Yang Terdalam

Yang Terdalam
Kesalahan Wanda 'Ibu Avant'


__ADS_3

[Episode 041 - Kesalahan Wanda 'Ibu Avant']


Qevna, kembalikan gaunku...


Tangis kembali menjadi teman untuk Aufia. Kali ini Aufia sendiri juga tidak mengerti dengan isi hati dan gejolak jiwanya sendiri. Sahabat yang sudah ia anggap saudara kembar mampu memberikan rasa sakit dalam diam. Bukan Qevna, tapi Aufia sendiri yang merasa jika Qevna menyakitinya meski ia tahu bukan Qevna. Gaun indah itu adalah alasan utamanya.


Maafkan aku, Avant...


Rasa bersalah menguar pada Avant, pria yang membelikannya gaun cantik tanpa pikir panjang. Bahkan Aufia sendiri ingin memakainya saat ia menikah nanti.


"Tentu saja kita akan menikah!"


"Kenapa? Kau tidak mau menikah denganku? Apa aku tidak boleh seyakin ini denganmu?"


"Aufia, kau tahukan? Aku mencintaimu... aku akui aku salah mengawali pertemuan kita, tapi aku ingin melakukan kebahagiaan bersamamu."


"Aku tidak akan membuatmu melangkah sendirian, kita akan melangkah bersama. Mengerti?"


Aufia jadi ingat sederet ungkapan kata daru Avant yang ingin mengajaknya menikah. Hubungan yang lebih serius. Hubungan yang tidak boleh dijadikan mainan. Hubungan yang akan terus terikat hingga maut memisahkan. Hubungan yang selamanya akan menjadi apa yang kau miliki. Hubungan yang membawa sebuah liku kehidupan yang baru. Hubungan yang bahkan tidak pernah Aufia fikirkan sebelumnya meski tahu ia akan menikah nantinya.


"Ayah, ada pria yang ingin mengikat hubungan dengan anak gadismu ini. Apa Ayah menyetujui jika anak gadismu ini menikah? Apa Ayah dan Ibu setuju jika Fia menikah dengan Avant?"


Gumam Aufia sendirian dengan suara serak tertahan karena menangis. Bahkan hidungnya begitu merah dan mata terlihat mulai sembab.


"Ayah, Ibu, tolong bimbinglah aku dalam melangkah. Apakah Avant pria yang baik untukku?"


DRED! DRED! DRED!


Ponsel Aufia bergetar tanda ada satu panggilan yang masuk. Dengan susah payah Aufia mengambil ponsel yang ia simpan di saku sebelumnya. Terpampang jelas nama Avant yang tertera.


Avant?


"Hallo?"


Aufia menerima panggilan dari Avant.


"Hai, cantik! Belum tidur?"


Aufia menghela nafas, "Jika aku tidur maka aku tidak menerima panggilan darimu."


"Yah! Kau benar! Apa kau merindukan aku?"


Huh? Rindu?


Aufia mengernyit terheran.


"Kau gila!" Sahut Aufia.


"Memang! Aku memang gila, gila karenamu!"


Kali ini Aufia menggeleng pelan mendengar ucapan dari Avant.


"Berarti kau perlu dibawa ke rumah sakit jika gila." Aufia beranjak dan merubah posisinya menjadi duduk bersandar pada kepala tempat tidur.


"Tidak perlu, untuk apa ke rumah sakit jika obatku saja tidak didapatkan dari sana?"


"Memangnya obatmu didapat darimana?" tanya Aufia.


"Tentu saja dari orang yang baru saja bertanya padaku."


Dasar pria gila!


Entahlah, setelah menangis tadi kini Aufia bisa tersenyum meski tertahan. Mendengar suara dan celoteh omong kosong dari Avant membuatnya lupa akan kesedihan yang hinggap.


"Pandai sekali! Belajar dari mana ngegombalnya?"


Lihatlah Aufia! Sekarang ia terus tersenyum malu karena berusaha untuk menyembunyikan kebahagiaan.


"Hei... kau tahu? Itu keahlianku, jadi kau jangan heran jika aku pandai ngegombal."


Keahlian?


