Yang Terdalam

Yang Terdalam
Bunga Mawar


__ADS_3

[Episode 024 - Bunga Mawar]


"Lalu, bagaimana dengan aku? Apa aku juga mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan dan meyakinkanmu bahwa aku bukan orang yang membuat kekacauan itu? Apa aku mendapatkan? Tidak, aku tidak mendapatkannya."


"JIKA KAU SALAH KENAPA KAU MENGHUKUMKU?!"


"TIDAK! JANGAN SEBUT NAMAKU!!"


"Ku mohon pergilah! Jangan ganggu hidupku lagi, aku tidak ingin rasa sakit ini terus ada. Kau bilang mencintaiku kan? Jadi tolong, biarkan aku bahagia tanpa kau ganggu hidupku!"


"Egois! Kau egois!"


"Apa harus aku mati biar kau tidak menggangguku?"


Kata-kata yang terlontar dari Aufia terus terngiang-ngiang dalam ingatan Avant. Tangisnya, amarahnya, tatapannya, semua berbicara tidak suka padanya. Benci.


Avant akhirnya mengalah untuk pulang daripada harus melihat bagaimana Aufia menangis karena melihatnya. Mobil jeep hitam melaju membelah jalanan. Avant sangat menyesal karena lebih menuruti egonya ketimbang akal sehatnya.


Diliriknya bouquet bunga mawar merah dan putih yang ia pesan tadi tergeletak disampingnya. Benar-benar tidak berguna, jangankan memberi bunga, baru melihat Avant saja Aufia sudah menangis tidak suka apalagi saat bunga iti diberikan. Dibuang. Avant tahu itu.


Lampu merah. Avant menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala tanda berhenti. Jari-jarinya bermain memukul kemudi sambil melihat sekeliling agar tidak jenuh. Lampu merah sungguh merepotkan. Disaat Avant ingin segera pulang tapi dia menghentikan segala arah.


Entah kebetulan atau memang mata Avant yang berkeliaran, ia melihat sosok yang tak asing lagi baginya disebuah toko yang menjual peralatan dan perlengkapan bayi.


Bibi..?


Avant menyipitkan matanya dan jelas itu Bibinya Aufia. Tak menunggu lama lagi, Avant yang kebetulan berada di sisi kanan menyalakan lampu sein kanan. Toko tempat Bibi berada di seberang jalan. Diliriknya lampu masih menyala merah tanpa berubah menjadi hijau.


"Astaga! Lama sekali!!"


Entah kenapa saat ini menunggu lampu merah menjadi merepotkan. Biasanya Avant akan sabar namun kali ini berbeda.


"Ayolah!"


Gerutu Avant memutar bola matanya jengah.


CLIP


Lampu berubah menjadi hijau yang awalny berwarna merah yang sangat lama ditunggu Avant. Tidak menunggu lagi, Avant segere memutar kemudi untuk menyeberang ke toko sebelah dimana Bibi Aufia berada. Mobil jeep berhenti di parkiran depan, lalu Avant turun dan berjalan menuju toko bayi.


Baby Shop.


Avant menatap bacaan diatas toko yang terpampang jelas.


"Nak muda?"


Huh?


Avant terkejut karena Bibi sudah lebih dulu menyapanya. Untuk itu senyum mengembang menghiasi wajah Avant.


"Nak muda ada apa kesini? Mau membeli baju untuk siapa?" tanya Bibi yang sekarang sudah memakai seragam toko untuk melayani pelanggan.


"Tidak, Bibi. Aku kesini hanya ingin memastikan bahwa orang yang kulihat itu benar Bibi atau bukan." Jawab Avant menjelaskan apa yang terjadi.


"Oh, iya, Nak... Bibi bekerja disini. Bibi pikir Nak muda mau membeli baju bayi." Sahut Bibi ditambah tawa kecilnya.


"Tidak, Bibi. Hm, jangan memanggil saya nak muda, panggil saja saya Avant." Ucap Avant dengan tersenyum.


"Oh, jadi nama Nak muda itu Avant? Baiklah, Bibi akan memanggil Nak Avant." Bibi mengangguk mengerti.


"Bibi, kebetulan sekali, keponakan Bibi itu teman kuliah saya, Aufia itu teman saya. Dan sekarang terjadi masalah antara saya dan Aufia. Jadi tolong nanti berikan ini untuknya."


Avant memberikan bouquet bunga itu pada Bibi agar diberikan kepada Aufia.


