
Pagi-pagi sekali seperti biasa selepas jogging, Aryo menyempatkan diri membeli beberapa keperluan dapur di dekat komplek tempat tinggalnya. Sayuran dan lauk untuk dia olah menjadi masakan. Tak ada canggung buatnya, sebab hal itu sudah biasa ia lakukan.
Sesampainya di rumah ia menuju dapur. Sejenak ia melirik ke arah pintu kamar Bella, masih terkunci. Segera ia mengolah bahan yang ia beli tadi. Untuk menghilangkan rasa suntuk, ia memutar lagu menemani dirinya beraktivitas.
Ini adalah hari pertama dia serumah dengan putri majikannya yang telah berubah menjadi istri. Lelaki bermanik cokelat itu berharap apa yang diinginkan majikannya bisa ia laksanakan dengan baik. Tak ada pikiran apa pun di kepalanya selain menjalankan perintah Pak Santoso.
Tak lama masakan Aryo telah selesai. Sayur lengkap dengan lauk siap untuk dinikmati. Pria berbadan tegap itu menarik bibirnya puas.
"Maaf, eum ... sarapan sudah siap, Non." Ragu Aryo mengetuk pintu wanita itu. Nona, adalah panggilan yang bisa ia ucapkan pada Bella. Kembali ia mengetuk pintu kamar mengatakan hal yang sama.
"Aku dengar, nggak usah mengetuk pintu terlalu keras!" sergah Bella saat ia membuka pintu. Aryo tersenyum dan bernapas lega melihat wajah istrinya tampak lebih segar dari kemarin. Merasa di tatap lekat, Bella melirik.
"Kenapa senyum-senyum?" ketusnya.
Aryo menggeleng lalu melangkah setelah mempersilakan Bella untuk sarapan.
"Semoga Nona suka," ucapnya setelah sampai di pintu rumah.
Wanita berdagu lancip itu tak menyahut. Ia menuju ruang makan menatap hidangan yang telah tersaji rapi. Bella menghela napas lalu membuangnya pelan, ia duduk meneguk air putih. Sup sayuran, ayam goreng, tempe, lengkap dengan kerupuk membuka paginya hari ini.
Ia mengurungkan untuk makan saat menyadari bahwa hidangan di depannya belum tersentuh sama sekali, itu artinya Aryo juga belum makan pagi.
Bella bangkit dari duduk menuju ke ruang depan. Dari balik gorden jendela ia melihat Aryo tengah sibuk mencuci mobil. Mata Bella mengerjap mengamati sopir yang kini resmi jadi suaminya. Tak lama kemudian ia kembali ke ruang makan untuk sarapan.
Baru saja tiga suap masuk ke dalam perutnya, mendadak gadis itu menahan mulut dengan tangannya. Ia berlari menuju kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perut di sana.
Suara Bella terdengar oleh Aryo, bergegas ia berlari kecil masuk ke rumah. Pria itu mengikuti arah suara istrinya. Terlihat Bella tengah lemas memegang perut dengan wajah seputih kapas.
"Non, kenapa? Ada yang salah dengan hidangannya?" tanyanya panik. Tangan Aryo mencoba meringankan dengan memijit pelan tengkuk gadis berleher jenjang itu. Namun, cepat Bella menjauh memberi isyarat agar lelaki itu pergi. Aryo menarik napas pelan, sambil mengangguk ia keluar kamar mandi.
"Aku buatkan teh hangat," ucapnya tersenyum.
Bella bersandar di sofa, wajah cantik yang biasa merona itu pucat. Mata indahnya redup.
Aryo menyodorkan secangkir teh hangat padanya. Sejenak Bella diam tapi kemudian menerima dan menyeduhnya. Melihat itu Aryo tersenyum.
"Apa perlu ke dokter?" tanya Aryo duduk di depannya. Gadis itu menggeleng mengatakan ia baik-baik saja.
"Tapi, Non terlihat pucat," jelas Aryo khawatir.
"Ck! Aku sudah bilang aku nggak apa-apa, sudah kamu nggak perlu khawatir apa pun tentang aku," balasnya kembali menyeduh teh hangat yang masih di tangannya.