"Keahlianmu? Berarti itu kau sudah ahli? Dan artinya kau sering menggunakan gombalanmu itu? Oh... jadi kau sering ngegombal pada gadis lain?" Aufia berseru tidak terima.


"Hei! Tunggu dulu! Kau cemburu?"

__ADS_1


Huh?


"Katakan padaku! Kau cemburu! Iyakan?"


Cemburu?


"Tidak!"


"Kau tidak perlu mengelak, aku dengar suaramu itu jelas kau cemburu!"


Aku? Cemburu?


"Tidak!"


Aufia memilih untuk mengakhiri acara telepon malam ini. Terlihat pula Aufia memerengut tidak terima jika dirinya dikatai cemburu oleh Avant.


"Aku? Cemburu? Aneh! Pria gila!"


Kini Aufia memilih untuk tidur dan memejamkan mata daripada hatinya terus tidak terima teringat kata Avant yang mengatainya cemburu.


...•...


...•...


...•...


Waktu berjalan menunaikan tugasnya. Kini malam yang dingin tergantikan oleh mentari pagi yang hangat. Berkas cahaya begitu indah mengawali pagi. Namun keindahan pagi tidak membangunkan pria yang kini masih tertidur pulas diatas tempat tidurnya. Mungkin karena lelah hingga pria itu malas untuk beranjak apalagi sekedar membuka mata.


Avant?


Yah, siapa lagi jika bukan Avant?


Avant sebenarnya sudah bangun sejak pukul 3 pagi tadi. Namun rasa lelah menyelimutinya. Avant memilih untuk berlindung pada hangatnya selimut tidurnya. Lagipula, Avant juga tidak pergi ke kuliah, jadi waktu yang dimiliki tidak terkejar jadwal.


DRED!


Niat hati untuk kembali tidur terusik karena ponsel yang diletakkan diatas nakas samping tempat tidur bergetar. Avant meraihnya dan melihat satu pesan masuk dengan nomor baru tanpa nama.


"Siapa?"


Tanya Avant bergumam lalu membuka pesan tersebut.


Qevna?


Sontak Avant bangun dan duduk ditempat tidurnya. Sekali lagi ia menatap dan membaca pesan yang masuk yang ternyata dari Qevna.


"Qevna? Darimana dia tahu nomor ponselku?"


Avant tampak tidak terima nomor ponselnya jatuh diketahui oleh Qevna.


"Pasti, Ayah!"


Kini Avant bergegas bangun untuk menemui Ayah sebelum berangkat ke kantor.


"AYAAH!!"


Begitu keluar kamar, nama Ayah yang kali pertama Avant teriakkan.


"AYAAAHHH!!"


Sekali lagi Avant berteriak hingga membuat Ibu yang didapur menghampirinya.


"Ibu! Ayah dimana?" tanya Avant pada Ibu.


"Ayah sudah berangkat kerja, kenapa, Nak?" Wanda khawatir melihat anaknya.


"Kenapa Qevna tahu nomor ponselku? Pasti Ayah yang memberitahunya, kan? Iya, kan, Bu?" tanya Avant memastikan kecurigaannya.


"Bukan, Nak! Ibu yang memberitahunya, bukan Ayahmu."


"Ibu?" Avant tidak percaya dengan langkah Ibunya kali ini. "Kenapa Ibu memberikan nomor ponselku pada Qevna?"


"Kenapa? Bukannya kamu sudah setuju jika menikah dengan Qevna?" Wanda justru balik bertanya.


"Setuju? Setuju dari mana, Ibu? Kenapa Ibu mengambil keputusan sebesar ini tanpa berbicara padaku?" Seru Avant tidak paham dengan Ibunya.

__ADS_1


"Kenapa jadi Ibu yang disalahkan? Bukankah kau sudah pergi bersama Qevna untuk membeli gaun pernikahan?"


Huh?


Avant mengusap wajahnya mendengar perkataan dari Ibunya. Astaga...!!!


"Aku pergi dengan Qevna? Tidak Ibu! Ibu tahu sendiri bukan jika pertemuan waktu itu saja aku terpaksa, lalu untuk apa aku membeli gaun pernikahan dengannya? Ibu... Ibu dapat cerita itu dari mana? Avant yakin jika Ibu pasti bermimpi!"


