
**MAAF KALO BAHASA SUNDA NYA KASAR YA SOALNYA BAHASA SUNDA HALUS NENG AMBURASUD ,ACAKADUL. KARNA NENG PAKE BAHASA SEHARI HARIππππ
HATUR NUHUN
AWAS TYPO BERTEBARAN** !
π² : Hallo Assalamualakum.....!" Terdengar sapaan salam dari ujung telpon sana
π²: Waalaikumsallam....Aqillaaaaaaaaa.....!" Deva memekik saat dia berhasil untuk menelpon Emak di Indonsia.
π²: ....
π²: Qilla... Hallo denger teteh gak!" Deva heran kenapa Aqilla diam saja tidak bersuara.
π²: "Heemm...Iye saha sih nelpon peting peting, eweh gawean maneh nyak ( heemm...Ini siapa sih nelpon malam malah, gak ada kerjaan kamu ya)
Deva nepok jidat nya kencang, dia lupa kalau perbedaan waktu antara indonesia - kanada itu sangat jauh.
π²:" ieu teteh!!!" langsung saja terdengar garadak geruduk dari sembrang telepon sana.
π²: "Emaaaakkkkkk...Teteh nelepon....! bruugghh...bruughh...bruuugghh...Emaakkk!" terdengar Qilla seperti sedang memukul mukul pintu
*π²: " Aya naon sih Dek!" ( Ada apa sih Dek)
π²: " Teteh nelpon nih*"..
Deva bisa mendengar jelas suara emaknya yang serak seperti orang baru bangun tidur.
π²: " Hallo Neng!" Emak terlihat antusias dan senang.
π²: " Assalamualaikum emak...!"
π²: "Waalaikumsalam Neng...!"
π²: "Iya mak, kumaha kabar emak jeng Bapak, Sehat!" ( gimana kabar emak sama bapak)
π²: " Alhamdulilah , emak sama bapak sehat. kamu gimana disana neng, betah!' Emak seperti sedang menanyakan keadaan anak nya yang jadi tkw di negri orang. Ya betah atuh mak kalau sama suami mah.
π²: " Alhamdulilah Neng betah mak, neng juga sehat. Oh ya paket yang neng kirim udah nyampe belum."
π²:" Paket?... oh he'eh entos neng, gelang sama kalung hideung kan." ( oh iya udah neng, gelang sama kalung hitam kan)
π²: " iya mak itu mutiara hideung ti Maldives di belikeun Abang, tong poho bere si Siti nyak mak sapasang." ( di beliin Abang, jangan lupa kasih si siti ya mak sepasang)
π²: " Iya neng, iyeu apa bisa di jual deui kalung jeng gelang na."
π²: " Bisa Mak, soalna itu mutiara asli terus ada surat surat nya lagi lewih( lebih) mahal ti ( dari) emas nu ( punya) Wa Ratmi mak. Tapi kalau bisa jangan di jual ya mak."
π²: " insya Allah emak teu janji haaahaaa!" Deva hanya menghembuskan nafasnya saat sang emak malam tertawa di sebrang lautan sana. Tapi Deva bahagia bila orang tua dan adik adik nya juga bahagia.
obrolan terus berlanjut bahkan Deva melakukan panggilan video entah sampai berapa jam. Padahal kalau di indonesia masih malam.
***
"Sayang...!" Dominic masuk kedalam kamar, seharian ini sang istri merajuk. Dominic belum sempat menjelaskan siapa Miranda sebenarnya.
"Sayang....". Dengan suara selembut kapas sehalus pantat bayi Dom terus memanggil manja Deva. Sedangkan manusia yang di panggilnya sedang pura pura tidur di balik selimut tebal berwarna biru muda .
" Sayang, Abang mau jelasin siapa wanita itu tadi." Dom mencoba setenang dan sesabar mungkin. Sebenarnya Don bukan tipe orang yang sabar dalam menghadapi sesuatu. Tapi demi Neng Deva Abang Dom nyabar nyabarin.
Deva terlihat bergerak dari dalam selimutnya dan tidak lama dia bangun sembari menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
" Jelasin sekarang !!!" titah mutlak dari nyonya Vins tidak mau di bantah.
Dom tersenyum menawan dan semakin mengikis jarak dengan Deva. Dom duduk di samping Deva lalu dia merengkuh tubuh mungil Deva agar lebih mendekat padanya.
__ADS_1
" Wanita itu adalah anak dari salah satu para pemimpin klan, mereka selalu memaksa Abang untuk secepatnya menikah dan mempunyai keturunan, padahal Abang tidak peduli dengan semua kemauan mereka. Dan para pemimpin klan memaksa Abang supaya Abang menikah dengan wanita itu...". Omongan Dom terhenti saat Deva menyelanya
" Dan Abang mau...". Ya Ampun neng Deva kebiasaan deh.
" Jangan memotong pembicaraan Abang !" Deva tidak bisa kicep saat melihat wajah serius suami nya. Deva mengangguk cepat membuat Dom semakin mengeratkan pelukan nya dan mengecup pucuk kepala Deva yang tidak terbalut hijab itu bertubi tubi.
