
[Episode 031 - Hari Pertama Avant Part 3]
Aufia maupun Avant sekarang sudah selesai makan siang, untuk itu Avant berdiri lebih dulu ketimbang Aufia.
"Mau kemana?" tanya Aufia yang melihat Avant berdiri.
"Mencuci piring." Jawab Avant lalu mengambil piring Aufia yang sudah selesai makan. Tak lupa Avant membawa botok minum yang sudah habis isinya.
Aufia berbalik meski tetap duduk dikursi, ia memperhatikan bagaimana calon dokter itu mencuci piring. Melihatnya membuat Aufia tersenyum kecil karena Avant begitu mahir meski terbilang pelan melakukannya. Aufia tahu jika Avant takut piringnya pecah. Tak ingin merepotkan Avant, kini Aufia berdiri dan membersihkan meja makannya. Nasi yang dimangkok ia simpan di almari penyimpanan makanan.
Huh?
Ah?
Kini Avant maupun Aufia saling bertabrakan karena dapur yang sempit. Namun bukan Avant jika tak pandai menangkap tubuh mungil Aufia. Tangan sigapnya menangkap sempurna tubuh Aufia dan menahan pinggangnya agar tak terjatuh. Keduanya terdiam jatuh dalam lautan bening indera penglihatan mereka.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Avant dengan menahan tubuh Aufia.
Oh... !
Aufia yang sadar segera berdiri dan melangkah menjauh dari Avant.
"Baik! Aku baik!" Jawab Aufia kemudian meninggalkan Avant sendirian di dapur.
"Dasar pemalu!"
Avant tertawa kecil melihat tingkah Aufia. Setelah selesai mencuci piring, Avant melepas celemek yang terbuat dari plastik kemudian menggantungnya ditempat penyimpanan yang ada di dapur. Keluar dari dapur adalah hal yang dilakukan Avant. Saat ini ia mencari sosok mungil yang memiliki nama Aufia.
"Aufia!!" Seru Avant yang tidak melihat Aufia di ruang tamu.
"Ya?" sahut Aufia dari dalam kamar.
"Kenapa kau didalam kamar?" satu pertanyaan dari Avant yanf membuat Aufia tidak paham.
"Tentu saja aku ganti baju!" Seru Aufia dari dalam.
"Baiklah. Aku tunggu disini."
Avant duduk di sofa ruang tamu. Ia mengeluarkan ponsel agar tidak jenuh. Tidak lupa juga menyalakan sambungan data seluler. Karena tadi saat bersama Aufia, Avant menghidupkan mode pesawat agar tidak ada yang mengganggunya.
JGREK!
Pintu kamar Aufia terbuka dan memperlihatkan Aufia yang memakai dress pendek dengan warna putih. Semakin memperlihatkan bagaimana putih dan mulusnya kulit Aufia. Avant yang menatapnya kembali jatuh cinta. Bagi Avant, Aufia adalah arti dari kata cinta.
"Sengaja menggodaku?" senyum nakal Avant terlihat jelas.
Aufia dengan cepat menggelengkan kepala.
"Untuk apa menggodamu? Hari ini memang panas, jadi aku pakai baju yang ini." Jelas Aufia kemudian duduk di sofa yang sama dengan Avant.
Memang ruang tamu Aufia hanya memiliki satu sofa panjang. Namun, Aufia memilih duduk di ujung yang lain sedangkan Avaht di ujung satunya. Merasa tidak adil Avant segera menggeser tubuhnya untuk duduk lebih dekat dengan Aufia.
"Aw!" Rintih Aufia begitu tubuh Avant menghimpitnya hingga tidak bisa bergerak.
"Yak! Jangan menghimpitku! Agak sana duduknya!" Seru Aufia mendorong tubuh Avant agar menjauh sedikit darinya.
"Tidak bisa! Aku memang ingin dekat denganmu!"
YAK!!!
Aufia terkejut merasakan tangan Avant melingkar ditubuhnya. Namun Aufia berusaha menjauhkan Avant dari tubuhnya.
"Menjauuhlaah!!"
Aufia tidak mau kalah, ia terus mendorong tubuh Avant agar menjauh, namun justru tangan Avant menggelitik pinggangnya. Memang pada dasarnya Aufia gadis yang geli, jadi dengan mudah tawa terlepas begitu saja.
Hanya hal kecil yang mereka lakukan, namun itu terasa menyenangkan untuk Aufia dan Avant.
"Avant! Hentikan!" Teriak Aufia disela tawanya yang masih terdengar.
...•...
...•...
...•...
