Yang Terdalam

Yang Terdalam
Hari Ke Tiga Avant Part 2


__ADS_3

[Episode 038 - Hari Ke Tiga Avant Part 2]


Kehidupan akan menemukan jalannya. Begitu pula apa yang Aufia rasakan saat ini. Aufia hanya bisa mengikuti jalan yang orang lain buat tanpa bisa memilih jalan sendiri atau membuatnya. Aufia mencoba membuktikan hal itu namun takdir merusaknya.


Kini Aufia hanya duduk di atas tempat tidur menunggu Avant yang membersihkan peluh di tubuhnya. Avant mandi.


Rasa lelah hinggap tanpa permisi, setelah mengitari luasnya tepi pantai dan melihat senja, kini Aufia dan Avant istirahat di salah satu hotel dekat pantai. Dilihatnya kamar mandi yang tertutup rapat dan terdengar suara percikan air, tanda Avant begitu sibuk dengan air. Mencoba bertahan namun akhirnya tumbang. Aufia kini menjatuhkan tubuhnya diatas tilam putih. Empuk. Nyaman membuat mata terpejam. Aufia menikmati betapa enaknya kasur hotel ini.


"Aufia, aku sudah se-"


Avant yang keluar dari kamar mandi tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena melihat tubuh ringkuh dari Aufia yang tergeletak di tempat tidur. Avant tersenyum melihat wajah lelah Aufia. Untuk itu ia lebih baik diam daripada harus mengganggu putri tidur yang menikmati mimpinya.


"Kau pasti lelah. Tidurlah." Ucap Avant dengan lirih.


...•...


...•...


...•...


Setelah mengunci pintu hotel, kini Avant pergi dan turun ke lantai satu untuk keluar. Mobil jeep selalu menemani kemanapun Avant pergi. Tidak lama, tempat yang Avant cari mudah dijumpai di tepi jalan. Minimarket.


Avant masuk setelah memarkirkan mobil di parkiran. Ia masuk lalu mencari rak yang berisi makanan ringan, roti isi, sosis, ramen, dan beberapa botol minuman.


Satu keranjang penuh, Avant membeli berbagai makanan dan minuman untuk Aufia. Pasti dia lapar. Apalagi saat di ajak untuk makan di tempat makan Aufia menolak karena takut jika ada yang melihat. Untuk itu Avant membelikannya makanan yang akan dimakan di dalam kamar hotel.


"Darimana saja?"


Satu pertanyaan yang Avant dengar saat pulang dan masuk ke dalam kamar.


Setelah mencari dan membeli semua yang dicari, kini Avant pulang. Tidak lama sebenarnya, namun antrian pada kasir membuat hambatan waktu hingga memakan lebih banyak ribuan detik. Avang sangat ingin menyerobot antrian mengingat pasti Aufia sudah menunggunya, namun ia tidak bisa. Untuk itu menunggu giliran adalah pilihan terbaik.


"Aku dari luar, belanja ini."


Satu kantong plastik besar berwarna putih Avant letakkan diatas tempat tidur. Sedangkan Aufia duduk di tempat tidur dengan wajah ditekuk masam. Marah.


"Apa ini?" Aufia melihat isinya yang ternyata makanan pengisi perut lapar, lalu ia melirik Avant yang berdiri di sampingnya.


"Kau belum makan, jadi aku belikan itu semua untukmu. Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka, jadi aku ambil semua yang ada disana." Jelas Avant berharap Aufia tidak marah atau setidaknya tidak kecewa padanya. Lalu Avant memilih duduk disamping Aufia.


"Apa makanan yang kau suka tidak ada?" lanjut Avant bertanya.


Aufia menggeleng pelan.


"Jika begitu tersenyumlah." Pinta Avant kemudian menarik kedua pipi Aufia agar tersenyum.


"Aww..!! Sakit!" Sontak Aufia memukul dan menepis tangan Avant yang menarik kedua pipinya.


Avant tertawa melihatnya.


"Ayo, pulang!"


Avant membulatkan mata mendengar satu kalimat dari Aufia yang meminta pulang.


