
**JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN NYA GAES
HATUR NUHUN
NEXT**...
" Aqilla....!" seruan kencang itu membuat Aqilla menoleh. Terlihat seorang remaja laki laki tengah berlari ke arah nya.
" maneuh rek balik."( kamu mau pulang) Dengan napas yang masih terengah engah dia kembali bertanya.
" Moal arek macul, geus nyaho arek balik make nanya deui." ( gak mau nyangkul, udah tahu mau pulang pake tanya lagi) Ya ampun Aqilla bener bener judes nya setengah mati. Laki laki remaja itu malah menggaruk tenggkuk nya yang tidak gatal.
" Balik jeung urang yuk." ( pulang sama aku yuk) Si cowok menarik tangan Aqilla agar mendekat pada motornya. Aqilla hanya melotot melihat perlakuan lelaki remaja itu , Namun belum sesampai nya di sana sebuah tangan menarik sebelah lengan Qilla membuat langkah mereka berdua terhenti.
" Kamu pulang sama aku." Deva menoleh saat merasakan seseorang tengah menarik lengan nya
" Qilla balik jeng urang." ( Qilla pulang sama aku)
" Aqilla akan pulang hanya dengan ku." Terjadilah acara tarik menarik antara ke dua lelaki remaja itu. Aqilla merasa sakit di area kedua pergelangan tangan nya.
"Woyyy !!!" Qilla menghempaskan kedua tangan itu kasar.
"Maraneuh pikir uing teh naon! tali munding make di tarik tarik. Maneh San uing embung balik jeng maneuh. Dan jang maneuh Yugha Permana ,awas uing rek liwat!"
( kalian pikir aku tuh apa ! Tali kerbau pake di tarik tarik. Kamu San aku tidak mau pulang sama kamu. Dan buat kamu Yugha Permana , awas aku mau lewat)
Aqilla terlihat kesal pada kedua lelaki yang kini masih terdiam di belakang nya, namun tidak kemudian mereka terdengar meributkan sesuatu kembali. Aqilla yang masa bodoh dia malah melanjutkan langkah nya menyusuri jalan untuk pulang kerumah.
❤❤❤
" Assalamualaikum..." Qilla membuka pintu rumah, ternyata masih sepi apa emak sama bapak belum pulang dari kebun, Si Zae juga tidak ada di rumah pasti dia mah sedang main kelereng.
Qilla masuk kedalam kamarnya, dengan kasar dia menghempaskan diri ke ranjang kecil sederhana ini namun terlihat sangat rapi, Qilla terkenal dengan kerapihan dan perfeksionisnya. Makanya pas kamar kesayangan nya akan di tempati sementara oleh Jack dan Basstian kemarin Aqilla uring uringan di buat nya.
mengingat soal Basstian , Qilla malah teringat sesuatu. Dia bangkit dan menuju lemari pakaisn nya, Qilla membuka kotak kecil berwarna merah yang tidak sengaja dia temukan di bawah bantal saat dia sedang merapihkan tempat tidur nya selepas kepergian kakak dan kakak ipar nya untuk berbulan madu serta kedua adik angkat kakak iparnya.
saat Qilla membuka kotak itu karna penasaran, ternyata sebuah cincin berlian cantik yang ada di dalam nya dengan sebuah kertas kecil terselip di sana.
' Tunggu aku' by B.
hanya tulisan itu yang ada di dalam catatan, Qilla sudah bisa menebak siapa orang yang sengaja meninggalkan kotak merah ini, Basstian.
Qilla tidak ingin memakai cincin itu makanya dia memilih untuk menyimpannya dan berniat akan mengembalikan kotak merah itu pada Basstian saat kelak mereka bertemu kembali.
" Kabeh lalaki sarua bae, modus!" ( Semua lelaki sama saja, modus) Qilla kembali menyimpan kotak itu di bawah baju nya yang terlipat. Aqilla gadis remaja yang belum percaya yang namanya cinta.
Aqilla selalu mengira cinta tulus itu hanya di berikan oleh orang tua nya dan kakak nya saja bukan oleh orang asing, Walaupun dia melihat sendiri cinta hadir di antara Deva dan Dominic karna takdir. Namun dia hanya gadis remaja yang masih labil, jadi cinta itu hanya kata kata yang tak bermakna baginya.
🍑🍑🍑
__ADS_1
"Abang ini gak muat". Dominic menghentikan kegiatan nya saat Deva terlihat kesulitan memasukan barang kedalam koper besar milik mereka.
" Ini seharus nya kita punya dua koper, kalau begini tidak akan muat." Deva terus menggerutu saat masih banyak barang yang harus mereka bawa besok karena acara bulan madu mereka terakhir malam ini dan besok harus kembali pulang.