__ADS_1
"Lihatlah, Ayah! Avant tidak bisa di hubungi sejak pagi!"
Wanda Ayu Kanuraga atau lebih di kenal sebagai Ibu dari Avant begitu khawatir karena sang anak tidak bisa dihubungi. Sudah berapa kali Wanda mencoba melakukan panggilan namun tertolak, mengirim pesan pun tidak dibalas. Wanda khawatir Avant marah dengan perjodohan semalam.
"Tenanglah, kau tanyakan saja pada temannya. Mungkin dia main dengan temannya."
Kini Hadiyata mencoba menenangkan Wanda, Istrinya.
"Sudah, Yah! Mereka juga tidak bisa menghubungi Avant. Ibu khawatir jika Avant sengaja pergi karena perjodohan semalam."
Wanda sekali lagi melakukan panggilan ke nomor ponsel Avant namun tetap sama, tertolak.
"Kau mengenal Avant lebih dari siapapun, seharusnya kau tidak sekhawatir ini." Hadiyata mengusap pundak istrinya lalu diajak duduk di sofa ruang tamu.
"Justru semakin mengenalnya semakin Ibu khawatir!"
"Biarkan bawahan kita yang mencarinya, Ibu tenang saja. Ayah sudah menyuruh Kris untuk mencarinya bersama anak buahnya, jika memang Avant kabur. Dia tidak lebih pintar dariku."
Mendengar hal itu Wanda sedikit tenang dan menghapus air matanya yang tadi sempat membasahi pipi.
TRING!
Tanda pesan masuk di ponsel Hadiyata. Dengan cepat ia mengambil ponsel yang ada diatas meja dan melihatnya.
"Siapa, Yah?" tanya Wanda ikut melihat ke arah layar ponsel suaminya.
"Kris." Jawab Hadiyata kemudian membuka layar kunci.
"Cepat buka pesannya!" Suruh Wanda tidak sabar.
Hadiyata membuka aplikasi pesan yang ada di ponselnya. Ternyata Kris mengirimkan sebuah gambar. Untuk itu Hadiyata mengunduh gambar itu agar terlihat jelas.
"Apa, Yah gambarnya?" Wanda begitu penasaran.
Dahi Hadiyata mengernyit melihat isi gambar yang dikirim oleh Kris, bawahannya.
"Yah!" Seru Wanda mengambil ponsel suaminya.
Wanda juga ikut mengernyitkan dahi begitu tahu isi gambar yang dikirim oleh Kris.
Di gambar itu terlihat Avant yang sedang memeluk seorang wanita yang memakai gaun pernikahan dari belakang. Kris yang mengambil gambar itu sengaja tidak mendekat agar tidak ada yang curiga. Maka dari itu Avant yang memeluk seorang wanita tidak begitu jelas siapa sosok yang dipeluk Avant terlebih memakai gaun pernikahan dengan ekor yang menjuntai panjang.
"Bukankah ini Avant? Tapi siapa wanita ini?" Wanda mencoba memperbesar gambarnya namun tetap tidak terlihat wajah dari si wanita.
"Apa yang Avant lakukan disana? Kenapa memilih gaun pernikahan? Tapi dia bersama siapa?" gumam Hadiyata masih belum menemukan jawaban.
"Ayah!"
Wanda tersenyum menatap suaminya, sedangkan Hadiyata menampakkan wajah tidak mengerti.
"Avant menipu kita! Dia pura-pura tidak suka Qevna, tapi lihatlah! Dia pergi bersama Qevna memilih gaun pernikahan sendiri!"
Senyum Wanda semakin mengembang.
"Qevna? Jadi maksudmu perempuan ini Qevna?" Hadiyata mengambil ponselnya dan melihat gambarnya lagi.
"Tentu saja Qevna! Siapa lagi kalau bukan Qevna? Lihatlah, Ayah! Postur tubuhnya sama persis dengan Qevna!"
Jari lentik Wanda mengetuk layar ponsel sehingga gambar otomatis membesar. Wanda menunjuk tubuh ramping itu dengan rambut yang sebahu.
"Bukankah rambutnya Qevna juga sebahu? Iyakan? Ini Qevna!" Lanjut Wanda senang.
"Jadi ini Qevna?" tanya Hadiyata
Wanda mengangguk senang. Ternyata sang anak sudah bisa membuat drama sendiri. Avant dan Qevna. Sangat cocok menjadi sekedar sepasang kekasih. Suami Istri, itu yang benar.
...•...
...•...
...•...
Matahari tergelincir ke barat menandakan waktu masuk ke sore hari. Siang tadi sempat hujan namun reda saat hari memasuki sore.
