
Bugghhh....
"Katakan siapa yang membayarmu untuk melenyapkan adik ipar nya Boss."
wajah pria itu sudah babak belur karena mendapatkan bogeman mentah berkali kali dari Jacob.
"Sudah aku katakan aku tidak tahu siapa wanita itu, dia memakai penutup wajah dan langsung memberikan uang Cash pada kami."
"Katakan atau ku potong pisang mu lalu ku berikan pada Panther hitam yang mengejarmu tadi."
Pria itu langsung memgelengkan kepalanya kuat kuat, dia tidak mau barang berharganya musnah begitu saja
"Sudah lah Jack, aku lihat dia tidak berbohong." Pedro menepuk pundak Jack untuk menenangkan emosi nya
Jack melepaskan cengkraman nya di kerah baju pria yang tengah duduk dengan tangan dan kaki terikat.
"Aku akan menghubungi Boss, kau urus mereka." Pedro mengacungkan jempol nya
Tut...Tut... telepon tersambung
"katakan.."
"Mereka tidak tahu siapa yang membayar mereka untuk melenyapkan Aqilla Boss."
"Tahan mereka sampai kita menemukan dalang nya, kalau perlu jadikan The Devil berada di bawah kita."
"Baik Boss, tapi pria yang bernama Bruno sempat mengatakan kalau yang membayar mereka adalah seorang wanita."
"Baiklah, kau urus semua nya Jack, jangan sampai istri dan keluarga nya tahu. Bawa Blade ke Penthouse besok."
"Ba....". belum sempat Jack menjawab sambungan telpon nya sudah mati sepihak
***
"Aku mau jeruk." Aqilla mencebik kan bibir nya saat Basstian terus merengek minta di suapi seperti anak balita dengan alasan tangan nya masih sakit, ya walaupun itu adalah kenyataan sih.
Aqilla mengambil satu buah jeruk lalu mengupasnya.
"Nih.." Basstian menaikan sebelah alis nya saat melihat Aqilla menyodorkan jeruk yang sudah tidak ada kulit nya itu.
"Suapi, kamu tidak lihat tangan ku masih di gendong." Dengan menghela nafas panjang sembari menetralkan emosi nya Aqilla akhirnya mau tidak mau harus menyuapi pria bule yang sudah menyelamatkan nyawanya itu.
Ini semua gara gara emak yang meninggalkan mereka berdua di ruangan rawat inap Basstian dengan alasan emak mau ke toilet, padahal toilet ada di dalam ngapain emak jauh jauh ke luar nyari toilet.
"3 hari lagi kita mau pulang ke Indonesia." Basstian menghentikan kunyahan nya dan senyum yang tadi mengembang luntur seketika
"3 hari lagi? Kenapa cepat sekali, bukan nya liburan sekolah nya masih panjang." Aqilla menghela nafas nya sembari menyuapi Basstian jeruk yang ada di tangan nya.
"Aa bule yang nyaranin kita harus pulang cepet, karena katanya akan ada hujan badai seminggu kedepan jadi kalau kita gak cepet pulang bisa bisa Qilla sama Zae ketinggalan sekolah. Karena seminggu kedepan udah mulai masuk sekolah."
Basstian mengangguk walaupun dalam hati nya tidak setuju dengan keputusan sang Boss. Alasan macam apa itu, akan ada badai! badai dari mana coba.
"Kalau kamu dan Emak pulang, lalu siapa yang akan mengurusku, menyuapiku makan, mengupaskan buah untuk ku." Basstian menampilkan wajah nelangsanya, tidak lupa akting ketidak berdayaan yang sangat patut di acungi jempol.
"Makanya kakak cepet sembuh biar gak ketergantungan sama orang lain."
Jleebb... Kata kata sederhana yang terlontar dari bibir tipis Aqilla begitu menusuk relung jiwa
***
"Ieu arek di pelak di mana neng."( ini mau di tanam di mana neng)
Deva menoleh pada bapak saat dia hendak mengangkat satu buah media tanam untuk cabe nya
"Dina pot itu weh pak."( Di pot itu aja pak)
Bapak pun menuruti kemauan putri sulung nya itu untuk menanam pohon cabe di tempat yang Deva mau
"Zae candaken teteh cai."( Zae ambilin teteh air)
Zae yang sedang bermain game di ponsel milik Deva pun menurut
"Kamu menanam apa." Deva terlonjak kaget saat sang suami sudah berada di belakang nya
"Abang bikin neng jantungan aja." Dominic terkekeh melihat raut masam Deva sembari memegangi dadanya.
"Kamu lagi nanam apa." pertanyaan itu kembali terlontar membuat Deva menoleh pada Dominic
__ADS_1
"Neng sama Bapak lagi nanam cabe, bawang, kangkung sama sawi." Dominic mengangguk bahkan tangan nya ikut mencabuti bibit cabe yang ada di hadapan nya
"Kamu sudah minum obat."
"Udah..". Deva menjawab tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Teteh ieu cai na." ( teteh ini airnya) Deva bangkit dari jongkok nya saat Zae sudah membawakan apa yang dia butuhkan
" Air untuk apa." Deva mencebikan bibir nya saat mendengar pertanyaan konyol dari suami bule nya itu
"Ya buat nyiram tanaman Neng atuh Abang ku sayang, masa buat neng mandi." Deva menggeleng gelengkan kepalanya sembari menyiram tanaman nya dengan cara menyiprat nyipratkan sedikit demi sedikit air yang di bawa oleh Zae
"Zae ngambil air nya dari mana." Zae medonngakan kepalanya saat nama nya di bawa bawa
"Dari dapur." Zae menjawab apa adanya membuat Dominic menggelengkan kepalanya
"Kenapa jauh jauh mengambilnya kan ada air kran." Dominic melenggang meninggalkan mereka untuk menuju kran air yang ada tidak jauh dari mereka
"Kunaon teu ngomong titatadi sih, berat berat atuh Zae mawa cai ti dapur."( kenapa gak bicara dari tadi sih, berat berat Zae bawa air dari dapur)
Zae mencebikan bibir nya dan kembali duduk di kursi untuk melanjutkan game nya.
