Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam part 11


__ADS_3

Cinta terbaik bukanlah yang datang dengan segala kelebihannya. Namun, yang tetap tinggal setelah tahu kekurangan kita.


🥀


Setelah menebus resep, Aryo menuju mobil. Di sana Bella sudah menunggu, wanita itu tampak baru saja menerima telepon dari seseorang. Wajah cerahnya terlihat muram saat ia menutup percakapan itu.


"Kita langsung pulang? Atau kamu mau membeli sesuatu?" tanya Aryo saat berada di belakang kemudi. Bella menggeleng tersenyum.


"Kita langsung pulang saja," pintanya tanpa menatap.


"Oke ...."


Mobil meluncur membelah jalan siang itu. Kembali kebisuan terasa. Berkali-kali wanita itu menarik napas dalam-dalam. Mendadak hatinya sangat sedih. Terngiang ucapan mamanya di telepon baru saja. Ada ruang kosong yang tiba-tiba terenggut paksa saat mendengar kabar dari sang mama.


"Setelah melahirkan, sesuai rencana, kamu harus bersiap pergi melanjutkan kuliah di Paris.  Tapi sebelum itu kamu bertunangan dulu dengan Dika, putra Om Satya. Dan anakmu biar mama yang asuh! Oh iya ,jangan khawatirkan Aryo, dia sudah tahu akan hal ini, lagipula tanda tangan kontrak itu berakhir saat kamu melahirkan."


Air mata Bella meluncur tanpa ia bisa bendung. Terdengar isak pelan darinya, hal itu membuat Aryo terkejut. Cepat ia meminggirkan mobil kemudian berhenti.


"Kamu nangis? Kenapa? Apa ada yang sakit?" Pria itu mendekat mencoba mengusap pipi Bella yang basah. Perempuan berkulit putih itu semakin tergugu.


"Apa aku berbuat salah?"


Bella menggeleng menutup wajahnya. Kini isaknya semakin kencang hingga bahunya berguncang. Tak mengerti apa yang terjadi pada wanita di sampingnya, Aryo menarik napas dalam-dalam, meski ragu ia pelan meraih bahu Bella kemudian membenamkan di dada bidangnya.


"Kalau dengan menangis bisa membuatmu lega, menangislah ...."


Bella membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan Aryo.


"Katakan ada apa? Apa aku bisa bantu?"


Bella mengurai dekapan masih dengan air mata mengalir ia menggeleng dan meminta agar Aryo membawanya pulang. Lelaki itu mengangguk, kembali melajukan mobilnya.


"Aku nggak mau pulang ke rumah itu sekarang," pintanya terisak. Heran pria itu menatap Bella.


"Aku mau kamu ajak aku ke rumahmu." Perempuan itu menatap lurus ke depan.


Baru saja Aryo hendak bertanya, Bella berkata, "aku ingin ke sana. Tolong jangan tanya apa pun."


"Baiklah, kita ke sana."


Rumah Aryo terletak jauh di pinggiran kota, membutuhkan jarak tempuh yang lumayan jauh. Namun, Bella terlihat menikmati perjalanan tersebut, meski langit mulai terlihat mendung.


"Kamu nggak bawa baju ganti?"


Bella menggeleng.


"Aku di rumah juga nggak ada baju untuk ...."


"Nggak perlu. Aku bisa tetap pakai baju ini, kamu nggak perlu khawatir," potongnya tersenyum. Melihat senyum yang tercetak di bibirnya, Aryo ikut menyungging senyum.


"Kmu lebih cantik kalau tersenyum seperti itu," tuturnya cepat kembali fokus ke depan. Mendengar pujian dari Aryo, wajah Bella bersemu merah. Beberapa jam kemudian mereka tiba di rumah mungil nan asri. Tepat saat hujan jatuh dengan derasnya.


"Kita sudah sampai, kamu tunggu di sini. Aku ambil payung."