"Kenapa?" tanya Avant dengan mengernyitkan dahinya.


"Aku takut, kita pulang saja." Jawab Aufia dengan wajah yang memang terlihat cemas. Bahkan senyum tampak pudar.


"Takut? Hei, ada aku disini! Untuk apa takut? Lagipula tidak ada yang kenal kita disini." Sahut Avant meyakinkan Aufia agar tidak perlu takut pada apapun dan siapapun.


Lagi-lagi Aufia menggeleng tidak mau. Ia tetap takut dengan wajah cemas yang menguar.

__ADS_1


"Aku takut, Avant. Kita pulang saja, ya?" pinta Aufia lagi.


Melihat wanita yang ia cintai tidak nyaman dengan tempat ini akhirnya Avant mengalah. Ia menyetujui untuk pulang karena permintaan Aufia. Meski sudah tanggung jawab Aufia yang kalah saat permainan di pantai, namun Avant tidak mau membuat Aufia tidak nyaman.


"Apa kau sakit?"


Satu lagi pertanyaan dari Avant pada Aufia yang kini mereka berdua berjalan di lorong hotel untuk pulang. Tampak Aufia menggandeng lengan Avant dan kepalanya yang ia sandarkan pada bahu Avant.


"Perutku sakit, rasanya tidak nyaman." Kini tangan Aufia mengusap perut ratanya.


"Kau ada masalah dengan perutmu? Jika begitu kita ke dokter saja ya?"


Astaga... rasanya Aufia ingin sekali menutup mulut Avant dengan lakban. Ini hanya sakit perut biasa, kenapa sedikit-sedikit harus ke dokter? Kebiasaan orang kaya. Apa-apa harus pergi ke ahlinya. Dasar.


"Tidak perlu, mungkin ini kram karena ingin tanggal merah." Jawab Aufia dengan malas.


"Tanggal merah? Maksudnya?" Avant tidak paham.


"Iya, tanggal merah. Waktunya perempuan datang bulan." Jelas Aufia dengan malas pula karena perutnya yang sakit.


Mendengar itu Avant menelan ludahnya susah payah.


"Ayo, pulang!" Ucap Avant mantap dengan pilihannya.


...•...


...•...


...•...


Mobil jeep milik Avant berhenti tepat didepan rumah Bibi. Sepi. Satu yang dirasakan mereka berdua karena Bibi sudah pasti pergi kerja dan belum pulang. Untuk itu Avant membawa Aufia ke teras dan duduk di kursi yang ada disana. Pagi tadi mereka berdua sudah izin untuk pergi mengerjakan tugas kuliah pada Bibi dan mungkin akan baru pulang besok pagi, namun takdir berkata lain. Mungkin ini akibat mereka berbohong. Jadi, rencana yang sudah tersusun rapi berantakan begitu saja.


"Pintunya di kunci!" Ucap Avant yang mencoba memutar knop pintu namun ternyata dikunci.


"Baiklah, iya aku salah." Avant ikut duduk di kursi sebelah Aufia. "Lalu bagaimana ini?" lanjutnya.


"Biar aku telepon Bibi, akan ku tanyakan kunci padanya. Jika dibawa Bibi, kau maukan mengambilnya?" Jawab Aufia kemudian mengeluarkan ponselnya dari totebag, sedangkan Avant mengangguk mengiyakan pertanyaan Aufia.


"Bibi?"


"..."


"Iya, Bi! Tidak jadi, ini aku pulang dengan Avant. Tapi pintunya terkunci, Bibi meletakkannya dimana?"


"..."


"Dibawah pot yang paling pojok?"


"..."


"Baiklah, Bibi! Terimakasih!"


Aufia memutuskan panggilan lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam totebag kesayangannya. Kemudian Aufia berdiri untuk mengambil kunci yang ada di bawah pot paling pojok.


"Tidak-tidak! Biar aku saja!"


Sebelum Aufia melangkah, Avant berdiri menghentikannya. Lalu pria bertungkai panjang itu mengambil pot paling pojok, disanalah kunci pintu tersimpan. Avant mengambil dan memberikannya pada Aufia.


