ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
Sadar


__ADS_3

Tit...Tit...Tit...


Suara Elektrokardiogram(EKG) masih terdengar nyaring di ruangan itu.


Deva terlihat masih setia membersihkan tubuh Dominic dengan cara mengompresnya menggunakan air hangat.


"Kalau Abang udah sadar kita nanti potong rambut ya. Rambut Abang udah panjang, jenggot nya juga. Kalau gak di potong nanti ganteng nya ilang." Deva berbicara sendiri sembari membelai lembut kepala dan rahang tegas Dominic.


Cleekk...


Deva mengalihkan pandangan nya ke arah pintu yang terbuka


"Selamat pagi kakak ipar."


"Selamat pagi juga, kamu di sini Jack. Basstian mana?" Jack meletakan dua buah paper bag dan satu parcel buah di meja.


"Basstian ku suruh kembali ke Kanada, jadi aku yang akan menemani kakak ipar dan Boss di sini." Deva hanya mengangguk dan tersenyum lalu melanjutkan kegiatan nya lagi


"Yushika tidak ikut." Jack hampir tersedak ketika Deva bertanya soal Yushika


"Dia..."


"Selamat pagi nyonya." Ucapan Jack terhenti saat seseorang masuk kedalam ruang rawat inap yang di tempati oleh Dominic


"Yush kamu juga ikut." Yushika hanya mengangguk dan tersenyum kikuk. Bukan Jack yang minta nya untuk ikut lebih tepat nya dia yang memaksa ikut. Alasanya klasik karena merasa bersalah pada Deva soal penculikan waktu itu.


"Iya nyonya, saya memaksa untuk ikut pada tuan Jack. Maafkan saya karena saya tidak bersama nyonya waktu itu jadinya nyonya di culik dan tuan Boss jadi seperti ini." Yushika terlihat tak enak hati karena kejadian waktu itu. Apa lagi saat dia melihat kondisi Dominic saat ini, pasti Deva sangat sedih sekali melihat kondisi suaminya sekarang.


"Tidak apa apa Yush, nama nya juga musibah kita tidak ada yang tahu dan tidak ada yang mau." Deva memeras handuk kecil itu dan mengelap lembut telapak tangan Dominic.


Saat Deva mengelap lembut setiap jari jari panjang dan besar Dominic , Deva merasakan jari jari suaminya itu bergerak dan layar monitor EKG bergerak lebih cepat.


"Jack." Deva menjadi panik saat melihat layar EKG yang terhubung dengan jantung suaminya itu.


Jack yang mendengar nama nya terpanggil pun langsung bangkit dari duduk nya.


"Jack tangan Abang tadi bergerak, terus layar alat ini juga cepet banget jalan nya. Jack , neng gak mau terjadi apa apa sama Abang." Air mata Deva kembali turun saat melihat kelayar EKG .


"Aku akan mengabari Dokter dulu." Jack memencet salah satu tombol yang ada di dekat ranjang.


Tidak lama datang lah Dokter beserta beberapa perawat, termasuk perawat yang sempat adu tegang dengan Deva kemarin.


"Tolong anda semua keluar terlebih dahulu."


Deva seakan tidak mau keluar dari sana saat Dokter memperingati mereka untuk menunggu di luar.


"Ayo kakak ipar." Jack menarik bahu Deva agar wanita itu menuruti perintah Dokter


"Tapi Abang gimana! Jack, neng gak mau ninggalin Abang."


"Ada Dokter yang menangani nya di sini, kita keluar dulu sebentar."


"Ayo nyonya." Yushika ikut menenangkan Deva dan membawanya keluar dari ruangan itu.


Deva di dudukan di kursi tunggu yang ada di sana. Yushika masih menggenggam erat tangan Deva mencoba menguatkan wanita mungil ini.


"Abang harus kuat, Abang harus kuat. Abang harus kuat demi neng sama dede bayi. " Deva terus saja berdoa di dalam hati tanpa berhenti


Cleekk...


