
[Episode 035 - Hadiah Untuk Qevna]
"Bagaimana? Apa mendapatkan izin dari dosenmu jika kau cuti?" tanya Avant yang kini menyeruput teh manis buatan Aufia. Manis. Seperti yang membuatnya.
"Ini aku sedang menunggu balasan dosenku." Jawab Aufia masih berkutik dengan ponselnya.
"Oh, iya! Mana gaunku?" lanjut Aufia bertanya pada Avant.
Gaun?
Avant mengernyitkan dahinya menatap Aufia yang kini menatapnya serius.
"Gaun? Kau bilang kau tidak suka, untuk apa gaunnya kau tanyakan?" bukannya menjawab, Avant jutsru balik bertanya.
Benarkan? Kemarin Aufia bilang jika dirinya tidak perlu dibelikan gaun, tapi malam ini gaun itu dipertanyakan. Dasar perempuan. Aneh.
"Kau membelinya untuk siapa? Aku bukan? Jadi gaun itu sudah jadi milikku!" Sahut Aufia tidak terima.
"Tidak, aku membelinya untuk calon istriku!" Bela Avant dengan santainya.
"Yak! Kau bilang itu untukku!" Seru Aufia lagi-lagi memukuli Avant dengan kedua tangannya.
"Hei! Hentikan!" Avant mencoba melindungi diri meski itu mustahil.
"Dasar penipu!"
"Calon istriku, kan dirimu!"
DEG!
Apa?
Sontak Aufia menghentikan tangannya dan menatap Avant.
"Kenapa? Kau tidak mau menikah denganku?" tanya Avant yang melihat Aufia kini terdiam.
Menikah? Apa itu menikah?
Aufia terdiam mendengar kata 'menikah' dari Avant. Ia bahkan sama sekali tidak memikirkan hal itu dalam waktu 5 tahun ke depan, Aufia masih ingin fokus ke cita-citanya, bukan menikah.
Mendengar Avant membicarakan hal itu, membuat Aufia tertegun. Entah apa yang ini Aufia rasakan. Tapi yang pasti Aufia belum siap dan paham tentang arti menikah sesungguhnya. Karena menikah bukan berarti hidup berdua. Tidak! Menikah bukan hanya itu saja. Ada banyak hal yang dapat diartikan dari kata 'menikah'.
"Aufia?" panggil Avant menatapa Aufia yang kini masih tertegun.
Lalu bagaimana bisa Aufia menikah? Kini dirinya sudah rusak, kotor, dan menjijikkan. Siapa yang akan menerimanya? Terlebih Aufia sendiri juga tidak punya teman pria. Bahkan Aufia sendiri juga sangat jarang berbicara pada teman sekelasnya. Tidak! Aku tidak mau menikah!
"Aufia!"
Huh?
Sadar Aufia menatap Avant.
"Kau kenapa?" Avant tahu betul perubahan wajah Aufia yang kini terlihat cemas.
"Aku baik-baik saja." Aufia menjawabnya dengam suara lirih.
"Aku sudah membawakan gaunmu tadi pagi, mungkin Bibi yang menyimpannya." Jelas Avant kepada Aufia.
"Pulanglah!"
Apa?
"Sudah malam, pulanglah! Aku sudah izin ke dosenku, besok aku tidak akan masuk kuliah." Lanjut Aufia hanya tersenyum tertahan.
Melihat hal itu Avant hanya diam, ia tahu jika sekarang perubahan suasana hati Aufia tidak baik. Avant mengerti itu. Untuk itu ia lebih memilih tenang menuruti permintaan Aufia daripada berbedat tidak jelas.
Avant berdiri setelah menghabiskan teh buatan Aufia.
"Baiklah, aku pulang! Kau jangan lupa makan malam ya, tadi ku ajak untuk mampir makan kau tidak mau."
Pesan Avant kemudian ia mendekat ke Aufia dan menunduk mengecup kening berponi Aufia. Setelah itu Avant pergi dari rumah Bibi.
__ADS_1
Diam.
Aufia hanya diam saat ini.
Menikah?
Apa aku juga akan menikah seperti yang akan Qevna lakukan?
Entahlah.
Aufia berdiri untuk menutup pintu setelah mobil Avant pergi menjauh. Ia kembali masuk dan mengambil nampan bawah meja untuk mengangkut sati toples kue kering yang tinggal sedikit isinya, juga satu cangkit teh yang habis. Aufia membawa itu semua ke dapur dan meletakkan diatas meja begitu saja.