Di kamar yang tidak luas ini Aufia membuka matanya. Ia tertidur karena hujan begitu deras hingga membuatnya mengantuk. Aufia menguap kecil lalu ingin beranjak dari tempat tidur namun ia terkejut mendapati sebuah tangan bertengger di pinggangnya.
__ADS_1
Huh?
Avant?
Kepala Aufia menoleh ke belakang dan benar saja, Avant tertidur dibelakangnya sambil memeluk tubuh mungilnya.
Astaga! Bagaimana jika Bibi pulang?
Aufia segera menyingkirkan tangan Avant lalu beranjak dari tempat tidur. Ia membuka kamar dan melihat ke pintu depan yang masih terkunci dari dalam. Bibi belum pulang. Melihat itu Aufia bernafas lega.
"Untung Bibi belum pulang." Gumamnya.
Kemudian Aufia kembali ke tempat tidur dan membangunkan Avant yang masih bermain dengan dunia mimpinya.
"Avant! Bangun! Sudah sore!" Seru Aufia mencoba membangunkan Avant.
"Avant! Nanti Bibiku pulang lebih awal! Ayo cepat bangun!"
Aufia menarik tangan Avant agar terbangun namun justru ia yang ditarik Avant hingga jatuh diatas tubuh Avant.
Akhh...
Hampir saja bibir Aufia menyentuh dagu Avant.
"Kenapa membangunkan aku?" tanya Avant kemudian tersenyum menatap Aufia.
"Sudah sore! Nanti kalau Bibiku pulang bagaimana?"
Malu. Aufia malu untuk itu ia melirik ke arah lain tanpa membalas tatapan dari Avant. Jangan tanya jantung Aufia. Dia sudah meledak karena tatapan hangat Avant.
"Aku ingin bersamamu." Sahut Avant.
"Tidak! Ini rumah Bibi, kau tidak boleh seenaknya ingin bersamaku." Bantah Aufia mengingatkan.
"Ya, makadari itu siang tadi aku ingin menginap di hotel agar kita lebih bebas me-ARRGHHHH!! Sakit, Fia!"
Avant tidak jadi melanjutkan perkataannya karena Aufia menarik telinga Avant.
"Aku tidak mau!" Seru Aufia.
"Iya-iya, tapi lepaskan telingaku! Sakit ini!" Avant menepis tangan Aufia yang menarik telinganya hingga merah. Setelah itu ia mengusapnya karena sakit.
Lihat Aufia sekarang! Dia tersenyum melihat Avant yang tengah kesakitan karenanya. Setelah itu Aufia menyingkir dari atas tubuh Avant.
"Bangunlah! Pulang! Nanti keburu Bibiku yang datang." Kata Aufia keluar dari kamar.
Kini Aufia bangun dan membersihkan rumah, mulai dari menyapu, mengepel, dan membersihkan debu di benda-benda kecil yang ada di rumah Bibinya. Sementara itu Avant menyiram bunga yang ada ditaman depan dan membuang sampah.
"Selesai!" Seru Aufia dengan meregangkan ototnya.
"Pulang sana!" Lanjutnya mendorong Avant keluar dari rumah Bibinya.
"Aku masih ingin disini." Avant begitu santai membuat pantatnya terduduk di sofa ruang tamu Aufia.
"Tadi sudah kuberi waktu sampai selesai membersihkan rumah, kenapa masih ingin disini lagi?" Aufia menatap tidak suka ke Avant.
"Jika aku merindukanmu bagaimana?" tanya Avant.
BLUSH!!
"Besok pagi kan ketemu lagi. Sudah-sudah cepat pulang! Keburu Bibiku pulang!"
Aufia menarik tangan Avant dengan susah payah namun Avant masih terpaku di sofa.
"Baiklah nanti malam akan ku telepon." Aufia mengalah.
"Baiklah, aku pulang dulu! Kau jangan lupa mandi!"
Satu sapuan lembut kembali mendarat di bibir Aufia lalu pindah ke keningnya. Aufia hanya diam mendapatkan perlakuan manis dari Avant. Dilihatnya mobil Avant menjauh lalu pergi. Kini Aufia bisa bernafas lega.
Apa ini?
Aufia memegang dadanya yang dirasa ada aliran rasa yang sulit di jelaskan.
[Bersambung...]
__ADS_1
...[Maaf untuk pembaca, ini hanya 31 episode dengan jalan cerita masih sama, 11 bab awal sengaja saya pecah menjadi 22 bab, sehingga episodenya mundur. Maaf mengganggu🙏]...