Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam part 5


__ADS_3

Setelah menikmati sarapan, wanita berkaki jenjang itu membersihkan diri, tak lama kemudian  dengan dress biru muda lengan panjang, ada aksen mutiara di pinggang sedikit menonjolkan perut yang terlihat sedikit membuncit  ditambah polesan make up natural dan rambut tergerai, Bella siap berangkat.


🍒🍒🍒


Gedung tempat wisuda telah di penuhi undangan, acara telah berlangsung setengah jam yang lalu. Aryo terlihat gagah dengan toga-nya. Senyumnya mengembang saat melihat orang yang ia hormati datang dan memberikan dukungan. Pak Santoso dan istri tampak duduk di barisan tengah para pengunjung. Sedang di barisan lain terlihat gadis mungil Aira menatap penuh cinta padanya.


Kebahagiaan itu semakin bertambah saat namanya disebut sebagai wisudawan terbaik. Buncahan rasa dalam dada terlihat di kedua mata Aryo yang berkaca-kaca Pria itu tampak sesekali mengusapnya.


Prosesi wisuda usai, ia menghampiri orang tua Bella dan menerima ucapan selamat dari keduanya. Pak Santoso menanyakan kenapa putrinya tak hadir.


"Eum, sepertinya dia agak terlambat, Pak. Sebab semalam kami ngobrol hingga larut," terangnya memberi alasan. Pria itu bersyukur majikannya tak lagi bertanya. Tak lama mereka berdua pergi setelah berpamitan.


"Selamat, Mas Aryo. Aku bangga padamu," Aira muncul membawa rangkaian bunga dengan wajah berbinar. Lelaki itu tersenyum menerima bunga dari tangan Aira.


"Terima kasih, Aira," balas Aryo mencubit pipi gadis itu lembut.


"Mas jadi kan, ke rumahku?" tanyanya ragu menatap kekasihnya.


Aryo mengangguk kemudian menggandeng tangan Aira untuk mengajak berfoto berdua. Tanpa mereka sadari keakraban Aryo dan gadis itu terlihat jelas oleh wanita berbaju biru muda. Bibirnya menyungging senyum, dengan langkah mundur ia kembali ke luar gedung untuk memesan taksi pulang.


🍒🍒🍒


Suara guntur menggelegar disertai kilat yang tak henti menyambar. Hujan deras seolah berlomba dengan angin yang bertiup kencang. Bella melirik penunjuk waktu di dinding, wajah cantiknya terlihat resah.


Sambil menguncir rambut ia berjalan ke ruang tamu, sedikit ia sibakkan tirai jendela, sepi tak ada tanda-tanda orang yang ia nanti datang. Perempuan itu menarik napas dalam-dalam lalu mematikan lampu kemudian melangkah ke kamar.


Pukul sebelas malam Aryo tiba, hujan deras menahannya pergi dari restoran tempat ia dan Aira bertemu diam-diam setelah ia diusir dari rumah gadis itu.


Lelaki bermata tajam itu merasa baru saja bermimpi buruk setelah pertemuan dengan orang tua kekasihnya. Penolakan yang ia terima telah membuatnya putus asa. Ayah dan Ibu gadis itu telah membuat keputusan untuk putrinya.


"Kamu! Bukannya sudah lama kami peringatkan untuk tidak dekat dengan putri kami? Kami punya standar sendiri untuk pendamping Aira!" hardik pria paruh baya itu seraya menatap marah padanya.


Kalimat itu terus terngiang di telinga Aryo. Ia menyandarkan kepala seraya memejamkan mata. Jemarinya menggenggam kuat kemudi.


Hujan di luar semakin deras mengguyur. Gelegar petir bersama dengan putusnya aliran listrik membuat pria itu tersentak. Seakan tersadar ada Bella sendiri di rumah cepat ia keluar mobil berlari kecil membuka pintu dengan kunci yang ia punya.


"Non! Non Bella!" panggilnya mengetuk pintu dengan wajah khawatir  seraya menyalakan lilin. Tak ada sahutan dari dalam, ia terus mengetuk tanpa jeda.


Pintu terbuka, mata mereka saling menatap di remang lilin di antara gelegar petir dan embusan kencang angin malam.


"Non nggak apa-apa, 'kan?" Aryo bertanya masih dengan nada khawatir. Bibir Bella membentuk sebuah garis, kemudian menggeleng. Lelaki itu ikut tersenyum menyerahkan lilin.