" Abang menolak nya, dan setelah itu Abang bertemu denganmu, lalu kita menikah selesai. Abang tidak butuh orang lain lagi karena Abang sudah punya kamu. Kamu yang akan selalu ada dan satu satunya, menjadi nyonya Vins satu satunya dan ibu dari anak anak Abang." Deva hanya mampu tersenyum mendengar penuturan suami bule nya.
" Neng boleh tanya." Dom menundukan kepalanya saat Deva berbicara sembari mendongak pada wajah nya. Bukan nya menjawab Dom malah mengecup bibir tebal sexy yang selalu menggoda nya.
" Mau tanya apa." Dom menyingkirkan anak rambut nakal yang menutupi sebelah mata Deva.
" Eeemmm...Kenapa Abang nolak wanita itu, padahalkan dia cantik, tinggi, terus sexy lagi. Dan juga seperti nya wanita itu terpelajar." Deva menundukan wajah nya sembari memilin ujung selimut.
" Karna Abang mau nya sama kamu." Dom santai menanggapi semuanya
" Kenapa , Neng kan jelek, pendek, gak sexy lagi terus Neng juga gak berpendidikan tinggi. Kenapa Abang milih neng buat jadi istri." Dom terdiam dia paham saat ini istri nya sedang membandingkan dirinya dengan wanita lain.
" Tidak ada alasan pesifik untuk itu,cantik bukan patokan seorang Dominic. Abang lebih suka tubuh mungil kamu lebih nyaman untuk di peluk. Sexy? kamu sexy sayang... Apa lagi saat kamu mendesah , itu sangat sexy."
Deva hanya membuka mulut nya lebar lebar. Ya ampun nih kepala lakik nya minta di getok kali yak, lagi serius juga masih aja mesum.
"Ab....". Protesan Deva terhenti saat Dominic melanjutkan ucapan nya.
" Dan pendidikan mu, Abang tidak peduli dengan semua itu. Pendidikan tinggi tidak menjamin ahklak dan pribadi sesesorang. dan kamu adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk iblis seperti Abang." Deva masih mencerna kata kata Dominic, kayak nya ada yang ganjal deh.
'malaikat yang di kirim Tuhan untuk iblis seperti abang'
" Jadi Abang iblis, Astagfirouloh !!! dari neraka bagian mana!" Dominic mendengus saat mendengar penuturan bodoh Deva, susah amat punya istri LOLA.
Bukan nya marah Dom malah menyerang Deva dengan kecupan dan ciuman. Dan setelah itu hanya Deva, Dominic dan Tuhan yang tahu kegiatan apa yang sedang mereka lakukan di siang hari itu.
***
Alhasil Deva harus kembali menghangatkan masakan yang sudah dia buat susah susah karna semua itu.
" Enak, Abang mau setiap hari makan nya." Deva hanya tersenyum dia kembali menyendokan satu centong nasi liwet kedalam piring Dominic. Dominic menerimanya dengan senang hati, dia tidak peduli kalau akhirnya nanti dia harus ngegym lebih sering.
" Neng bakalan masakin semua ini kalau Abang mau." Dom tersenyum sembari membelai lembut kepala Deva.
Mereka berdua menikmati makan siang yang menjelang sore, karna waktu sudah menunjukan pukul 2.30 siang.
Saat Deva tengah menikmati makanan nya, dia melihat seorang pelayan tengah membawa sesuatu.
" Apa itu." Pelayan itu menoleh saat sang nyonya memanggilnya.
" Selamat siang Nyonya Tuan , ini hanya pakaian kotor nyonya. Saya hanya ingin mencuci nya."
" Pakaian kotor, pakaian kotor siapa?" Deva bangkit dan mendekat ke arah sang pelayan yang terlihat gugup.
" Iinn..Ini pakaian kotor Tuan , nyonya." Pelayan muda itu terlihat bertambah gugup saat Deva menatapnya tidak suka.
" Tinggalkan saja disini, saya yang akan mencucinya sendiri." Entah kenapa Deva tidak rela barang barang pribadi suami nya di sentuh oleh orang lain, apa lagi oleh wanita lain.
"Ta..Tapi nyonya...". pelayan itu takut kalau Deva akan memarahinya dan memecatnya saat ini
" Sayang....". Dom segera menghampiri Deva yang masih berdiri di hadapan pelayan nya.
" Semua baju Abang biar Neng yang nyuci, yang nyetrika. Neng gak mau orang lain yang melakukan nya. Lagian Neng yang istri Abang kenapa harus orang lain, seharus nya Neng juga yang menyiapkan semua kebutuhan Abang. Pokok nya mencuci dan memasak adalah tugas Neng, Abang gak boleh ngelarang. Lagian itu pahala buat Neng" Deva terlihat serius dengan ucapan nya .
Dom tersenyum mendengarnya, kemudian dia mengisyaratkan pelayan itu untuk pergi.