Aryo menggenggam erat tangan Bella, menjaganya agar tidak jatuh. Sebab air hujan membuatnya khawatir wanita itu terpeleset.


"Selamat datang lagi di rumahku," tuturnya tersenyum. Bella meletakkan tubuhnya di kursi beranyam rotan. Ia terlihat lebih tenang dibanding tadi.

__ADS_1


"Kebetulan dua kali ke sini, hujan turun ya. Padahal kalau nggak hujan, aku bisa memanjat dan petikkan mangga buatmu," ujarnya duduk di sebelah Bella.


"Oh ya? Emang sudah waktunya dipetik?"


Aryo mengangguk.


"Kamu mau?"


"Tapi kan hujan ...."


"Nggak apa-apa, aku ambilkan." Aryo beranjak dari duduk.


"Jangan, Aryo. Nanti aja kalau sudah reda, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa!" Pria itu menoleh mendengar ucapan Bella.


"Kamu duduk aja di sini, temani aku," pintanya. Lelaki itu tersenyum kemudian kembali duduk di tempat semula.


"Bella ...."


"Ya?"


"Kamu sudah punya nama untuknya?" Aryo melihat ke arah wanita itu. Ia mengangkat bahu menggeleng.


"Kamu punya nama untuk dia?" Bella balik bertanya.


Sambil menyandarkan tubuh, ia mengatakan bahwa dirinya tak punya hak untuk memberi nama pada bayi dalam kandungan Bella.


"Kalau aku yang meminta? Apa kamu juga tidak mau memberi nama untuknya?" Aryo menelan saliva menahan gejolak rasa yang berontak dalam dirinya. Berdua dengan wanita yang telah menempati tempat istimewa di hatinya tanpa bisa berbuat apa-apa membuat ia merasa tersiksa.


"Aryo, kamu diam? Apa itu berarti kamu benar-benar tidak ingin menitipkan kenangan untuk dia?"


"Kenangan?"


"Bukankah sebentar lagi kamu akan meninggalkan kami?" cetus Bella dengan suara bergetar. Aryo semakin tidak mengerti.


"Maksud kamu?"


"Cukup, Aryo! Bukankah kamu sebentar lagi akan menceraikan aku? Itu kan isi perjanjiannya? Kamu lupa?" cecarnya dengan mata berkaca-kaca. Pria itu mengusap wajahnya kasar mendengar penuturan Bella.


"Oke, aku memang bukan perempuan baik-baik. Aku sadar itu, Aryo. Dibandingkan dengan hidupmu, aku bukan siapa-siapa. Bahkan saat aku memintamu memberikan nama untuknya pun kamu enggan!"


"Bella, tolong jangan bicara seperti itu. Siapa bilang kamu bukan wanita baik? Aku tidak pernah berpikir tentang hal itu. Tolong, jangan berpikir seperti itu." Aryo mengatakan dengan tenang dengan mata terus menatap wanita di sampingnya.


Hening, hanya terdengar suara deras hujan dan gelegar petir bersahutan. Angin dingin bertiup hingga menusuk tulang seolah menggambarkan rasa keduanya.


"Aku akan memberikan nama untuknya. Tapi aku mohon jangan berpikir seperti itu. Bagiku, kamu perempuan luar biasa yang pernah kukenal."


Bella bergeming mendengar penuturan Aryo.


"Aku bikinin teh hangat ya."


Wanita itu masih diam, ia terlihat enggan menanggapi.


Aryo tersenyum datar, ia meninggalkan Bella menuju dapur.


Petir menyambar, langit seakan memuntahkan seluruh isinya ke bumi. Langit masih kelam seolah senja. Ia melirik arloji menunjukkan pukul satu siang. Aryo yang sejak tadi ke dapur belum juga kembali. Bella mulai gelisah, wanita itu beranjak menuju dapur, tak didapatinya lelaki itu di sana.


"Aryo! Kamu di mana?" panggilnya seraya menelusuri seluruh ruangan di rumah tapi ia tak mendengar sahutan dari pria itu.