Deva buru buru bangkit saat salah satu perawat keluar dari ruangan itu


"Bagaimana sus?"


"Dokter yang akan menjelaskan pada anda, saya permisi." Sang Suster mengabaikan pertanyaan Deva membuat dia semakin tidak tenang. Apa yang terjadi pada suaminya di dalam sana.


namun tidak lama keluarlah Dokter yang memeriksa Dominic


"Bagaimana keadaan suami saya Dok." Deva masih belum tenang walaupun dia melihat raut wajah tenang sang Dokter.


"Suami anda sudah melewati masa kritisnya, dan tuan Vins sudah sadar." Mendengar itu Deva langsung masuk tanpa menghiraukan siapapun.


Saat masuk kedalam hal yang pertama Deva lihat adalah suaminya yang terlihat sudah membuka kedua netra safirnya

__ADS_1


"Abanggg...!" Deva memekik keras membuat dua orang perawat yang sedang membereskan alat alat yang sempat terpasang di tubuh Dominic pun menoleh.


Ralat hanya satu perawat yang sedang menjalankan tugasnya dengan baik dan profesional sedangkan yang satu nya tengah asik curi pandang pada Dominic.


Deva segera menghamburkan tubuh nya untuk memeluk Dominic yang terlihat bersandar di kepala ranjang yang sudah di naikan.


"Kau siapa?"


DEG....


***


Plaakk.... Satu tamparan keras mendarat di pipi tirus Miranda


"KENAPA KAU MEMBUNUH ROSSALINE ! DIA ITU SODARI MU MIRANDA." Miranda hanya melirik sinis pada pria paru baya yang menampar nya tadi.


"Sebegitu sayang nya kau pada anak haram mu itu Dad. Cih...Aku tidak pernah dan tidak akan pernah menganggap jalang busuk itu sodariku. Dia hanya anak wanita jalang yang telah membunuh ibuku, camkan itu baik baik."


Fransisco hanya mengusap wajahnya kasar saat melihat Miranda beranjak meninggalkan nya.


"Dan satu lagi, aku akan membunuh jalang mu itu Dad." Fransisco menegakan kepalanya saat mendengar ucapan putri nya


"Miranda jangan lakukan itu Daddy mohon. Daddy tidak mau kamu begini, tolong dengar kan Daddy sekali ini saja." Fransisco terlihat frustasi , Dia tahu putrinya itu tidak akan main main dengan ucapan nya. Miranda lebih licik dari nya dia tahu itu.


Tapi seekan tuli Miranda malah melanjutkan langkah nya untuk menaiki tangga menuju ke kamarnya. Ya Miranda langsung kembali ke Kanada setelah dia menghabisi sodari tiri nya yang tengah bermesraan dengan Valdo .


Fransisco mengetahui bahwa Miranda sudah membunuh Rossaline dari salah satu bawahan nya yang diam diam mengikuti Miranda ke NewYork..


"Maafkan Daddy Rosse, maafkan Daddy."


Fransisco menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan nya. Walaupun Rossaline terlahir dari sebuah kesalahan tanpa cinta, namun tetap saja Rossaline adalah darah daging nya. Bahkan Rossaline amat mirip dengan Miranda, hanya saja mata hati Miranda sudah di butakan oleh kebencian nya.


🌻🌻🌻


"Kau siapa?"


Deva mematung dan menghentikan isakan nya saat mendengar kata itu dari mulut suaminya. Tidak mungkin suaminya lupa dengan nya kan, yang di tusuk itu dada nya bukan otak nya tidak mungkin suami nya hilang ingatan kayak di sinetron sinetron yang sering di tonton oleh Emak.


"Siapa? Abang lupa sama Neng."