Untuk malam ini, Aufia malas makan malam. Rasanya didalam perut masih kenyang, untuk itu Aufia langsung kembali ke kamarnya.
Didalam kamar, Aufia melihat kotak merah besar di sudut ruangan.
"Aku!"
"Aku menerimamu tanpa kau tanya ataupun kau beritahu lagi."
Tiba-tiba cuitan tak bermakna yang keluar dari mulut Avant itu teringat begitu saja.
"Tidak! Aku tidak mau menikah dengan orang yang sudah merusak masa depanku."
Gumam Aufia sebelum masuk kamar. Namun saat sudah masuk ia kembali mendengar suara ketukan pintu.
THOK! THOK! THOK!
Sekali lagi suara itu terdengar.
Karena tidak ingin membuat tamu menunggu lama, akhirnya Aufia yang sudah mengganti bajunya dengan piyama tidur keluar kamar untuk membuka pintu.
"Qevna?"
Aufia tersenyum melihat Qevna yang sudah masuk karena Bibi yang membuka pintunya.
"Fiaaaa!" Seru Qevna memeluk Aufia gemas. Aufiapun juga membalas pelukan itu namun dengan wajah yang bingung.
"Aku? Kau tahu? Aku sangat gugup saat ingin menikah, jadi sebelum aku menjalani kehidupan dengan suamiku, aku ingin menghabiskan waktu dengan sahabatku!" Jelas Qevna kemudian duduk ke sofa.
"Kau sungguh ingin menikah, Nak Qevna?" tanya Bibi yang keluar dari dapur membawa teh hangat untuk Qevna.
"Benar, Bibi! Aku akan menikah, bukankah itu kejutan yang luar biasa?" senyum Qevna bahkan tidak memudar.
"Selamat ya, Nak Qevan! Rasanya baru kemarin kalian berdua bermain bersama, sekarang kalian bedua sudah dewasa." Sahut sang Bibi.
"Iya, Bi! Waktu ternyata sudah cepat berlalu." Qevna meminum teh hangat itu.
Sedangkan Aufia tadi masuk ke dalam kamar.
"Oh iya, dimana Aufia tadi?" Qevna baru sadar jika Aufia tidak ada diantaranya dan Bibi.
"Masuk kamar. Oh iya, Nak! Bibi tinggal dulu, mau ngelanjutin lipat-lipat baju."
"Oh iya, Bi. Silahkan." Qevna melihat Bibi pergi dan masuk ke kamarnya.
"TAAARAAAA!!"
Seru Aufia keluar kamar dengan membawa satu set piyama berwarna putih di kedua tangannya. Tangan kanan baju sedangkan tangan kiri celana panjang. Aufia tersenyum menatal Qevna yang duduk di sofa dengan menatap penuh kebingungan.
"Ayo, pakai! Malam ini kita akan tidur bersama, sebelum kau sah menjadi istri orang!" Lanjut Aufia memberikan piyama miliknya untuk dipakai Qevna. Ukuran tubuh mereka sama persis, bahkan rambut mereka juga sebahu. Hanya saja yang membedakan adalah Aufia terlihat lebih berisi dari Qevna yang langsing.
"Hebat! Ini sempurna!" Qevna dengan senang mengambil piyama itu dan masuk ke dalam kamar Aufia untuk mengganti bajunya.
Aufia diluar menunggu Qevna. Karena Qevna sedikit lama, akhirnya Aufia pergi ke dapur untuk mengambil toples berisi kue kering buatannya. Ditambah cemilan makanan ringan di rak yang sengaja Aufia membeli banyak untuk ia makan sendiri ketika bosan. Aufia juga mengambil beberapa minuman kaleng dan botol yang ada di kulkas untuk ia bawa.
Satu keranjang penuh. Aufia sudah menunggu di luar kamar dengan satu keranjang penuh makanan dan minuman. Mungkin malam ini akan ada pesta piyama Aufia dan Qevna.
JGREK!
"Cantik, bukan?"
__ADS_1
Satu kalimat yang terlontar dari Qevna yang sekarang keluar dari kamar memakai piyama putih milik Aufia. Senyum dan anggukan diberikan Aufia untuknya.
"Wah! Kau menyiapkan semuanya?" Qevna sampai membulatkan mata melihat satu keranjang penuh makanan dan minuman.
"Malam ini milik kita berdua!" Seru Aufia kemudian masuk ke dalam kamar bersama Qevna.
