
[Episode 023 - Ketakutan Aufia]
"Darimana dia tahu rumahku?"
Tanya Aufia sendirian yang sekarang berada di kamarnya. Aufia duduk diatas tempat tidurnya yang bertilam cokelat. Air matanya tidak bisa disembunyikan lagi, bahkan mata Aufia terlihat sembab.
Dari otak kecilnya, Aufia memikirkan banyak hal. Berbagai rencana masuk begitu saja ke otak Aufia. Pergi. Aufia ingin meninggalkan Bibi namun itu tidak mungkin. Atau bunuh diri? TIDAK! Meski terlintas tapi Aufia tidak akan memilih jalan pintas itu. Pindah kuliah? Biaya akan mahal lagi. Jujur pada Bibi?
Tes.
Lelah rasanya Aufia menangis. Sepagi ini biasanya Aufia sudah berada di area kampus namun ia masih bersembunyi di dalam kamarnya. Untuk hari ini Aufia malas ke kampus. Rasa sakit, luka, perih, bahkan sisa air mata tidak akan Aufia perlihatkan pada yang lain. Aufia tidak bodoh. Akan ada seribu pertanyaan yang menghantui Aufia nantinya. Lagi pula, tubuh Aufia masih terasa sakit semua.
Didalam kamar yang terbilang tidak luas namun cukup menampung semua perlengkapan Aufia ini menjadi tempat dedikasi paling ampuh. Aufia kembali menangia walau hanya diam. Meski sudah membersihkan diri, namun Aufia tampak berantakan ditambah mata yang sembab, bibir terluka, pipi yang memerah, juga luka dibeberapa anggota tubuh lainnya.
Korban.
Aufia korban yang sebenarnya dari berita yang tidak berdasar. Dirinya sudah sangat direndahkan tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan.
"Apa salahku? Dimana letak kesalahanku? Kenapa harus aku yang menjadi korban atas kekacauan yang aku sendiri tidak tahu?"
Aufia merutuki dirinya sendiri yang bernasib malang.
"Fiaaa! Bibi pulang!"
Bibi?
Aufia mendongak mendengar Bibi yang berseru pulang. Masih dengan rasa sakit, namun Aufia mencoba berdiri untuk menyambut Bibinya. Aufia berdiri dan membuka pintu kamarnya sedikit, mengeluarkan kepala hanya untuk menengok sang Bibi.
"Bibi tahu kau tidak akan masuk kuliah, untuk itu Bibi sudah belikan telur, tepung, mentega, gula, dan bahan-bahan dapur lainnya." Jelas Bibi dengan membuka tas belanjanya diatas meja ruang tamu dan melihat apakah ada yang lupa belum terbeli.
Melihat itu Aufia mengernyitkan dahi.
"Untuk apa, Bi?" tanya Aufia melihat begitu banyak bahan yang dibeli Bibi.
"Membuat kue, kaukan suka membuat kue kering." Jawab Bibi kemudian mengambil minum di dapur.
Aufia keluar dari kamar dan melihat bahan-bahan yang Bibinya beli. Lengkap. Rasanya Aufia juga ingin membuat kue kering daripada harus bersedih yang justru mengingatkan bagaimana Aufia direndahkan Avant.
SSTTTTT!!! JANGAN SEBUT NAMA ITU!!
"Bibi akan bekerja hari ini, jika kau ingin membuat kuw atau yang lain, semua sudah Bibi belikan."
Sang Bibi merapikan baju dan jaket tebal yang ia gunakan, tak lupa juga payung kuning motif bunga sakura yang dibawa ditangan.
"Oh iya, Fia! Buat kue kering banyak ya, soalnya pemuda yang menolong Bibi suka dengan kue kering buatanmu."
Pemuda?
"Ya, sudah, Bibi berangkat dulu!"
Bibi keluar dari rumah untuk bekerja mencari uang. Sedangkan Aufia masih terdiam berdiri ditempatnya.
Aufia memilih untuk mengunci pintu depan berwarna putih agar tak siapapun sembarangan masuk. Lalu langkah kakinya menuju meja ruang tamu, mengambil semua bahan belanja yanh dibeli Bibi dan dibawa ke dapur. Aufia meletakkan bahan-bahan itu ke dalam rak dan sayur ke dalam kulkas.
"Lebih baik aku membuat kue kering, dari pada harus diam memikirkan hal yang tidak penting."
