
Sampai di depan lift, Angel berhenti. Dia lupa untuk memastikan keselamatan orang-orangnya. Angel pun bergegas memutar badan dan setengah berlari. Sampai di depan pintu itu, dia sangat ragu. Tapi, semua di tepis. Tanpa permisi, dia membuka pintu dan menengokkan kepalanya sedikit.
"Tuan, karena saya sudah menyetujui kontrak itu. Tolong, anda cabut kata membangkrutkan dan menghancurkan semua yang berhubungan dengan saya." Angel berteriak dan menatap Kaylo.
Kaylo pun kaget. Dia pikir, Angel sudah pergi. Gadis ini sungguh tak sopan. Sepertinya, dia harus memberinya pelajaran lain waktu.
"Apa kau tak punya etika sama sekali? Dasar tidak sopan. Hari ini kau ku lepaskan. Tapi, tidak dengan hari lainnya. Ku pastikan kau ku hukum."
"Maaf tuan, saya hanya khawatir," jawab Angel
"Hus, pergi sana! Asal kau tidak melanggar kontrak, orang di dekatmu pasti aman."
Lega, itulah yang dirasakan Angel. Dia menutup pintu perlahan. Hati dan mentalnya harus dijaga. Untuk menghadapi kutu kupret itu, dia harus sekuat baja.
Angel pergi meninggalkan kantor yang megah milik Kaylo tersebut. Dia tak mau berlama-lama. Dia berencana akan ke Kafe Karina. Namun sebelum itu, Angel akan ke Panti Asuhan dulu. Untuk menghibur dirinya dan juga adik-adiknya.
-------
Kaylo yang berada di ruang rapat sangatlah marah. Karena kinerja salah satu karyawan yang tidak becus. Kemarahannya membuat para karyawan takut
"Aku menggajimu, bukan untuk membuat sampah seperti ini. kau ku pecat!"
Karyawan lain pun hanya diam. Mereka tahu, kalau bosnya tidak bisa menerima kesalahan dari bentuk apa pun.
"Kalian semua keluar! Dan kau, ambil gajimu."
Titahnya adalah mutlak. Para karyawan berbondong-bondong pergi keluar ruang rapat tersebut. Max yang melihat itu hanya tersenyum. Sejenak karyawan wanita pun terpesona.
"Apa kau akan tebar pesona di sana dan mengganggu karyawanku?"
"Sorry, ada salah satu karyawanmu yang ku minati."
"Buang pikiran kotormu itu, kau seperti tak ada pikiran lain."
Max pun mengedikkan bahu tanda tak peduli. Max mengikuti Kaylo dari belakang.
Sampai di ruangan Kaylo, Max langsung merebahkan dirinya di sofa.
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain? Setiap hari, kau hanya menggangguku, apa yang kau inginkan kali ini?"
"Dad menginginkan aku berkerja."
"Bukankah itu bagus. Kau bisa bekerja di perusahan ayahmu."
"Dad meminta aku bekerja di tempat lain. Katanya, untuk mengasah kemampuanku, Aku sebenarnya menolak. Kau tahu kan cita-cita ku? Aku hanya ingin duduk manis bekerja tanpa bersusah payah berkeringat. Dan uang datang sendiri."
"Uang harus di jemput, Max. Jika kau ingin seperti itu jadilah raja. Bukankah kau banyak selir?"
"Kau mengejekku. Dasar perjaka tua."
__ADS_1
"Apa kau bilang? keluar! Aku tak akan membantu."
"Kau tega padaku. Kau mengusirku, Kay.. hanya kau sandaranku." Itulah cara Max membujuk Kaylo. Dengan sedikit memelas pasti Kaylo akan luluh. Tapi, nyatanya tidak.
"Kau merayuku. Tak mempan Max. Pergilah! Sebelum aku kehilangan kesabaran."
Dengan malas, Max bergegas keluar pintu tanpa pamit dengan Kaylo. Kaylo pun hanya menghela nafas. Kaylo heran, kenapa Max enggan untuk bekerja? Max selalu punya banyak alasan untuk mengelak pertanyaan Kaylo jika membahas tentang bekerja. Jika dia terus memikirkan Max, Kaylo yakin tak akan ada habisnya.
Kaylo melihat ponselnya. Hari ini, dia akan menghubungi kelinci polosnya. Kaylo pun bergegas melakukan panggilan tersebut
"Hallo.." Suara indah yang menentramkan gendang telinganya. Membuat hati Kaylo sedikit membaik.
"Siapa ini? bila tak ada jawaban akan ku tutup."
