
[Episode 036 - Hati Yang Terluka]
"Benarkah? Untukku?"
Qevna terlihat girang saat ini. Tubuhnya berputar dengan gaun ditangannya. Senyumnya tidak memudar bahkan semakin lebar. Qevna duduk didepan Aufia dengan senyum yang menguar.
"Hadiah terbaikku dari sahabat terbaikku!"
Ucap Qevna tersenyum bahagia kemudian meraih Aufia dan dipeluknya erat.
"Terima kasih banyak!" Serunya.
Aufia hanya terdiam dengan luka yang menyayat hatinya. Sakit. Entah sejak kapan rasa sakit itu singgah. Yang jelas saat gaun itu berubah status jadi milik Qevna, hati Aufia terluka. Dengan berat hati Aufia membalas pelukan Qevna. Ia seperti kehilangan hal yang berharga hingga tak menampakkan sebuah senyum meski hanya simpul.
"Aku akan memakainya disaat aku menikah nanti! Dan kau harus datang! Lihatlah aku yang cantik memakai gaun darimu!" Lanjut Qevna masih memeluk Aufia dengan erat.
Tes.
Satu bulir air mata tiba-tiba saja jatuh hingga membuat Aufia sendiri kaget. Dengan cepat tangan lentik itu menghapusnya agar Qevna tidak melihatnya.
Apa ini? Kenapa sesakit ini rasanya? Ada apa denganku?
Aufia melepas pelukan dan sekarang menampilkan senyumnya untuk sahabat terbaik. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan Qevna yang sebentar lagi menjadi milik orang.
"Jika jadi istri orang, hilangkan sifat amarahmu itu." Pesan Aufia pada Qevna yang memang sering marah hanya karena hal kecil.
"Iya-iya! Aku tahu!" Sahut Qevna mengerucutkan bibir kemudian tertawa berasama Aufia.
"Aku cantikkan?" tanya Qevna lagi dan mendapat anggukan dari Aufia.
Dua sahabat itu kemudian memutuskan untuk tidur. Selimut besar yang hangat menjadi pelindung tubuh mungil mereka. Jangan tanyakan Qevna yang sudah tertidur lelap, sedangkan Aufia masih terjaga.
"Kau suka? Jika iya maka akan ku belikan."
"Jadi, mau dibelikan gaun ini tidak?"
"Bungkuskan yang dipakai kekasihku!"
"Sudah aku bilangkan, kita akan menikah!"
Untaian kalimat dari Avant terus terlintas di otak Aufia. Tak hanya itu, air matanya juga membasahi pipi meski saat itu terjadi, Aufia segera menghapusnya.
Rasa tidak rela terus menghantui hati dan otak Aufia saat gaun yang dibelikan Avant jadi milik orang lain.
Itu Qevna! Sahabatku!
Tapi kau tidak relakan?
Entahlah... perasaan apa ini?
Aufia terdiam dan melihat Qevna yang kini tertidur dengan pulasnya. Ia juga tidak tega menyakiti sahabat yang selalu ada untuknya. Lagi pula hadiah terbaik apalagi yang akan Aufia belikan jika bukan gaun itu?
Tapi itu gaunku!
Hati dan otak Aufia saling memberontak.
Sakit. Hati Aufia sakit.
Aufia kini berguling membelakangi Qevna. Ia melihat kotak merah yang menyimpan gaun pernikahan yang kini jadi milik Qevna.
Maafkan aku, Avant!
Satu kalimat yang terucap dari hati membuat Aufia kembali meneteskan air mata.
...•...
...•...
...•...
"Selamat pagi!"
Teriak Qevna yang sudah bangun dari tadi bahkan sudah mandi. Sekarang Qevna sudah memakai kembali bajunya dengan cantik.
"Qevna?"
Aufia baru bangun. Ia merenggangkan ototnya dan mengucek kedua mata. Aufia terduduk dan melihat Qevna yang berdiri di depan cerminnya menyisir rambut.
"Kau bangun terlambat!" Seru Qevna kemudian mengikat rambutnya jadi kuncir kuda.
__ADS_1
Sontak setelah mendengar itu dari Qevna, Aufia beranjak dari tempat tidur dan mengambil ponselnya yang ada diatas nakas. Dengan cepat Aufia mengirimkan pesan untuk Avant tidak datang dulu, karena jika datang apa yang akan Aufia jelaskan pada Qevna? Entahlah.
"Kau sudah mandi?" tanya Aufia setelah selesai mengirim pesan pada Avant.
