
Max masuk ke ruangan Kaylo dan melihatnya berdiri di depan jendela kaca. Ia memegang bahu Kaylo sampai menoleh.
"Apa lagi yang kau pikirkan?" tanya Max.
"Tidak ada," jawab Kaylo dingin.
Semenjak Angel keluar ruangannya, Kaylo hanya menatap langit sampai menjelang malam. Ia masih kalut dalam pikirannya.
Max mengawasi ekspresi Kaylo yang tidak berubah sama sekali. Dia bingung harus membujuk Kaylo agar ikut dengannya ke Taman Cinta.
Bagaimana aku bisa membujuknya ikut? Wajahnya saja tidak bisa dibaca. Sialan…! Aku dalam situasi yang sulit sekali.
"Ehem… Kay," panggil Max sambil mencairkan suasana.
Kaylo hanya menoleh dingin dengan aura hitam menyelimuti tubuhnya. Bahkan dia tidak menyahut Max sama sekali.
Seram sekali… seperti mau menerkamku. Tapi, aku lebih takut dengan Angel.
"Bagaimana kalau kita jalan - jalan ke Taman Cinta?
Kaylo berbalik arah dan menatap Max yang sedang menatapnya. Ia menghela nafas kasar. Dari pada memikirkan Juna tiada habisnya. Lebih baik pergi dengan Max menikmati indahnya bintang.
Kaylo langsung berjalan melewati Max tanpa berbicara sepatah kata pun. Max melongo dan mengamati setiap gerakkan Kaylo. Ada rasa bahagia di hati Max kala Kaylo membuka pintu keluar ruangan. Ia langsung berjalan mengikuti Kaylo dari belakang. Tidak ada suara yang menghiasi perjalanan mereka menuju parkiran mobil. Hanya ada kecanggungan yang mencengkam.
Max bergidik ngeri. Ingin rasanya ia keluar dari situasi yang membuatnya tercekik seperti ini. Namun, apa daya. Ia tidak tahan harus melihat jiwa Kaylo yang sedang rapuh.
Mereka berdua masuk mobil. Kaylo yang menyetir kemudi. Ia hanya diam dengan pandangan yang tidak bisa di baca. Max menoleh dan menatap Kaylo dengan seksama. "Biar aku saja yang menyetir, Kay," ucap Max dengan nada sepelan mungkin.
Kaylo langsung keluar pintu dan menuju ke kursi belakang. Ia memilih duduk di sana agar bisa leluasa menikmati indahnya lalu lalang mobil.
Hais… kenapa duduk di belakang? Membuatku menjadi sopir pribadi saja.
Max langsung mengambil alih kemudi. Ia menjalankan mobil itu dengan lihai untuk membelah jalan raya.
Sampai di tempat tujuan, Kaylo langsung turun menuju tempat duduk favoritnya. Dari kejauhan, ia melihat Angel yang tengah asik berbicara dengan seorang lelaki. Langkahnya diperlebar supaya ia cepat sampai ke sana.
__ADS_1
Angel melihat Kaylo yang tengah berjalan cepat ke arahnya. Ia melambaikan tangan dan tersenyum ke arahnya. Lelaki di depan Angel ikut menoleh. Kaylo mendadak berhenti di tengah jalan. Amarahnya memuncak saat tahu, siapa lelaki yang tengah bersama dengan Angel? Kaylo langsung berlari dan memukul wajahnya sampai tersungkur ke tanah. Angel kaget dan melerai mereka. "Apa yang kau lakukan?" ucap Angel sambil membantu Juna duduk kembali
Shit...! umpat Kaylo dalam hati.
Kaylo menatap tajam Juna yang tengah meringis kesakitan. Sudut bibir yang membiru terletak jelas di sana. Kaylo langsung membuang muka. Ia tidak mau emosinya memuncak lagi.
Max berlari menghampiri ketiga orang tersebut. Ia berdiri di samping Kaylo yang telah menahan emosi. Max menghela nafas kasar. Ia menyentuh pundak Kaylo agar emosi yang menguasai mereda. "Bersikap bijaklah, Kay," bisik Max pada Kaylo.
Kaylo memejamkan mata erat untuk menguasai dirinya kembali. Ia kemudian duduk dalam diam. Angel menghela nafas lega. Ia kemudian menyentuh tangan Kaylo dan menatap lembut ke arahnya. "Selesaikan masalah kalian. Aku dan Max akan memberi waktu," ucap Angel dengan nada lembut seperti kapas.
Angel dan Max langsung memberi ruang kepada mereka. Setelah kedua orang itu pergi, Juna memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. "Ehem… bagaimana kabar Kakak?" tanya Juna basa-basi.
