
Kamu tak tahu kapan Tuhan menginginkan kebahagiaan bagimu. Bahkan saat kau merasa terpuruk, sesungguhnya Dia telah merencanakan hal terdahsyat yang tak pernah kau duga
⭐⭐⭐
"Kamu pernah membawanya ke sini?" tanya Bella tersenyum seraya menunjuk ke arah foto yang ia lihat.
"Eum ... belum pernah, Non. Kenapa?"
"Kamu mencintainya?"
Aryo terlihat kikuk mendengar pertanyaan Bella. Gadis berkulit putih itu tersenyum melihat tingkah pria di depannya.
"Aku tahu, kamu tidak perlu menjawab."
Hening sejenak, angin bertiup sedikit kencang membawa mendung di langit.
"Aryo."
"Ya, Non?"
"Ceraikan aku!"
Cepat Aryo menatap perempuan di depannya itu lekat. Wajah Bella terlihat tenang dengan senyuman.
"Non?"
"Kenapa? Kamu tidak perlu mengkhawatirkan perjanjian dan kemarahan papa. Aku sudah bisa menjalani sendiri semuanya," paparnya masih dengan bibir tersenyum.
Aryo mengusap wajahnya lalu menyandarkan tubuh ke kursi.
"Aryo, masa depan dan hidupmu lebih penting daripada bertahan dengan menunggu hingga perjanjian itu selesai," tuturnya seraya menggulung rambut panjangnya ke atas hingga terlihat leher jenjang miliknya.
"Wujudkan cintamu dengan Aira ... ceraikan aku!"
Lagi-lagi manik hitam pria itu menatap padanya. Ada tatapan yang tak bisa diartikan di balik mata kelamnya. Aryo menggeleng tenang seraya berujar, "tidak, Non. Saya tidak akan menceraikan Non hanya karena Non menginginkan saya bersama Aira."
"Lalu? Untuk apa kamu mempertaruhkan masa depanmu hanya untuk aku? Karena kasihan?" cecarnya kali ini dengan suara bergetar, "aku tidak butuh belas kasihan, Aryo!"
"Dan saya juga tidak butuh belas kasihan dari Non," tukasnya.
"Aryo, kamu tahu apa tentang aku? Aku bukan perempuan baik yang harus dilindungi! Kamu lihat kan? Bahkan lelaki yang pernah begitu kucintai tidak lagi peduli ...."
"Itu karena pria itu bodoh, Non!" tukasnya mencoba menenangkan Bella yang mulai histeris.
"Aku yang bodoh, Aryo. Tinggalkan aku! lanjutkan hidupmu bersama Aira." Suara Bella masih bergetar.
Ruangan itu kembali hening, terdengar suara hujan deras mulai jatuh di atap rumah. Angin masih berembus kencang.
"Non, saya ...."
"Aku mau pulang!" Bella beringsut dari duduk, menyambar tas tangannya lalu melangkah keluar. Aryo mengikuti dari belakang.
"Tunggu, saya ambilkan payung." Lelaki itu kembali ke dalam.
Ia membuka dan memayungi perempuan itu. Bella menyipit melihat lelaki itu sibuk menjaganya dari tetesan air.
"Maaf, Non. Payungnya kecil." Aryo membiarkan tubuhnya terkena hujan. Perempuan itu hanya mengangguk masuk ke mobil. Sambil menunggu Aryo yang masih mengunci pintu, ia menyandarkan kepala melepas penat.
Rentetan kejadian sehari penuh tadi mengganggu pikiran. Kembali bayangan Doni menari di pelupuk. Berkali-kali ia menarik napas panjang seolah mencoba menghapus semua memori.
"Maaf, Non. Bannya kempes. Non tunggu di rumah dulu, biar saya ganti sebentar bannya," jelas Aryo dari jendela. Perempuan itu mengangguk, kembali keluar seraya mengambil payung dari tangan Aryo.
Bella menuju teras, matanya menatap gerak gerik pria itu. Hujan telah membasahi seluruh tubuhnya. Kemeja putih itu jelas mencetak tubuh berotot milik Aryo. Bergegas ia mendekat dan melindungi pria itu dengan payung. Membiarkan dirinya terkena hujan.
"Non? Hujan. Non tunggu di sana saja."
"Hujan, sebaiknya nanti saja diteruskan," ucapnya menatap sekilas.
Aryo merengkuh bahu Bella mengajaknya kembali ke teras. Pria itu mengibas-ngibas rambutnya yang basah.
