
**JANGAN LUPA VOTE NYA YA
HATUR NUHUN**
π«π«π«
" Sayang bangun kita sudah sampai." Dominic menepuk pelan pipi Deva saat dia masih terlelap.
" Eeeemmm..."Deva meregangkan tubuhnya, rasa nya pegal sekali setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu berjam jam lamanya.
" Ayo bangun kita sudah sampai, apa masih pusing." Dom membetulkan pasminah Deva yang agak miring.
" Dikit, tapi agak mendingan enggak kayak kemarin." Deva mulai menegakan tubuhnya.
Dom dan Dev kini sudah berada di loby Bandara, dan terlihat sebuah mobil Range Rover tengah menanti mereka.
" Itu Jack ya Bang." Dom mengarahkan pandangan nya pada arah yang di tunjung oleh Deva
" Ayo". Dom menarik lembut tangan Deva agar mengikuti langkah lebarnya.
" Selamat datang di Kanada kakak ipar, selamat datang juga untuk mu Boss." Jack membungkuk kan sedikit kepalanya saat Dom dan Deva sudah sampai di dekat mobil.
" Ayo Jack cepat pulang istri ku ingin istirahat." Jack hanya mendengus mendengar penuturan kakak angkat nya itu.Bukan nya membalas sapaan nya tapi baru saja sampai sudah membuat perintah.
'Dasar budak cinta'
Mereka bertiga akhirnya masuk kedalam mobil yang di supiri oleh Jack. Karena Deva masih merasa pusing dia memilih bersandar di dada suami nya .
" Masih pusing." Dom membelai lembut wajah Deva yang terlihat sedikit pucat.
" Huum..!" Deva hanya bergumam lalu dia memejamkan matanya kembali.
Sekitar 30 menit akhir nya mereka sampai di penthahouse milik Dominic yang berada di kota Ottawa.
Sebuah Penthahouse asri dan sejuk membuat siapa saja yang tinggal di sana pasti merasa betah.
"Sayang ayo kita sudah sampai." Dom membukakan pintu mobil untuk Deva sementara Jack dan beberapa pelayan menurunkan koper dari dalam bagasi.
"Selamat datang Tuan dan nyonya." Deva dan Dom di sambut oleh beberapa pelayan di penthahouse itu.
" Sudah kalian siapkan kamar nya." Dom tidak menggubris sapaan para pelayan nya yang terpenting sekarang adalah Deva yang butuh istirahat.
" Sudah Tuan, kamar utama di lantai 3 sudah kami siapkan." Tanpa berlama lama Dominic membawa istri nya kelantai tiga dengan menggunakan lift.
Tiitt....
pintu yang hanya bisa terbuka didisien khusus dengan menggunakan kornea matanya namun bisa saja Dom mengijinkan orang lain masuk saat dia mengubah sandi nya.
kamar berukuran 10 kali lebih besar dari kamar Deva di kampung kini akan menjadi kamar utama untuk nya. Dengan nuansa biru muda yang membuat orang yang menempatinya akan begitu rileks. Dom sengaja mengubah semua tatanan di penthahouse nya menjadi biru muda padahal sebelum dia menikah dengan Deva hanya putih dan hitam yang ada di rumah mewah nya itu.
" Tidurlah, Abang akan membuatkan teh jahe untuk mu." Deva hanya mengangguk sembari memejamkan matanya.
Tap
Tap
Tap
Dom menuruni satu persatu anak tangga dari lantai 3, menurut dia dengan menaiki dan menuruni tangga setiap hari akan membuatnya lebih sehat, lalu untuk apa ada lift? lift hanya di gunakan saat hal genting seperti tadi saat Deva sudah kelelaha.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan." Seorang pelayan mendekat saat Dominic sudah menuruni tangga terakhir yang menghubungkan nya ke lantai dua. Di lantai dua hanya ada dapur kecil , kolam renang, dan arena ngeGYM Dominic.
" Aku hanya ingin membuat teh, lanjutkan saja pekerjaan kalian.
Dom melangkahkan kaki jenjang nya kearah dapur. Dengan cekatan dia mengiris jahe dan memasukan nya ke dalam cangkir kemudian dia menuangkan air mendidih yang sudah dia beri teh camomaiel yang menenangkan.
__ADS_1
Dom bergegas membawa teh itu menuju lantai 3
" Hei kenapa tidak tidur hem." Dom meletakan teh itu di nakas dan segera duduk di sisi Deva yang tengah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
" Neng lagi dimana." Deva belum menyadari keberadaan nya saat ini akibat pusing yang mendera nya membuat dia selalu terpejam bahkan tidak menyadari kalau dia sudah sampai di rumah suaminya.
" Kita sudah berada di rumah sayang." Dom membelai kepala Deva yang sudah tidak tertutup hijab
" Di rumah? jadi ini rumah Abang!" Deva berseru dan mencondongkan dirinya pada Dominic.
" Iya, dan mulai sekarang rumah ini adalah rumah mu juga dan rumah untuk anak anak kita kelak." Deva tersipu malu saat Dominic membahas tentang anak.
