Yang Terdalam

Yang Terdalam
Sapaan Lembut


__ADS_3

[Episode 028 - Sapaan Lembut]


"Kau tidak setuju?"


Hadiyata tidak habis fikir dengan anaknya yang bernama Avant. Apa yang kurang dari Qevna? Dia sudah cantik, pintar, berpendidikan, sopan, dari keluarga yang baik-baik, apa yang kurang?


Hadiyata duduk di sofa dan memijat pelipisnya yang dirasa penat. Setelah keluarga Qevna pulang, Avant membicarakan perjodohan yang tidak dia setujui.


"Iya, Ayah! Aku tidak suka pada Qevna." Avant mencoba sebisa mungkin untuk tidak membuat sang Ayah marah.


"Bagaimana mau suka kalau kau tidak mengenalnya? Avant, kenali dulu baru putuskan." Sahut sang Ayah tidak ingin mengecewakan keluarga Qevna.


"Tidak, Ayah! Aku tidak ingin memulai hubungan yang tidak membuatku nyaman. Aku tidak suka Qevna, bukan berarti aku membencinya, hanya saja dia bukan seperti yang aku inginkan." Jelas Avant sekali lagi.


"Apa salahnya mencoba dulu untuk mengenal Qevna?" Kini Wanda ikut bicara saat suaminya sudah diam.


Avant diam lalu ikut duduk di sofa agar suasana tidak semakin panas karena perbedaan pendapat.


"Ayah! Ibu! Ini adalah hidupku, ini bukan sekedar hal untuk mencoba, ini adalah keputusan yang diambil untuk selamanya. Aku tidak ingin memberikan harapan palsu pada Qevna, jika hubungan ini dimulai hanya untuk saling mengenal, bagaimana jika salah satu sudah nyaman sedangkan yang lain belum? Jika tanpa perantara orang tua, maka hal-hal yang terjadi pada hubungan itu cukup menjadi tanggung jawab berdua. Tapi jika orang tua ikut, maka apapun yang terjadi pada hubungan itu, sekecil apapun itu, maka akan menjadi masalah yang besar."


Avant mencoba menjelaskan pada kedua orang tuanya. Ini bukan karena Avant sok tahu ataupun merasa lebih pintar dari orang tuanya, tapi ini menyangkut kenyamanan hati untuk selamanya.


Wanda maupun Hadiyata diam setelah anaknya berbicara panjang lebar. Mungkin mereka berdua mulai mencerna setiap kata yang keluar berhamburan dari mulut anaknya.


"Maaf, Ibu! Ayah! Bukannya aku ingin terlihat lebih bijak dari kalian berdua. Tapi masalahnya aku bukan anak kecil lagi yang perlu arahan kalian untuk melangkah. Aku sudah dewasa dan bisa menentukan jalan hidupku." Tambah Avant lagi.


"Kami tahu, Nak. Tapi setidaknya tolong hargai usaha kami memilihkan yang terbaik untuk masa depanmu." Wanda berusaha membuat sang anak mengerti.


"Aku tidak ingin berdebat, Ayah! Ibu! Tapi untuk minggu ini waktuku tidak bisa diganggu, aku sibuk!"


Avant berdiri kemudian melangkah menuju anak tangga untuk ke lantai dua. Avant tidak ingin melanjutkan perbedaan pendapat yang nantinya berujung pada pertikaian. Avant tidak suka, untuk itu dia mengalah.


Tujuan Avant kali ini adalah membuat Aufia jatuh cinta padanya dan jika itu terjadi maka Avant akan memberitahu kedua orang tuanya bawa ia sudah memiliki pilihannya sendiri.


Kamar yang bernuansa putih dan hitam adalah tempat paling nyaman untuk Avant. Lelah. Avant memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang penuh peluh agar besok pagi ia bisa bangun dengan semangat karena harus bertemu dengan pujaan hati. Aufia.


...•...


...•...


...•...


KRING! KRING! KRING!


Suara jam weaker berdering membangunkan sosok yang masih bersanding dengan dunia fantasi. Ditambah hangatnya selimut membuatnya betah dan tidak ingin pindah. Meski suara nyaring pengganggu telinga sedang bekerja, namun sepertinya sosok malas ini sedang menggunakan mode hening.


Siapa?


Siapa lagi jika bukan Aufia?


