
[Episode 045 - Hari Ke Empat Avant Part 4]
Mobil Qevna berhenti tepat di halaman kediaman rumah Kanuraga. Ia sengaja datang untuk menemui kedua orang tua Avant. Tak lupa ada paperbag yang ia pegang, Qevna membawakan bingkisan untuk calon mertuanya.
Qevna melangkahkan kakinya yang mungil untuk masuk ke rumah, tak lupa ia memencet tombol bel rumah. Bel berbunyi dan Qevna sudah siap didepan pintu. Tak lupa ia membenarkan posisi dress selututnya juga uraian rambut yang sebahu.
"Selamat Siang, Nona Muda! Mohon maaf, mencari siapa ya?"
Sapa sang pelayan dengan sopan dan membungkuk hormat. Pelayan perempuan itu juga menyimpulkan senyum kepada Qevna.
"Selamat siang, apakah Avant ada dirumah? Aku ingin bertemu dengannya." Balas Qevna dengan meremat tali dari paperbag yang ia bawa. Berharap jika Avant ada dirumah, karena setiap Qevna masuk kampus tidak pernah melihat Avant disana.
"Baiklah! Nona muda silahkan masuk dulu!"
Qevna melangkah masuk dan terlihat begitu kecil dibandingkan dengan pintu utama kediaman Kanuraga. Ia meletakkan paperbag di pangkuannya saat duduk. Sedangkan pelayan perempuan tadi pamit untuk memanggil Avant.
"Semoga Avant ada." Gumam Qevna sendirian.
Sambil menunggu Avant datang, Qevna mengeluarkan ponselnya. Kosong, ia memerengut melihat pesannya yang tak kunjung dibalas oleh Avant. Qevna menghela nafas lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam tas mungilnya yang berwarna hijau.
"Nak, Qevna?"
Huh?
Qevna menoleh saat namanya disebut oleh seseorang bersuara perempuan. Ia sontak berdiri begitu melihat Ibu dari Avant datang menemuinya. Dengan hormat pula Qevna membungkuk dan tersenyum manis.
"Nak, Qevna ada apa ya kesini?" tanya Wanda yang juga sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Saya mencari Avant, sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kuliah, apa Avant baik-baik saja?"
Qevna melontarkan kata dengan sopan dan manis membuat Wanda tersenyum mendengarnya.
"Dia baik-baik saja, hanya saja memang sibuk akhir-akhir ini. Dan, kesibukannya sepertinya bukan urusan tentang kuliahnya. Jadi, memang tidak masuk kuliah." Jawab Wanda menjelaskan pada Qevna.
"Oh..."
Kecewa.
"Terima kasih, Bi!" Wanda tersenyum saat pelayan tadi meletakkan minuman diatas meja ruang tamu. Dua gelas berisi jus jeruk.
"Maaf, ya... Avant memang seperti itu. Apa dia tidak mengabarimu?"
"Tidak masalah, Tante. Saya dan Avant memang belum pernah memberi kabar lewat ponsel. Mungkin Avant memang sibuk." Qevna menyimpulkan senyum meski itu sangat terlihat ada rasa kecewa yang kentara.
"Oh, iya! Ini ada bingkisan untuk, Tante dan Om." Lanjut Qevna memberikan paperbag kepada Wanda, Ibu dari Avant.
"Kenapa repot begini, tidak perlu membawa Tante juga tidak masalah, tapi terimakasih ya..!" Wanda menerima paperbag itu.
"Nak, Qevna?"
Huh?
Wanda maupun Qevna menoleh saat suara dari Hadiyata muncul. Dan benar, Hadiyata keluar untuk menemui Qevna. Ia kemudian duduk di samping istrinya.
"Hallo, Om! Apa kabar?" sapa Qevna pada Ayah Avant dengan tersenyum cantik.
"Om, baik! Bagaimana dengan Ayah dan Ibumu? Sehat?"
"Sehat, Om!"
Mereka bertiga kemudian bercengkerama dengan obrolan ringan disertai dengan tawa kecil yang canggung. Meski tidak berhasil bertemu dengan Avant, Qevna cukup senang bisa mengobrol dengan calon mertuanya. Ini langkah yang cukup bagus untuknya.
__ADS_1
...•...