Wanda yang mendengarnya terlihat bingung.


"Jika bukan dengan Qevna? Lalu kau pergi dengan siapa?" tanya Wanda.


"Tunggu! Ibu tahu darimana jika aku pergi membeli gaun pernikahan?" Sekarang Avant yang bertanya balik pada Ibunya.


Sedangkan Wanda mengalihkan pandangan karena ia baru saja mengatakan hal yang bersifat pribadi. Ini adalah rahasia dengan suaminya.


"Tidak, Ibu tahu dari teman Ibu." Jawab Wanda berbohong.


"Ibu, jujur Avant sudah punya pilihan sendiri untuk pendamping Avant." Sahut Avant memegang kedua pundak Ibunya.


Apa? Mengernyitkan dahi mendengar perkataan dari anaknya. Sudah punya pilihan?


"Jadi tolong jangan atur kehidupan Avant, ini adalah langkah besar untuk Avant yang tidak bisa diambil keputusannya dari orang lain kecuali Avant sendiri." Jelas Avant pada Ibunya dengan lembut.


Mendengar itu Wanda jadi bersalah.


"Ibu tahukan? Aku tidak suka dengan Qevna. Jadi tidak mungkin aku menikahinya. Aku tidak bisa, Bu!" lanjut Avant.


Tes.


Satu tetes air mata Wanda mengalir dan disusul aliran yang lebih deras.


"Ibu kenapa?" Avant sontak mengusap air mata Ibunya yang menangis.


"Maafkan, Ibu! Tapi Ayah dan Ibu sudah bilang pada keluarga Hearama jika kau sudah setuju menikah dengan putri mereka." Jawab Wanda dengan menangis.


Apa?


"Bicaralah pada Ayahmu saat pulang nanti, tapi Ibu mohon jangan sampai kau bertengkar dengan Ayahmu. Maafkan, Ibu."


Tangis Wanda pecah melihat kenyatan yang terungkap. Ia menangis telah memilih langkah yang begitu besar yang seharusnya ini adalah langkah Avant, putranya. Meski kesal, namun Avant tidak tega melihat Ibunya yang menangis mengakui kesalahannya, untuk itu Avant mendekap Ibunya.


"Aku sudah punya pilihan, Ibu." Ucap Avant dengan suara lirih.


"Maafkan, Ibu. Ibu harap Ayahmu juga mengerti hal ini."


Air mata sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Wanda menangis dipelukan putranya.


"Maafkan, Ibu!"


...•...


...•...


...•...


"Tumben sekali dia belum datang, biasanya juga pagi buta sudah ada di teras."


Gumam Aufia sambil menyapu lantai. Bibi sudah berangkat sejak pagi, untuk itu Aufia membersihkan rumahnya sendirian.


Dilihatnya kembali jalanan depan dan mobil jeep masih belum terlihat. Aufia juga sudah mengirimkan satu pesan untuk Avant namun tidak dibalas.


Kemana, Avant?


Selesai dengan menyapu lantai, kini Aufia mulai mencuci piring, berharap setelah selesai mencuci nanti Avant sudah datang. Dua piring dengan satu gelas, maka dari itu tidak memakan waktu lama. Selesai dengan percikan air, Aufia menilik pada layar ponsel yang masih kosong. Kecewa.


"Apa lebih baik aku menelpon ya? Kenapa pesanku tidak dibalas?"


Gumam Aufia sendirian menunggu balasan pesan dari Avant. Hari ini adalah hari ke empat untuk Avant, namun hari ini kali pertama Avant belum datang. Aufia tadi mengirim pesan pada Avant untuk mengantarnya pergi ke perpustakaan kampus karena ingin mengembalikan buku yang ia pinjam. Buku perpustakaan kampus yang sudah lewat masa peminjamannya.


"Apa aku telepon saja ya?"


Aufia memegang ponselnya dengan berfikir.


Telepon tidak ya?

__ADS_1


Atau mungkin dia sibuk?


[Bersambung...]


__ADS_2