Dominic mengerutkan dahi nya saat melihat wajah sembab wanita mungil yang tadi memeluk nya itu


"Aku tidak mengenalmu." Diam diam salah satu suster yang melihat intraksi Dom dan Deva pun tersenyum sinis ke arah Deva. Air mata Deva tiba tiba lolos begitu saja, dia bahkan meremas kuat baju nya sendiri


"Abang gak kenal sama Neng." Deva bergumam lirih namun masih bisa terdengar oleh Dominic. Kalau suaminya tidak mengenalinya apa lagi dia sampai tidak mengakui janin yang tengah Deva kandung. Deva bertekad untuk kembali ke kampung halaman nya, dia tidak akan pernah mengingat atau mengenal manusia yang bernama Dominic. Deva akan membesarkan anak nya sendiri tanpa embel embek klan Vins.


"Ya-ya udah neng mau pulang aja." Entah kenapa perasaan Deva mudah sekali campur aduk setelah hamil. Kadang ingin marah, kadang ingin nangis,kadang capek kadang ingin ngomel sendiri nano nano deh rasanya. Dan sekarang perasaan nya ambyar seambyar ambyar nya saat suami nya tidak mengenalinya lagi.


"Kalian berdua keluarlah, aku ingin berbicara empat mata dengan wanita imut ini." Terlihat wajah kesal di salah satu perawat itu saat Dominic mengusir mereka untuk keluar dari sana. Padahal dia ingin berlama lama berada di dalam.


Setelah kedua perawat itu keluar Dominic membenarkan posisi sandaran duduk nya sembari menatap terus ke arah Deva yang tengah terdiam seribu bahasa.


"Kamu gak kangen sama Abang." Deva yang awalan nya menunduk langsung mendongakan wajahnya untuk menatap manik safir indah itu.


Dengan kapasita otak setengah giga nya Deva masih lola dengan ke adaan ini.Deva masih terdiam di tempat dengan posisi masih duduk di sisi tempat tidur Dominic.


"Hei kamu gak mau peluk Abang lagi hem. Apa kamu mau suster tadi yang peluk Abang." Otak setengah giga milik Deva mulai onn sekarang ternyata suami bule gelo mesum nya itu hanya mengerjainya.


Plakkk...


Satu tabokan pedas Deva darat kan di lengan kekar suaminya


"Dasar bule gelo, neng teh udah hampir terkena serangan jantung tau. Neng kira Abang beneran lupa sama neng."


Dominic malah terkekeh melihat wajah masam Deva sembari mengelus lengan nya yang lumayan terasa panas karena tabokan wanita mungil di hadapan nya ini.


"Sini atuh." Dom merentangkan kedua tangan nya agar Deva masuk kedalam dekapan nya.


"Cih..!" Deva berdecih kesal namun seperdetik kemudia dia masuk kedalam pelukan Dominic walaupun harus hati hati agar tidak menyakiti luka yang ada di dada suaminya


"Abang tidak akan pernah lupa sama kamu sayang. Kamu adalah alasan Abang untuk tetap bisa bertahan dan hidup." Dom memberikan banyak kecupan di pucuk kepala Deva


"Neng tau gak mungkin abang lupa sama neng. Gak mungkin Abang kena Anemia orang yang kena tusuk nya di dada kok bukan di kepala." Dominic mengerenyitkan dahi nya saat mendengar kata Anemia

__ADS_1


"Anemia?"


"Itu penyakit yang bikin orang hilang ingatan, kan nama nya anemia."


"Amnesia sayang amnesia! anemia mah kurang darah." Dominic gemas sekali pada istri mungil nya itu


"Kurang darah, kurang duit , kurang kasih sayang, sama kurang ngajar."


"Heh." Dominic menyentil kening Deva pelan saat ucapan Deva gak tentu arah.


"Abang..?"


"Hm..!"


"Abang..?"


"Apa sayang." Deva mendongakan wajahnya menatap langsung ke arah manik safir milik suaminya


"Jangan tinggalin kita lagi ya." Dengan mata yang berkaca kaca Deva menyelusupkan wajahnya ke dalam dada Dominic sembari terisak pelan.