Kaylo hanya diam tak menjawab. Ia memilih menatap ke arah lain. Merasa di acuhkan, Juna langsung ke inti pembicaraan."Maafkan aku, Kak," ucap Juna sambil menunduk.
Deg
Jantung Kaylo seakan berhenti saat kata maaf terlontar pada mulut Juna. Ia kemudian menoleh dan menatap lekat wajah Juna. Tidak ada kebohongan sama sekali. Yang ada hanya penyesalan yang mendalam.
"Aku salah. Aku sengaja melakukannya. Agar aku bisa dekat denganmu," ucap Juna lagi.
Juna mengangkat kepala karena Kaylo mediaminya. Mata mereka saling beradu. Terlihat jelas bahwa Kaylo sedang menatap ke arahnya. "Apakah kau marah padaku?" ucap Juna dengan wajah sendu. "Jangan marah padaku, Kak. Karena Mommy merasa bersalah," imbuh Juna lagi.
Deg
Kaylo langsung mengeluarkan suara yang ia tahan. "Bukankah sudah ada dirimu? Kenapa Mom merasa bersalah?"
Juna menatap Kaylo dan berkata, "Setelah kau pergi, Mom bersedih."
(Flashback)
Kepergian Kaylo dari Mansion Barren membuat hati Jenifer bersalah. Ia hanya mengurung diri di kamar menatap foto Kaylo sambil menangis. Dirinya telah gagal menjadi seorang ibu. Meskipun begitu, penyesalan tidak akan mengembalikan semuanya. Hanya tangis yang dikeluarkan oleh kedua matanya. Hatinya sakit menyeruak masuk sampai ke tulangnya. Ia tersedu duduk samping ranjang.
Juna melihat semuanya. Rasa bersalah menghampiri dada yang kian nyeri. Ia sangat menyayangi Jenifer layaknya ibu kandung. Merasa membuat sang ibu kecewa, Juna menghampiri Jenifer yang tengah kalut di dalam kesedihannya. "Maafkan aku, Mom. Semua salahku. Caraku salah untuk mendapatkan perhatian Kakak," ucap Juna sambil memeluk erat tubuh Jenifer.
Jenifer mengusap tangisnya kasar. Ia berbalik arah menatap Juna. "Bukan kesalahanmu, Juna. Semua adalah salahku. Andai saja Mom berbagi kasih dengan adil. Pasti, Kaylo tidak akan meninggalkan mansion ini," ucap Jenifer sendu.
__ADS_1
Juna menghapus sisa air mata milik Jenifer. Ia memantapkan hati dan jiwanya untuk mengambil keputusan itu. "Kirimlah aku ke Australia. Berusahalah untuk memperbaiki semua, Mom. Setelah semuanya baik, aku akan kembali berkunjung," ucap Juna mantap.
Jenifer menghela nafas perlahan. Mungkin ini adalah jalan terbaik. Juna harus menjauh agar ia kembali mengambil hati Kaylo. "Berangkatlah besok. Mom akan mempersiapkan semuanya.
Juna mengangguk dan tersenyum menatap Jenifer. "Jangan menangis lagi. Mom sangat jelek kalau menangis," ucap Juna sedikit mengejek. "Kalau bukan karena Mom, pasti aku sudah berada di panti asuhan. Jenifer langsung menggeleng. "Ingatlah Juna. Kau itu putraku. Meski bukan lahir dari rahimku. Tapi, Mom menganggapmu sebagai keluarga. Jangan merasa bersalah." Jenifer berdiri dengan penuh semangat dan tersenyum. Ia harus membuktikan kepada Kaylo kalau dirinya masih menyesal dan ingin mengembalikan semuanya.
Rona kebahagian terpancar pada wajah Juna. Setelah pembicaraan itu, Jenifer mengurus segala keperluannya untuk pergi ke Australia. Keesokan harinya, Juna langsung berangkat dan diantar oleh Frans. "Dad… selalu beri kabar kepadaku mengenai hubungan Kakak dan Mom," ucap Juna sambil menunduk. Frans mengelus kepala Juna dan berkata, "Tenang saja. Dad akan selalu memberi kabar. Kau sangat bijak, Juna," puji Frans.
Juna langsung mengangkat kepala dan tersenyum. Ia berangkat ke Australia bukan karena pergi meninggalkan masalah. Tapi, memberikan kesempatan kepada ibu dan anak itu untuk memperbaiki hubungan mereka.
