
Yang Terdalam
18
Tentang kamu itu ... biarkan hanya aku dan Tuhan saja yang tahu ...
Itu tentang sebahagia apa aku menemukanmu dan sesedih apa aku kehilanganmu.
*Aryo Seno*
***
"Yang sabar ya, Mas. Semoga setelah ini, ada kebahagiaan buat kalian," tuturnya seraya menyeka air mata.
"Terima kasih, Mbok."
"Yo! Kamu istirahat dulu sebaiknya, coba lihat betapa berantakannya dirimu!" tutur Tomi mengomentari kondisi sahabatnya. Aryo menggeleng, ia memberikan baby Archie kembali pada Mbok Win.
"Dia butuh aku, Tomi!" Lelaki itu menatap Bella yang terbaring dengan banyak alat bantu di sekitarnya. Mendengar itu Tomi menepuk pundak Aryo.
"Aku tahu, tapi ...."
"Makasih, Tomi. Tapi aku tidak akan pernah meninggalkannya sendiri," potong Aryo. Tomi tak lagi berkata, ia mengangguk mencoba memahami sahabatnya itu. Seorang perawat masuk memeriksa kondisi Bella, kemudian kembali ke luar.
"Suster, boleh saya masuk?"
"Boleh, Pak. Silakan, tapi jangan terlalu lama ya , Pak," jawab perawat itu ramah. Dengan mengangguk ia mengenakan baju steril, Aryo melangkah mendekat. Suara dari monitor, alat bantu pernapasan semua seakan menjadi penentu hidup mati istrinya. Sambil terus merapal doa ia duduk di samping sang istri yang tengah koma.
"Bella ... ini aku, Aryo." Mata lelaki itu terlihat mengembun. Lembut ia menyentuh jemari lentik perempuan itu lalu mengecupnya.
"Bella, buka matamu jangan biarkan gelap terus menghalangi. Buka matamu! Kamu bisa melihat warna indah bersamaku, bersama Archie .... Tidakkah kamu merindukannya? Tidakkah kamu merindukan aku? Tidak inginkah kamu melihat bunga- bunga indah yang kamu tanam?" Aryo tak bisa menahan air mata. Ia sangat terpukul melihat kondisi wanita itu.
"Bella, kamu tahu? Papamu sudah merestui hubungan kita. Dika tidak masalah dengan itu, dia justru mendorongku untuk mempertahankanmu. Aku sudah tidak sabar untuk mengulangi pernikahan kita!"
Mata Aryo tak lepas menatap Bella. Perempuan itu benar-benar tak bereaksi. Ia masih terpejam.
"Bella, boleh aku menceritakan sesuatu? Sesuatu tentang kapan aku mulai mencintaimu ...." Ia tersenyum seraya mengusap kening perempuan itu.
"Benar kata orang, bahwa cinta itu datang karena terbiasa. Aku rasa itulah yang terjadi. Kamu ingat saat kamu sibuk menanam bunga waktu itu? Entah mengapa, aku merasa saat itu kamu akan menjadi duniaku! Mungkin kepedean, tapi aku rasa begitu ...." Lagi-lagi Aryo mengusap lembut kening Bella.
"Sejak itu aku menyukai semua yang ada padamu, semuanya! Termasuk sikap keras kepalamu," ujarnya mengulum senyum, " tapi kamu wanita kuat yang aku yakin tidak semua bisa melewati hal sepertimu. Dan aku semakin jatuh cinta sejak kamu bahagia berada di rumahku, rumah peninggalan ibuku."
__ADS_1
"Bicara tentang ibu, di tempat ini aku seperti kembali ke masa itu. Masa di mana ibuku juga harus memakai semua alat ini hingga akhirnya beliau pergi. Aku benci tempat ini, aku tidak ingin kamu juga pergi! Kembalilah, Bella," mohonnya seraya mengusap air mata yang menggantung.
"Bella, ada hal yang mungkin kamu tidak tahu. Tapi Tuhan sangat tahu. Tentang seperti apa bahagaiku saat menemukanmu dan seperti apa sedihku ketika melihatmu seperti ini ... Ya Allah kembalikan dia padaku," ungkap Aryo dengan suara bergetar.
Aryo mengusap wajahnya kemudian melihat arloji, sudah masuk waktu Dzuhur.
"Aku pergi dulu, nanti kita cerita lagi ya. I love you, Bella."
Ia beranjak dari duduk kemudian keluar. Matanya menatap Tomi juga Mbok Win.
"Kalian belum pulang?" tanyanya heran.
Tomi tersenyum, ia menyodorkan kotak makan dan sebotol air mineral.
"Kamu juga butuh makan dan minum!" tuturnya.
"Thanks, Tomi. Mbok Win sudah makan?"
Perempuan yang menggendong Archie itu tersenyum mengangguk.
"Sudah, Mas."
***
Tak jarang Archie ikut masuk ruangan ICU untuk sekedar menyapa Bundanya. Bayi mungil itu seakan tahu sang bunda tengah sakit, ia tidak pernah rewel menurut Mbok Win.