Tahu sendirikan bagaimana jika para gadis sudah masuk kamar dengan makanan dan minuman? Yah, mereka bertukar cerita dengan makan dan minum. Mereka mengingat bagaimana persahabatan terbentuk hingga sekarang. Suara tawa menghiasi kamar Aufia.
Selesai mengobrol, kini mereka berdua menonton film ataupun drama kesukaan mereka di laptop milik Aufia.
Keduanya gemas saat adegan romantis lewat. Bahkan saat adegan mesra datang, tak jarang mereka menutup mata karena malu.
"Yak! Kenapa ini dramanya banyak adegan romantisnya?" protes Aufia yang kini menutup matanya malu.
"Kau seperti anak kecil saja. Namanya juga drama romantis, pasti menceritakan hal yang romantis!" Sahut Qevna yang kadang juga menggigit bantal sebagai pelampiasan rasa malunya.
Aufia maupun Qevna sudah menghabiskan cemilan banyak dan minuman beberapa botol. Sudah malam, sehingga mereka memutuskan untuk tidur. Semua sampah sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik sampah. Bantal ditata rapi dan mereka saling memakai kacamata tidur diatas dahi.
"Baiklah, sudah malam. Ayo, tidur!" Ajak Aufia yang kini sudah duduk dan membenarkan posisi bantal agar nyaman untuk tidur.
"Tunggu! Itu apa?" tanya Qevna berjalan menuju sudut ruangan disamping almari pakaian Aufia.
Huh? Aufia menatap Qevna yang menuju sudut ruangan.
"Ini apa, Fia" lanjut Qevna kemudian membawa kotak merah besar ke tempat tidur.
Melihat itu, Aufia membulatkan mata serta menelan ludahnya. Bagaimana bisa tadi Qevna tahu kotak itu? dan apa yang akan Aufia jelaskan jika Qevna membuka serta tahu isinya? Aisshhh....!!
"Itu bukan apa-apa! Kau letakkan saja itu ditempatnya kembali, itu hanya barang-barangku yang sudah tidak kupakai lag-"
Terlambat! Qevna membukanya.
"Gaun pengantin?" Qevna mengernyitkan dahinya melihat isi dari kotak merah itu dan mengeluarkannya.
Sebuah gaun pengantin dengan bentuk yang cantik, warna yang putih, kain yang licin dan halus, serta jahitan yang begitu rapi. Mahal. Qevna tahu ini pasti mahal.
"Kau memiliki gaun pengantin? Untuk apa?" lanjut Qevna dengan melihat gaun pengantin itu yang begitu cantik dengan ekor yang menjuntai kebawah.
Mati.
Aufia rasanya ingin membuang jauh kotak itu namun Qevna menemukannya lebih dulu.
Apa yang harus Aufia jelaskan?
Astaga...!
"Lihatlah! Ini pas untuk ukuran badanku!" Seru Qevna menempelkan gaun pengantin itu pada badannya. Meski sedikit kesusahan karena memang tebal dan berat, namun Qevna tetap masih menempelkan gaun pengantin milik Aufia di tubuhnya.
"Iya, pas." Sahut Aufia mencoba tersenyum meski ada rasa tidak rela jika gaun itu disentuh perempuan lain. Itu gaunku!
"Aku tahu! Kau membelikannya untukku, bukan?" tebak Qevna dengan mata yang penuh harapan ke Aufia.
"Jika begitu siapkan hadiah terbaik untuknya yang akan selalu ia kenang."
Tiba-tiba Aufia ingat ucapan dari sang Bibi. Hadiah terbaik.
Tidak! Itu gaun pernikahanku!
Tapi melihat Qevna yang sekarang sangat bahagia dengan gaun pernikahan yang bahkan sekarang belum dicoba membuat Aufia tidak ingin mematahkan hatinya. Gaun pernikahan yang memang sangat indah. Pasti ini tidak pernah Qevna lupakan jika Aufia memberikannya, tapi, Aufia ada rasa yang menggoda. Rasa yang tidak rela jika gaun itu jatuh jadi milik orang lain. Tapi apa alasan Aufia jika itu bukan untuk Qevna?
Astaga... merepotkan sekali!
"Aku suka gaun ini!" Seru Qevna terus menempelkan gaun itu di tubuhnya.
Melihat senyum bahagia itu, bagaimana bisa Aufia menghancurkan hati yang sedang berbunga?
"Iya, itu memang untukmu!"
Aufia mengalah. Dengan sangat berat hati dan rasa tidak rela yang menggebu, Aufia terpaksa mengatakan itu.
[Bersambung...]
__ADS_1