
[Episode 026 - Usaha Avant]
Langkah Aufia sendirian saat pulang dari kampus. Untung hari ini tidak hujan. Jadi Aufia tidak takut kehujanan. Karena Bibi pulang malam, akhirnya Aufia sendirian dirumah. Setelah sampai dirumah, Aufia mengganti baju dan mengambil cemilan untuk melanjutkan membaca novel kesukaannya di ruang tamu.
Diliriknya jam dinding berwarna hitam yang ada di ruang tamu. Baru menginjak sore hari, itu artinya malam sebentar lagi datang.
Namun, lagi-lagi Aufia dikejutkan oleh ketukan suara pintu depan. Yang tadinya Aufia merasa aman menjadi horor menatap pintu putih itu.
"Selamat sore, kak! Ini kurir, ada paket untuk, kakak!"
Aufia mengernyitkan dahinya.
Kurir? Paket?
Dengan cepat Aufia beranjak dari sofa dan membuka pintu. Betapa terkejutnya Aufia setelah mendapati beberapa kurir ada didepan rumahnya.
Dapat Aufia lihat, ada yang membawa boneka besar, ada yang membawa bouquet bunga, ada yang membawa kotak kardus yang Aufia sendiri tidak tahu apa isinya.
"Paket untuk saya?" tanya Aufia memastikan apakah ini benar untuknya atau bukan, karena Aufia sama sekali tidak memesan apapun di online shop.
"Iya, untuk kakak yang bernama Aufia!" Jawab kurir paling depan dan diikuti kurir belakangnya yang mengangguk bersamaan.
Aufia sejenak berfikir dari siapa semua ini? Kenapa sebanyak ini?
Pasti dia!
Aufia tidak perlu menebak siapa yang mengirimkan barang-barang ini padanya, karena ia tahu ini semua pasti dari Avant.
"Tidak, pak! Saya tidak memesan apapun, tolong bawa paket-paket ini pergi. Tolong, Pak!"
Ucap Aufia mengusir kurir-kurir yang sekarang sedang kebingungan harus dibawa kemana paketnya.
"Tapi, kak-"
"Tidak! Tidak! Saya tahu ini dari Avant, tolong kembalikan saja semuanya pada dia!" Elak Aufia kemudian masuk ke rumah dan menutup pintunya.
Aufia membuang nafas kesal melihat kelakuan Avant. Kenapa tiba-tiba dia seolah ingin benar-benar minta maaf dengan segala cara? Tidak! Aufia tidak akan terbujuk begitu saja. Tidak.
...•...
...•...
...•...
Sudah lelah Aufia akhir-akhir ini harus menolak kiriman bunga, paket, atau apapun hadiah dalam bentuk ini itu dari Avant. Setiap pagi, siang, sore, bahkan malam, ada saja kiriman yang ada hingga membuat Aufia bingung harus menjawab pertanyaan dari sang Bibi. Ingin menyembunyikan semuanya justru Avant yang membukanya.
"Aufia! Ada paket lagi!"
Teriak Bibi karena ada paket yang datang.
"Aishshhhh!" Kesal Aufia membuka pintu.
"Anda tahu sopan santun tidak? Ini malam! Waktunya orang tidur dan anda mengirimkan paket? Itu mengganggu! Paham?" seru Aufia memarahi kurir yang mengantar barang.
"Maaf, kak! Saya cuma mengantar, jika kakak tidak nyaman hubungi saja orang yang mengirim paketnya!"
Kurir itu pergi setelah memberikan paket kecil pada Aufia.
Benar! Aku tidak perlu memarahi kurir yang tugasnya mengantar barang, aku harus memarahi Avant!
Aufia masuk dan menutup pintunya lalu pergi ke kamar.
Dilihatnya kotak paket yang tertulis dari pengirim Avant Kanuraga. Disana juga tertera nomor ponselnya. Aufia dengan cekatan tangan menyimpan nomot tersebut dalam ponselnya. Aufia hanya butuh nomor ponselnya, maka dari itu paket kecil dibuangnya ke tempat tidur.
Aufia menekan nomor ponsel Avant untuk melakukan panggilan.
"Kau gila? Apa kau tidak mengerti bahasaku? Sudah aku bilangkan, jangan menggangguku lagi! Apa kurang jelas kata-kataku?"
Seru Aufia marah saat panggilannya tersambung.
__ADS_1
"Aufia?"
Sapa Avant dari balik telepon yang sontak membuat Aufia mengernyitkan dahi.
"Iya! Aku Aufia! Ak-"
"Sudah ku duga kau akan menghubungiku!" Sahut Avant berseru terdengar senang
"Itu karena kau menggangguku!" Sahut Aufia kesal.
"Hei! Tunggu! Dari semua hadiahku apa ponsel ini yang paling berguna?"