__ADS_1


"Aryo!" Kembali ia memanggil, kali ini ia kembali ke ruang depan. Matanya membulat melihat beberapa buah mangga ranum yang siap untuk dinikmati. Kembali ia mengedarkan pandangan ke luar, kemudian melangkah menuju pintu.


"Bella," panggil Aryo tiba-tiba muncul dengan baju yang berbeda, rambutnya terlihat basah.


"Kamu ...."


"Sini, eum ... kamu bisa kupas mangga ini, 'kan? Aku tadi belum sempat bikin teh."


Bella menatap Aryo lekat kemudian menggeleng.


"Kamu mau ninggalin aku lagi?" tanyanya mencebik kesal. Aryo tergelak melihat tingkah Bella.


"Nggak lucu! Kamu bikin aku takut tahu!" protesnya melangkah berniat menjauh dari Aryo, tapi tangan kokoh pria itu menahannya, sehingga mereka tak berjarak. Andai saat itu hujan tidak turun, pastilah degup jantung keduanya terdengar jelas.


"Maafin aku, lagian yang mau ninggalin kamu siapa?" ucapnya lembut.


"Aku takut sendirian, Aryo," lirihnya.


Aryo menggeleng kemudian berkata, "kamu tidak sendiri, ada banyak orang yang mencintaimu." Untuk kesekian kalinya mata mereka saling menatap.


Suasana sejuk dan suara hujan tak berjeda membuat keduanya sejenak melupakan kejadian rumit diantara mereka. Tak ingin lebih lama menahan hasrat, cepat Aryo memalingkan wajah.


"Kita kupas mangga sekarang, atau bikin teh dulu?"


"Kita bikin teh dulu. Aku ikut ke dapur!" pintanya disambut anggukan lelaki itu.


🥀🥀


Aryo menatap tulisan di laptop yang baru saja ia ketik. Niatnya sudah bulat untuk segera menyampaikan perihal pengunduran diri dari perusahaan milik Pak Santoso.


Ia telah merasa cukup bahkan telah berlebihan menerima imbalan dari pria yang pernah ditolongnya beberapa tahun lalu.


Dirinya tak ingin dianggap lebih lama memanfaatkan keadaan. Rasa cinta pada Bella tak bisa ia pungkiri, hal tersebut adalah  satu dari alasan terkuatnya untuk mengakhiri.


Aryo ingin memberi bukti bahwa ia tulus memiliki perasaan yang indah untuk wanita itu. Terlepas Bella menerima atau tidak, terlepas Bella tahu atau tidak. Yang jelas ia tidak ingin orang menilai dirinya lelaki yang memanfaatkan situasi.


Enam bulan cukup baginya bertahan demi sebuah janji, meski dirinya harus menahan diri. Aryo merasa telah cukup bisa bertahan hingga titik saat ia menceraikan wanita itu.


"Bella, waktuku hampir selesai, saatnya kamu melangkah seperti yang diinginkan kedua orang tuamu," gumamnya.


Jam dinding menunjukkan pukul 23.00 WIB. Sejenak ia melihat ke pintu kamar Bella. Ada sungging terpaksa di bibirnya setelah kemudian ia memejamkan mata di sofa.


🥀🥀


Bella sedang membuat susu pagi itu, saat  Aryo membawa secarik kertas.


"Apa ini?"


"Kamu meminta aku memberi nama, 'kan?"


Mata indah Bella membulat membaca tulisan tangan Aryo.


"Archie Raditya?"


"Sinar matahari yang tajam," tuturnya tersenyum.


"Dia akan jadi pria yang berani dan bertanggung jawab seperti matahari!" sambungnya lagi.

__ADS_1


Wajah wanita itu berbinar, seraya mengucapkan terima kasih.


"Sudah nggak ngambek lagi, 'kan? Aku harap jangan pernah berpikir hal seperti itu lagi, dan satu lagi ... kamu tidak pernah sendiri, Bella."


__ADS_2