"Siang, Sayang ... coba rasakan tangan siapa ini? Jari mungil milik siapa ini?" Aryo menyentuhkan jemari Archie ke tangan Bella. Bayi lelaki itu menyentakkan kakinya seolah bahagia dekat dengan sang bunda. Ada keharuan menyeruak di dada Aryo. Meski bayi itu bukan darah dagingnya tapi ikatan batin dengan Archie begitu kuat.
"Bangun, Bella. Kami semua merindukanmu ...."
Lelaki itu membiarkan Archie menyentuh tubuh Bella dengan jemarinya. Mata Aryo terpaku saat melihat gerakan kecil jari telunjuk Bella. Bergegas ia memencet tombol memanggil tenaga medis.
Ia gendong Archie keluar dari ruangan itu. Wajah Aryo berbinar saat bercerita bahwa Bella bisa menggerakkan jari telunjuknya. Demikian juga air muka Tomi dan Mbok Win, mereka berucap syukur dan berharap Bella segera kembali.
Beberapa tenaga medis masuk ke ruangan. Sementara Aryo dan dua lainnya tegang menatap dari kaca. Wajah mereka tampak cemas.
"Bella kembalilah, Sayang," gumam Aryo seraya terus merapal doa. Mbok Win menyeka air matanya seraya menggendong Archie. Perempuan tua itu telah begitu dekat dengan putri Pak Santoso dan Aryo. Sehingga ia bisa merasakan kesedihan yang lelaki itu.
Setelah menunggu hampir satu jam, team dokter keluar. Satu dari mereka memanggil Aryo.
"Pak Aryo, sepertinya Bu Bella masih butuh beristirahat. Kita doakan sambil terus berusaha agar beliau cepat pulih kembali ya." Lelaki berpakaian putih dengan stetoskop di lehernya itu menepuk bahu Aryo seolah memberi kekuatan.
__ADS_1
"Dia ... dia belum sadar, Dokter?"
Dokter itu menggeleng kemudian tersenyum. Ia mengatakan bahwa hal seperti itu biasa terjadi.
"Kita terus support ya, Pak. Jangan lupa, Minta pada sang pemilik hidup," pungkasnya lalu meninggalkan Aryo. Pria itu mendadak merasa lututnya lemas, ia meringkuk jatuh terduduk di sudut dekat ruang tunggu. Wajahnya yang tadi sempat berbinar kembali layu.
"Yo, kita salat dulu yuk! Tenangkan hatimu," ajak Tomi.
Aryo tak menjawab, ia mengangguk mengikuti langkah sahabatnya.
"Ya Allah, engkau tahu seperti apa aku telah berserah diri padamu atas seluruh hidupku. Aku tak pernah ingkar dengan semua yang kau beri ... kini aku mohon dengan seluruh kelemahanku sebagai hamba, tolong kembalikan dia pada kami. Kembalikan Bella ya Allah ...."
Lama Aryo bersimpuh melipat wajah dengan tangan menengadah.
Sementara di ruang ICU Bella kembali menggerakkan jemari, kali ini lima jemarinya bergerak. Mbok Win yang sejak tadi menatap dari balik kaca memekik memanggil dokter. Sigap team dokter datang.
Mereka kembali memeriksa wanita itu dengan teliti dan hati-hati. Mbok Win menatap gelisah, berkali-kali ia mengarahkan pandangan ke lorong berharap muncul Aryo dan Tomi, tetapi keduanya belum juga muncul.
Sembari menggendong Archie ia berjalan mondar mandir tanpa melepas pandangan ke ruang kaca. Bella masih dikelilingi para medis.
"Ya Allah, sadarkan Non Bella," gumamnya.
Tak berapa lama kemudian muncul Aryo, lelaki itu heran melihat Bella tengah diperiksa.
"Mbok ...."
Mbok Win menceritakan hal yang terjadi. Kali ini wajah Aryo kembali berbinar meski ia harus tetap siap dengan kenyataan apa pun. Tak lama seorang dokter memanggilnya.
Wajah dokter berkepala plontos itu semringah. Ia menepuk pundak Aryo seraya mengatakan bahwa Bella telah kembali. Pria itupun langsung sujud syukur mengungkapkan luapan kegembiraan dan rasa terima kasih pada sang kuasa.
"Lalu, apa saya bisa masuk sekarang, dokter?" Masih dengan senyum dokter itu mengangguk. Aryo menatap Tomi dan Mbok Win, keduanya mengangguk tak dapat menyembunyikan haru.
Pelan Aryo masuk. Dengan senyum ia mendekati wanita yang sangat ia cintai itu.
"Bella ...."
Mata indah gadis itu menatap ke arahnya. Lama memandang kemudian ia tersenyum.
"Doni?" sapanya dengan mata berbinar. Aryo membeku, keningnya berkerut. Sejenak ia mengarahkan pandang ke seluruh ruangan. Kemudian kembali menatap Bella.
"Ini aku ...."
__ADS_1
"Iya, kamu Doni, 'kan?" Bella kembali mengulang dengan menyebut nama pria masa lalunya.
***