Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam part 4


__ADS_3

Deru mobil menjauh meninggalkan kediamannya. Aryo pergi ke kantor tanpa pamit seperti biasa itu telah menyisakan kecewa dan rasa bersalah di hatinya.


🌼🌼🌼


Matahari beranjak naik, siang itu cukup terik. Terlihat seorang wanita bercelana jeans dan t-shirt putih sedang duduk di sudut sebuah cafe. Dari gerak geriknya  seperti tengah menunggu seseorang. Sesekali ia merapikan rambut panjangnya. Matanya berubah berbinar saat melihat seorang lelaki tengah menghampirinya. Tampak mereka berdua sudah sangat dekat.


"Sorry, lama ya nungguin?" tanyanya lelaki ber-kemeja putih seraya mengacak rambut gadis di depannya. Dengan bibir mengerucut gadis bermata sedikit sipit itu menggeleng. Pria itu terkekeh melihat ekspresinya. Aira, gadis yang sudah dua tahun dekat dengannya itu sangat bisa menerima dirinya.


"Besok kamu datang ya," Aryo menyerahkan undangan wisuda pada Aira. Cepat gadis itu mengangguk, ada genangan di mata saat menerima dari tangan pria di depannya. Ia sangat tahu bagaimana perjuangan lelaki itu hingga sampai di titik ini.


"Kenapa itu mata? Nangis? Cengeng ah!" Aryo mengusap lembut pipi gadis itu. 


"Aku ikut bahagia, Mas! Kamu hebat!" ungkapnya terharu. Lelaki itu tersenyum mengangguk lalu mengucap terima kasih.


"Ini juga karena support dari kamu, Ra," tuturnya kemudian meneguk minuman segar di depannya. Mereka berdua terdiam, lamat terdengar suara alunan lagu lembut menyapa telinga mereka.


"Mas, lalu bagaimana hubungan kita?" suara Aira terdengar bergetar. Aryo mengacak rambut lalu membuang napas. Hubungan mereka memang sudah cukup lama. Tapi hal tersebut ditentang ke dua orang tua Aira. Mereka telah menyiapkan jodoh untuk putrinya itu.


"Aku akan datang ke rumahmu besok setelah wisuda," sahutnya menatap Aira lekat. Mendengar penuturan pria di depannya wajah gadis itu berseri. Dengan mengangguk ia berkata, "serius, Mas?"


Aryo mengangguk tersenyum.


"Apa aku terlihat sedang tidak serius? Hubungan kita sudah lama, Aira. Aku nggak main-main," ungkapnya seraya menangkup wajah kekasihnya itu.


"Lalu ...." Aira menggantung ucapannya, ia tahu bahwa Aryo tengah dalam perjanjian dengan bosnya. Meski awalnya gadis berambut cokelat itu protes, tetapi lelaki itu bisa membuat dirinya mengerti.


"Kamu ingin bertanya tentang Bella?" tukasnya masih menatap Aira. Gadis itu tersenyum mengangguk.


"Seperti yang sudah diucapkan oleh Pak Santoso, bahwa setelah putrinya melahirkan, aku dipersilakan untuk menceraikan dia," paparnya meneguk kembali minuman di depannya. Gadis itu tersenyum lega mendengar penjelasan Aryo.


🌼🌼🌼


Bella mengusap keringat yang membasahi keningnya. Ia terlihat sibuk membersihkan rumah dan halaman untuk mengusir jenuh. Setelah lama hanya bermalas-malasan di kamar, ia ingin punya kesibukan.


Wanita penyuka bunga itu berinisiatif untuk merubah tata ruang di rumah mungilnya. Setelah beres di dalam rumah, ia beralih ke taman. Sigap ia memotong pucuk merah yang menghias taman dengan gunting khusus. Lalu menyiram serta memberikan pupuk untuk beberapa mawar juga anggrek di halamannya. Sesekali ia memekik pelan saat mendapati ada cacing di tanah.


Asik merawat tanaman membuat dirinya tak menyadari Aryo telah tiba. Pria itu masih di dalam mobil saat melihat Bella asik dengan tanaman di depannya. Pekikan kecil dari mulut wanita itu membuatnya menarik bibir.


Rambut hitam Bella berkali-kali menutupi wajah cantiknya, tampak ia sangat terganggu. Pria itu masih terpaku terus menyaksikan pemandangan yang belum pernah ia lihat. Senyuman Bella kembali terbit membuat dirinya ikut senang. Ia berpikir hati wanita itu sedang dalam kondisi stabil, dengan senyum ia keluar dari mobil.


"Sore, Non Bella," sapanya saat wanita itu masih sibuk dengan aktivitasnya. Bella menoleh, sejenak mata mereka saling beradu. Tanpa diduga Aryo, putri majikannya itu membalas senyumnya.


"Sudah hampir senja, bukan sore," celetuknya kembali meneruskan menata pot di depannya. Aryo tersenyum lebar, ia bahagia mendengar suara Bella setelah hampir tiga purnama mereka tinggal satu rumah. Pelan ia melangkah mendekat.

__ADS_1


"Sibuk ya?"


Perempuan bermata indah itu menggeleng.


"Sudah tahu sibuk, kenapa masih tanya?" balasnya tak menoleh. Lagi-lagi bibir itu terangkat. Manik hitam milik Aryo  terus menatap wanita di depannya.


"Kan sudah senja, bisa dilanjutkan besok," timpalnya memberikan tissu pada Bella. Sejenak ia berhenti  lalu membalas tatapan Aryo kemudian tersenyum.


"Tanggung," elaknya.


