Yang Terdalam

Yang Terdalam
Hari Pertama Avant Part 2


__ADS_3

[Episode 030 - Hari Pertama Avant Part 2]


"Jangan seperti ini."


Pinta Aufia malu dengan apa yang dilakukan Avant. Kini Avant menatap pada cermin dimana tubuhnya yang tinggi tegap memeluk tubuh mungil ramping milik Aufia. Begitu serasi dan manis. Tertarik, Aufia kini juga menatap ke arah cermin yang ada di depannya.


"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Aufia membuat Avant menoleh menatapnya.


"Maksudnya?" Avant tidak paham maka dari itu dia mengernyitkan dahi.


"Kenapa kau lakukan ini padaku? Jangan memberiku apa yang nantinya menyakitiku, kau ingat bukan? Kau memberiku rasa sakit di awal tanpa kau tahu siapa diriku." Jelas Aufia tetap menatap gambarnya yang di cermin tanpa melihat Avant.


"Tapi mulai hari ini aku akan memperbaiki semuanya."


Aufia terdiam melihat bayangannya di cermin. Tanpa Aufia ketahui takdirnya akan semenyakitkan ini. Aufia memang membenci Avant, tapi dengan memberikan waktu ini dia bisa mengusir Avant jika gagal.


"Kau tidak perlu khawatir, kau akan mengenal dan mengerti bagaimana aku mencintaimu."


DEG!


Setiap kata 'cinta' yang terlontar, entah kenapa jantung Aufia merespon hal itu hingga membuat setiap darah yang mengalir terasa berdebar tanpa arah.


Cantik.


Satu kata yang mewakilkan penampilan Aufia saat mengenakan gaun pernikahan putih dengan ekor yang menjuntai ke bawah. Jangan tanya bagaimana hati Avant saat ini, setiap detik berlalu bagaikan pacuan kuda.


Saat ini Avant hanya bisa mengagumi bagaimana rupa Aufia yang begitu sempurna. Cantik. Tiada kata lain lagi selain kata ingin memiliki.


"Kau suka? Jika iya maka akan ku belikan." tanya Avant tidak mau melepas tangan yang sudah melingkar di perut Aufia sejak tadi. Seperti ini adalah keinginan Avant.


Aufia menggeleng pelan.


"Kenapa?" Avant menatap Aufia dari samping.


"Aku tidak tau apakah nantinya aku juga akan menikah, siapa yang akan menerimaku jika tahu aku sudah bukan gadis lagi?" jelas Aufia mengingat bagaimana ia mendapatkan ketidakadilan ini. Takdir mempermainkan hidupnya.


Mendengar hal itu rasa sakit kembali menyambar Avant. Dialah yang kali pertama bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Aufia. Sangat ingin rasanya Avant memberikan apapun yang Aufia minta, makadari itu enam hari ke depan ia akan membahagiakan Aufia.


"Aku!" Sahut Avant.


DEG!


"Aku menerimamu tanpa kau tanya ataupun kau beritahu lagi." Lanjut Avant dengan nada yang lembut.


Apa ini?


Kenapa setiap kata yang terucap membuatku seakan ingin mendengarnya lagi?


Aufia hanya menyimpulkan senyum menanggapi perkataan dari Avant.


"Jadi, mau dibelikan gaun ini tidak?" tanya Avant mengingatkan Aufia agar menjawabnya.


"Kau sudah mendapatkan jawabanmu sejak tadi." Jawab Aufia dengan kata yang membuat Avant diam.


"Baiklah!"


Avang melepaskan pelukannya dan berjalan menghampiri pelayan yang menjadi saksi kemesraan  Avant dan Aufia.


"Bagaimana, Tuan? Apakah anda jadi membeli?" tanya pelayan itu begitu melihat Avant menghamipirinya.


"Bungkuskan yang dipakai kekasihku!" Jawab Avant yang didengar Aufia.


YAK!!!


Aufia yang mendengarnya sontak membulatkan mata dan ingin sekali menghampiri Avant jika tidak mengingat bagaimana juntaian ekor dari gaun ini yang memanjang.


"Avant!" Seru Aufia menatap dan mendengus kesal pada pria menyebalkan itu.


"Ya, cantik?" sahut Avant menoleh melihat Aufia yang masih sibuk dengan gaunnya.


"Kenapa membeli ini?"


"Sudah aku bilangkan, kita akan menikah!" Seru Avant dengan mengedipkan sebelah matanya untuk Aufia.

__ADS_1


Blush!!