...•...
...•...
"Sudah ya, jangan bersedih! Mungkin memang belum waktunya aku bertemu dengan Ayahmu."
Aufia mengusap punggung tangan Avant yang ia pegang.
Ternyata, pertemuan tadi gagal. Ayah Avant atau yang lebih dikenal dengan nama Hadiyata Kanuraga tidak ada di ruangannya. Avant sangat menyayangkan hal ini. Ia sangat ingin memperkenalkan Aufia kepada kedua orang tuanya terlebih Ayahnya. Namun takdir berkata lain sehingga rencana Avant gagal.
Setelah mengetahui jika sang Ayah tidak ada, disinilah mereka berdua, kedai kopi milik Avant, lebih tepatnya ruangan pribadi milik Avant yang ada di lantai tiga.
Hari menjelang sore namun Avant memilih membawa Aufia ke kedai kopi miliknya.
"Avant, aku lapar!"
Oh! Ayolah, Aufia! Avant sedang bersedih dan kau memikirkan makanan?
Astaga!
"Avant, siang tadi kita belum makan. Katamu aku harus teratur makanku, tapi kau sendiri yang membuat makanku tertunda hingga sore ini." Jelas Aufia dengan memerengut dan melipat kedua tangannya di bawah dada.
Mendengar itu Avant kini bisa tersenyum. Tampak bagaimana bibir mungil itu mengerucut imut.
"Maafkan aku ya? Aku sangat ingin membawamu dan memperkenalkanmu pada Ayahku sampai aku lupa kita belum makan."
"Aaww! Sakit!!" Aufia menepis tangan Avant yang menarik kedua pipinya gemas.
Avant tersenyum melihat Aufia yang masih setia dengan bibir yang terkerucut. Untuk itu Avant berdiri dari sofa dan melangkah keluar dari kamar.
Avant menghentikan langkah lalu berbalik, "Katamu kau lapar? Tentu saja aku ingin membeli makanan untuk kita." Jawab Avant.
"Baiklah, hati-hati di jalan." Aufia menambahkan senyum di akhir kalimatnya.
Aufia kini berdiri dan melihat ranjang yang berselimut abu-abu dimana Avant pernah memperlakukannnya seperti budak.
Ah!
Rasa sakit menyayat hati saat itu juga saat Aufia ingat bagaimana kehormatannya hilang direnggut orang biadab. Dadanya kini sesak hanya karena hal itu. Bahkan kini air mata sudah membasahi pipinya. Bulir-bulir kristal itu terus mengalir membuat anak sungai sampai dagu. Aufia tidak percaya dengan hal yang dulu pernah terjadi kepadanya.
"Kenapa kau lakukan ini, Avant?"
Gumam Aufia sendirian. Ia menangis dalam kesendirian. Kakinya sudah tidak bisa menahan beban lagi, ia terduduk dan memeluk lutut. Aufia masih ingat bagaimana Avant begitu kejam menjamah tubuhnya yang sama sekali tidak sebanding dengan amarah Avant.
Kejadian itu memberikan kesan buruk.
Kenangan itu memberikan sayatan luka yang perih.
Ketidakadilan itu memberikan hal yang pahit dalam hidup Aufia.
"KENAPA KAU LAKUKAN INI, AVAAANT!!!"
Sakit. Aufia berteriak dengan tangis yang semakin menjadi.
"KAU MENGHANCURKAN APA YANG AKU MILIKI!!"
Aufia teringat bagaimana Avant mencengkeramnya dengan kuat, membanting tubuhnya yang rapuh, menatapnya tajam penuh dendam. Aufia ingat betul bagaimana sosok Avant yang hidup seperti iblis. Aufia ingat semuanya. Dan kenangan-kenangan tentang luka itu membuat Aufia terus menangis dalam kesedihan seperti saat ini.
"KAU JAHAT, AVAANT!!! KAU KEJAAM!! KAU BIADAAB!!"
__ADS_1
Kini Aufia menyembunyikan kepalanya diatas kedua lutut. Ia menangis tanpa takut karena ia tahu jika ruangan ini kedap suara. Maka dari itu tangis yang selama ini ia simpan pecah saat ini juga.
...•...
...•...
...•...
