ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
Tangan Kecil Nakal !!


__ADS_3

**JANGAN LUPA VOTE, LIKE DAN KOMEN NYA YA


HATUR NUHUN


SELAMAT MEMBACA**...


"Selamat jalan, sampai kan salam saya untuk Tuan Vins". Basstian membalas jabatan tangan Aldi saat mereka hendak masuk ke dalam bandara karna sebentar lagi akan cek in


"Terimakasih Tuan Aldi, saya pasti akan menyampaikan salam anda pada Boss saat kami sudah sampai nanti." Aldi menganggukan kepalanya sembari tersenyum lalu dia menuju mobil nya kembali.


Setelah selesai acara basa basinya Basstian, Emak, Bapak, Zae serta si gadis jutek Aqilla akhirnya pesawat yang hendak mereka naiki take off sebentar lagi.


Di dalam pesawat Emak duduk dengan Zae sedang kan Bapak duduk dengan penumpang lain, dan beruntung nya bagi Basstian Aqilla duduk bersamanya. Terlihat senyum terus mengembang dari bibir pria muda bule itu sedang kan gadis di hadapan nya terlihat datar, dia menyumpal kedua telinganya menggunakan earphone.


Sebenarnya Aqilla agak sedikit pusing saat keluar dari mobil seperti nya dia mabuk perjalanan sama seperti yang Deva alami dulu namun Qilla tidak separah teteh nya itu, dan semoga dia juga tidak mengalami mabuk pesawat.


Perjalanan antara Indonesia - Kanada menempuh waktu sekitar 20 jam 45 menit, waktu yang sangat panjang serta melelahkan.


Saat pesawat hendak naik, Aqilla secara tidak sadar menggenggam tangan sebelah kanan Basstian yang ada di samping nya. Karna ini adalah kali pertamanya dia naik pesawat terbang alhasil Aqilla sangat gugup dan takut, begitu pun dengan Zae dan Emak mereka terlihat berpegangan tangah


"Mak Zae sien, asa arek hiber ning mak."( Mak Zae takut, berasa mau terbang sih mak)


Zae berbisik sembari terus menggenggam tangan emak yang juga tengah berkeringat.


"Anggap weh urang ker maen aayunan."( anggap saja kita lagi main ayun ayunan)


Emak mencoba menenangkan Zae padahal emak juga sangat takut dan gugup, emak terus beristigfar dalam hatinya saat pesawat mulai terbang.


Aqilla masih belum sadar tengah menggenggam tangan Basstian, sampai dia sadar saat Basstian membalas genggaman nya. Aqilla langsung melepas genggaman nya karena gugup.


"Maaf..". Hanya kata itu yang terucap dari bibir tipis Qilla yang membuat Basstian tersenyum tipis sedangkan Aqilla dia membuang wajah nya ke arah jendela yang menampakan pemandangan dari atas langit.


Karena perjalanan memakan waktu yang lama tidak terasa Emak, bapak ,Zae serta Aqilla tertidur. Aqilla tertidur dengan menyandarkan dirinya di tempat duduk yang dia duduki, terlihat tidak nyaman sekali pasti saat dia terbangun nanti lehernya akan terasa sakit. Basstian yang masih tersadar menoleh pada gadis kecil yang ada di samping nya saat ini. Bukan mencari kesempatan dalam kelelapan , tapi Basstian kasihan melihat posisi tidur Aqilla yang tidak nyaman.


Akhirnya Basstian menarik tubuh mungil itu agar lebih dekat dengan nya walaupun masih terlahang tapi ini pasti lebih nyaman dari posisi tidur Qilla tadi. Basstian menempatkan kepala Aqilla tepat di dada nya, dengan perasaan tulus Basstian mengelus lembut punggung kecil Aqilla agar gadis itu semakin terlelap .