Deva terus memindai setiap sudut yang ada di kamar mewah berwarna biru itu.
' Gusti Neng moal sanggup lamun kudu ngabersihkeun kamar ieu sorangan mah. sakamar gek mani segede bumi bapak di kampung. Komo nu di luarna .( gusti neng gak sanggup kalau harus ngebersihin kamar ini sendiri. Satu kamar aja sebesar rumah bapak di kampung. Apa lagi yang di luarnya)
Deva terus saja bergelut dengan pikiran nya saat ini bagaimana kalau dia tidak sanggup untuk membersihkan seluruh ruangan di rumah ini.
" Kamu kenapa sayang." Dom merasa heran dengan keterdiaman istrinya itu, apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
" Eemm..Enggak ada, neng gak kenapa napa." Deva hanya menampilkan senyum canggung.
" Kamu mau mandi." Dom menawarkan sesuatu yang membuat Deva malu, nawarin mau mandi di kira Deva balita apa.
" Eeemm...I..Ya , Neng mau mandi siapa tahu pusing nya berkurang. Ini karena neng gak muntah kalau neng muntah gak bakalan pusing lagi." Deva beranjak dari ranjang namun saat dia hendak turun tangan nya di kecal oleh Dominic membuat Deva menoleh pada nya.
' Tadi nyuruh mandi , ayena malah di cekelan. ( tadi suruh mandi, sekerang malah di pegangin.)
" Minum teh nya dulu mumpung masih hangat." Dom menyerahkan satu cangkir teh hangat pada Deva membuat nya sedikit malu karna sudah berpikiran yang tidak tidak pada suami bule nya itu.
" Enak, Abang yang buat." Deva menyerahkan cangkir kosong pada Dominic yang tengah tersenyum padanya.
" Iya, khusus buat istri Abang." Ya Ampun Deva merona kembali, sembari bangkit dari duduk nya.
" Kamar mandinya di mana." Deva berbalik saat dia belum tahu di mana letak kamar mandinya.
" Mau mandi bareng Abang bilang aja." Iihhss dengan pd nya dia berpikiran Deva ingin mandi bersamanya , akal bulus dari mana itu.
" Ihh Abang mah orang neng nanyain kamar mandi nya dimana ini malah ngajak mandi bareng." Deva terus menggerutu sembari mengikuti langkah kaki sang suami.
cleeekk...
Dominic membuka sebuah pintu yang ada di dalam kamar dan ternyata itu adalah ruangan kamar mandi yang bersebelahan dengan Walkcloset.
Deva terperangah melihat keadaan kamar mandi yang ada di hadapan nya saat ini.
' Ya Allah gusti ieu tempat ibak atawa naon, neng mah bakalan betah lamun suruh sare di die gek. ( Ya Allah gusti ini tempat mandi atau apa, neng bakalan betah kalau suruh tidur di sini juga) Jiwa ketidak mampuan Deva meronta ronta minta keluar saat ini juga melihat kamar mandi mewah yang siap dia pakai.
" Ayo Abang bantu, biar kamu gak teriak lagi saat abang gak ada." Deva hanya memonyongkan bibirnya membuat Dom terkekeh.
Dominic mengisi penuh bathub dengan air dan sabun pewangi.
" Kamu berendam saja dulu biar rileks dan pusing nya hilang. Abang mau kebawah sebentar jadi jangan panggil Abang." Cup...Dominic mengecup bibir tebal sexy itu yang sedari tadi cemberut. Dom pun keluar dari kamar mandi meninggalkan Deva yang masih terpesona.
" Ck ck ck sing sapopoe gek neng mah bakalan betah di kamar mandi gek Abanggggg!!" ( Ck ck ck biar seharian pun neng bakalan betah di kamar mandi juga Abanggg) Deva memekik riang dan buru buru melepaskan seluruh pakaian nya tanpa menyisakan apapun di tubuhnya.
Deva langsung masuk kedalam bathub yang penuh dengan busa sabun.
"Aahhh asa keur nge'em na walungan".( ah berasa lagi berendam di sungai)
" Neng kudu selfi yeh, terus kirim ka emak pasti emak bakalan hayangen kadie. Engke lamun emak jeng Qilla kadie di ajak nge'em jeng neng" ( Neng kudu selfi nih, terus kirim ke emak pasti emak bakalan mau kesini. Nanti kalau emak sama Qilla kesini di ajak berendam sama neng)
Deva terus bermonolog sendiri sembari memainkan busa busa lembut yang membalut tubuhnya.
πΊπΊπΊ
"Maaf tuan ada yang ingin bertemu tuan di lantai dasar." Dom menoleh saat ada seorang pelayan menghampirinya.
__ADS_1
" Siapa?" Dom masih meminum kopi nya santai seakan tidak memperdulikan orang di sekitarnya.
" Nona Rossaline tuan, itu yang dia katakan tadi." Sang pelayan menunduk saat melihat sorot tajam dari manik safir itu.
" Rossaline..". Dominic bergumam pelan berusaha mengingat apa dia pernah berurusan dengan wanita yang bernama Rossaline.