__ADS_1
"Tapi Non mau pulang sekarang, 'kan?"
Lama ia terdiam, kemudian menggeleng.
"Kamu bawa baju ganti?" tanya Bella tak menjawab pertanyaan pria itu.
Aryo menggeleng sambil berkata, "saya ada baju di dalam. Tapi ...."
"Tapi kenapa?"
"Baju Non, basah juga. Dan saya tidak punya stok pakaian wanita," paparnya.
Bella tersenyum geli mendengar ucapan itu.
"Kok Non ketawa? Emang ada yang lucu?"
"Udah ganti baju sana, nanti kamu masuk angin!" Bella memalingkan wajah saat tiga kancing kemeja Aryo terlepas, hingga terlihat dada bidang milik pria jangkung itu.
"Tapi bagaimana dengan Non Bella?"
"Bajuku tidak seberapa basah. Aku baik-baik aja," jawabnya kemudian melangkah duduk di kursi.
Aryo masuk ke dalam. Sedang perempuan itu mengambil telepon pintar dari dalam tas lalu asik dengan dunianya. Lima belas menit kemudian, muncul Aryo dengan wajah lebih segar. T-shirt hitam dan celana jeans biru gelap membuat ia tampak berbeda. Sambil tersenyum ia menyuguhkan teh panas.
"Non, diminum dulu tehnya. Eum ... ini ada sweater rajut mungkin bisa sedikit menghangatkan tubuh." Bella melihat ke arah sweater berwarna biru tua dengan kombinasi warna putih di tangan pria itu.
"Kalau Non mau, sih. Maaf ini hanya sweater rajut biasa. Tapi jadi luar bisa karena ibu yang membuatnya untuk saya," jelasnya dengan sorot mata penuh kerinduan.
Perempuan itu mengangguk menerima baju hangat dari tangan Aryo. Karena ia pun merasa tubuhnya sudah mulai sedikit menggigil.
"Ibu kamu pintar merajut ya?" tanyanya membuka suara setelah meneguk teh hangat. Kemudian mengenakan sweater tersebut.
"Itu adalah hobinya selain merawat tanaman," jelas Aryo dengan mata menerawang.
"Kamu merindukan beliau?"
"Saya selalu merindukan beliau. Setiap sudut rumah ini tak henti bercerita bagaimana ia sangat menyayangi saya. Dia alasan terbesar saya untuk berjuang dalam hidup."
Bella menatap pria di depannya lalu tersenyum.
"Aryo, aku yakin ibumu saat ini sedang bahagia. Ia tahu bahwa putranya menjadi pria baik seperti yang beliau inginkan," tuturnya seraya melipat tangan ke dada untuk menghalau hawa dingin. Aryo mengangguk tersenyum.
"Non masih kedinginan? Pintu saya tutup ya. Oh iya, Non bisa istirahat di kamar dulu. Tapi maaf tidak seperti kamar di rumah ...." cicit Aryo terlihat khawatir.
"Aku nggak apa-apa, Aryo. Kamu nggak perlu repot." Bella mengusap-usap kedua telapak tangannya agar hangat.
Hujan di luar semakin deras, petir dan guntur terdengar bersahutan. Aryo menutup pintu dan jendela. Ia memandang dari belakang putri majikannya yang tengah mencoba menghalau hawa dingin. Ia tersenyum mendekat.
"Saya bikinin mie instan mau, Non? Kebetulan stok cuma itu sih," ucapnya dengan wajah lucu. Bella mengangguk dan berkata, "aku ikut ke dapur boleh?"
Alis tebal Aryo bertaut mendengar permintaan Bella. Ia menggeleng mengatakan agar perempuan itu duduk saja menunggunya.
"Aku mau ikut ke dapur, kenapa nggak boleh?" protesnya.
"Tapi, Non ...."
"Aku kedinginan, aku mau ... deket kompor supaya hangat," selorohnya seraya tersenyum lucu. Aryo tak bisa menahan tawa mendengar ucapan Bella barusan. Ia mengangguk mempersilakan perempuan itu mengikuti dirinya ke dapur.
***
Makan malam sederhana mereka selesai, tetapi hujan masih belum usai. Seolah semesta sengaja membiarkan mereka berdua lebih dekat. Senja menjelang perlahan berubah menjadi gelap.
"Aryo," panggil Bella saat mereka berada kembali di ruang tamu.
"Ya, Non?"
"Aku serius dengan permintaan tadi," tegasnya menatap Aryo.
