
Pagi sudah tiba, Kaylo meraba kasur sebelah kanannya. Kasur itu sudah dingin. Berarti, Angel sudah bangun. Kaylo membuka kedua matanya. Dia mencari Angel dengan mengedarkan pandangannya. Kaylo langsung bangun. Dia bergegas menuju kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Kaylo keluar dengan kondisi segar. Dia berjalan menuju ruang ganti. Angel sudah menyiapkan setelan jas yang akan Kaylo kenakan.
Kaylo berjalan menuju ruang makan dengan aura yang memukau. Para maid yang ada di sana sempat tertegun melihatnya.
Dari kejauhan, Kaylo mendengar gelak tawa seseorang yang sangat dia kenal. Dia secepat kilat langsung pergi ke sumber suara tersebut.
Mata Kaylo langsung menajam saat melihat sepupunya yang sangat menyebalkan. Bahkan, sang sepupu bercanda ria dengan Angel.
"Aku tak menyangka kalau Kay akan dapat wanita seperti dirimu, Angel," ucap sepupu.
"Mereka sudah berjodoh," sambung Jenifer.
Kaylo mendengus kesal saat sepupunya lebih mendekatkan tubuhnya ke arah Angel.
"Jangan kau mendekati milikku, Juna." Kaylo berkata sambil berjalan ke arah meja makan. Dia langsung menggeser Juna dan duduk di samping Angel.
Juna Milan adalah anak dari saudara Jenifer. Juna seorang mahasiswa semester akhir di salah satu Universitas Australia. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Segala kebutuhan Juna, Jenifer yang mengaturnya.
"Dasar pencemburu. Kau tak berubah sama sekali, Kay. Sepertinya, pertumbuhanmu sudah sampai ambang batasnya."
Juna menatap Kaylo dengan sinis. Kemudian, dia tersenyum kepada Angel.
"Yang penting. aku sudah terbukti akan memiliki dua orang anak. Vitalitasku, tentu masih kuat," ucap Kaylo dengan nada bangga.
Angel mencubit paha Kaylo. Dia sangat malu mendengar perkataan vulgar Kaylo.
"Sakit sekali," ucap Kaylo sambil meringis menahan sakit.
"Jangan bicara seperti itu di ruang makan," bisik Angel.
Jenifer menahan tawa sedari tadi. Dia sangat terhibur melihat berbagi macam ekspresi wajahnya.
Jenifer tidak pernah melihat ekspresi wajah Kaylo. Kecuali wajah dinginnya. Dia sangat senang saat Kaylo mulai berubah.
"Kalian selalu saja seperti ini jika bertemu," ucap Jenifer sambil tersenyum.
Juna menghampiri Jenifer. Dia memeluk Jenifer dari belakang. Kaylo cemburu dibuatnya. Perhatian Jenifer selalu tertuju pada Juna, jika Juna pulang ke mansion.
Angel tahu kalau Kaylo merasa di sisihkan. Dia terus menatap Kaylo tanpa henti. Ekspresi wajah Kaylo sangat terlihat di mata Angel.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Mom," ucap Juna.
Jenifer mengelus tangan Juna yang telah memeluk lehernya.
"Mom juga rindu."
Kaylo mengepalkan tangannya kuat. Dia langsung pergi dan meninggalkan ruang makan tersebut. Kaylo tidak tahan jika melihat ibunya selalu dekat dengan Juna. Maka dari itu, dia tidak pernah tinggal di mansion. Dia lebih memilih tinggal di apartemen.
Angel menatap kepergian Kaylo. Dia kemudian menatap Jenifer dan Juna. Angel merasa heran, kenapa Jenifer tidak peka sama sekali? Sedangkan Juna, dia tersenyum melihat Kaylo pergi.
"Mom, aku akan menyusul Kaylo," ucap Angel dan langsung pergi begitu saja.
Setelah Angel pergi, Juna melepaskan pelukannya pada Jenifer. Dia kembali duduk di kursinya. Sebelum duduk, Juna mendapatkan pukulan keras di kepalanya.
Plak
"Sakit sekali. Mom mau membunuhku," ucap Juna sambil meringis.
"Aku tahu. Kau sengaja melakukannya, kan…."
Juna mengedikkan bahunya. Dia malah duduk dengan santai. Jenifer sangat jengkel di buatnya.
"Jangan berbuat aneh - aneh, Juna."
"Aku hanya ingin dia peduli padaku, Mom," ucap Juna dengan wajah sendu.
Jenifer menghela nafas kasar. Jenifer tahu, Juna ingin sekali dekat dengan Kaylo. Mungkin jalan satu - satunya adalah Angel. Jika Jenifer minta tolong pada Angel, pasti dia mau membantu.
Angel mengikuti Kaylo yang tengah berjalan gontai menuju kamar miliknya. Kaylo membuka pintu kamarnya perlahan. Dia duduk di samping ranjang dan menatap foto kebersamaannya bersama Jenifer.