" Usir saja dia." Dominic tidak peduli pada siapapun kecuali menyangkut dengan Deva dan keluarganya dia akan cepat bertindak.
" Tapi wanita itu mengancam akan membuat kekacauan kalau tuan tidak mau menemuinya." Pelayan itu terlihat ketakutan.
Dominic menghela napasnya panjang dan menegak kopi nya dengan cepat.
"Ina , kau jangan biarkan nyonya mu turun ke bawah, Aku akan menyingkirkan sampah tidak berguna itu dulu." Pelayan yang bernama Ina itu hanya mengangguk patuh.
Dom menuruni tangga untuk sampai ke lantai dasar.
Hentakan sandal rumahan yang dia pakai terdengar di seluruh anak tangga yang dia injak. Dan saat tinggal beberapa anak tangga lagi dia turuni Dominic sudah melihat seorang wanita yang tengah duduk angkuh di sofa milik nya.
" Siapa kau! mau apa kau kemari!" Suara bariton sexy itu membuat wanita itu menoleh dan bangkit dari duduk nya.
Namun wanita itu belum menjawab pertanyaan Dominic malahan dia menampilkan senyum yang menggoda pada Dom.
Dengan pakaian yang Massya Allah bikin orang mupeng dia melenggak lenggok kan tubuh sexy nya untuk mendekati Dominic
" Hai Aku Rossaline, sepertinya kau lupa padaku." Wanita itu mengangkat tangan nya di depan Dom, namun tidak di gubris oleh Dominic.
" Mau apa kau kemari." Dom tidak memperdulikan celotehan tidak berguna itu. Merasa di abaikan membuat Rossaline tersenyum kecut.
" Aku ingin bicara dan bertemu dengan mu, tidak bisakan kita duduk dan mengobrol sebentar." Rossaline terlihat makin menggoda Dom dengan mencondongkan tubuhnya agar buah pribadinya yang sudah keluar dari area tapal batas semakin keluar.
" Bukan kah kau sudah duduk tadi bahkan sebelum aku mengijinkan nya." Rossaline di buat mati kutu oleh Dom, dia benar benar di permalukan apa lagi begitu banyak pelayan lalu lalang melihat mereka.
' Sialan pria ini benar benar susah di ajak manis.' Wanita itu terus saja mengumpat dalam hati.
" Tidak ada yang penting bukan , silahkan pintu keluar ada disana. Tidak di pindahkan!"
Rossaline yang paham kalau dirinya sudah di usir secara halus mencoba menahan emosinya.
" Apa kita tidak bisa mengobrol sebentar, atau berkencan mungkin." Dom jengah mendengar rayuan sampah yang terus keluar dari mulut berbisa wanita itu.
" Aku tidak berminat, dan kalau pun aku ingin berkencan pasti nya bukan denganmu tapi hanya dengan istriku, kekuarlah." Dom berbalik menaiki tangga lagi untuk menuju lantai atas.
" Aku bisa berbagi dengan nya." Pekikan wanita itu membuat Dom menghentikan langkahnya dan berbalik. Terlihat Rossaline mengulum senyum nya dia yakin Dominic akan tertarik dengan tawaran nya. Lelaki mana yang tidak tergoda oleh nya.
" Istri ku tidak akan mau membagikan milik nya dengan orang lain, Apa lagi dengan sampah sepertimu dan aku pun tidak tertarik!" Dom kembali melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga
Rossaline yang terang terangan di tolak oleh Dominic hanya menghentak hentakan sepatu heels tingginya itu kelantai kemudian berbalik meraih tas mahalnya yang ada di atas meja lalu melangkah keluar.
'Awas saja kau Dominic , kau akan menyesal sudah menolak ku untuk kesekian kalinya.' Dengan perasaan malu dan sakit hati wanita itu benar benar keluar dari penthahouse pribadi milik Dominic yang sekarang sudah atas nama Deva.
Clleek... Pintu kamar terbuka saat Dominic masuk kedalam dia melihat seorang wanita tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan hanya menggunakan handuk dan lilitan handuk kecil di atas kepalanya.
" Sudah selesai mandi nya." Deva menoleh saat terdengar suara laki laki yang amat dia kenali.
" Udah, Abang dari mana." Deva masih mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dom melangkah menuju laci dan membawakan hairdrayer untuk mengeringkan rambut Deva.
" Habis buang sampah." cup..Dom malah mengecup bahu terbuka Deva membuat nya mendelik ke arah sang suami
" Abang jangan macam macam, Neng baru aja selesai mandi. Neng belum mau mandi lagi." Deva masih memberi peringatan keras pada Dominic yang mana malah membuat dia terkekeh.
" Abang enggak macam macam, cuma satu macam saja." Dengan santai nya dia malah terus menciumi seluruh bagian pundak dan wajah Deva yang mana membuat Deva memekik.
" Abaangggg....!!!"
**HOLLA GAES, MAAF YA KALAU ALURNYA ABURADUL, AMBURASUT . NIKMATIN AJA OK
HATUR NUHUN**
__ADS_1