"Permintaan yang mana, Non?"
__ADS_1
"Cerai! Ceraikan aku, Aryo!"
Aryo mengusap wajahnya kemudian menggeleng.
"Saya juga serius, Non. Saya serius tidak akan melakukan hal itu sampai ...."
"Sampai aku melahirkan menurut perjanjian itu, 'kan?" potong Bella dengan raut kesal.
Pria itu menyugar rambut lalu menarik napas dalam-dalam.
"Non, saya harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah saya janjikan."
"Aku juga demikian, Aryo. Aku juga harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku janjikan!"
Aryo memalingkan wajahnya manatap Bella lekat. Raut wajahnya penuh tanya.
"Aku sudah berjanji pada Aira, aku berjanji akan melepasmu," jelas Bella seraya membenarkan letak duduknya.
Perempuan itu bercerita bahwa dirinya dan Aira pernah bertemu. Di sanalah ia tahu betapa dalam cinta keduanya.
"Kalian saling mencintai. Dan aku janji tidak akan membuat Aira menunggu lebih lama lagi," paparnya tersenyum. Pria itu meraup udara dalam-dalam, tak menyangka semua kerumitan itu menimpa dirinya.
Enggan beradu argumen, Aryo melangkah ke jendela. Wajahnya resah, ia menoleh kearah perempuan yang tengah bersandar di kursi. Sesekali tampak ia mengusap perut yang terlihat mulai membuncit
"Masih hujan, Non. Bagaimana? Apa kita pulang naik taksi daring saja?" tanya Aryo
"Terserah kamu aja. Aku males mikir," jawabnya asal. Terlihat mata Bella mulai mengantuk.
"Terserah saya?"
Bella mengangguk malas.
"Kalau begitu kita bermalam saja di sini. Besok pagi saya pasang ban, setelah itu kita pulang. Bagaimana, Non?"
Perempuan itu mengangguk setuju. Senyum kecil terbit di bibir pria beralis tebal itu. Ada bahagia terlihat membuncah di wajahnya.
Bergegas ia menuju kamar membersihkan ruangan itu meski sebelumnya telah bersih dan rapi. Setelah ia rasa kamar untuk putri majikannya sudah beres, pria itu mempersilakan Bella untuk beristirahat di kamar.
***
Sejak perdebatan yang tak berujung waktu itu, Bella tak bosan meminta dengan permintaan yang sama. Namun, jawaban yang ia terima masih sama. Pria itu enggan menanggapi dan berkeras tidak akan mengabulkan hal tersebut.
Siang itu Aryo duduk di sebuah cafe. Berkali - kali ia melihat ke arah penunjuk waktu di pergelangan tangan, lalu kembali melihat ke arah luar. Tak lama wajah itu menyungging senyum menatap gadis tengah berlari kecil ke arahnya.
"Hai, sudah lama menunggu?" tanyanya menjabat tangan Aryo. Pria itu mengangkat bahu kemudian menggeleng.
"Duduk, Aira."
Keduanya duduk berhadapan. Ada keengganan masing-masing untuk membuka suara. Alunan lembut musik di cafe itu tak membuat mereka menikmati.
"Katakan, ada apa. Kenapa kamu menangis di telepon tadi?" tanya Aryo memecah sunyi.
Aira menatap Aryo dengan mata berkaca-kaca. Bibir gadis itu bergetar seolah tak mampu mengucap apa pun. Tangan Aira mengambil sesuatu dari dalam tas dan menyerahkan pada Aryo.
Lelaki berhidung mancung itu menerima dengan kening berkerut. Tanpa membuka dan membaca isi undangan itu, ia paham. Pelan Aryo meletakkan kertas berwarna maroon berhias pita itu ke meja. Ia mengangguk-angguk lalu menyugar rambut.
"Maafkan aku, Mas. Andai saja Mas bisa lepas dari perjanjian itu dan membawaku pergi ...."
"Tidak, Aira! Aku pria yang dididik untuk pantang mengingkari janji!" potong Aryo tegas tapi jelas wajah itu tak terlihat bahagia.
Bahu Aira bergetar, tangannya menutupi kedua wajah. Isaknya terdengar pilu.
"Mas tidak mencintaiku lagi?" tanyanya terdengar serak. Aryo memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam.
"Aira, bukan berarti aku tidak mencintaimu. Tapi ...."
"Apa Mas mencintai Mbak Bella?" potong Aira bertanya.
****
__ADS_1