'Astaga aku mau pingsan rasanya, ternyata nyonya orang yang baik'
"Kemari..". Dom merentangkan kedua tangannnya agar Deva masuk kedalam dekapan hangatnya.
__ADS_1
" I LOVE YOU.." Dominic membisikan kata cinta di telinga Deva. Sedangkan Deva dia hanya tersenyum bahagia dalam dekapan suaminya.
πππ
Waktu cepat sekali berlalu, sudah dua bulan Deva menjadi istri seorang Dominic . Kini Deva tengah menyiapkan baju kerja suaminya, karna Dom sudah satu bulan ini dia aktif kembali di Perusahaan nya.
Deva yang tengah mencari boxer Dominic di dalam lemari di Walk in closet hingga ada sebuah tangan besar tiba tiba melingkar di perutnya.
" Mencari apa hem." Dom mengendus leher Deva yang tidak tertutup hijab
"Neng lagi nyari kolor Abang, perasaan Neng narok di sini deh kenapa gak ada." Deva tengah membolak balikan semua yang ada di sana. Dominic tidak perduli apa yang tengah di lakukan oleh Deva dia masih sibuk dengan kegiatan nya.
Tangan nakalnya sudah masuk kedalam piyama tidur bermotif hello kitty yang di gunakan Deva.
" Abang...!" Deva memekik saat tangan besar Dominic meremas salah satu buah pribadinya.
" Apa hem." Dom terus saja melakukan nya
" Abang sakit." Deva semakin memekik saat Dom memilin lalu meremasnya kembali.
" Kok tambah besar sih, perasaan waktu pertama kali Abang pegang tidak sebesar ini." Deva memutar bola matanya. Di kira siapa yang ngebesarin tuh buah yang nyiram tiap hari Captain Amerika, atau amesilvi.
" Abang mau pake warna apa." Deva mengalihkan pembicaraan nya. Kalau tidak bisa bisa dia habis di di sini.
" Terserah." Akhirnya Dom melepaskan Deva membuatnya bernafas lega.
'Selamat...'
"Dengar sayang jangan senang dulu, kalau Abang gak ada meetting kamu gak bakalan Abang lepasin. Tunggu saja nanti malam."
Gleekk...Deva bersolawat dalam hati, suami bule ganteng nya emang luar biasa dalam ancam mengancam.
Dom terlihat santai menggunakan underware di hadapan Deva.
Deva hanya menghela napas pasrah, tunggu nanti malam? aaahh biarkan saja toh dia juga menikmati pertempuran bersama si Mr. Cau Boma kesayangan nya.
Deva mengambil kemeja berwarna maroon dan langsung memakai nya pada Dom sembari naik ke atas kursi.
" Abang kenapa tinggi banget sih yak, ngidam apa dulu emak mertua Neng." Deva terus menggerutu saat dia memasangkan kemeja ke tubuh atletis suaminya.
Dominic tidak menjawab dia malah mencium leher terbuka Deva karna tubuh Deva saat ini lebih tinggi darinya.
" Neng encan mandi Abang, ulah cuam cium ( neng belum mandi abang, jangan cuam cium)". Dominic tidak memperdulikan nya entah kenapa Deva selalu membuat dia bergairah bahkan saat ini si Mr.Cau Boma sudah berdiri subur siap tempur.
Mata Deva tiba tiba terfokus pada tatto yang ada di dada kiri Dominic. Sebelum Deva mengancingkan seluruh kancing nya Deva tiba tiba menyentuh ukiran itu.
" Apa Abang gak sakit saat buat ini." Deva membayakan nya saja sudah ngilu, apa lagi harus merasakan nya. Di tusuk tusuk jarum Deva langsung meringis
" Tidak, lebih sakit kalau kamu ninggalin Abang." Deva tergelak mendengar gombalan suami bule nya. Sejak kapan seorang Dominic pandai menggombal. Ya sejak saat ini dan seterusnya.
Lobang hidung Deva kembang kempis ingin tertawa.
" Abang mah gak pantes buat ngegombal". Akhirnya tawa Deva pecah sembari memukul mukul pelan dada Dominic.
Deva mengira Dom tengah menggombalinya padahal itu suara dari hati terdalam nya. Sungguh Dominic tidak akan bisa hidup benar bila suatu saat Deva meninggalkan nya.
" Abang serius!" Tawa renyah Deva seketika terhenti saat bibir nya di sambar oleh Dominic tanpa aling aling. Deva hanya pasrah dan menikmatnya sembari mengalungkan kedua tangan nya di leher Dominic. Dan entah sejak kapan Deva sudah berada di dalam gendongan Dominic yang menggendong nya seperti koala. Deva bahkan langsung bisa merasakan kehangatan kulit perut dan dada suaminya yang begitu menggoda minta di sentuh.
**KALO IBLIS NYA KAYAK ABANG MAH, NENG RELA BANGGGGG!!!
IDIH NENG OTHOR GENIT**.
__ADS_1