itu Qevna.


Cemas.


Sekarang Avang cemas. Bahkan takut jika Aufia tahu yang sebenarnya.


DRED! DRED!


Ponsel Avant bergetar tanda ada pesan masuk. Diambilnya ponsel itu dan betapa senangnya melihat nama kontak 'wanitaku' mengirim satu pesan untuknya.


Tunggu!


Tiba-tiba gundah kembali singgah. Bagaimana jika pesan ini tanda marah dan isinya tentang kekecewaan? Bagaimana jika pesan ini berisikan kemarahan Aufia?


Tidak! Tidak!


Dengan pelan dan hati yang sudah tidak karuan, Avant membuka pesan. Matanya terpejam dan kini hanya menyisakan satu mata terbuka dengan sedikit untuk mengintip isi pesan.


[wanitaku] °Avant, bawa aku kemanapun kau mau, aku sedang tidak baik-baik saja hari ini.°


GLEK!


Avant menelan ludahnya susah payah. Apa ini? Pesan yang bisa diartikan dua bahkan banyak makna. Astaga! Jangan-jangan Aufia sudah tahu dan ini hanya alasannya untuk pergi? Dan saat itu terjadi dia ingin melampiaskan kemarahannya pada Avant? Astaga! Satu pesan dari Aufia menambah beban yang sangat berat.


Kemudian Avant berdiri dan menatap pada jendela yang menghadap ke jalanan depan kedai.


"Apa yang harus aku lakukan jika Qevna menyebutkan aku adalah pihak dari pria yang akan dijodohkan dengannya?"


Gumam Avant sendirian.


DRED! DRED!


[wanitaku] °Avant, Qevna sudah pulang. Kesinilah dan kita lanjutkan dari ke tigamu.°


Satu pesan lagi dari Aufia untuk Avant.


"Sepertinya Qevna belum menceritakan apapun tentang perjodohan gila itu."


Kini Avant mengambil kunci mobil jeepnya yang ia letakkan diatas meja. Avant kelur menuruni anak tangga dengan cepat dan hampir saja menabrak Nara yang sedang mengantar pesanan untuk pengunjung.


"Oh! Maaf, Tuan!" Seru Nara kemudian menunduk tanda hormat.


"Iya, tidak masalah! Aku yang salah! Kau bekerjalah dengan baik ya!"


Avant kembali melangkah untuk keluar lalu mengendarai mobilnya.


Nara yang melihat itu terheran. Akhir-akhir ini Avant, Tuannya tidak pernah mengunjungi kedai kopinya. Sebelumnya setiap malam Avant selalu datang meski hanya sekedar menyapa. Ada apa ya?


...•...


...•...


...•...


"Aufiaa!"


Seru Avant yang sudah berdiri didepan pintu rumah Bibi. Ia melihat jika mobil yang terparkir didepan pagi tadi sudah pergi, berarti itu mobil Qevna.


"Aufia! Ini ak-"

__ADS_1


BRUG!!


Sontak Avant terkejut menerima ini. Sebuah pelukan erat dari Aufia. Pintu terbuka begitu saja dan Aufia memeluknya dengan isakan tangis.


Menangis?


"Aufia kau kenapa?"


Tanya Avant yang mengusap punggung Aufia dan memeluk kepalanya. Avant merasakan ini pelukan dari sebuah ketakutan atau sebuah kecemasan.


"Maafkan aku!"


Seru Aufia dengan suara yang hampir tidak terdengar.


Maaf? Ada apa ini?


"Hei, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Avant begitu khawatir. Lalu ia membawa Aufia masuk ke rumah agar tidak dilihat orang.


Masih dalam posisi memeluk. Aufia menangis dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Ada apa, Aufia? Ceritakan padaku!" Lanjut Avant membujuk Aufia agar mau bercerita.


"Jika kau memberikan hal yang spesial pada seseorang, tapi seseorang itu memberikan hal yang spesial itu pada orang lain, bagaimana?"