Sontak Aufia melirik pada yang lain untuk menyembunyikan rasa malu.


...•...


...•...


...•...


"Kita akan kemana lagi?"


Tanya Aufia yang kini duduk kembali ke mobil jeep bersama Avant. Sebuah kotak berwarna merah terduduk dengan manis di jok belakang. Gaun. Gaun pernikahan tadi sudah tersimpan cantik di dalam kotak merah siap dibawa pulang. Avant membelikannya untuk Aufia.


"Kau lihat!"


Tangan Avant tersodor dengan jam tangan yang menunjukkan waktu sudah mulai memasuki siang hari.


Aufia melirik jam tangan milik Avant.


"Lalu?" tanya Aufia lagi dengan muka polosnya.


"Tentu saja kita harus mengisi perut, bukan? Sudah siang, waktunya makan siang!"


Jalanan yang sepi membuat Avant bisa melaju lebih cepat dari biasanya. Namun disaat kecepatan bertambah, semakin erat pula Aufia memejamkan matanya.


"Avant! Jangan cepat-cepat!" Pinta Aufia karena takut dengan kecepatan kendaraan yang berlebihan.


Huh? Avant menoleh dan mendapati Aufia yang memejamkan matanya takut. Dengan begitu Avant mengurangi kecepatan agar Aufia tidak takut.


"Kau takut?" tanya Avant seraya fokus pada jalanan yang ada di depannya.


Aufia mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Avant.


"Kenapa?" tanya Avant penasaran lagi.


"Apa kau perlu jawabannya?" bukannya menjawab, Aufia justru bertanya lagi sambil menatap Avant.


"Tidak, tidak perlu." Avant mengalah.


"Avant, ini tempat makan apa? Kenapa seperti hotel?" tanya Aufia sebelum Avant keluar dari mobil.


"Tepat sekali! Ini memang hotel!" Sahut Avant kemudian keluar dari mobil dan masuk ke area gedung tinggi itu.


Aissshhh!!! Untuk apa ke hotel??


Geram. Aufia bahkan tidak berniat untuk turun. Ia juga tidak melepaskan sabuk pengamannya. Kedua tangan dilipat dibawah dada. Marah. Lengkap dengan bibir yang memerengut.


"Aufia?" Avant kembali karena Aufia tak kunjung turun dari mobil untuk mengikutinya.


Eh? Avant melihat bagaimana rupa Aufia sekarang yang cemberut.


"Ada apa?" lanjut Avant bertanya.


"Kau bilang ada apa? Kau pikir aku setuju kita ke hotel? Kau jangan bertindak tanpa persetujuanku! Untuk apa pergi ke hotel? Menghabiskan waktu berdua, hm..? Memangnya ada dalam perjanjian kita pergi ke hotel? Bagaimana kalau ada teman kuliah kita yang melihatnya? Kau pikir ini baik-baik saja? Tidak! Ini akan menambah masalah! Harusnya kau berfikir-"


"Iya-iya, maaf! jika begitu ayo pulang!"


Avant mengalah lalu kembali ke mobil dan pergi dari hotel pencakar langit.


Aufia masih setia dengan wajah cemberutnya. Meksipun ia juga lapar namun Aufia tidak mau jika harus ke hotel. Untuk apa ke hotel?


"Kita makan dimana?" tanya Avant tahu jika Aufia marah. Maka dari itu sebisa mungkin ia melembutkan suaranya. Hangat.


"Ke rumahku! Kita belanja dulu!" Jawab Aufia ketus.


...•...


...•...


...•...


Setelah berbelanja bahan memasak, kini Aufia dan Avant pulang ke rumah Bibi. Disana Aufia memasak untuk menyiapkan makan siang, sedangkan Avant duduk di kursi meja makan melihat bagaimana kerja Aufia.

__ADS_1


"Sejak kapan kau pandai memasak?" tanya Avant dengan menopang dagunya di tangan. Memperhatikan Aufia yang mengolah bahan mentah menjadi siap santap.


"Sejak dulu. Oh iya, kau ingin ku masakkan apa?"


Aufia berbalik setelah mencuci semua bahan sayur di wastafle, ia menatap Avant yang duduk menunggunya. Celemek yang berwarna cokelat melekat sempurna melindungi tubuh mungil Aufia.


Melihat itu, lagi-lagi Avant dibuat jatuh cinta oleh Aufia. Setiap pesonanya bahkan selalu mekar setiap detik. Menguar sempurna. Avant benar-benar jatuh dalam setiap pandangan kepada Aufia.