"Terima kasih, selamat malam, selamat beristirahat," ucapnya kembali menutup pintu. Aryo mengurungkan diri untuk kembali berkata-kata. Ia merasa bersalah pada putri majikannya. Teringat ia telah menjanjikan untuk bersama belajar masak malam ini, dan ia telah mengingkari.


Sambil menyugar rambut ia melangkah ke ruang keluarga. Saat tubuhnya menyentuh sofa, serangkai bunga tergeletak di meja. Matanya menyipit meraih buket bunga indah yang tak lagi segar itu. Ada kartu ucapan selamat tersemat di sana. Rasa bersalah semakin mendera hatinya. Dalam keremangan ia menatap pintu kamar Bella. Masih dengan wajah bersalah kembali Aryo mengetuk pintu kamar gadis itu.


"Non, maaf ...." ucapnya meninggikan suara mengimbangi suara hujan yang tak kunjung reda. Ia memejamkan mata kembali ke sofa untuk kemudian terlelap dengan bunga masih di dekapan.


🍒🍒🍒


Kumandang adzan membangunkan Aryo. Terlihat ia berusaha membuka mata. Rangkaian bunga masih berada di tangannya. Teringat semalam pria itu menoleh ke kamar Bella, masih tertutup rapat.

__ADS_1


Setelah melaksanakan kewajiban, seperti biasa ia jogging pagi. Sementara Bella  sengaja bangun pagi tanpa menunggu Aryo mengetuk pintu seperti biasa. Setelah membersihkan diri, ia ke dapur membuat beberapa sandwich juga susu untuk dirinya. Kemudian ke halaman belakang menyibukkan diri dengan beberapa tanaman di sana.


Mengenakan baju terusan sebatas selutut, dengan rambut di cepol tanpa make up, Bella terlihat segar. Angin pagi sesekali membuat anak rambutnya menari. Headset yang ia pakai membuatnya ikut senandung kecil.


Pelan Aryo masuk rumah, ia menatap setiap sudut ruangan terlihat rapi. Dengan hati-hati pria itu melangkah menuju dapur . Matanya menyipit melihat sandwich telah siap di piring lengkap dengan juice tomat kesukaannya yang biasa ia buat. Bergegas ia meletakkan barang belanjaan  lalu melangkah ke kamar Bella. Pintu kamar yang terbuka lebar menjadi isyarat bahwa wanita itu tidak berada di dalam.


"Non Bella," bibirnya menggumam lalu kembali keluar seraya memanggil nama Bella berkali-kali. Aryo berlari ke luar pagar melihat ke segala arah berharap menemukan wanita itu tapi sia-sia. Lemas ia melangkah kembali masuk, matanya kembali menyipit saat mendengar suara dari halaman belakang.


Pelan ia mendatangi asal suara. Dari balik jendela tampak wanita berbaju merah sedang asik dengan dunianya. Wajah itu terlihat berbinar menatap beberapa anggrek yang mulai berbunga. Kedua tangannya memakai kaos tangan, tak jijik mengorek-ngorek tanah meski terkadang ia bergidik.


Aryo menatap lekat, bibirnya tersungging senyum. Ia hanya menatap dari jauh tak ingin mengganggu. Seolah teringat sesuatu ia bergegas ke ruang tengah. Buket bunga semalam masih di sana. Dengan tersenyum ia mengambil dan membawanya ke belakang. Setelah merasa yakin Aryo mendekat.


"Non Bella," panggilnya pelan. Namun, perempuan itu tak memedulikan. Ia masih asik dengan tanaman. Seksama Aryo memperhatikan wanita itu, dan menyadari bahwa Bella memakai headset. Ragu ia menyentuh pelan bahu wanita di depannya. Tersentak Bella cepat membalikkan badan sehingga hampir terjatuh tapi cepat Aryo menahan tubuh perempuan itu.


"Maaf kalau mengagetkan."


"Kamu dari tadi di sini?" tanyanya membuat jarak seraya melepaskan benda kecil yang menutup telinganya.


Aryo menggeleng tersenyum. Bella membalikkan badan untuk meneruskan pekerjaannya.


"Non, terima kasih, ya. Saya senang dengan bunga juga kartu ucapannya," ungkap Aryo berdiri di samping wanita itu. Bella menoleh sekilas kemudian mengangguk.