Aufia mendongak menatap Avant dengan bulir air mata yang menghiasi disudut dan membasahi pipi.


Huh? Avant mengerutkan dahinya.


"Astaga... kau ini bicara apa? Sudah ya, sekarang kau jangan menangis lagi. Aku ada disini."


Tangan Avant terulur mengusap air mata Aufia yang mengalir. Tatapannya menghangat agar Aufia tahu bahwa Avant akan siap kapanpun untuk selalu ada.


"Sudah! Jangan menangis lagi, nanti mata indahmu jadi sembab lagi."


Avant tersenyum menatap Aufia dan membenarkan posisi rambut Aufia yang menutupi keningnya.


"Yak! Ini memang begini! Ini poni!" Seru Aufia menepis tangan Avant.


Avant tertawa kecil melihat Aufia baru saja menepis tangannya.


"Kau cantik jika tidak memakai poni!" Lanjut Avant.


"Lihatlah! Sekarang siapa yang sudah berani memeluk duluan? Hm?" tanya Avant dengan melipat kedua tangannya di bawah dada sambil menatap Aufia. Ia bahkan memainkan kedua alisnya. Sindirian.


"KAU INI!!!"


Teriak Aufia melempar bantal sofa ke tubuh Avant.


...•...


...•...


...•...


Setelah berdebat tentang pelukan, disinilah Aufia dan Avant bersinggah.


Sebuah pantai dengan air laut yang membiru dan pasir putih yang membentang luas. Pohon kelapa melambai saat angin pantai menerpa. Cahaya matahari saat ini tengah bersahabat dengan mereka berdua yang ingin menghabiskan waktu bersama.


Bersih. Cantik. Damai.


Kata yang dapat mewakili pantai yang tak berpengunjung itu.


Aufia berlari sambil tertawa karena Avant dibelakang mengejarnya. Kebahagiaan tampak nyata dirasakan Aufia saat ini. Hanya bermain kejar-kejaran saat tiba pertama kali di pantai, namun itu cukup menghapuskan rasa sakit yang menyayat hati. Langkah kaki Avant yang jauh lebih panjang membuat Aufia dengan mudah ditangkap. Diraihnya pinggang ramping Aufia dan didekap oleh Avant.


"Kalah! Kau sudah kalah!"


Seru Avant mendekap Aufia dari belakang. Nafasnya terengah karena berlari. Untung hanya mereka berdua di pantai ini, sehingga tidak ada yang melihatnya.


"Yak! Lepaskan aku!" Berontak Aufia yang mencoba melepaskan dekapan Avant. Payah.


"Tidak! Aku sudah menangkapmu! Sesuai perjanjian, kau harus menuruti satu permintaanku!" Lanjut Avant kini melepaskan dekapannya. Ia memutar tubuh Aufia dan menatap matanya.


"Baiklah, aku kalah! Apa yang kau minta? Eumh?" Aufia mengalah karena tidak bisa memberontak lagi. Ia mendongak menatap Avant dengan polos.


Astaga Avant jadi gemas sendiri melihatnya.


"Aku ingin, kita malam ini menginap di hotel yang ada disekitar sini."

__ADS_1


Apa?


Hei! Apa-apaan itu?!


"Kau gila?!" tanya Aufia setelah mengernyitkan kening mendengar permintaan gila dari Avant.


"Jika ada yang melihatnya bagaimana? Kau ingin karirmu hancur? Kau ingin kita berdua dikeluarkan dari kampus? Hm?" lanjut Aufia.


"Jika dikeluarkan dari kampus itu gampang, menikah denganmu adalah tujuanku!" Jawab Avant tanpa beban.


DEG!


Kini Aufia menunduk tidak bisa menatap Avant untuk menyembunyikan rasa yang selalu mengalir setiap Avant melontarkan kata 'menikah'. Mungkin saat ini pipi Aufia sudah memerah. Jantung Aufia tidak baik-baik saja saat ini. Sungguh!