Setelah kepergian Juna, Jenifer selalu menyempatkan diri berkunjung ke Apartemen Beltran. Ia setiap hari pergi dan membersihkan tempat Kaylo. Awalnya, Kaylo hanya menanggapi dengan dingin. Bahkan lebih dingin dari es kutub selatan. Jenifer berpikir, mungkin amarah Kaylo belum reda sepenuhnya. Ia tetap berusaha sepenuh hati untuk meraih hati putranya itu. Selama sebulan penuh, Jenifer tidak berhenti berkunjung. Bahkan, ia juga menghampiri Kaylo ke kantor. Membawa bekal makanan untuknya. Sampai akhirnya. Hati Kaylo luluh dan mulai membuka diri untuk Kaylo.
Bagaimana Juna bisa tahu sedetail itu? Jawabanya adalah satu orang. Yaitu Frans. Setiap hari, Frans selalu memberi perkembangan hubungan Jenifer dan Kaylo.
(Flashback End)
Setelah pembicaraan yang panjang. Mereka masih menatap satu sama lain. Juna meneteskan air matanya. Bukan karena cengeng. Tapi, karena merasa bersalah pada Kaylo. Ia salah mengambil langkah. Seharusnya, ia tidak merebut kasih sayang Jenifer. "Apakah Kakak mau memaafkan aku dan Mom?" tanya Juna dengan perasaan gelisah. Terus terang, Juna takut kalau Kaylo membenci dirinya dan juga Jenifer.
Kaylo masih memikirkan kejadian waktu itu. Jujur, hatinya belum sepenuhnya menerima Jenifer. Tapi, ia berusaha untuk dekat dengannya dan menjalin hubungan baru lagi. Sampai akhirnya, ia benar-benar bisa terbuka terhadapnya.
Kaylo mengingat perkataan Max, bahwa ia harus bersikap bijak. Memaafkan memang hal sulit untuknya. Tapi, ia akan mencoba memberi kesempatan pada Juna untuk memperbaiki semuanya. Kaylo mengambil nafas panjang. "Aku memaafkanmu. Jangan merasa bersalah lagi."
Deg
Akhirnya, suara yang di tunggu Juna telah keluar. Hatinya merasa lega. Ia langsung berdiri dan memeluk erat Kaylo. "Terimakasih, Kak. Aku sangat mencintaimu," ucap Juna sambil menangis haru. Kaylo mendengus kesal. Ia tidak suka di peluk erat seperti ini. "Lepaskan…! Kau mau memcekikku." ucap Kaylo dengan nada sedikit kesal. Juna langsung melepaskan pelukan itu. "Maafkan aku, Kak. Aku tidak sengaja," ucap Juna sambil mengusap kasar air matanya.
Kaylo menoleh ke arah Juna. Ia ingin tertawa melihat Juna yang tengah menangis. "Kau menangis? Seperti banci saja," ejek Kaylo. Juna membuang muka malu. "Aku tak menangis," jawabnya dusta.
Ha Ha Ha
Suara tawa Kaylo keluar begitu saja. Semua orang yang ada di sana menoleh ke arahnya. Mereka terheran melihat Kaylo yang tengah tertawa. Juna semakin malu karena menjadi pusat perhatian. Ia langsung menundukkan kepala dan duduk dengan kasar. "Berhentilah tertawa. Semua orang melihatnya," bisik Juna kepada Kaylo.
"Ehem…." Kaylo langsung mengembalikan ekspresi wajahnya. Ia langsung menatap tajam kepada orang yang ikut campur urusannya. Mereka langsung bergidik ngeri dan pergi begitu saja.
Dari kejauhan, Angel dan Max melihat keduanya sudah akur. Hati Angel merasa lega. Ia sudah berhasil membuat mereka bersatu. Angel menatap Max yang tengah fokus melihat interaksi Kaylo dan Juna. Sudut bibir melengkung tercetak jelas di wajah Max. Angel sangat bahagia melihat itu. Meskipun Max terkadang menjengkelkan, tapi ia adalah sahabat terbaik untuk Kaylo. "Terimakasih, Max," ucap Angel. Max langsung menoleh dan mengerutkan dahinya. Ia bahkan menempelkan tangannya ke kening Angel. "Kau tidak demam. Kenapa kau berterimakasih?" tanya Max tanpa dosa.
__ADS_1
Angel sangat jengkel mendengar perkataan Max yang menyinggungnya. Ia langsung berdiri dan meninggalkan Max begitu saja. Max pun bingung dibuatnya. "Sepertinya, aku salah bicara. Bodoh kau, Max. Kenapa mulutmu tak pernah kau saring?" gumam Max sambil mengacak rambutnya kasar.