Yang Terdalam

Yang Terdalam
Yang Terdalam 16


__ADS_3

Yang Terdalam


16


Suatu waktu, kita berpikir bahwa semua hal sudah sempurna dan baik saja. Namun, apa yang sering ditemukan adalah hal yang berbeda dan berjalan tak sesuai rencanaโ€


***


"Dia tidak setuju, dia sangat mencintaimu. Tapi ... kebaikan Satya pada keluarga kami akankah kami balas dengan kekecewaan?"


Aryo mengusap wajahnya, kemudian mengangguk.


"Maaf, Pak. Saya mengerti itu, hubungan baik memang harus dijaga," tuturnya, "tapi ... kebahagiaan putri bapak juga Archie adalah sepenuhnya pilihan mereka."


Pak Santoso menatap penuh tanya pada Aryo.


"Maksudmu?"


"Biarkan semua diputuskan oleh Non Bella. Saya akan menerima apa pun konsekuensinya jika nanti saya harus mundur," jelasnya tegas.


"Jadi?"


"Saya tetap selalu mencintai putri Bapak, dan tetap menghormati Bapak," ujarnya tersenyum, "maaf, saya rasa saya harus pergi sekarang, terima kasih untuk waktunya, Pak." Ia beranjak dari duduk setelah menyalami Pak Santoso lalu pergi.


Sepanjang jalan, Aryo terus memikirkan langkah apa yang ia lakukan. Bagaimanapun Bella adalah cintanya, demikian juga Archie. Bayi mungil itu tak luput dari pikirannya juga.


Suara klakson dari truck di depannya membuat Aryo tersentak dan membanting setir ke arah kiri. Beruntung ia bisa mengatasi keadaan sehingga tak terjadi hal yang tidak diinginkan.


Aryo menyandarkan kepalanya, wajah itu terlihat tegang. Ucapan Pak Santoso memenuhi pikirannya. Matanya menatap gadget di dashboard sedang bergetar. Bella memanggil demikian tertulis di sana.


"Hallo, Bella?"


"___"


"Iya, aku baru mau ke sana."


"___"


"Oke, tunggu ya. See you."


Kembali ia meletakkan telepon selulernya di tempat semula, kemudian meluncur ke tempat Bella.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Aryo heran melihat Bella tengah mengemas baju-bajunya. Ia melihat Archie masih pulas dengan aroma bayi yang selalu membuat rindu.


"Bella, ada apa ini?" Lelaki itu melangkah mendekat. Bella menatap sejenak lalu kembali meneruskan pekerjaannya dengan berderai air mata.


"Bella, katakan! Ada apa?" Ia meraih pinggang wanita itu menghadapnya, "kamu mau pergi?" Lembut ia mengusap pipi wanita itu.


Ia tak menjawab, wanita itu membenamkan kepalanya ke dalam pelukan Aryo.


"Bawa aku pergi, Mas!"


"Mas?" Mata Aryo menyipit.


"Aku nggak lagi bercanda! Kamu nggak suka aku panggil seperti itu?" sungutnya kesal.


Aryo mengeratkan pelukan, mengatakan bahwa dirinya menyukai panggilan itu.


"Bawa aku dan Archie pergi dari sini," pintanya lagi. Bella kemudian menceritakan perihal kedatangan kedua orang tuanya pagi tadi. Aryo mengajak Bella duduk, lalu meminta agar wanita itu tenang.


"Aku sudah menemui papamu tadi ...."


"Lalu?"


Aryo menarik napas dalam-dalam, ia meraup jemari Bella kemudian menggenggamnya erat.


"Jangan bilang papa memintamu untuk meninggalkan aku! Lalu kamu tidak bisa berbuat apa-apa, begitu, 'kan?" Perempuan itu semakin histeris, beruntung Archie tidak terganggu sama sekali.


"Bella, dengarkan aku! Aku ingin bicara dengan Dika!"


Bella menatap Aryo lekat, keningnya berkerut meminta penjelasan.


"Kamu sudah lama mengenal dia, 'kan?"


"Bicara dengan Dika? Kamu?"


"Iya, kenapa?"


"Baik, aku akan hubungi dia nanti. Tapi ... bisakah kamu berjanji padaku?"


Aryo tersenyum mengangguk.

__ADS_1


"Berjanji apa?"


"Jangan pernah tinggalkan aku ... juga Archie," ungkapnya lirih.


Dengan helaan napas, Pria itu mengangguk memeluk erat Bella yang kembali meneteskan air mata.