Apa?
Ponsel?
Aufia tidak paham dengan perkataan Avant.
"Ponsel? Maksudmu ponsel apa?" tanya Aufia ingin tahu jawabannya.
"Iya, aku memberimu ponsel baru karena aku dengar waktu di kampus ponselmu rusak. Dan sekarang kau menelponku, apa kau ingin mengucapkan terima kasih?"
Gila!
"Kau jangan sembarangan ya jika berkata! Jangan terlalu banyak mimpi! Sebaiknya sekarang kau bangun dari tidurmu karena ponsel yang aku gunakan ini adalah ponsel yang dibelikan Bibi untukku!" Jelas Aufia tidak terima jika ponsel pemberian Bibi diakui pria gila seperti Avant.
"Baiklah aku yang banyak bermimpi, kau senang?"
"Tidak! Mulai sekarang jauhi aku! Tolong hentikan teror paketmu ini, karena itu percuma, semua aku buang!" Aufia capek harus bolak-balik menerima serbuab paket gila dari Avant. Merepotkan!
"Aku akan menghentikan paketku tapi jangan hindari aku. Bisa?"
Apa?
Aufia terdiam dengan mata yang berkedip tidak percaya. Tuhan kenapa kau harus pertemukan aku dengan pria menyebalkan ini? Tidak, Aufia juga tidak bisa jika harus bertemu dengan Avant. Sakit. Sungguh sakit.
"Apa maumu?" kali ini Aufia bertanya dengan serius. Sudut matanya sudah menyimpan bulir kristal yang siap pecah kapan saja.
"Aku? Tentu saja aku ingin memperbaiki kesalahanku dan ingin membahagiakanmu. Apa usahaku selama ini kurang meyakinkanmu?"
Tes.
Jatuh sudah bulir kristal membasahi pipi. Ini bukan masalah kurang atau lebih, tapi ini masalah hati yang tersakiti.
"Sampai kapan? Sampai kapan kau akan melakukan hal bodoh ini? Jika kau ingin memulai hubungan, bisakah tanpa ada rasa sakit? Bisakah tanpa ada rasa pedih? Bisakah kau memulainya dengan baik? Jika kau bisa memulainya dengan baik mungkin ceritanya tidak akan seperti ini. Disini aku korban sesungguhnya. Apa kau tidak punya otak? Rasa malumu dimana? Setelah kau renggut segalanya dariku kini kau dengan mudahnya meminta maaf? Tidak, maaf dariku mahal. Tidak bisa kau beli dengan mudah."
Jelas Aufia mulai menangis sesenggukan mengingat bagaimana Avant merenggut kebahagiaannya dan membaliknya jadi kesedihan abadi.
"Aku mencintaimu! Aku mencintaimu, Aufia. Aku sungguh mencintaimu. Perasaan ini tidak bohong ataupun pura-pura. Kau bisa membunuhku untuk balas dendam terbaikmu, tapi tolong percayalah aku bahwa aku memang ingin minta maaf dan memperbaiki semuanya dengan rasa cintaku padamu."
"Tidak, kau tidak akan mendapatkan apapun dariku, kau sudah menghancurkan apa yang ku punya. Lalu apa yang kau cari lagi?"
"Maafmu dan cintamu."
TIDAAAAAAAKKKKKK!!!!
Aufia memutuskan panggilan lalu melempar ponsel ke tempat tidur. Tangisnya tersedu-sedu hanya karena ingat apa yang sudah menimpanya. Orang yang paling ia benci adalah orang yang kali pertama menyatakan cinta padanya.
Perasaan apa ini? Haruskah Aufia sedih atau bahagia?
Kini Aufia memilih untuk duduk diatas tempat tidur dan mengusap air matanya agar mata yang sudah cantik tak sembab lagi. Perih rasanya. Dilihatnya paket kecil yang tergeletak di tempat tidur, karena penasaran Aufia membuka paket itu untuk melihat apa isinya.
Kardus yang menjadi pelindung paket dibukanya dengan mudah tanpa merusak segel. Aufia mengeluarkan isi dari paket itu yang ternyata sebuah jam tangan cantik berwarna cokelat muda. Tiba-tiba saja Aufia ingat bagaiman dulu Avant pernah menarik pergelangan tangannya hingga terputus jam tangan yang dipakainya.
Jujur ini cantik.
Aufia terdiam mengingat isi paket-paket sebelumnya. Meski ia kesal namun Aufia juga penasaran dengan isinya. Semua paket yang dikirim adalah barang-barang yang pernah Avang rusak saat ingin menjamah Aufia.
Tas. Baju. Sepatu. Jam tangan. Bahkan jika benar ponsel yamg dipakai Aufia adalah pemberiannya, berarti ponsel juga termasuk dalam daftar barang yang sudah Avant kembalikan. Dan paket lainnya seperti boneka, makanan, bouquet bunga itu sebagai permintaan maaf.