"Maaf, jika Bibi boleh tahu masalah apa ya, Nak Avant?" tanya Bibi sambil menerima bouquet bunga mawar merah dan putih itu dari Avant.


"Biasa, Bibi. Hanya salah paham dan kebetulan saya yang salah, berikan ini sebagai permintaan maaf saya." Avant menyatukan kedua telapak tangannya dan menatap Bibi memohon.

__ADS_1


Melihat itu Bibi tersenyum.


"Kamu memang baik, Nak. Nanti saat Bibi pulang pasti akan Bibi berikan. Nak Avant tenang saja, Bibi juga akan membujuk Fia supaya memaafkan Nak Avant."


"Terima kasih, Bibi."


...•...


...•...


...•...


Kesedihan sudah menjadi teman untuk Aufia. Dia menangis tersedu sesaat setelah Avant pergi. Tangisnya sudah menjadi-jadi tanpa henti. Aufia juga masih di tempatnya yaitu lantai dan bersandar didinding sampingnya. Berfikir bahwa hari ini bisa melupakan kesedihan namun justru si pembuat kesedihan datang ke rumahnya.


Aufia harus apa sekarang? Apa kesalahannya hingga harus menerima sebuah hukuman sebesar ini?


Apalagi yang tersisa? Hanya kesedihan yang membuat luka. Tidak ada yang lain. Semua hilang karena sebuah kesalahpahaman.


Sebuha foto di dinding yang terpajang cantik membuat Aufia yang melihatnya terdiam sejenak. Dimana sebuah foto yang menampilkan gambarnya waktu masih kecil.


Seorang anak kecil yang tersenyum tanpa dosa dengan membawa setangkai bunga mawar putih. Bersih. Cantik. Indah. Damai. Kata yang mampu menggambarkan sosok kecil yang dulunya periang bernama Aufia Fidianza.


Aufia terdiam kemudian menghapus air matanya. Ia berdiri untuk mengambil foto yang terlindungi bingkai berwarna hitam. Diambilnya foto tersebut dan di usapnya kaca yang masih bening. Foto yang diambil waktu Aufia masih berumur 5 tahun.


"Senyummu begitu manis, tanpa kau sadari kau menerima takdir yang begitu menghancurkanmu. Kau tersenyum seolah kau tidak mengenal sedih. Maafkan aku yang telah merusak masa depanmu."


Tetes air mata membasahi kaca yang melindungi foto dari debu. Aufia tidak menyangka bahwa kedepannya akan menerima takdir berat ini. Kenyataan yang pahit yang harus dipikulnya sendirian. Aufia tidak bisa. Tidak.


"Kau harus jadi perempuan yang kuat, perempuan yang tangguh, perempuan yang hebat."


Meski air mata setia membasahi setidaknya kini senyum mulai tersimpul dibibir Aufia. Manis.


Masa kecil yang Aufia rindukan, melihat foto itu Aufia menjadi lebih semangat kali ini. Dihapusnya air mata payah dari wajahnya. Aufia meyakinkan diri untuk selalu kuat disetiap langkah. Meski semua sudah tidak ada yang diharapkan, setidaknya melanjutkan hidup itu harus dilakukan.


Aufia kembali ke dapur dan melanjutkan untuk membersihkannya setelah terjeda beberapa saat. Kue kering berwarna cokelat itu menjadi semangat untuk Aufia. Empat toples kecil kini disimpan didalam rak yang aman. Aufia mencuci tangannya dan melepas celemek yang setia melindungi tubuh mungilnya.


"Jangan sedih Aufia, kau masih punya cita-cita yang harus kau wujudkan dan tunjukkan pada dunia bahwa perempuan sepertimu tidak akan patah karena ujian."


...•...


...•...


...•...


Dunia memang terlihat kejam untuk orang yang lemah. Tetapi dunia adalah tempat tantangan untuk orang yang pantang menyerah.


Malam ini, Aufia sudah menyiapkan makan malam untuk Bibi yang nantinya akan pulang pukul delapan malam. Sejak melihat foto masa kecilnya, Aufia sudah seperti lupa akan kejadian yang menghancurkan hatinya. Enyalah kau kesedihan!


Setelah menyiapkan makan malam, Aufia juga membuatkan teh hangat untuk Bibi, kesedihannya jangan sampai berlanjut hingga nantinya sang Bibi curiga.


"Bibi pulang!"


Teriak Bibi dan langsung saja Aufia melangkah menyambut sang Bibi.


"Bibi pasti lelah, sudah aku buatkan teh dan makan malam didapur."