Entah dorongan dhajal dari mana dengan berani dia mengecup pucuk kepala Aqilla yang terbalut hijab pasminah coklat itu. Kalau sampai Aqilla tahu apa yang di lakukan Basstian saat ini pada nya pasti Aqiila akan menghajarnya habis habisan.


Basstian belum tahu Aqilla adalah pemegang salah satu kesatria pencak silat di sekolah nya , di balik sikap nya yang manis Aqilla bisa menghajar dua orang pria dewasa sekaligus saat mode perlindungan dirinya berfungsi.


"Gadis galak". Basstian tersenyum tipis mendengar nafas teratur Aqilla menandakan bahwa gadis kecil yang ada di dalam rengkuhan nya saat ini tengah terlelap.


Tidak terasa pesawat sudah sampai di Bandar udara internasional Lester B Pearson Toronto.


__ADS_1



Aqilla menggeliat saat mendengar suara himbauan seorang pramugari karena pesawat sudah sampai di tujuan.


Aqilla sangat terkejut saat tubuh mungilnya di rengkuh seseorang , saat Aqilla mendongakan kepalanya ke atas dia melihat seorang pria masih memejamkan matanya , terlihat wajah tagas dan tampan dengan hidung bangir serta alis tebal sungguh perpaduan yang sempurna cocok sekali kalau di jadikan sebagai perbaikan keturunan.


Aqilla menggelengkan kepala nya mencoba mengenyah kan pikiran laknat itu, ya ampun pikiran dari mana itu.


Aqilla mencoba menyingkirkan tangan besar itu dari tubuhnya, sebenarnya Qilla marah pada pria yang merengkuhnya ini. Ingin sekali Aqilla menghajarnya karena sudah berani memeluk tubuh nya tanpa ijin, tapi Aqilla harus mengendalikan emosinya saat ini. Ini tempat umum akan ada saat nya Aqilla memberi hadiah spesial untuk pria ini.


Dengan kasar Aqilla melepas paksa rengkuhan Basstian, hingga Basstian terbangun padahal Basstian sudah terbangun saat pramugari sedang memberikan instruksi. Dia hanya ingin melihat apa gadis yang ada di dalam pelukan nya ini akan marah saat terbangun nanti.


Ternyata Aqilla tidak marah, padahal Basstian sudah siap kalau Aqilla akan menampar atau memukulnya ketika dia bangun. Basstian bernafas lega saat ini , padahal dia tidak tahu kalau Aqilla tengah menahan amarahnya saat ini.


"Kita sudah sampai." Basstian berpura pura mengucek matanya seakan dia baru terbangun dari tidur panjang nya.


"Hmm...". Hanya sebuah deheman dingin yang Basstian dengar dari gadis di sebelahnya yang tengah sibuk membetulkan hijab nya yang berantakan.


Setelah pesawat landing sempurna dan sudah di instruksikan boleh keluar Aqilla segera bangkit dari duduk ya. Dia menghampiri emak Zae dan Bapak yang sudah siap untuk keluar dari pesawat sedangkan Basstian mengikuti mereka dari belakang. Entah kenapa aura Aqilla lebih beku dari sebelum nya, apa gadis itu tahu kalau Basstian sudah mencuri kecupan di pucuk kepalanya saat dia tertidur? Kalau begitu bisa gawat.


Setelah mereka berlima keluar dari bandara ternyata sudah ada mobil yang menjemput mereka. Di dekat mobil sudah terlihat Jack dengan pakaian formalnya.


"Selamat datang di Kanada Emak, Bapak , Zae dan Qilla." Jack ssdikit membungkukan kepalanya sebagai penghormatan kepada mertua Bossnya itu.


Perjalanan Toronto ke Ottawa membutuhkan waktu sekitar 4jam 40 menit perjalanan memggunakan mobil saat jalanan lenggang. karena jalanan saat ini tengah ramai maka waktu yang mereka butuhkan mungkin lebih dari itu.