Melihat keringat yang membasahi kening Bella, pria itu mencoba mengusap perlahan dengan tissu yang masih ia pegang dengan mengucap permisi. Kembali mata mereka beradu, kali ini cukup lama. Suara azan dari mesjid terdengar menyudahi kontak mata itu.


"Makasih, aku mau mandi," kata Bella dengan wajah bersemu.


"Non, udah makan?"


Bella menggeleng meninggalkan Aryo yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Sambil menyugar rambut ia masuk dengan wajah senang.


Setelah membersihkan diri, lelaki itu menuju dapur menyiapkan makan malam. Tak banyak yang ia masak, sayur bayam, ikan goreng, tempe serta sambal sudah siap di meja. Aryo melirik ke pintu kamar Bella yang masih tertutup rapat. Ia tersenyum melangkah  lalu mengetuk pintu kamar itu.


Tak menunggu lama seperti biasa, Bella cepat membuka pintu. Wajahnya terlihat segar dengan rambut yang masih basah dan baju rumahan yang kedodoran membuat wanita itu tampak menarik. Sejenak ia terpaku.


"Kamu mau ngajak aku makan malam, 'kan?" Pertanyaan itu membuat Aryo tersadar lalu tersenyum seraya menyugar rambut ia mengangguk.


"Aku mau dong sesekali diajarin masak," pintanya saat mereka sudah selesai makan. Aryo meletakkan gelas setelah ia meneguk isinya. Sambil menautkan alis ia bertanya untuk meyakinkan kesungguhan wanita di depannya.


"Kamu keberatan ngajarin aku?"


"Nggak, Non. Tapi kan masak itu capek, bau dapur lagi," ungkapnya tersenyum.


Bella tertawa kecil meraih tempe yang masih tersisa di piring lalu melahapnya.


"Aku ingin bisa memasak seperti kamu. Buat anakku nanti, aku ingin memberikan yang terbaik. Termasuk asupan makanan yang masuk ke tubuhnya."


Mendengar itu mata Aryo kembali menatap wajah perempuan itu. Ia tahu ada luka menganga di balik senyumnya. Tapi Bella mampu bersandiwara. Ada kekaguman yang diam-diam muncul di hati Aryo.


"Kok kamu diam? Aku salah ngomong?" ucap Bella tersenyum.


Cepat Aryo menggeleng dan menjanjikan akan mengajarkan memasak untuknya.


"Non, mau datang di acara wisuda aku?" Ragu ia menyerahkan undangan wisuda pada perempuan itu. Bella membaca kemudian tersenyum.


"Selamat ya, Aryo. Kamu pantas mendapatkan ini, aku ikut bahagia."

__ADS_1


Aryo membalas dengan senyuman.


"Non, bisa datang?" tanyanya lagi. Bella terdiam sejenak lalu mengatakan bahwa ia tidak bisa berjanji untuk itu. Tak terlihat kecewa di raut Aryo, sebab ia tahu kemungkinan kecil perempuan di depannya itu mau hadir. Ia mengangguk lalu beranjak membereskan piring.


"Biar aku yang cuci piring malam ini," cegah Bella ikut membereskan.


"Jangan, Non nanti capek."


"Aku aja, aku lagi pingin," balasnya tak menghiraukan Aryo.


"Oke, aku bantuin." Aryo membawakan piring kotor untuk dicuci. Bella tersenyum, ia mulai mencuci satu persatu piring dan semua peralatan makan. Sudut matanya menangkap Aryo yang masih berdiri di samping. Wanita itu berpaling ke arahnya.


"Kamu ngapain berdiri di sini?"


"Mau ngebantuin," jawab Aryo.


"Aku tidak sedang mencuci piring orang hajatan, Aryo. Udah kamu istirahat sana!" Bella kembali meneruskan pekerjaannya. Pria itu lagi-lagi keheranan melihat perubahan wanita di sampingnya.


"Non, Non kenapa, sih?" tanyanya ragu.


Kembali  Bella memandang Aryo. Kali ini wanita itu terlihat heran.


"Kenapa? Emang ada apa dengan aku?" Ia balik bertanya.


Pria itu menggaruk kepalanya tersenyum seraya mengatakan ia senang melihat Bella tidak lagi memusuhinya. Mendengar itu Bella tertawa renyah.


"Aku tidak pernah memusuhi kamu," ucapnya masih tertawa, "emang selama ini kamu merasa aku musuhi? Maaf deh!"


"Tapi yang jelas saya senang melihat Non bisa tertawa," tukas Aryo menatap Bella.


"Thanks, Aryo!"


Malam itu Aryo  merasa lega melihat perubahan pada putri tunggal majikannya. Setidaknya ia merasa Bella bisa berdamai dengan dirinya.


🌼🌼🌼


Hari yang di tunggu tiba, pagi-pagi sekali Aryo berangkat ke kampus. Sengaja ia tidak membangunkan Bella. Ia tahu wanita itu enggan datang di acaranya. Ia hanya menempelkan kertas di kulkas seperti biasa.


Non, maaf  saya berangkat pagi sekali sebab harus mengikuti gladi bersih dulu. Oh iya, sarapan sudah siap  di meja. Nanti malam kita mulai belajar masak ya. Jangan lupa minum vitamin untuk dedek bayi supaya sehat. See you ...


Bella tersenyum membaca catatan yang ditinggalkan Aryo. Ia melirik jam dinding kemudian duduk menikmati makan pagi.


Setelah menikmati sarapan, wanita berkaki jenjang itu membersihkan diri, tak lama kemudian  dengan dress biru muda lengan panjang, ada aksen mutiara di pinggang sedikit menonjolkan perut yang terlihat sedikit membuncit  ditambah polesan make up natural dan rambut tergerai, Bella siap berangkat.

__ADS_1


__ADS_2