Mulai dari telur, tepung, gula, mentega, air, minyak, dan lainnya bahan untuk membuat kue sudah Aufia siapkan. Celemek cokelat sudah terpasang rapi di tubuh Aufia agar remahan tepung tidak mengotori bajunya. Meski mata masih perih untuk beraktivitas, namun setidaknya hati Aufia sudah lebih tenang sekarang.
...•...
...•...
...•...
Kedai kopi menjadi tujuan utama Avant kali ini, ia sengaja tidak pergi ke kampus karena masih memikirkan hal yang dilakukannya diluar batas ditambah dengan ide konyol orang tuanya. Perjodohan.
Kedai kopi hari ini sudah buka dan semua pelayan bekerja dengam baik tanpa tahu apa yang terjadi semalam ditempat mereka kerja.
Avant berjala menaiki anak tangga untuk pergi ke lantai atas. Dibukanya pintu hitam dan memperlihatkan betapa berantakannya ranjang yang bertilam putih.
Darah.
Avant melihat bercak darah menodai ranjangnya. Sebuah senyum tersimpul dibibir Avant.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Aufia. Kau akan menjadi milikku!"
Seraya berkaca didepan cermin almari, Avant tersenyum melihat dirinya yang sudah mendapatkan Aufia meski dengan cara kekerasan. Tidak masalah.
"Kau mencintainya?"
"Kau gila? Aku sangat mencintainya. Bukan hanya sekedar rasa suka atau rasa kagum, ini rasa untuk bisa membahagiakannya dengan caraku."
"Kau yakin? Jika dia menolakmu?"
"Jika dia menolak? Itu resiko dalam bercinta. Setidaknya aku jangan sampai menyakitinya."
Tiba-tiba saja Avant ingat pembicaraannya dengan Erza waktu itu. Kata yang pernah terlontar yang sekarang ia rusak sendiri.
Apa yang aku lakukan?
Avant menatap gambarnya yang ada di cermin depannya. Sesuatu terasa mengalir dihati Avant. Rasa bersalah tumbuh dan menjalar disetiap nadi Avant. Jatuh. Avant sudah membuat namanya jatuh didepan Aufia.
__ADS_1
Aku menyakiti Aufia?
Avant terduduk di tempat tidurnya. Mengingat bagaimana ia sudah melukai hati Aufia. Tidak. Apa yang aku lakukan?
Astaga...
Hanya karena marah, Avant tidak bisa membedakan apa itu cinta dan apa itu rasa tanggung jawab. Semua hanya karena amarah yang menguasainya.
Aku harus minta maaf pada Aufia...
Sungguh sesal tiada tara, Avant sudah menyakiti bahkan menghancurkan Aufia dengan mudah.
AAARRRRGGHHHHH....!!!
Pyar!!
Avant memukul cermin yang ada didepannya menjadi hancur berkeping-keping. Kepala Avant mulai penat dan rasa bersalah terus berkobar tanpa padam.
Aufiaaa... maafkan aku!
"Aku harus mendapatkan hati Aufia, jika tidak maka kesempatanku untuk memiliki Aufia bisa batal hanya karena keinginan orang tuaku yang menjodohkan aku."
Gumam Avant sendirian lalu keluar dari kamar dan turun ke lantai satu.
"Pagi, Tuan!" Sapa Nara saat hampir bertabrakan dengan bosnya, Avant.
"Oh, iya! Pagi! Semangat bekerja untukmu dan yang lain!"
Balas Avant dengan tersenyum pada pelayannya yang bekerja di kedai kopi.
Mobil jeep selalu menemani Avant kemana pun ia pergi. Kali ini mungkin dan sangat mungkin ini kali pertama Avant datang ke toko bunga. Mobil jeep hitam itu berhenti tepat di depan toko berbagai bunga. Avant turun dan memasuki toko. Begitu masuk, wangi harum bunga menghiasi setiap langkah kakinya Avant.
"Selamat pagi, Tuan! Ada yang bisa kami bantu?" sapa salah satu pelayan menghampiri Avant.
"Tentu! Tolong buatkan bouquet bunga dari bunga mawar merah dan putih ya, bentuk yang cantik karena ini untuk orang yang paling spesial dalam hidup saya."
Pelayan toko mengangguk lalu mempersiapkan pesanan dari Avant.