"Abang...". Deva menuruni anak tangga dengan hati hati, walaupun luka operasi nya sudah mulai mengering namun masih terasa sakit dan ngilu saat dia berjalan agak cepat.


Deva berjalan menuju lantai dua rumahnya, kata salah satu pelayan suami bule nya sedang berada di ruang Gym pribadinya. Dengan langkah pelan Deva menuju ke ruangan itu, Deva membuka pintu itu pelan pelan. Dia masuk kedalam ruangan yang penuh dengan alat alat olahraga itu tanpa ragu, di sana terlihat seseorang yang tengah berlari sedang di sebuah treadmill.


"Abang...". Pria itu menoleh keasal suara , dia melihat wanita bertubuh mungil tengah berjalan ke arah nya dengan perlahan.


"Kenapa kamu turun, harus nya kamu istirahat sayang." Dominic mematikan alat itu, kemudian dia turun dan melangkah mengikis jarak pada Deva.


"Neng bosen tiduran terus." Deva meraih handuk kecil yang ada di meja, dengan langkah pelan dia semakin mendekat pada suami bule nya itu.


Saat Dia sudah berada di dekat Dominic dengan lembut Deva menyapu keringat yang mengalir di wajah serta leher Dominic dengan lembut walaupun Deva harus berjinjit untuk menggapai nya.


Karena gemas Dominic mengangkat tubuh mungil Deva dan mendudukan nya di meja yang ada di sana.


Dengan perlahan Deva menyeka butiran keringat yang masih terus mengalir di dahi dan leher Dominic. Entah kenapa saat Dominic berkeringat begini malah terlihat sangat tampan dan menggoda di mata Deva.


Deva langsung menggelengkan kepalanya, ingat butuh waktu tiga bulan untuk pulih jangan berfikiran mesum dulu. Tapi mana bisa kalau suami bule gelo mesum nya ini selalu terlihat hot dan jantan di mata Deva.


"Kamu kenapa sayang, kepala kamu pusing." Dominic menyentuh pipi Deva yang sedikit merona akibat khayalan mesum nya itu. Deva menggeleng pelan lalu melanjutkan kegiatan nya menyeka keringat Dominic .

__ADS_1


"Neng gak papa." Deva tersenyum lembut membuat Dominic ikut tersenyum, senyum yang selalu ingin Dom lihat setiap hari .


Karena merasa badan nya lengket Dominic dengan sengaja membuka kaos abu abu nya yang sudah basah oleh keringat.


Deva melototkan matanya saat Dominic selesai menanggalkan kaosnya itu.


"A..Abang kenapa buka baju." Deva sedikit tergagap saat melihat Dom sudah bertelanjang dada di hadapan nya. Deva menelan ludah nya kasar pikiran kotornya semakin mengisi otak minimalisnya saat ini. Bagaimana tidak Dominic yang saat ini sendang bertelanjang dada di depan nya, dengan menampilkan senyum penuh pesona di dukung oleh bentuk tubuh nya yang menggoda iman Deva.


Dada bidang berotot tapi tak berlebihan, otot perut keras yang di penuhi roti bantal plus selai coklat kesukaan Deva, yang mana membuat Deva ingin sekali menggigitnya.


Dominic yang melihat wajah tegang Deva semakin berniat untuk menjahili istri imutnya itu dan Dom semakin merapatkan tubuh nya pada Deva.


"Kamu mau pegang." Deva mendongakan kepalanya yang sedari tadi tertuju pada perut yang penuh roti bantal itu.


"Hah..". Otak Deva Loading nya lama saat ini membuat Dom semakin usil. Dominic meraih tangan mungil Deva yang masih memegang handuk dan meraih handuk itu lalu melemparnya kesembarangan arah, Dom menuntun tangan kecil lentik itu untuk menyentuh perut keras berotot miliknya.