"Aku bahkan sudah membantu Bibi membersihkan rumah. Ternyata orang pintar jika dirumah itu pemalas ya..?" jawab dan ejek dari Qevna untuk Aufia yang bangun terlambat.
"Ini gara-gara semalam nonton drama sampai tengah malam. Jadinya aku bangun telat." Jelas Aufia kemudian keluar kamar dengan membawa bathroob.
Qevna hanya tertawa kecil mendengar Aufia dengan segala pembelaannya. Qevna meletakkan sisir pada meja rias milik Aufia. Kemudian ia membawa sampah dari cemilan semalam untuk di buang.
"Bibi! Aku membuang sampah dulu ke depan!"
Seru Qevna kemudian berjalan keluar rumah untuk membuang sampah semalam. Di depan setiap rumah terdapat tong sampah yang nantinya akan diangkut oleh petugas kebersihan. Qevna memasukkan sampah semalam di tong itu.
Eh?
Mata Qevna menyipit menajamkan penglihatan saat ia melihat sebuah mobil jeep hitam yang melaju menjauh. Dari belakang sudah seperti tidak asing untuk Qevna.
"Itu seperti mobilnya Avant..."
Gumam Qevna mengingat di gang sempit ini tidak ada yang memiliki mobil jeep hitam. Benar! Tidak ada. Qevna kembali masuk rumah untuk mempertanyakan hal ini pada Bibi.
"Bibi!" Panggil Qevna ketika sudah ada di dapur.
"Ada apa, Nak Qevna?" sahut Bibi yang kini membersihkan dapur lalu mematikan kompor karena tumis yang ia buat sudah matang.
"Bibi! Disini ada yang punya mobil jeep hitam gak?" tanya Qevna dengan jujur.
"Setahu Bibi disini tidak ada yang punya mobil. Memangnga kenapa, Nak Qevna?" jawab Bibi kemudian melepas celemek dan digantungnya di tempat penyimpanan.
"Tidak!" Qevna menggeleng cepat.
...•...
...•...
...•...
"Untuk apa Aufia melarangku datang hari ini? Bukankah dia sudah meminta izin pada dosennya?"
Gumam Avant sendirian dengan menyetir mobilnya. Memang tadi Avant sudah pergi dan masuk gang ke rumah Aufia, namun setelah mendapati pesan Aufia, Avant memutuskan untuk pulang.
Sekarang otak Avant penuh pertanyaan seputar Aufia. Harusnya ini menjadi hari ke-3 untuk Avant membuktikan rasa cintanya pada Aufia.
Mobil jeep Avant melaju untuk pergi ke kedai kopi miliknya yang sudah lama tidak ia kunjungi. Hanya untuk melepas penat, mungkin secangkir kopi hitam bisa menghapuskan segala pertanyaan yang tak terjawab.
Kini Avant masuk ke dalam kedai dan disambut pelayan disana.
"Tuan Avant? Apa kabar?" tanya Nara yang menunduk hormat dan menyimpulkan senyum untuk Avant.
"Baik, tolong buatkan saya satu cangkir kopi hitam! Bawakan ke ruang kerja saja di lantai dua!"
Avant pergi menuju lantai dua sesaat setelah mengatakan itu pada Nara.
"Geno! Buatkan satu kopi hitam untuk Tuan Avant! Cepat!" Suruh Nara kepada Geno, sang ahli kopi yang bekerja di dapur.
Kedai Kopi milik Avant ini setiap hari selalu menarik pengunjung untuk sekedar istirahat. Kopi yang disuguhkan juga nikmat dengam berbagai macam dan jenis kopi. Namun, apapun jenis dan macam kopi, Avant tetap menyukai kopi dengan rasa sederhana namun penuh aroma nikmat yaitu kopi hitam pekat.
Satu cangkir kopi kini sudah bertengger di meja kerja milik Avant. Begitu selesai mengantarkan kopi, Geno segera pamit untuk kembali ke dapur.
Avant yang duduk di kursi kerjanya hanya diam melihat secangkir kopi yang ada diatas mejanya.
"Apa sebaiknya aku menelpon Aufia, ya?"
Gumam Avant sendirian. Lalu ia mengambil ponsel yang ada di saku. Nomor dengan nama kontak 'wanitaku' itu menjadi pencarian nomor satu. Hanya dengan satu ketukan, kini nomornya terhubung memanggil nomor Aufia.
"Ayolah! Angkat, Fia!"