Sambil menunggu, Avant melihat berbagai bunga yang tertanam di sana. Cantik. Avant jadi teringat pada Aufia. Meski sudah menyakiti, nyatanya cinta Avant masih tetap sama, ingin membahagiakan Aufia dengan caranya sendiri.
"Avant?"
Huh?
Avant berbalik setelah mendengar suara perempuan yang menyapanya.
Qevna?
"Hai, kita bertemu lagi disini." Sapa Qevna dengan senyumnya yang masih malu.
Qevna mengangguk. Tangannya yang lentik mulai memilih bunga yang cantik.
"Untuk siapa?" tanya Avant lagi.
"Apa aku perlu menjawab pertanyaanmu?" tanya Qevna balik yang tidak menjawab pertanyaan Avant.
"Maaf!" Sahut Avant singkat.
"Tuan! Pesananmu sudah jadi!" Seru pelayan yang sudah membuat satu bouquet bunga yang cantik terdiri dari bunga mawar merah dan putih.
"Aku duluan!" Avant tersenyum menatap Qevna lalu pergi mengambil bunga pesanannya.
Bunga cantik yang tertata rapi begitu sempurna terbungkus dalam kertas warna hitam. Mewah juga indah. Cantik dan menarik. Avant suka melihat bunganya yang cantik untuk seseorang yanh cantik sepeti Aufia.
Dengan pelan Avant membawa bunga itu ke dalam mobil jeepnya. Senyum terus menguar dari bibir Avant dan tampak tidal sabar untuk memberikannya kepada Aufia.
Mobil jeep hitam melaju meninggalkan toko bunga yang masih terdapat Qevna disana. Qevna menatap Avant yang membawa bunga indah tadi.
"Mawar merah dan putih? Untuk siapa?" gumam Qevna sendirian.
...•...
...•...
...•...
Kesedihan adalah bagian dari hidup, namun jika terlarut dalam sedih itu bukanlah hidup.
Aufia, kini sudah bisa tersenyum setelah beradu dengan remahan tepung yang ia sulap menjadi kue kering cantik. Harum kue begitu khas saat loyang berisi kue keluar dari oven. Panas namun aroma pekat menggoda lidah.
Sudah tiga toples kecil Aufia membuat kue kering cokelat. Ini adalah loyang terakhir. Aufia memindahkan kue kering yang masih panas ke dalam loyang lain. Setelah itu Aufia mulai membersihkan dapur yang berantakan karenanya. Sebenarnya tidak berantakan, namun karena remahan tepung berserakan jadi terlihat berantakan.
Disaat Aufia mencuci semua peralatan yang ia gunakan, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Sontak Aufia menghentikan aktivitasnya.
Siapa ya? Pikir Aufia.
Aufia menengok dari dapur melihat ke arah pintu depan yang berwarna putih. Sekali lagi untuk memastikan jika dia salah dengar. Namun suara ketukan itu ada lagi.
Walau takut, Aufia mulai melangkahkan kaki menuju pintu. Takut, tapi siapa tahu penting.
"Siapa?"
__ADS_1
Teriak Aufia dari dalam agar tahu siapa yang mengetuk pintu. Tak ada jawaban tapi ketukan pintu terus berlanjut.
"Buka tidak ya?" cemas Aufia dengan memainkan ujung kukunya.
JGREK!!
Aufia membuka pintu dan melihat sosok tegap bertubuh tinggi didepannya.
Avant?
Aufia terkejut dan mundur hingga terjatuh ke lantai.
"Tidak, pergi!! Pergi kau!!"
Teriak Aufia ketakutan melihat Avant yang datang ke rumahnya.
Melihat itu Avant segera menghampiri Aufia namun Aufia semakin mundur.
"Pergi kau!!" Teriak Aufia ketakutan.
"Aufia! Tenanglah! Aku tidak akan menyakitimu lagi! Aku ingin minta maaf!" Avant mencoba menenangkan Aufia.
Maaf?
Aufia terdiam mendengar 'maaf' dari Avant. Kedua mata Aufia menatap Avant dengan rasa takut antara percaya dan tidak percaya.
"Aufia, maafkan aku."
Sungguh sakit melihat Aufia yang kini takut menatapnya. Avant ternyata sudah benar-benar bertindak diluar batasannya. Menyakiti hati wanita yang ia cintai. Melukai batin dan fisiknya. Merenggut kehormatannya karena amarah yang sesaat.