__ADS_1
"Kamu boleh pergi kerja! Aku tak perlu teman, lagi pula aku baik-baik saja!" ucapnya lagi.
Aryo mengangguk, ia bangkit meninggalkan Bella menuju kamar. Pria itu bersiap ke kantor seperti apa yang diinginkan istrinya. Memakai kemeja dengan biru gelap dan celana warna senada di padu rompi hitam sangat pas dengan kulit cokelat miliknya. Tak lupa ia menyemprotkan parfum sebelum ia keluar kamar.
Ia siap berangkat, setelah meminum juice tomat dan telur rebus buatannya pagi tadi. Matanya menyapu ruangan mencari sosok Bella namun tak ia dapati.
"Maaf, Non. Aku berangkat ke kantor dulu," pamitnya mengetuk pintu kamar lalu pergi.
Suara mobil menuju meninggalkan kediaman mungil namun asri itu. Merasa Aryo telah pergi, segera ia membuka pintu kamar. Untuk memastikan bahwa pria itu tak ada di rumah, Bella menuju ruang tamu mengintip dari balik gorden. Tak ada mobil di sana. Ia menghela napas lega.
Perempuan itu memegangi perut, menuju dapur. Setelah sarapan yang gagal pagi tadi, ia merasa perutnya minta diisi. Ada secarik kertas pesan menempel di pintu lemari pendingin.
Ada biscuit di meja makan, kamu bisa mengisi perut dengan itu, jika memang tidak bisa makan nasi. Mual yang kamu rasa itu hal wajar bagi wanita hamil, setidaknya itu kata artikel yang aku baca barusan. Oh iya, ada buah juga di kulkas, tadi sempat kubeli di tukang sayur.
Take care.
Bella membiarkan kertas itu tetap di tempatnya. Ia membuka kulkas mengambil apel juga jeruk, lalu membawanya ke depan televisi.
🍁🍁🍁
Hari beranjak naik, matahari tak lagi terlihat. Warna langit berubah gelap. Bella melirik ke arah penunjuk waktu di pergelangan tangan. Pukul 21.30 WIB Aryo belum tiba.
Meski ia dan pria itu menikah hanya sebatas menyelamatkan muka keluarga, tapi tetap saja ia resah.
Namun, hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam belum juga ada tanda Aryo pulang.
Bella meraih ponsel berniat hendak mencari tahu di mana posisi pria itu saat ini. Namun, saat ia menemukan nama Aryo di ponselnya ia menyentuh tombol keluar.
Kembali ia meletakkan benda pipih itu di meja. Perlahan ia meletakkan tubuh di sofa, mengusap mata yang perih menahan kantuk.
Dari kejauhan terdengar guntur bersahutan, entah di bagian mana turun hujan. Kembali Bella beranjak, tapi wajah itu tidak se-gundah tadi. Ia mendengar deru mobil yang ia kenal tiba, segera melangkah menuju kamar setelah memastikan pria itu adalah Aryo. Gadis itu mengunci kamar kemudian merebahkan diri ke ranjang.
Pelan lelaki itu masuk ke rumah, seolah tak ingin membangunkan penghuninya. Seharian ia berada di luar membuat penat. Selepas kerja ia lanjut ke kampus, karena ia tengah sibuk mengurus skripsi. Sebentar lagi Aryo akan menyelesaikan kuliahnya.
Segera ia membersihkan diri kemudian menuju dapur, membuka kulkas. Bibirnya sedikit tertarik ke atas saat buah telah tak lagi ada di tempatnya. Aryo mengambil beberapa kerat roti, mengoleskan selai kacang diatasnya kemudian meletakkan ke dalam toaster.
Pria itu menikmati roti panggang dengan air putih sambil menyalakan laptop kembali merevisi skripsinya.
Sementara di dalam kamar Bella tak bisa memejamkan mata. Ingatan gadis itu kembali pada Doni. Pria yang dicintainya itu. Meski kini dia membenci, tapi ia tengah mengandung darah daging mantan kekasihnya itu.