Angel menghampiri Kaylo yang tengah lesu. Dia duduk di samping Kaylo.
"Kau cemburu pada Juna, Sayang?" tanya Angel.
Kaylo menggeleng. Dia tidak mau jujur dengan Angel. Dia sangat malu kalau ketahuan cemburu dengan Juna.
"Aku istrimu. Kita harus saling terbuka. Jangan menyembunyikan apapun dariku." Angel menatap Kaylo dan mengambil foto tersebut.
Kaylo menoleh ke arah Angel. Dia tersenyum dengan sangat terpaksa. Dia tidak mau memberitahu beban yang ada di pundaknya. Karena Angel sedang hamil.
"Jagoan Daddy sedang apa?" tanya Kaylo sambil mengelus perut Angel untuk menghilangkan rasa curiga Angel.
__ADS_1
Angel memegang tangan Kaylo yang masih mengelus perut miliknya. Dia menghela nafas perlahan dan menatap Kaylo. Kegiatan Kaylo pun berhenti.
"Aku tahu, kau menyembunyikan perasaanmu. Jujur adalah pilihan terbaik, Sayang."
Angel memang tidak bisa dibohongi. Dia terlalu peka mengenai perasaan orang sekitarnya. Kaylo tidak punya pilihan lain. Dia harus jujur.
"Aku tidak ingin Mommy pilih kasih antara aku dan Juna. Alasan aku tidak mau tinggal di Mansion Beltran adalah karena ini. Setiap Juna pulang, Mom selalu saja lebih peduli padanya." Kaylo berkata sambil mengambil foto keluarga miliknya.
kaylo meraba foto itu. Sebelum Juna masuk dalam kehidupannya. Kasih sayang ibunya masih ada padanya. Sebagai anak kandung, Kaylo merasa tersisihkan. Dia menutupi semua perasaannya dengan kepribadiannya yang dingin. Kekurangan kasih sayang dari Jenifer membuat Kaylo perlahan menutup mata dan hatinya.
Jenifer mendengar percakapan mereka. Dia sengaja datang ke kamar Kaylo untuk mencari Angel. Jenifer mengeluarkan air matanya. Dia tidak menyangka kalau Kaylo sangat tersiksa. Jenifer merasa gagal sebagai seorang ibu.
Juna melihat Jenifer menangis dari kejauhan. Dia tahu kalau dirinya hanya sebagai beban dalam keluarga Beltran. Selama dua puluh tahun, Juna selalu mendapat kasih sayang dari keluarga Beltran. Apa lagi dari Jenifer. Kasih sayang Jenifer kepada Juna melebihi kasih kasih sayangnya kepada Kaylo.
"Setelah S2 selesai. Aku harus pergi dari keluarga ini. Aku tidak mau melihat Mommy Jenifer tersiksa seperti ini." Juna berkata sambil menatap Jenifer yang tengah menangis.
Jenifer masih berdiri di depan pintu kamar Kaylo. Dia berniat masuk dan memeluk Kaylo. Akhirnya, Jenifer masuk begitu saja. Kedua orang yang ada di kamar menoleh ke arah pintu.
Jenifer menghampiri Kaylo. Angel langsung berdiri dan memberi ruang kepada ibu dan anak itu. Angel memilih duduk di sofa. Dia ingin melihat interaksi keduanya.
Jenifer memeluk tubuh Kaylo. Dia menangis tersedu-sedu.
"Maafkan Mom, Sayang," ucap Jenifer penuh penyesalan.
"Jangan menangis, Mom." Kaylo melepas pelukan Jenifer dan menghapus air mata Jenifer.
"Aku salah. Aku gagal sebagai seorang ibu. Aku terlalu mementingkan Juna. Sampai aku lupa padamu, Sayang."
Kaylo tidak ingin membuat Jenifer terlarut dalam penyesalannya. Dia tersenyum menatap Jenifer dengan lembut.
"Aku sudah tidak apa-apa. Jadi, Mom harus tenang. Juna lebih membutuhkanmu, Mom."
Jenifer merasa ada yang menusuk hatinya. Perkataan Kaylo membuat dirinya semakin menyesal.
"Lebih baik aku pergi ke kantor. Dan jangan menangis lagi," ucap Kaylo sambil mencium tangan Jenifer.
Kaylo menghampiri Angel. Dia kemudian mencium kening Angel dan mengelus perutnya. Setelah itu, Kaylo pergi tanpa sepatah kata satu pun.
Jenifer langsung duduk di lantai. Dia menangis tersedu. Angel menghampiri Jenifer dan mengelus pundak Jenifer.
"Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, Mom."
__ADS_1
Perkataan Angel ada benarnya. Jenifer langsung mengusap kasar air matanya. Dia duduk di ranjang dan di ikuti Angel.
"Kasih sayangku tidak pernah aku bagi dengan rata, Angel. Aku terlalu peduli dengan Juna. Juna kehilangan orang tuanya semenjak dia berumur lima tahun. Aku sangat menyesal. Aku ingin Kayloku kembali seperti dulu."