Aufia menghampiri Bibi dan mengambil payungnya lalu diletakkannya disudut ruangan. Tak lupa Aufia mengambil jaket Bibi dan menggantungnya di dinding belakang pintu.


"Ini apa, Bibi?" tanya Aufia saat menemukan paperbag cokelat yang Bibi bawa.


"Itu untukmu, Fia." Jawab Bibi kemudian melangkahenuju dapur untuk mengambil minum.


"Untukku? Dari siapa?" tanya Aufia lagi dan mengikuti langkah Bibi yang ke dapur. Senyum Aufia mengembang melihat isinya yang ternyata bouquet bunga mawar merah dan putih yang dirangkai begitu cantik dan indah. Dipandanginya bunga itu karena memang benar-benar seindah itu.


"Bibi, ini dari siapa?" tanya Aufia lagi, namun matanya tetap memandang kagum pada rangakaian bunga itu.


"Bibi tahu kau ada kesalahpahaman dengan temanmu, ia mengirimkannya untuk meminta maaf padamu." Jawab Bibi kemudian duduk di kursi meja makan dan meminum teh hangat buatan Aufia.

__ADS_1


Teman?


Sontak Aufia mengenyitkan dahinya mencerna perkataan Bibi yang baru saja terlontar.


"Siapa, Bi? Teman siapa?" tanya Aufia lagi karena penasaran.


"Sebelum Bibi menjawabnya, Bibi ingin mengatakan sesuatu."


Aufia duduk di kursi sebelah Bibinya dan meletakkan bunganya di meja.


"Fia, ketika seseorang melakukan kesalahan, jangan lihat kesalahannya, lihatlah cara dia meminta maaf. Mungkin kesalahannya memang tidak bisa dimaafkan atau mungkin membuat sakit hati kita. Tapi ingat, seseorang yang baik itu bukan dia yang tidak memiliki kesalahan, tapi dia yang mau mengakui kesalahannya dan ingin memperbaikinya. Kita tidak bisa menyalahkan seseorang hanya karena kita berada disisi yang benar, karena manusia itu tempatnya salah dan lupa." Jelas Bibi kemudian mengusap rambut Aufia yang dikucir kuda. Bibi tersenyum lalu mulai menyeruput tehnya.


Mendengar nasehat Bibi, Aufia menjadi terdiam memikirkan dan mencerna rangkaian kata dari Bibi. Benar tapi Aufia tidak bisa menerimanya. Lagi pula teman mana yang meminta maaf pada Aufia?


"Iya, Bibi. Sekarang katakan padaku, bunga ini dari siapa?" tanya Aufia karena sangat penasaran teman siapa yang mengirimkan bunga ini untuknya.


"Itu dari temanmu yang bernama Avant."


DEG!


Apa?


Avant?


Bagaimana dia bisa kenal Bibiku?


Bagaikan disambar petir, kini hati Aufia benar-benar tidak bisa diselamatkan. Hancur.


Tidak!


Bagaimana bisa dia mengenal Bibiku?


"Fia?"


Panggil Bibi melihat Aufia yang sekarang diam dengan air mata yang mengumpul disudut matanya.


Tidak!


Ini tidak boleh terjadi!


Aufia sontak membuang bunga itu dan pergi dari dapur.


"FIA?"


Sang Bibi yang melihatnya juga terkejut dengan apa yang dilakukan Aufia tadi. Karena takut, Bibi mengikuti Aufia yang ternyata sudah masuk ke kamar dan menutup pintunya.


"Fia? Ada apa, Nak?" Bibi mengetuk pintu kamar Aufia namun tak ada jawaban.


Tangis.


Aufia kembali mendapatkan tangisnya setelah baru saja ia tersenyum untuk sesaat.


Aufia terduduk dilantak dengan memeluk lutut dan bersandar di tempat tidurnya.


Bagaimana bisa dia mengenal Bibiku?


Hati Aufia terus bertanya dan mempertanyakan hal yang sama. Jika seperti ini maka akan sangat sulit untuk menjauh dari pria biadab itu.


Avant?


JANGAN SEBUT NAMANYAAA!!!


Sedih.


Takut.


Sakit.

__ADS_1


Semua menjadi satu dalam rasa kecewa yang luar biasa. Baru saja Aufia tersenyum namun rasa sakit kembali menyambar. Bagaimana Aufia kuat jika saja orang yang paling ia benci terus mengikuti kehidupan Aufia?


[Bersambung]


__ADS_2