__ADS_1
Dilihatnya lagi ternyata ada sepucuk surat didalam kardus kecil itu. Aufia mengambilnya dan membaca tulisan tangan milik Avant. Jujur tulisan tangannya rapi.
"Aufia, maafkan aku! Sebisa mungkin aku mengembalikan barang-barangmu yang sudah aku rusak. Mungkin tidak sama dengan barangmu yang dulu, tapi setidaknya ini adalah barang yang sama. Aku tahu ada dua hal yang tidak bisa aku kembalikan padamu, yaitu harga dirimu dan kebahagiaanmu. Itu tidak mungkin, tapi aku berusaha. Jika kau mengizinkan aku, beri waktu dalam satu minggu untuk membuktikan bahwa aku bersungguh-sungguh ingin mengembalikan semuanya untukmu dan memberimu cinta dariku. Avant."
Tes.
Air mata Aufia kembali menetes setelah membaca surat dari Avant. Entah apa ini, tapi Aufia tidak bisa jika harus bertemu dengan orang yang sudah menyakitinya lebih dari apapun.
"Fia, ketika seseorang melakukan kesalahan, jangan lihat kesalahannya, lihatlah cara dia meminta maaf. Mungkin kesalahannya memang tidak bisa dimaafkan atau mungkin membuat sakit hati kita. Tapi ingat, seseorang yang baik itu bukan dia yang tidak memiliki kesalahan, tapi dia yang mau mengakui kesalahannya dan ingin memperbaikinya. Kita tidak bisa menyalahkan seseorang hanya karena kita berada disisi yang benar, karena manusia itu tempatnya salah dan lupa."
Kata dari Bibi itu terus terngiang. Membuat Aufia bingung harus memilih jalan yang mana. Rasa sakit masih kentara namun nasehat Bibi juga membara.
"Aku mencintaimu! Aku mencintaimu, Aufia. Aku sungguh mencintaimu. Perasaan ini tidak bohong ataupun pura-pura. Kau bisa membunuhku untuk balas dendam terbaikmu, tapi tolong percayalah aku bahwa aku memang ingin minta maaf dan memperbaiki semuanya dengan rasa cintaku padamu."
Perkataan Avant yang baru saja terlintar juga terlintas lewat. Ini membuat Aufia bimbang dalam menentukan pilihan.
Aku harus apa?
Kuku-kuku cantiknya ia gigit karena bingung.
"Fia! Ada paket lagi!"
Teriak Bibi dari luar kamar.
Paket?
Dengan cepat Aufia menghapus air matanya dan membuka pintu kamarnya.
"Kurirnya didepan, tadi mau Bibi terima tidak boleh, harus kau yang menerimanya." Jelas Bibi sambil menunjuk kurir yang sudah menunggu diteras.
Aufia keluar untuk menemui kurir meski sedikit takut karena ini terlalu malam untuk kurir kirim paket. Terlebih kurir yang satu ini berdiri membelakangi Aufia membuat Aufia tidak bisa melihat paket seperti apa yang datang lagi.
"Maaf, saya Au-"
GREP!
Aufia membulatkan matanya terkejut. Kurir yang berdiri membelakanginya memeluknya erat begitu berbalik. Aufia terdiam karena terkejut namun otaknya begitu encer untuk mencerna semuanya.
Avant?
Tangan Aufia berusaha mendorong dan menjauhkan tubuh tegap Avant yang memeluknya agar terlepas tubuhnya dari dekapan Avant.
"Lepaskan aku!" Ucap Aufia tertahan tidak ingin berteriak karena takut jika tetangga melihat.
"Tidak! Beri aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa membahagiakanmu!" Sahut Avant semakin menenggelamkan tubuh mungil Aufia dalam pelukannya.
"Kau mencekikku!"
"Jangan berlebihan, bahkan aku tidak menyentuh lehermu." Avant semakin erat memeluk Aufia.
"Lepaskan aku, bodoh!" Seru Aufia ketus sambil terus berusaha melepaskan diri. Payah.
"Beri aku kesempatan itu. Jika gagal aku pergi."
Apa?
Sungguh?
Dia tidak bohongkan?
Kali ini Aufia jadi tenang tidak memberontak. Aufia berfikir sejenak mungkin inilah cara Tuhan menjauhkannya dari pria yang ia benci. Ini kesempatan yang baik untuk mengusir Avant dari hidupnya.
"Janji jika gagal kau akan pergi?" tanya Aufia memastikan apa yang dikatakan Avant.
Avant mengangguk sambil menatap Aufia yang mendongak menatapnya.
"Baiklah, sekarang kau pulang! Waktumu dimulai besok pagi."
[Bersambung...]
__ADS_1