" Nanti kita cari koper satu lagi untuk barang barang mu itu sayang, sekarang kemarilah Abang ingin menunjukan sesuatu pada mu." Deva pun mendekat kecarah sang suami yang tengah berada di teras penginapan yang menghadap langsung ke arah laut lepas.
" Lihat indah bukan, kenapa kita tidak menyadari nya dari kemarin." Mereka berdua kini tengah menikmsti sunset yang begitu indah memanjakan mata.
" Itu nama nya sunset kan." Deva mendongakan wajah nya untuk melihat langsung wajah suaminya.
" Huum, cantik bukan . Seperti kamu, sederhana namun indah." Deva bersemu merah mendengar gombalan suaminya itu.
" Sesuatu yang indah tidak harus dengan hal yang selalu terkesan mewah, banyak hal di dunia ini yang sangat indah namun mereka terkesan sederhana dan apa ada nya. Seperti kamu contoh nya , kamu indah sayang itu karna kesederhanaan dan apa ada nya dari seorang Deva. Abang lebih suka kamu yang seperti ini jangan pernah berubah."
Deva amat tersentuh mendengar penuturan suami bule nya itu. Tanpa malu Deva meraih rahang tegas suaminya dengan sebelah tangan lalu dengan cepat dia memberikan satu kecupan basah di bibir sexy Dom yang membuat Dominic tidak menyia nyiakan kesempatan langka ini. Kesempatan langka karna istri imut nya berinisiatif duluan, Dom menggapai tengkuk Deva untuk memperdalam ciuman mereka.
Dominic menikmati betapa nikmatnya bibir tebal sexy milik istri nya itu, Deva pun semakin ternyahut dalam pesona suami bule nya yang sayang nya sangat tampan.
" Neng gak akan berubah, memang nya Abang pikir Neng power ranger bisa berubah." Ya Ampun suasana romantis itu menjadi buyar karna ulah Deva, setelah beberapa saat mereka saling memagut dan menyecap Deva terpaksa melepaskan tautan bibir nya karna sudah kehabisan nafas.
Dominic malah tertawa mendengar penuturan polos sang istri yang memang apa ada nya, Deva gadis desa sederhana yang membuat Dominic tergila gila.
" Ayo kita masuk, kita akan makan malam di kamar saja." Mereka pun bangkit dari duduk nya karena sang penguasa siang telah beristirahat di peraduan nya. Kini tinggal sang penguasa malam yang menampakan pesona nya untuk menyinari kegelapan, Tapi sayang tidak bisa menerangi kegelapan hati seseorang karena terobsesi cinta.
***
"Wow ada angin apa saudara tiriku berkunjung kemari." hentakan heels terdengar menggema di seluruh ruangan itu.
" Bantuan? bantuan apa, apa itu menguntungkan untuk ku." Miranda si wanita licik tidak mungkin dia mau membantu seseorang kalau dia tidak mendapat keuntungan juga.
" Aku akan membayarmu, berapa pun yang kau mau." Wanita itu melempar selembar cek yang sudah ia tanda tangani.
" Apa yang kau mau Rossa!" Miranda tidak ingin berlama lama berhadapan dengan sodara tirinya itu.
" Mudah saja kau cukup melenyapkan seorang gadis kampung yang kini sudah menjadi istri sah Dominic, bagaimana."
Miranda terlihat tersenyum sinis pada saudara tirinya itu.
" Kau menyuruhku untuk melenyap kan nyonya besar Vins, lalu apa yang kau dapat setelah dia tersingkir."
" Aku yang akan menggantikan posisinya setelah itu, menjadi nyonya Vins satu satunya." Dengan percaya diri tinggi Rossaline yakin dia akan mampu menyingkirkan nya apa lagi dengan bantuan saudara tirinya itu, padahal dia tidak tahu wanita yang di minta pertolongan oleh nya itu juga menginginkan orang yang sama.
" Begitukah, bagai mana kalau aku juga menginginkan posisi itu." Miranda mulai mengikis jarak di antara mereka.
" Kau tidak akan mendapatkan nya, karna hanya aku yang pantas berada di posisi itu!" Rossaline terlihat marah saat mendengar pernyataan saudara tirinya itu. Ternyata dia datang pada orang yang salah.
" Oh ya seberapa pantas kah dirimu, kau hanya anak dari seorang jalang yang datang untuk menggoda ayahku, lalu lahir lah dirimu. Anak haram yang membuat ibuku depresi dan menjadi gila." Miranda mencengkram rahang Rossaline dengan kencang membuatnya meringis karna kuku panjang Miranda menancap di pipi tirusnya.
" Lepaskan!" Rossaline mendesis
__ADS_1
" Bukan aku yang harus menyingkirkan gadis kampung itu, tapi kau! jadi lakukan perintahku tanpa imbalan pastinya kalau kau masih ingin melihat ibu mu." Miranda memukul telak sehingga Rossaline tidak bisa berkutik, dia sangat menyayangi ibunya tidak mungkin dia membiarkan ibunya terluka karena nya. Rossaline tahu saudara tirinya itu licik, namun dia tidak menyangka kalau Miranda juga menginginkan Dominic.