Meski sang Bibi juga kadang mengetuk pintu hanya untuk sekedar basa-basi, tapi tetap saja Aufia masih malas untuk membuka mata. Pemalas.


"Aufia! Avant datang!"


Avant?


Mendengar sang Bibi menyebutkan nama Avant, Aufia sontak bangun dengan membuka matanya.


Avant?


Aufia meraih ponsel yang diatas nakas lalu menyalakannya.


Masih pukul 6 pagi?


Dengan mata yang masih tertutup, Aufia bangun dari tempat tidurnya lalu beranjak dari sana. Sedikit dibukanya pintu kamar, Aufia mengeluarkan kepalanya untuk menengok ke pintu depan apakah Avant memang sudah datang atau belum.


Sontak Aufia membuka matanya lebar melihat Avant yang bahkan sudah duduk di sofa ruang tamunya.


"Selamat pagi, Tuan Putri!" Sapa Avant dengan senyum yang mengukir tampan di wajahnya.

__ADS_1


Aufia kembali menutup pintu kamar dan merutuki tingkahnya. Astaga! Aufia memukuli pelan kepalanya. Bodoh!


"Kenapa dia datangnya sepagi ini?" gumam Aufia kesal.


Tanpa drama lagi Aufia mengambil bathroob nya untuk mati. Langkahnya terhenti saat ingin membuka pintu kamarnya.


Hei! Bagaimana kau ingin mandi sedangkan Avant ada diluar? Kau ingin melewatinya dengan hanya memakai bathroob?


Tidak! Tidak! Aufia menggelengkan kepalanya.


Untuk itu Aufia melempar bathroob di atas tempat tidurnya lalu keluar dari kamar untuk menemui Avant.


"Keluar!"


Apa? Avant mengernyitkan dahinya begitu Aufia menyuruhnya keluar. Apa salahku?


"Keluar! Aku ingin mandi!" Seru Aufia dengan menunjuk pintu putih.


"Mandi? Jika kau ingin mandi kenapa menyuruhku keluar?" tanya Avant yang masih bertahan di sofa. Sepertinya pantat Avant nyaman duduk di atas sofa.


"Kamar mandiku di luar, untuk itu aku harus kembali berjalan ke kamar untuk ganti bajuku, jadi sekarang kau keluar!" Aufia masih setia menunjuk pintu putih.


"Ada apa ini, Nak?" Bibi muncul dengan membawa toples kue kering buatan Aufia.


Kue ku!


"Terima kasih, Bibi!" Senyum Avant tidak pudar rupanya.


Aufia mendengus kesal melihat Avant yang sok baik. Kemudian kedua tangan Aufia dengan cekatan mengambil toples kue keringnya.


"Hei! Kau! Itu punyaku!" Protes Avant pada Aufia.


Tidak menggubris Avant, Aufia keluar dengan membawa toples kue keringnya dan diletakkannya diatas meja yang ada di teras.


"Makan diluar!" Seru Aufia menatap Avant serius.


Avant mengalah, maka dari itu dia keluar dan duduk di kursi yang ada di teras. Sedangkan Aufia masuk kembali ke rumah lalu mengunci pintu dari dalam. Bibi yang melihatnya bertanya pada Aufia.


"Diluar! Aku mau mandi, jadi aku suruh dia keluar dulu!" Jawab Aufia kemudian masuk kamar dan keluar membawa bathroob.


Acara mandi Aufia cukup lama, apalagi jika dia mencuci rambutnya. Aufia memang suka dengan air, untuk itu dia nyaman dalam kamar mandi.


Tubuh yang lelah karena berpetualang ke dunia fantasi itu sudah kembali bersih dan wangi. Aufia keluar dari kamar mandi namun dibuat terkejut karena melihat Avant yang sudah bertengger di sofa lengkap dengan toples kue keringnya. Melihat hal ini Aufia kembali mundur ke area dapur dan hanya menyisakan kepala untum menatap Avant.


"Kemana Bibi?"


Tanya Aufia karena kenapa Avant bisa masuk jika Bibi masih ada?


"Bibimu pamit untuk kerja." Jawab Avant menoleh ke arah pintu.


Aish... kenapa Bibi berangkat kerjanya sepagi ini?


"Kenapa?" tanya Avant lagi dengan tampang polosnya.


"Tutup mata! Aku mau lewat!" Gertak Aufia dengan nada tegasnya.