Aufia menggeleng pelan tidak percaya. Air matanya kembali jatuh membasahi pipi.
"Tidak! Kau tidak akan mengenal apa itu maaf ketika kau sudah menyakitiku!"
"Tidak, Aufia! Percayalah! Aku sungguh minta maaf, aku yang salah-"
"JIKA KAU SALAH KENAPA KAU MENGHUKUMKU?!" Teriak Aufia menghentikan Avant bicara. Air mata terus mengalir sebagai rasa sakit yang Aufia tahan.
"Maafkan aku!" Sekali lagi Avant mengutarakn kata maaf kepada Aufia.
"Setelah yang kau lakukan padaku, kau pikir aku akan memaafkanmu?" Aufia menatap Avant yang berjongkok disampingnya.
"Aku tahu kau tidak akan memaafkan aku. Aku sudah berbuat salah yang begitu besar padamu."
"Kau sadar tapi kau tetap melakukan hal itu padaku?"
"Itu karena aku dikuasai amarahku, kumohon maafkan aku!" Avant memohon kepada Aufia dengan tatapan yang tenang. Bahkan sekarang mata Avant menyimpan air matanya.
"Tidak! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Kau jahat!! Kau tidak punya akhlak!! Kau biadab!!"
Aufia sungguh sakit, mental, hati, fisik, semua terluka karena Avant dan dia datang hanya dengan kata 'maaf' ? Tidak! Aufia masih sangat sakit. Bekas luka ini akan selalu ada dan tidak pernah hilang.
"Pergi kau!!"
Tangan rapuh Aufia mencoba membela diri dengan terus memukul dan menjauhkan tangan Avant yang ingin menyentuhnya.
"Aufia, dengarkan aku! Aku sungguh minta maaf padamu." Sahut Avant memegangi kedua tangan Aufia agar tidak memukulinya lagi. Avant menatap kedua manik hitam milik Aufia, Avant bisa melihat rasa takut dan benci yang menjadi satu menatapnya.
"Aku memang salah, aku salah, apa aku tidak mendapatkan kesempatan untuk meminta maaf padamu?"
Tidak...
"Lalu, bagaimana dengan aku? Apa aku juga mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan dan meyakinkanmu bahwa aku bukan orang yang membuat kekacauan itu? Apa aku mendapatkannya? Tidak, aku tidak mendapatkannya."
Tangis kembali membasahi pipi Aufia yang kini memerah karena terlalu banyak diusap oleh tangan Aufia sendiri.
Melihat wanita yang sangat ia cintai mencintai membuat Avant tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sakit. Sungguh. Ini seperti kau menghancurkan sebuah cermin kepercayaan dan kau tidak bisa menyatukan lagi cermin itu ketika sudah pecah. Sungguh sakit.
"Au-"
"TIDAK! JANGAN SEBUT NAMAKU!!" sahut Aufia berteriak lalu mendorong Avant hingga terduduk di lantai.
"Maaf."
Avant menundukkan kepalanya tidak sanggup menatap mata Aufia yang terus mengalirkan butiran kristal beningnya. Ini salahnya, ia sudah menghancurkan segalanya yang Aufia punya. Avant memang tidak pantas dimaafkan.
"Ku mohon pergilah! Jangan ganggu hidupku lagi, aku tidak ingin rasa sakit ini terus ada. Kau bilang mencintaiku kan? Jadi tolong, biarkan aku bahagia tanpa kau ganggu hidupku!"
Aufia menyatukan kedua telapak tangannya memohon pada Avant agar tidak mengganggunya lagi.
"Tidak, aku bisa membahagiakanmu, aku akan menyembuhkan lukamu!" Avant menggeleng tidak menuruti permintaan Aufia karena dia ingin menjaga Aufia.
"Egois! Kau egois!"
"Tidak Aufia, dengarkan aku, kali ini aku sungguh-sungguh ingin memperbaiki semuanya. Jadi berikan aku kesempatan itu, kumohon!" Avant masih enggan pergi dari hadapan Aufia.
"Apa harus aku mati biar kau tidak menggangguku?"
Apa?
Avant terdiam menatap Aufia yang kini juga menatapnya dengan peluh mata yang terus mengalir.
__ADS_1
"Apa kau belum puas menyakitiku?" lanjut Aufia bertanya lagi. Air matanya terus menjadi saksi kesedihan dan sakitnya luka yanh dibuat oleh Avant.
[Bersambung...]