Sementara itu Avant sudah naik mobil jeep untuk membeli makanan. Ia tahu resto terbaik yang ada di kota ini. Avant sudah sering pergi makan ke sana. Entah makan ditempata atau di bawa pulang. Rasanya sangat enak dan pasti Aufia suka.
Mobil jeep miliknya berhenti di tempat parkir yang ada di resto. Avant keluar dan langsung menuju tempat memesan makanan karena ia ingin dibawa pulang. Beberapa menu Avant sebutkan untuk makan sore kali ini beserta minumannya.
Kemudian Avant duduk di salah satu meja disana menunggu pesanan disiapkan. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mendapati satu pesan masuk.
[Unknow] °Apa aku mengganggumu sampai kau tidak mau membalas pesanku?°
Lagi-lagi pesan yang sama dari Qevna.
Avant sangat malas membalasnya, ia lebih memilih untuk menghapus pesan itu dan kembali memasukkan ponsel ke dalam saku. Satu pesan dari Qevna yang membuat Avant merasa hidup dihantui sehingga tidak merasa nyaman.
Kenapa tadi Ayah tidak ada di ruangannya? Apa dia sudah pulang?
Avant sangat menyayangkan kesempatan ingin memperkenalkan Aufia kepada kedua orang tuanya.
"Pesanan untuk Tuan Avant sudah siap!"
Seru dari pelayan yang berdiri disamping kasir. Ada empat kantung plastik berwarna hitam yang akan Avant bawa nantinya. Kemudian Avant berdiri dan menyelesaikan pembayaran. Aroma khas makanan itu membuat perut Avant juga lapar.
Astaga...
Tidak perlu waktu yang lama, Avant sudah kembali ke kedai kopi. Beberapa pelayan yang bekerja disana salinh bertanya siapa gadis yang dibawa bos mereka itu. Namun, Avant juga tidak kekurangan akal, Avant memberikan tip lebih untuk mereka agar diam tidak membicarakan hal ini diluar.
"Aufia! Ak-FIAA!!"
Belum sempat Avant menyelesaikan kalimatnya namun sudah terpotong karena melihat Aufia yang memeluk lutut di lantai dengan suara tangis yang memenuhi ruangan. Avant sontak menghampiri Aufia dan meletakkan 4 kantong plastik disampingnya begitu saja.
"Aufia? Kau kenapa?"
Pecah sudah hati Avant melihat gadis yang ia cintai menangis hingga merah wajahnya. Bahkan matanya sudah sembab. Diraihnya Aufia dalam dekapannya. Melihat Aufia menangis seperti membuat Avant juga tidak bisa menahan air mata yang akhirnya lolos begitu saja.
"Kau kenapa?? Ada apa? Kenapa kau menangis?"
Beribu pertanyaan Avant sama sekali tidak dijawab oleh Aufia yang masih setia dengan tangisannya. Bahkan makanan yang Avant pesan seperti tidak ada gunanya, mereka tergeletak dilantai tanpa disentuh lagi.
"Aufia...! Katakan! Ada apa? Kenapa kau menangis seperti ini?"
Kini Avant menangkup kedua pipi Aufia dan menatap matanya. Mereka berdua yang sama-sama mengeluarkan air mata hanya saling pandang mencari sebuah jawaban.
"Kenapa kau lakukan ini? Siapa dirimu? Aku harus percaya yang mana?" Ucap Aufia yang tetap menatap manik hitam milik Avant.
Huh?
Avant yang mendengarnya menjadi bingung. Perkataan Aufia tadi membuat Avant mengernyitkan dahi tidak paham.
"Maksudnya? Apa yang kau bicarakan?"
"Aku harus percaya pada Avant yang mana? Avant yang menyakitiku atau Avant yang menyayangiku? Mana yang benar? Sisi mana yang harus aku percaya? Kau memberikan dua sisi dalam waktu yang singkat! Aku harus percaya yang mana? Rasa sakit darimu ini masih membekas, tapi rasa sayang yang kau berikan juga membuatku nyaman. Tapi aku takut melangkah, aku tidak tahu mana dirimu yang sebenarnya."
Aufia memegang kedua tangan Avant yang menangkup pipinya. "Katakan padaku! Kau siapa?"
[Bersambung...]
__ADS_1