" Baik aku akan melakukan nya, tapi jangan pernah sentuh ibu ku sedikit pun."
"Baiklah". ' Setelah kau berhasil menyingkirkan gadis kampung sialan itu, akan datang giliranmu juga. aku tidak akan membiarkan siapapun untuk menjadi penghalang ku untuk mendapatkan Dominic. Siapapun tanpa terkecuali.'
Miranda menyeringai setelah Rossaline pergi dari sana , bibir merah maroon nya terlihat mengerikan sekali .
' Tunggu aku Dom'
🌹🌹🌹
" Aaakkkhhh....". Lenguhan indah keluar dari bibir kedua nya. Dominic menatap lekat wajah wanita yang sedang berada dalam kukungan nya. Terlihat sayu dan lesu entah sudah berapa lama mereka melakukan percocok tanaman. Entah sudah berapa banyak bibit bibit unggul si Mr. Cau Boma tertanam di media tanam yang ada di dalam rahim Deva.
" Kau lelah sayang." Deva masih berusaha mengatur nafasnya, lalu kemudian dia mengangguk pelan.
" Maaf kan Abang yang sudah membuat mu kelelahan seperti ini." Cup... Dom malah terus menggoda Deva dengan sesekali mengecup bibir tebal sexy nya yang memerah karna bengkak.
" Neng haus." Deva benar benar tidak berdaya pertempuran nya melawan Mr.Cau Boma membuat nya kehilangan banyak tenaga sampai sampai untuk bergerak pun dia tidak mampu.
" Kamu tunggu di sini ya Abang akan mengambilkan nya untuk mu." Deva mengangguk, dan dengan tidak tahu malu nya Dom berjalan menuju meja dalam ke adaan polos membuat Deva merona sampai ketelinga. Demi apa pun walaupun dia sudah berkali kali melihat tubuh sexy suaminya yang berotot sempurna itu Deva masih tetap malu. Apa lagi si Mr. Cau Boma terlihat masih berdiri subur dengan gagah nya.
Ya ampun terbuat dari apa coba senjata laras panjang suami nya itu sampai sampai sudah berkali kali pun dia menembakan bibit bibit unggul pada Benteng pertahan nya masih saja siap tempur. Deva sampai ngilu untuk membayangkan nya.
" Minum lah." Deva tersadar dari lamunan nya saat Dom sudah duduk di samping nya saat ini.
" Abang harus nya pakai celana nya dulu." Deva menggerutu sembari menegak habis air putih yang di berikan oleh Dominic.
" Kenapa?" Dengan polos nya Dominic bertanya ' kenapa' , Oh hello Bang apa anda tidak melihat bagai mana raut wajah Deva sekarang, blusshing berkepanjangan.
" Malu ih, Cau Boma nya masih melambai lambai." Dominic tergelak saat mendengar penuturan Deva. Dan tunggu dia penasaran apa itu ' Cau Boma' .
" Kamu selalu memanggil senjata Abang itu dengan panggilan Cau Boma, apa itu cau boma?" Kini malah gantian Deva yang tergelak di buat nya, ya ampun Deva lupa kalau suaminya tidak mengerti bahasa sunda nya.
" Eemm..Cau Boma itu salah satu jenis pisang."
" Pisang, maksud nya senjata Abang mirip pisang begitu." Dominic merasa heran di buatnya.
" Eemm ya..Iya bisa di sebut seperti itu." Deva hanya bisa nyengir kuda dan salah tingkah di buatnya.
" Tapi senjata Abang lebih besar dari pisang, kamu sudah melihatnya sendiri bukan." Dom seakan tidak terima senjata kesayangan nya itu di bandingkan dengan pisang yang nota bene ukuran nya ya bisa dibilang kecil.
" Iya Neng tau, bahkan ukran nya membuat Neng sesak. Tapi harus Abang tau Cau Boma itu ukuran pisang yang paling besar, abang mau tahu." Deva segera bergeser untuk meraih ponsel nya yang ada di nakas. Setelah mengotak atik sesuatu dia menyerahkan itu pada suaminya.
" Nih lihat." Dominic meraih ponsel itu,dan terlihat sebuah gambar sebuah pisang besar yang ada di sana. Dengan senyum lebar dia melirik ke arah bawah nya.
" Sama." Deva hanya memutar bola matanya
' Cek saha sarua, bahkan ukuran na lebih gede ti cau boma ' ( kata siapa sama, bahkan ukuran nya lebih besar dari pisang Boma)
__ADS_1
ALAH NENG DEVA MALAH NGEBAHAS CAU BOMA SAMA ABANG DOMINIC...