"Hei kenapa nangis. Abang janji tidak akan pernah ninggalin kamu sayang." Dom semakin mengeratkan pelukan nya tidak peduli luka nya kembali tertekan


"Bukan cuma neng, tapi ini juga. Abang gak boleh ninggalin dia." Deva membawa telapak tangan besar Dominic untuk menyentuh perut datarnya. Dominic mengerenyit heran namun seperdetik kemudian otak jenius nya langsung konek


"Maksud kamu ." Deva menganggukan kepalanya sebelum Dominic melanjutkan ucapan nya


"Berapa usia nya." Tangan Dominic bergetar saat mengelus lembut perut rata Deva. Ini adalah hadiah terindah dari Tuhan setelah dia sadar.


"6 minggu, dede bayi nya baru berumur 6 minggu masih kecil." Deva tersenyum manis sembari mendongakan wajah nya ke arah Dominic. Dan secepat kilat dia menyambar bibir tebal sexy yang selalu dia rindukan. Dom memberi kecupan lembut di bibir Deva, Deva pun tidak menampik dia juga sangat merindukan Dominic. Merindukan ciuman nya, belaiannya, sentuhan nya dan si Mr Cau Boma milik suaminya.


"Oh shiitt...!" Dominic melepas pagutan nya saat dia mendengar orang mengumpat dari arah pintu.


Ternyata Jack yang tengah menutupi kedua mata Yushika dengan telapak tangan nya.


"Tuan kenapa mata saya di tutup." Yushika heran kenapa saat mereka hendak masuk kedalam Jack malah menutup kedua matanya.


"Ada adegan yang tidak boleh di lihat oleh anak kecil." Yushika menghempaskan tangan Jack kasar. Dia tidak menerima di katai anak kecil oleh Jack, dia sudah dewasa usis nya sudah 21 tahun.


"Aku bukan anak kecil tuan, usia ku sudah 21 tahun." Yushika melipat kedua tangan nya di dada dan menatap horor pada Jack yang membuat pria jangkung itu salah tingkah.


"Kau tidak tahu gunanya pintu Jack." Salah tingkah Jack berakhir saat mendengar suara bariton dari belakang tubuhnya.


"Maaf Boss kami kira tidak akan ada adegan live di ruangan ini." Jack menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal


Jangan tanyakan Deva bagaimana. Yang pasti dia saat ini sangat sangat malu pada Jack dan Yushika karena sudah melihat adegan live nya bersama Dominic walaupun itu hanya ciuman. Rasa nya ingin sekali Deva mengelepin muka nya di walungan jero( sungai dalam)


"Besok kita pulang, persiapkan semua nya Jack."


"Tapi Abang masih sakit kenapa harus pulang besok." Deva menatap tak percaya pada suaminya. Baru juga sadar suami bule nya itu malah minta pulang.


"Abang maunya cuma di rawat sama kamu dirumah. Kau dengar Jack."


"Baik Boss!"


Deva hanya pasrah begitu juga Jack. Mereka harus menuruti titah sang mulia raja.


"Waras gek encan geus menta balik."( sembuh aja belum udah minta pulang)


Deva hanya bergumam sendiri, dia sedikit kesal pada suaminya


"Abang gak mau kamu ikut sakit karena kelamaan nungguin Abang di sini sayang. Kasian dede bayi nya." Dom mengelus lembut perut rata Deva


"APA DEDE BAYI!!" Ucapan serempak Jacob dan Yushika membuat Deva dan Dominic mengarahkan pandangan nya pada mereka berdua.


Ciiee kompak nih ye, uhuuiii jodoh nih.


**HOLLA KETEMU LAGI SAMA NENG OTHOR YANG CETAR MEMBAHENOL SAKOLONG LANGIT.


JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN NYA YA


TONG HILAP, HATUR NUHUN SADAYANA PARA READERS


BABAYYYYY......😘😘😘😘😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2