***


Seorang pria termenung menatap lalu lalang pengunjung yang datang silih berganti di restoran miliknya. Sesekali ia tersenyum membalas sapaan beberapa orang dari mereka.


"Jangan ngelamun! Kamu berhak bahagia, Yo!" Suara Tomi mengejutkannya. Ia mengusap tengkuk kemudian tersenyum.


"Aku tahu itu, Tomi. Tapi semua nggak semudah yang kamu ucapkan," balasnya.


Tomi menepuk pundak rekannya, kemudian berkata, "tentu saja, tapi kamu harus berusaha keluar dari kerumitan ini, Yo!"


Ia mengangguk mengatakan bahwa akan bertemu dengan Dika.


"Sebentar! Surat perceraian itu bukannya sudah di robek Bella?" Tomi mengingatkan.


Sambil mengangguk Aryo bertanya, "itu bukan masalah bagi Pak Santoso, Toni. Ia bisa meminta lagi ke pengadilan, kamu tahu tidak ada yang sulit baginya."


"Iya, aku paham itu," balas lelaki kurus berkacamata itu. Kembali Aryo terdiam, pikirannya benar-benar kacau.


"Aku cabut dulu, Tom!"


"Ke mana lagi?"


Aryo tak menjawab, ia hanya mengangkat bahu lalu pergi. Pelan ia mengemudikan mobil ke sebuah toko bunga. Ia ingin memberi kejutan pada Bella.


Meski diliputi perasaan tak menentu, ia tetap ingin Bella tahu hatinya tidak berubah. Sebuah panggilan masuk dari Bella membuatnya menepikan mobil. Wanita itu mengabarkan besok ia bisa bertemu dengan Dika.


"Kamu di mana sekarang?" Suara yang sangat ia cintai itu terdengar seperti sebuah kerinduan.


"Aku ke sana sore nanti, sampai ketemu ya."


Aryo mengakhiri panggilan. Wajahnya terlihat sedikit lebih cerah.


Tak berapa lama ia tiba di toko bunga, setelah memilih bunga yang cocok untuk diberikan pada Bella, ia bergegas pergi. Membayangkan reaksi Bella yang terkejut melihat kedatangannya membuat bibir Aryo mengembang senyum.


Saat ia baru saja hendak masuk mobil, langkahnya dihentikan oleh suara seseorang. Aryo menoleh, wajahnya tampak terkejut melihat Aira tengah tersenyum padanya.


"Aira? Kamu ...."


"Nggak nyangka kita bisa ketemu di sini, Mas," tuturnya. Gadis itu berniat membeli bunga untuk mertuanya yang akan merayakan ulang tahun malam nanti.


"Selamat ya, Aira. Aku ikut bahagia melihat kamu bahagia," ujarnya.


Gadis itu mengangguk tersenyum datar.


"Mas apa kabar?"


"Baik, aku baik. Seperti yang kamu lihat," balasnya. Aira menatap pria di depannya. Ia tahu bahwa ada yang disembunyikan oleh Aryo.


Walau bagaimanapun, Aira adalah wanita yang pernah begitu dekat dengan pria itu. Meski Aryo mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tapi tidak dengan matanya.


"Mas sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya gadis itu dengan wajah serius. Aryo menggeleng cepat seraya tersenyum.


"Aku balik dulu ya. Sampai ketemu lagi," pamitnya kemudian pergi meninggalkan Aira masih bertanya-tanya.


"Mas Aryo, tunggu!" serunya mengikuti langkah pria itu.


"Ada apa?" Aryo membalikkan badan sehingga mereka berbenturan, membuat tubuh mungil Aira hampir terjungkal jika tangan kokoh Aryo tak menahannya. Sejenak mereka saling tatap, kemudian keduanya berusaha saling mengurai posisi itu.


"Maaf."


"Aku yang harusnya minta maaf," tukas Aira, "kita masih bisa berteman, 'kan?" Tatapnya lekat.


"Tentu!" balas pria itu.


"Aku mau mengundang Mas di acara syukuran toko buku aku, minggu depan. Mas datang ya, bisa?" Aryo mengangguk menyanggupi.


"Oke, aku pergi dulu." Aryo bersiap masuk ke mobil.


"Mas! Eum ... ajak Mbak Bella, ya!" Aira berkata sebelum pria itu pergi.


Melihat itu Aryo tersenyum kemudian pergi. Ia tak tahu ada sepasang mata yang sedari tadi tak sengaja menyaksikan pemandangan itu dari kejauhan.