"Ayolah! Kau sudah kalah! Turuti permintaanku!"


Tangan Avant meraih dagu Aufia dan membuatnya mendongak untuk menatapnya. Kini Aufia dan Avant bertemu dalam satu pandangan yang hangat. Entah siapa yang terjebak dalam lautan bening diantara mereka, yang jelas saat ini keduanya saling menatap tanpa terjeda.


"Avant!" Kini Aufia membuka suara. Lirih namun terdengar.


"Hm?"


"Jangan lukai aku lagi." Pinta Aufia.


"Tidak akan." Sahut Avant menggeleng pelan.


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" tanya Aufia menatap manik Avant yang menatapnya.


"Setelah bertemu denganmu untuk pertama kali, sejak itu aku sudah menyerahkan rasa cinta dan hatiku untukmu tanpa kau pinta. Sejak saat itu kau menjadi jantungku, aku tidak bisa jauh darimu. Sejak saat itu, semua yang ada pada diriku menyebut dan memikirkanmu, Aufia."


"Lalu rasa sakit itu?" tanya Aufia lagi.


"Itu semua karena aku dikendalikan amarahku. Aku berfikir tidak menggunakan hati, aku tidak melihatmu saat itu. Yang ada hanya rasa sakit. Sehingga aku memberikanmu luka. Sekarang aku melihatmu dengan rasa cinta, aku akan memberimu kebahagiaan."


Hanya mendengar untaian panjang dari Avant mampu membuat Aufia menyimpulkan senyum. Rasa bahagia hadir dengan rasa kenyamanan. Aufia damai saat ini, untuk itu ia memeluk Avant dan menyembunyikan kepalanya di dada Avant.


Melihat tingkah Aufia yang manja hari ini membuat Avant yakin jika pintu hati mulai terbuka untuknya. Untuk itu Avant semakin mengeratkan pelukan dan mencium puncak kepala Aufia. Milikku!


"Avant!"


Panggil Aufia lagi.


"Hm..?"


"Maafkan aku." Ucap Aufia lirih.


"Tidak, aku yang minta maaf. Kau tidak salah, aku yang salah." Sahut Avant dengan lembut.


"Tidak, maafkan aku jika membuatmu kecewa." Aufia ingin jujur pasal gaun pernikahan, namun ia tidak ingin membuat Avant kecewa.


"Kau tidak membuatku kecewa."


"Avant." Lembut. Aufia memanggil nama Avant dengan lembut.


"Hm?"


"Gaunnya jika aku buang bagaimana?" tanya Aufia mendongak menatap Avant.


"Gaun? Maksudmu gaun pernikahan? Kau tidak suka ya?"


"Aku suka, tapi-"


"Jika begitu simpan baik-baik dan pakailah saat kita menikah nanti!" Sahut Avant menghentikan Aufia berbicara.


Menikah?


"Jika aku meminta gaun yang baru?"


"Asal menikah denganku, kau membeli butiknya pun akan ku belikan." Ucap Avant kemudian mengecup puncak kepala Aufia dengan sayang.


Maafkan aku, Avant!


Aufia masih merasa bersalah karena memberikan gaun pernikahan yang Avant belikan pada Qevna, sahabatnya yang sebentar lagi akan menikah.


Aufia menyembunyikan kepalanya pada dada bidang Avant. Ia butuh sandaran saat ini. Rasa sakit masih hinggap. Rasa tidak rela masih berkembang. Rasa ingin memiliki gaun itu masih bergelora. Namun, kebahagiaan Qevna jauh lebih penting dari sekedar gaun.


Gundah.

__ADS_1


Aufia tidak tahu harus memilih kebahagiaan Qevna atau rasa sedih yang hinggap di hatinya. Keduanya begitu membara membuat bilik dalam hati Aufia.


[Bersambung...]


__ADS_2