Tidak butuh waktu lama, sekarang Avant dan Aufia sudah masuk didalam rumah. Aufia sontak terduduk di sofa ruang tamu karena perutnya yang sakit sejak tadi. Avant datang membawakan air hangat yang ada di termos dapur.


"Minumlah! Agar lebih baik." Avant memberikan gelas itu pada Aufia kemudian ia keluar.

__ADS_1


"Mau kemana?"


Satu pertanyaan dari Aufia menghentikan langkah Avant.


"Aku mau mengambil belanjaanku tadi." Sahut Avant kemudian melanjutkan langkahnya.


Aufia meminum air hangat yang Avant ambilkan tadi. Habis satu gelas dalam hitungan detik. Kini Aufia merasa lebih baik karena sudah minum air hangat. Sedangkan Avant masuk dengan membawa satu kantong plastik berwarna putih di tangannya.


"Letakkan saja di meja dapur." Seru Aufia saat Avant pergi ke dapur.


"Apa perutmu sudah baikkan?"


Tanya Avant yang kembali dari dapur. Ia duduk di samping Aufia yang bersandar pada sandaran sofa. Aufia terlihat lemas hari ini.


"Avant!" Panggil Aufia dengan lirih.


"Hm? Apa perutmu masih sakit? Jika iya ayo kita ke dokter!" Sahut Avant tidak ingin terjadi sesuatu pada Aufia.


"Tidak, aku baik-baik saja." Jawab Aufia.


"Avant, peluklah aku!" Pinta Aufia mendongak menatap Avant yang duduk disampingnya.


Peluk?


Entah apa ini? Mimpikah atau hanya sebuah candaan?


Avant terdiam mendengar permintaan Aufia hari ini. Peluk?


Namun melihat Aufia yang tampak tidak sehat seperti biasanya, Avant meraih Aufia dalam dekapan hangatnya. Avant mengusap punggung dan puncak kepala Aufia. Hangat. Avant bisa merasakan tubuh Aufia yang ia dekap erat. Sepertinya memang Aufia tidak baik- baik saja, karena jika baik maka tidak akan meminta peluk darinya.


Mata berkelopak indah milik Aufia terpejam merasakan hangatnya dekapan dari Avant. Nyaman. Satu kata yang mampu mewakili dari perasaan Aufia yang dari tadi gelisah takut akibat perutnya yang kram. Aufia bisa merasakan dunia menjadi indah dan tempat yang paling membuatnya nyaman untuk saat ini. Ia memeluk erat tubuh Avant.


"Kau dari tadi belum makan. Makan ya? Biar perutmu terisi. Mungkin itu karena perutmu kosong jadinya sakit." Ucap Avant dengan lirih.


Lagi-lagi Aufia menggeleng tidak mau.


"Aufia, jangan seperti itu. Kau harus makan, jika tidak makan apa yang akan dicerna oleh perutmu? Itu sebabnya perutmu sakit." Jelas Avant ingin Aufia makan.


"Aku tidak mau! Aku tidak ingin makan apapun!" Seru Aufia menggeleng cepat.


Avant menghela nafas. Perempuan memang sulit ditebak.


"Aufia, makan ya? Apa kesukaanmu? Akan aku masakkan!" Bujuk Avant agar Aufia mau mengisi perutnya.


"Benarkah?" Aufia mendongak menatap Avant dengan mata yang berbinar.


Aku tahu seharusnya aku tidak mengucapkan itu. Avant mengangguk.


"Katakan, apa makanan kesukaanmu?" tanya Avant sekali lagi.


"Avant, perutku semakin mual, rasanya aku ingin muntah." Ucap Aufia menatap Avant dengan wajah yang menahan muntah.


"Baiklah! Kali ini kau tidak akan menolaknya! Ayo  kita ke dokter!"


Dokter?


"Tap-"


"Tidak bisa!"


Avant bahkan memilih menggendong tubuh Aufia daripada tidak mau melangkah.

__ADS_1


"Avant! Turunkan aku!" Seru Aufia memukuli dada bidang Avant.


[Bersambung...]


__ADS_2