"Kau berani menutup panggilanku. Dasar pelayan tak sopan."
"Astaga, maafkan saya tuan. Saya tidak mengira anda akan menghungi saya."
"Aku hanya ingin memastikan. Hari ini, kau harus sudah ada di rumahku sebelum aku pulang."
"Baik tuan, akan saya usahakan."
"Kakak telpon siapa? Ayo kita main lagi. Bukankah kakak akan jarang kesini lagi? karena bekerja jauh."
"Iya, sebentar lagi. Kakak janji setelah ini, kakak akan bercerita."
"Kau mengabaikan ku. Bagus... Kau mulai melawanku rupanya."
"Tidak tuan saya tidak berani."
"Kalau begitu, pulang sekarang. Kemasi barangmu. Kau ingatkan perjanjian kontrak kita."
Kaylo menutup ponselnya sepihak. Angel sangat jengkel menahan amarah.
Dasar kutu kupret. Lebih baik, aku segera ke Kafe Karina untuk berpamitan. Batin Angel.
Angel pun pamit kepada adik-adiknya dan meminta maaf kepada mereka semua. Bunda Lita mengantar Angel ke depan gerbang.
"Kau harus sabar, Angel. Pasti kau akan memetik hasilnya."
"Terimakasih bunda, Angel pamit dulu."
Dengan seribu langkah, Angel menuju Kafe milik Karina. Karena letak Kafe dan Panti tidak jauh, Angel pun berlari untuk menghemat waktu.
"Hos.. Hos.. Capeknya. Ini semua gara-gara kutu kupret pemaksa." Angel bergumam sambil masuk dapur.
Angel langsung saja masuk dan menuju dapur untuk minum.
"Kau habis lari maraton." Deo bertanya dengan menatap Angel.
__ADS_1
"Ia, untuk mengejar waktu. Aku pergi dulu."
Deo hanya menggelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah Angel.
Tok
Tok
"Masuk!"
"Angel, Kau berhasil."
"Berhasil apanya. Boro - boro video ini di lihat. Aku malah terlibat kontrak dengannya selama 3 tahun tanpa digaji. Membayangkannya saja, aku tak sanggup."
"Kau kontrak dengan Tuan Kaylo. Wah... Hebat, aku salut padamu."
"Hebat apanya. Aku jadi pelayannya dan tinggal bersamanya. Itu yang namanya hebat. Aku pasti akan di siksa."
"Kau... Kau tinggal bersama dengan Tuan Kaylo. Astaga! aku tak percaya ini."
"Memangnya, kenapa sampai kau tidak percaya?"
"Tuan Kaylo tak pernah memperkerjakan seorang perempuan di sampingnya. Kau orang yang pertama."
"Dari mana kau dapat gosip itu?"
"Itu fakta. Semua orang sudah tahu."
"Sudah, jangan bahas dia. Bikin emosiku naik. Aku kesini untuk pamit kepadamu, Karina. Aku tak bisa bekerja denganmu lagi. Mungkin, jika nanti kontrak ku selesai, aku akan kesini bekerja denganmu lagi. Jangan merindukan ku."
"Jangan sombong. Aku tak akan merindukanmu. Ingat, jangan ceroboh di sana dan juga hubungi aku selalu."
"Katamu kau tak merindukanku. Tapi, kenapa aku disuruh untuk menghubungimu?"
"Hei, aku kan tidak bilang merindukan. Cuma bilang menghubungi. Kau selalu memperbesarkan nya, Angel."
"Ha Ha Ha, aku tahu kau mengkhawatirkan ku, Karina. Terimakasih. Aku sangat bahagia".
Akhirnya mereka berpelukan dan tertawa bersama.
Semoga kau selalu di lindungi oleh tuhan Angel, dan berhasil melewatinya. Batin Karina.
Karina tahu, orang seperti apa Kaylo itu. Dia menatap iba Angel. Sebenarnya, dia tak tega melihat Angel berurusan dengan Kaylo. Tapi apa daya, Karina tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya menyemangati Angel.
Angel langsung pamit kepada karina dan menghampiri teman-temannya. Mereka sangat menyanyangkan kepergian Angel. Tapi, mau bagaimana lagi? Itu sudah jadi keputusan Angel.
Angel melirik jam yang bertengger di Kafe Karina. Tak terasa sudah pukul lima sore. Astaga, dia terlambat. Karena keasikkan bercanda ria dengan temanya, Angel sampai lupa waktu. Dia pun bergegas meninggalkan mereka.
Ya ampun, aku terlambat. Kutu kupret itu pasti akan marah nanti. Batin Angel
__ADS_1