***


Dengan wajah gembira Aryo mengetuk pintu rumah, ia berharap Bella suka dengan kejutan yang ia buat. Pelan ia mengetuk pintu, tapi harapan tak seperti yang ia inginkan. Mbok Win muncul dengan menggendong Archie.


"Bella ...."

__ADS_1


"Tadi Non Bella pergi beli keperluan untuk Archie," jelas perempuan bertahi lalat di hidung itu.


"Sendirian?" tanyanya khawatir.


"Iya, Mas. Tadinya mau minta tolong sama Mas Aryo, tapi kata Non Bella Mas baru datang sore nanti," jawab Mbok Win.


Aryo membuang napas kasar.


"Kenapa dia tadi nggak bilang ke saya langsung?" sesalnya. Aryo mengurungkan niat untuk masuk ke rumah. Ia memberi isyarat pada Mbok Win agar membawa Archie masuk. Lalu ia mencoba menghubungi Bella. Aryo tampak resah, Bella tidak mengangkat teleponnya. Pria itu tak henti menghubungi.


"Mas, masuk dulu. Saya buatkan minuman ya," tawar Mbok Win.


"Nggak, Mbok. Bella belum datang! Nanti saja," tolaknya terus mencoba menghubungi wanita itu.


"Dia naik apa tadi, Mbok?"


"Taksi online, Mas."


Lagi-lagi pria itu menarik napas dalam-dalam. Wajahnya terlihat resah. Hampir satu jam ia menunggu mondar-mandir dari teras ke pagar. Hingga tampak mobil berhenti.


"Bella!" serunya menyambut dengan senyum. Akan tetapi, senyum itu pelan pudar saat melihat seorang pria juga ikut turun bersama Bella.


"Bella, kamu ...."


"Aku capek!" potongnya menepis tangan Aryo yang mencoba membawakan barang belanjaannya. Heran dengan sikap Bella. Aryo menatap pria yang tadi mengantar wanita itu.


Mereka berdua saling bertukar senyum lalu berjabat tangan. Pria itu Dika, dia mengantar Bella pulang. Berbagai pertanyaan muncul di benak Aryo. Dengan tersenyum ia mengajak Dika duduk di teras.


"Sudah lama nunggu?" tanya pria berkulit putih itu.


"Lumayan, tadi ketemu Bella?"


Sambil menyandarkan tubuhnya, Dika mengatakan ia dihubungi oleh wanita itu.


"Bella minta jemput?"


Dika mengangguk mengiyakan.


Hening, masing-masing larut dalam pikirannya.


"Jadi kamu yang akan menikahi Bella?" Aryo membuka pembicaraan.


Dika menoleh kemudian tersenyum.


"Kamu mencintainya?" tanya Dika.


"Apa perasaanku penting, jika keluargamu dan keluarganya sudah saling setuju?"


"Tentu saja! Tentu saja penting, Aryo! Aku bukan tipe pemaksa," jelasnya.


Kembali hening. Tak lama muncul Mbok Win membawakan minuman kepada mereka berdua.


"Minum," ajak Aryo diikuti anggukan oleh pria di depannya.


"Katakan, apa kamu mencintai Bella?" tanya Dika lagi.


Aryo tersenyum, mengangguk yakin.


"Tentu! Bahkan sangat mencintainya!"


Pria berkemeja hitam itu mengangguk paham.


"Perjuangkan itu, kamu tidak perlu berpikir aku akan memilikinya!"


Aryo menatap Dika tak mengerti.


"Ayolah! Aku tahu sebesar apa cintamu padanya, dan seperti apa perasaan dia padamu," tuturnya tersenyum.


Tak lama Dika pamit pulang, setelah kembali mengatakan bahwa dirinya tidak akan merebut Bella dari Aryo.


Sepeninggal Dika, Aryo menyungging senyum, paling tidak satu masalah telah selesai. Ia mengambil bunga yang tadi dibeli, kemudian masuk ke dalam. Ia tersenyum melihat Bella tengah sendiri berada di ruang tengah. Wanita itu masih terbayang saat Aira dan Aryo saling berpandangan dengan posisi yang membuat hatinya sakit.


"Untukmu ...." Ia menyodorkan buket bunga lily pada wanita itu.


Bella hanya tersenyum tipis menerima Terdengar suara lirih mengucapkan terima kasih. Aryo merasa ada yang disembunyikan oleh wanita itu.


"Ada apa, Bella?" tanyanya lembut.


"Ceraikan aku!"


Kening Aryo berkerut mendengar penuturan Bella.


"Bella?"

__ADS_1


"Ceraikan aku! Kamu jahat, Aryo!"


__ADS_2