Seakan terhipnotis oleh manik safir yang selalu bisa membuatnya kagum, Deva menuruti kemauan Dominic untuk menyentuh perut yang di penuhi oleh roti bantal yang tanpa selai.


"Kamu suka sayang." dengan tidak tahu malu nya Deva menganggukan kepalanya, tangan kecil namun nakal nya itu terus meraba kesana kemari membuat Dominic memejamkan matanya seakan sangat menikmati apa yang tengah di lakukan istri imutnya.


Tanpa ragu dan malu Deva menaikan sentuhan nya ke arah dada bidang berotot itu. Jari lentik Deva terus saja bermain di sana hingga Deva tidak sadar atau entah apa yang sedang merasuki nya Deva memberikan kecupan lembut di perut berotot Dominic hingga membuatnya melenguh nikmat saat bibir tebal sexy Deva memberi kecupan basan nan lembut di sana.


"Aaahh Sa..Sayang...!" Dominic memperingati dirinya dan Deva agar tidak terbuai, Dom tahu Deva masih dalam masa pemulihan jadi Si Mr.Cau Boma nya belum di ijinkan untuk melakukan pembibitan sementara waktu.


Deva yang melihat Dominic tengah menahan sesuatu hanya terlihat heran.


"Abang kenapa?" Deva memindahkan tangan nya untuk mengelus rahang tegas yang di tumbuhi bulu halus itu.


"Jangan lakuin itu ok, Abang bisa bisa tidak akan kuat menahan nya." Dominic terlihat sayu mata nya masih tertutup kabut gairah.


"Memang nya Neng mgelakuin apa." Dengan polosnya Deva berbicara seolah olah dia tidak bersalah apapun. Dengan gemas Dominic malah meraih tengkuk Deva, sebelum dia menyambar bibir cerewet itu Dominic masih sempat melepaskan hijab instan kuning yang membalut kepala Deva.


Dengan gerakan lembut Dominic mengecap, menyesap, mengecup bibir tebal sexy milik Deva. Deva yang terbawa arus, sadar atau tidak sebelah tangan nya sudah berada di leher Dominic sedangkan yang satunya terus menjelajah kesana kemari sampai tidak sadar tangan kecil nakal itu sudah berada di area perbatasan si Mr.Cau Boma miliknya.


Dominic semakin memperdalam pagutan nya apa lagi saat tangan nakal Deva berhasil masuk ke area perbatasan Mr.Cau Boma. Dengan tangan besar nya dia semakin mempererat rengkuhan nya di pinggang kecil Deva.


Sesapan nya kini mulai turun di rahang serta leher Deva yang mana sentuhan itu membuat Deva semakin memasukan jemari lentik nya kedalam area perbatasan.


Dominic melenguh tertahan saat dia merasakan sentuhan lembut di Mr.Cau Boma nya membuat Dom semakin pening dan sesak.


"Kamu harus tanggung jawab sayang." suara serak dan berat itu terdengar sexy di telinga Deva yang mana membuat Deva semakin memaikan tangan nakalnya semakin nakal.


"Emang nya neng ngehamilin Abang sampai harus tanggung jawab." Dominic semakin pening dan gemas dia kembali meraup kasar bibir cerewet itu.


"Bukan kamu yang bakalan ngehamilin Abang, tapi Abang yang bakalan hamilin Kamu." Deva tergelak saat melihat wajah kesal suaminya , Deva sangat menikmati saat saat seperti ini bersama Dominic. Walaupun untuk beberapa bulan kedepan dia belum bisa memberikan apa yang Dominic mau , setidak nya dia bisa menyenangkan suami bule nya itu melalui sentuhan, kecupan dan ciuman nya sama seperti saat ini bukan kah itu juga bisa jadi pahala untuk nya.

__ADS_1


**NUNGGUIN Aa BaBas di hajar Aqilla yak, huuuuaaaahaaaaa


NENG OTHOR JUGA LAGI NUNGGUINπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚**


__ADS_2