"Eh? Avant?" seru Aufia karena lebih memilih untuk memandanginya daripada menjawab pertanyaannya.


"Oh, iya?" sadar Avant.


Aiissshhh....!


"Kau ingin makan apa siang ini?" tanya Aufia lagi.


"Aku yakin apapun yang kau masak akan terasa enak dan siap aku habiskan!"


Ucap Avant dengan mengedipkan sebelah matanya lengkap dengan senyum yang mengembang.


"Baiklah! Jika begitu tunggu, ya!"


Tak kalah dengan Avant, Aufia punya bahan sayur yang ia masak spesial untuk Avant. Untuk itu Aufia memulai acaranya memasak.


Detik berlalu membuat aroma masakan Aufia menyebar nikmat. Setiap bumbu yang tercampur membuat perut lapar ingin terisi penuh. Hanya dengan aromanya, Avant tahu bahwa masakan Aufia pasti nikmat untuk disantap.


Tidak perlu waktu lama, Aufia dapat menyulap bahan sayur menjadi matang tersaji dalam piring. Dibawanya masakan itu ke meja makan dan dihidangkan untuk Avant.


"Hmm... aromanya enak sekali." Puji Avant dengan mencium aroma masakan Aufia yang ada didepannya.


"Tentu saja! Aku yang memasak sudah pasti enak!"


Dengan sombongnya Aufia memuji diri sendiri. Aufia kembali untuk mengambil dua piring dan satu mangkok nasi putih juga satu botol air minum dari kulkas.


"Ini apa, Sayang?" tanya Avant begitu melihat masakan Aufia. Sayut hijau dengan irisan cabe merah dan tambahan potongan dadu daging ayam. Semua dikemas dengan bumbu sederhana ditambah warna cokelat dari sang kecap.


"Itu sayur pare dan daging ayam." Jawab Aufia kemudian duduk dikursi meja makan lalu mengambilkan satu centong nasi dan diletakkan di atas piring Avant.


"Pare?"


Aufia mengangguk mengiyakan pertanyaan Avant.


"Aku belum pernah makan pare. Aku pernah dengar sayuran pare, tapi baru kali ini aku tahu bentuk sayur pare."


"Makanlah, yang banyak. Pasti enak!" Aufia sengaja mengambilkan banyak untuk sayur buatannya. Tak lupa ia sendiri juga mengambil sayurnya untuk ia makan sendiri.


Avant memperhatikan sayuran buatan Aufia lalu mulai menyendoknya untuk dimakan. Avant mengunyah pelan namun ia mengernyitkan dahi begitu sayur itu bersentuhan dengan lidahnya. Dengan cepat Avant menelannya meski belum selesai ia mengunyah.


"Aufia!! Kenapa rasanya pahit?!" seru Avant lalu mengambil minum yang di botol dan segera ia teguk.


Aufia yang sejak tadi menahan tawa kini membiarkan tawany pecah melihat Avant merasakan kepahitan dalam memakan sayuran pare. Tidak bisa disembunyikan lagi bagaimana gelak tawa Aufia.


Namun berbeda dengan Avant yang terdiam meski rasa pahit disana, ia terdiam kagum melihat wanita yang dicintainya tertawa bahagia karenanya. Avant bisa menahan rasa pahitnya untuk tawa manis Aufia.


Cantik.


"Memang rasa pare itu pah-"


Aufia menghentikan kalimatnya karena melihat Avant yang terdiam menatapnya.


"Ada apa?" lanjut Aufia bertanya.


"Jujur, aku baru tahu caramu tertawa dan aku mendengarnya hari ini. Cantik. Apapun yang kau lakukan tetap cantik." Jawab Avant dengan membenarkan posisi poni Aufia yang menutup keningnya biar rapi.


Mendengar hal itu Aufia terdiam. Entah perasaan apa ini yang selalu mengalir deras setiap mendengar kata dari Avant yang berhubungan dengannya.


"Sudahlah! Kau makan apa yang masakkan!" Aufia menepis tangan Avant dan melanjutkan makan.


"Baiklah, karena wanitaku yang memintanya, aku akan makan."


DEG!


Aufia hampir tersedak namun masih bisa ia tahan. Sedangkan Avant kembali melanjutkan makan meski sebenarnya rasa pahit itu sedikit mengganggunya. Enak tapi bercampur pahit. Wanita itu aneh, sayuran pahit dimakan.

__ADS_1


[Bersambung...]


__ADS_2