"Selamat ya."


Aryo mengangguk kembali mengucap terima kasih.


"Oh iya, aku tadi lagi rajin. Ada sandwich di meja makan untuk kamu. Itu juga kalau kamu mau sih," tuturnya tanpa menoleh. Aryo tersenyum mengangguk mengatakan bahwa ia harus bersiap ke kantor.


"Oh iya, Aryo ...."


"Terima kasih."


"Terima kasih? Untuk apa, Non?"


Bella tersenyum.


"Kamu berhak bahagia, Aryo. Sampaikan salamku untuk gadis itu," cetus Bella masih dengan bibir mengembang. Mendengar itu Aryo terpaku seolah mencari jawaban. Sedang Bella kembali memasang headset dan meneruskan aktivitasnya.


"Non, Non Bella kemarin datang?" tanyanya menyentuh bahu wanita itu. Tak mendapat respon, ia memberanikan diri melepas pelan headset itu. Mereka sangat dekat, sejenak mata mereka beradu.


"Non kemarin datang?" ulangnya.


"Iya, aku ada di sana, sedikit terlambat."


"Kenapa tidak menelepon saya?"


Bella tersenyum menggeleng.


"Aku bangga kamu jadi wisudawan terbaik, selamat sekali lagi!" ucapnya tak menjawab pertanyaan Aryo.


"Non, kenapa nggak menjawab pertanyaan saya? Kenapa Non nggak menelpon kemarin?" cecarnya dengan wajah frustrasi.

__ADS_1


Wanita itu menghentikan pekerjaannya, ia menoleh dengan wajah ramah.


"Sudah siang, sebaiknya kamu cepat ke kantor!" Bella pergi meninggalkan Aryo yang masih berdiri mematung.


🍒🍒🍒


Bella memainkan remote frustrasi, tak ada yang bisa ia kerjakan. Di luar matahari menyengat. Seolah ingat sesuatu ia menuju kulkas. Ada beberapa macam buah di sana . Matanya melihat ada keju, yogurt juga mayonaise.


"Salad sepertinya segar!" Ia menggumam. Cekatan ia memakai celemek dan mulai mencuci beberapa macam buah-buahan. Satu persatu buah ia potong kemudian di letakkan di mangkuk saji. Getar dari gawai, membuat Bella menghentikan aktivitas. Sebuah pesan dari Aryo, bahwa ia dalam perjalanan pulang.


[Non, mau dibelikan apa?]


[Nggak usah, lagi nggak pingin apa-apa]


[Oke, Non]


Bella menarik sedikit bibirnya, lalu kembali ke aktivitasnya. Tak lama salad buah telah siap. Tersenyum puas ia memasukkan mangkuk ke dalam lemari pendingin setelah sebelumnya mengambil di mangkuk lebih kecil.


Deru mobil berhenti, terdengar suara Aryo memanggilnya. Dengan wajah penuh tanya ia melangkah ke depan. Matanya berbinar melihat beberapa pot berisi tanaman mawar dan anggrek berjajar bersama tanaman lain koleksinya.


"Thank you!"


"Non, suka?"


Bella mengangguk menghampiri bunga-bunga itu.


"Kamu belikan ini semua?" selidiknya.


Aryo mengangguk.


"Kenapa repot-repot sih?"


"Nggak repot kok, asal Non senang," balasnya menatap wanita berkulit putih itu.


Masih dengan wajah semringah, Bella mengajak Aryo menikmati salad buatannya. Pria itu bersemangat mengikuti langkah putri majikannya. Tanpa canggung Bella meladeni Aryo, meski ia tahu lelaki itu masih terlihat serba kikuk.


"Coba deh! Bilang ya kalau ada yang kurang," ucap Bella seraya menyodorkan semangkuk salad buatannya.


"Enak, pasti!"


"Dih, ketahuan bohongnya! Belum dicobain juga," kilah wanita itu.


Dengan tawa Aryo menyendokkan salad ke mulutnya disaksikan oleh Bella.


"Enak!"serunya.


"Serius?"


Aryo mengangguk berkata, "tapi ada yang kurang."


Wajah perempuan itu menegang bertanya, "kurang apa?"

__ADS_1


"Kurang ... senyum ...." godanya menatap Bella.


Mendengar penuturan Aryo sontak wajah perempuan berambut panjang itu merona.


__ADS_2