"Baiklah, aku tutup mata."


Penurut sekali dia? Aufia tersenyum kecil melihat Avant yang menutup matanya. Jujur ini hal kecil yang mampu membuatnya tersenyum. Setelah Avant menutup matanya rapat, Aufia segera melangkah untuk masuk ke dalam kamar. Namun tiba-tiba sebuah tangan melingkar erat di perut Aufia saat ingin membuka pintu kamar.


"Avant?"


Aufia terkejut menerima perilaku ini.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh melakukan ini padamu? Dalam enam hari ke depan, aku berhak atas dirimu."


Aufia menelan ludahnya susah payah mendengar hal itu dari Avant. Kelu. Lidahnya terasa kelu untuk sekedar menjawab pernyataan Avant.


"Aku merindukanmu." Avant semakin mengeratkan kedua tangannya pada perut rata Aufia.

__ADS_1


DEG!


"Avant, lepaskan! Kumohon!" Seru Aufia mencoba untuk tetap tenang.


"Tidak mau!" Balas Avant dengan membalikkan tubuh Aufia agar menatapnya. Tidak sulit memutar tubuh mungil Aufia.


Geligat Aufia sedikit tidak nyaman. Jantungnya melakukan tugas yang lebih cepat. Disini Aufia mencoba tenang meski sebenarnya ia takut. Sayangnya, Aufia sudah memberikan kesempatan kedua yang artinya memang enam hari ke depan ia milik Avant. Panas. Aufia merasa tubuhnya menjadi panas saat ini. Bahkan ia tidak berani menatap pria yang jauh lebih tinggi darinya.


"Aku merindukanmu, sayang."


DEG!


Sayang?


Entah kenapa tubuh dan mulut Aufia jadi kaku untuk membantah semua perilaku Avant kepadanya.


Avant yang tidak menerima penolakan semakin menghapus jaraknya dengan Aufia.


CUP


Sebuah kecupan manis mendarat di bibir mungil Aufia. Merasakan yang lembut menyapa bibirnya, Aufia tidak berani menatap, untuk itu ia memejamkan matanya. Sapuan lembut menyapa dengan manis.


...•...


...•...


...•...


Pagi yang cerah untuk melakukan segala aktivitas yang sehat. Pagi ini rupanya jalanan cukup ramai hingga membuat titik-titik kemacetan di beberapa ruas jalan. Seperti yang dialami Avant dan Aufia. Mobil jeep yang seharusnya melaju dengan cepatnya kini harus terhenti karena jalanan yang penuh.


"Macet." Kata Avant memukul kenudinya.


Aufia terdiam duduk di samping Avant. Ia melihat betapa banyaknya orang yang memiliki mesin beroda empat tanpa peduli pada Avant yang kesal dengan sendirinya. Aufia masih ingat betul rasa manis di pagi hari tadi saat dirumah.


Kini Aufia mencoba untuk menenangkan pikirannya. Pagi yang panas karena jamahan dari Avant atas tubunya.


Sekali lagi Aufia menggelengkan kepala agar otaknya bersih dari ingatan Avant.


HEI! AVANT DI SAMPINGMU!!


"Kenapa?"


Pertanyaan Avant membuat Aufia terkejut.


"Tidak." Jawab Aufia menggelengkan kepala tanpa menatap Avant.


Avant tersenyum melihat Aufia yang mencoba untuk tenang padahal wajahnya sudah menampilkan ketegangan dalam hati yang begitu kentara.


"Tidak perlu takut, aku dengar tadi kau mulai menikmatinya."


"Yak!"


Tangan mungil dan ramping milik Aufia mendarat pada tubuh Avant berkali-kali hingga membuat Avant tertawa melihatnya.


"Apa salahku?" tanya Avant sok polos.


"Jangan sentuh aku!" Aufia tetap memukul tubuh Avant dengan payah.


"Hei! Kau yang menyentuhku."


Eh?


Mendengar itu, sontak membuat Aufia terdiam menatap Avant.


"Benarkan? Aku tidak salah bicara. Lihat tanganmu!" Avant sengaja melirik pada kedua tangan Aufia yang berhenti memukul namun tetap bertengger disana.


Dengan cepat Aufia menarik tangannya menjauh dari tubuh Avant.


Aisshhh...

__ADS_1


Aufia mendengus dengan perasaan kesal.


[Bersambung...]


__ADS_2