...•...
...•...
...•...
"Voodoo?"
Satu pertanyaan dari Qevna saat ponsel Aufia berdering. Ia melihat siapa yang melakukan panggilan. Ternyata nomor dengan nama kontak 'voodoo'.
"Aufia! Siapa voodoo?" tanya Qevna kepada Aufia dengan membawa ponselnya ke dapur. Aufia sedang menyiapkan sarapan di dapur.
__ADS_1
Voodoo??
Aufia membulatkan matanya lalu mengambil ponselnya yang dipegang Qevna. Hampir saja!
"Siapa itu, Fia?" tanya Qevna lagi.
"Tidak! Ini dosenku yang galak, jadi ku beri saja nama voodoo." Jawab Aufia berbohong lalu pergi dari dapur untuk menerima panggilan masuk dari Avant.
"Hallo! Iya, ada apa?"
Tanya Aufia yang kini sudah keluar dari rumah untuk menjauh agar tidak terdengar oleh Qevna.
"Ada masalah apa hingga aku tidak boleh datang hari ini?" tanya Avant dari seberang telepon.
"Sahabatku datang dari kemarin dan menginap dirumahku, jika kau datang, apa yang harus aku jelaskan padanya?" jawab Aufia menjelaskan dengan nada yang lirih.
"Lalu? Apa hari ke tiga ku akan diundur?" tanya Avant tidak terima.
"Jika nanti Qevna masih ingin menginap di rumahku, tentu saja akan diundur." Aufia tidak ingin menolak keinginan Qevna jika itu terjadi.
"Lalu bagaimana dengan cutiku? Apa itu akan terbuang percuma?" Avant kesal.
"Ya harus bagaimana lagi?"
"Tidak! Semua sudah terjadwal dan tersusun rapi! Ayolah! Kau buat alasan untuk masuk kuliah atau kau ingin mengerjakan tugas di tempat lain, atau kau ingin mengambil buku di rumah teman, atau mungkin kau buat ada janji dengan siapapun! Aku tidak ingin cutiku terbuang percuma!" Avant tidak terima hal ini.
"Kau bisa minta cuti lagikan?"
Ingin rasanya Avant membanting ponselnya setelah mendengar kata yang terucap dari Aufia.
"Kau punya dosen? Apa kau pikir minta cuti itu mudah? Kau pikit satu minggu itu waktu yang sebentar? Kau tidak berfikir bagaimana aku yang tertinggal beberapa materi hanya untuk bisa membuktikan cintaku padamu!"
DEG!
Cinta?
Setiap kata 'cinta' yang terucap rasanya seperti telah membekukan aliran darah Aufia. Kini Aufia terlihat terdiam tanpa menjawab apapun itu yang diucapkan Avant yang sangat panjang dan lebar.
"Aku tutup dulu!"
Aufia memutuskan panggilan lalu menyimpan ponselnya di saku celana. Ia kembali untuk masuk rumah dan menemukan kotak merah sudah ada diatas meja.
Entah apa ini yang jelas rasa sakit kembali menyala.
"Kau pulang pagi ini?" tanya Aufia melihat Qevna keluar dari kamarnya dengan tas yang ia slempang.
"Aufia! Aku sudah sarapan tadi dengan Bibi, sekarang aku mau pulang dan ini aku bawa!"
Aufia melirik pada kotak merah yang kini akan dibawa Qevna.
Gaunku...
"Ternyata berat juga! Hadiah terbaikmu akan menjadi saksi pernikahanku! Terimakasih ya!"
Qevna tersenyum tidak berhenti membawa kotak merah yang cukup besar ukurannya. Sedangkan Aufia terdiam menatap ke kotak merah yang kini dibawa Qevna masuk ke dalam mobil milik Qevna.
Gaunku...
"Sampai jumpa besok, Aufia!"
Satu kalimat yang terucap dari Qevna dengan membawa kotak merah berisikan gaun pernikahan.
"Hati-hati!"
Balas Aufia melambaikan tangan pada Qevna, ia tersenyum untuk Qevna hanya untuk menjaga perasaan sahabatnya.
Apa ini? Rasa sakit ini kenapa begitu terasa?
Aufia hanya diam menyaksikan mobil Qevna menjauh dari rumahnya.
Gaunku...
Tes!
"Gaunkuu!"
Ucap Aufia lirih dengan terduduk di lantai. Air mata menghiasi pipinya yang kini basah.
Sakit.
__ADS_1
[Bersambung...]