Gadis itu tak menyangka jika hidupnya harus seperti ini. Menikah dengan seseorang yang tak pernah ia kira sebelumnya. Bahkan membayangkannya pun ia tak pernah. Tinggal satu rumah dengan sopir pribadi sang papa yang sebelumnya ia hanya sesekali bertukar sapa.
__ADS_1
Meski Bella mengerti bahwa Aryo pria baik, tapi sudut hati berontak dan marah pada pria itu. Kenapa dia mau menjadi pria pengganti di pernikahannya. Kenapa harus Aryo yang dipilih papanya? Apa pria itu mau, karena iming-iming uang dan jabatan dari sang papa atau karena kasihan padanya?
Mendadak pikiran Bella dipenuhi berbagai pertanyaan yang ia sendiri tidak bisa menjawab. Hatinya merasa malu dan terinjak-injak saat melihat Aryo yang kini tinggal serumah dan melayaninya itu. Ia merasa pria itu kasihan padanya.
Bella berpikir bahwa pria itu memang menginginkan jabatan dan sejumlah uang dan fasilitas dari papanya sehingga mau menjadi lelaki pengganti di pernikahan dirinya.
Pikirannya kembali pada Doni. Mata selalu basah jika mengingat pria yang telah memberi gores luka itu. Lagi-lagi Bella merasa perempuan paling bodoh saat ini.
🍁🍁🍁
Setiap pagi Aryo selalu dibuat sibuk oleh kebiasaan baru Bella. Meski ia tahu tak perlu risau saat melihat wanita hamil mual dan muntah, tapi hal tersebut tak urung membuat dirinya khawatir.
"Non, aku antar ke dokter ya," ucapnya seraya memberikan teh hangat. Bella melirik sekilas, menerima teh kemudian melangkah ke sofa dan meletakkan tubuh di sana. Aryo mengikutinya kembali bertanya hal yang sama. Namun, Bella bergeming seolah tak mendengar. Merasa tak ada reaksi dari perempuan itu, ia bermaksud meninggalkan Bella ke kamar.
"Tunggu."
Suara Bella mengurungkan niatnya. Ia berbalik menatap perempuan itu. Dengan menyibak rambut, ia memberi isyarat agar Aryo duduk.
"Boleh aku bertanya?"
"Tentu, silakan. Apa yang akan ingin Non ketahui?" balas Aryo tersenyum.
Bella menarik napas dalam-dalam.
"Kenapa kamu mau menuruti keinginan papaku?"
Mendengar pertanyaan yang meluncur dari bibir Bella, pria itu kembali tersenyum. Hal tersebut semakin membuat wanita itu terlihat semakin tak menentu.
"Baik, tak perlu kamu jelaskan. Dengar, pernikahan aneh ini sama sekali tidak ada perasaan masuk di dalamnya. Jadi kamu berhak atas hidupmu. Anggap aku hanya orang yang sementara membuatmu terikat karena perjanjian itu. Selebihnya hidup kamu ada di tanganmu!" Bella mengusap bulir keringat di kening.
Lagi-lagi perutnya tak bisa diajak kompromi, ia berlari ke kamar mandi. Selalu Aryo mengikuti meski di sana ia hanya bisa berdiri di luar tanpa bisa memijit tengkuk wanita itu.
"Aryo, kamu pergi aja. Papa pasti menunggu di kantor. Oh iya, sebaiknya jangan terlalu mempedulikan aku," ujar Bella saat ia keluar dari kamar mandi.
"Tidak! Aku tidak pergi ke kantor hari ini. Semua tugasku hari ini sudah selesai. Aku akan di rumah sepanjang hari," sanggah Aryo membalas tatapan Bella.
Perempuan itu diam, ia meninggalkan Aryo menuju kamar.
"Non, mau makan apa siang ini?" tanya lelaki itu.
"Sudah kubilang kamu tidak perlu melayani aku sedemikian rupa. Aku bisa delivery nanti," tolaknya menutup pintu kamar.
__ADS_1
Bersambung