***
"Mereka berdua tertangkap , sialan!! semoga saja kedua orang bodoh itu tidak mengenali ku saat kami melakukan transaksi." Miranda menggigit kuku nya karena gelisah
"Daddy yakin mereka tidak mengenalimu sayang." Miranda menghempaskan tubuhnya di samping sang Ayah
"Bagaimana soal anak haram Daddy itu, apa dia sudah Daddy lenyapkan." Fransisco menghela nafasnya dan menghembuskan nya perlahan
"Dia adalah sodari mu sayang walaupun hanya sodari tirimu dan itu hasil dari sebuah kesalahan. Mana mungkin Daddy bisa meleyapkan darah daging Daddy sendiri." Miranda murka dia membanting vas bunga kristal yang ada di hadapan nya
"Aku tidak peduli, Daddy harus ingat wanita jalang itu yang membuat ibuku depresi dan akhirnya bunuh diri. Karena wanita jalang itu Daddy membagi kasih sayang Daddy untuk ku walaupun ya secara hukum aku lah putri tunggal keluarga Fransisco , tapi aku tidak rela kasih sayang Daddy terbagi untuk ku dan untuk anak haram itu. Sekarang Daddy pilih , Daddy yang meleyapkan kedua jalang itu atau aku sendiri yang akan melenyapkan mereka."
Fransisco menjambak kasar rambut putih nya , dia yakin omongan Miranda bukan bualan semata. Dia wanita yang nekat, bisa saja dia membunuh Rossaline dan ibunya kapan saja. Fransisco sangat menyayangi Miranda tapi dia juga menyayangi Rossaline walaupun anak itu lahir dari sebuah kesalahan. Dia tidak mungkin melenyapkan darah daging nya sendiri , dia memang pria licik serta picik tapi sepicik dan licik nya seseorang dia akan berpikir berkali kali kalau di tempatjan pada pilihan seperti ini.
🐆🐆🐆
Dua mobil Range Rover hitam mengkilap memasuki Penthouse milik Dominic dan terparkir apik tepat di hadapan pintu utama
Terlihat Jack keluar dari salah satu mobil dan segera menuju kedalam Penthouse.
"Eh ada nak Jack, hayuk hayuk sini sarapan bareng kita." Jack tersenyum dan menganggukan kepalanya
"Saya sudah sarapan Mak terimakasih, saya hanya ada kepentingan dengan Boss." Dominic berdehem dan mengelap mulut nya dengan tissue setelah dia menyelesaikan sarapannya
"Abang mau bicara dulu dengan Jack ya, kamu lanjutin lagi sarapan nya." Deva menganggukan kepalanya saat Dominic membelai lembut puncak kepala yang tertutup hijab itu.
Jack mengikuti langkah Dominic dari belakang, mereka menuju pintu utama yang mana akan ada sajian spesial di sana
"Dia ada di dalam mobil."
"Keluarkan." Jack mengangguk lalu mengisyaratkan salah satu anak buah nya untuk menurunkan sesuatu yang tertutup kain hitam.
"Tunggulah aku akan membawa Deva kemari, dia terlihat antusias sekali kamarin jadi tidak sabar melihat ekspresi imut nya itu." Dominic terkekeh sembari menepuk pundak Jack dan berlalu kembali kedalam
"Dasar suami sinting, semoga kakak ipar tidak pingsan di tempat nanti"
Jack bergumam pelan melihat kejahilan Boss nya itu
"Sayangggg....." .
Deva menoleh saat melihat Dominic kembali menemuinya
"Apa Abang...". Deva masih sibuk membereskan meja makan di bantu oleh emak dan Dorothi
"Abang punya kejutan buat kamu." Deva membalikan tubuh nya menghadap Dominic, Dominic hanya menampilkan senyum lebar yang misterius
"Kejutan apa." Deva memicingkan sebelah matanya pada Dominic
"Kucing cantik kesayangan Abang ada di depan, kata nya kamu mau ketemu sama dia." Wajah Deva berbinar saat mendengar nya
"Serius , beneran, Abang gak bohong! " Dominic menganggukan kepalanya sembari mengulum senyum
"Hayuk atuh nunggu apa lagi Neng udah pingen meluk dia." Deva melempar lap meja yang sedari tadi dia pegang kemudian menarik kencang lengan berotot Dominic. Deva terlihat bersemangat dan sumringah saat melangkahkan kaki nya menuju pintu utama
__ADS_1
"Mana kucing nya." Deva menoleh kesana kemari mencari kucing yang telah di janjikan oleh Dominic saat mereka sudah berada di ruang tengah
"Ada di luar sayang." Deva pun menarik kembali tangan Dominic agar mengikuti langkah nya
Sesampai nya di luar Deva kembali celingak celinguk mencari sosok yang bernama kucing itu
"Dimana kucing nya kok gak ada." Jack yang mendengar itu hanya mengulum senyum ingin tertawa tapi dia masih sayang nyawa, gak ketawa bisa bisa sakit perut gara gara pingen kentut.
Dominic mengisyaratkan bawahan nya untuk membuka kain hitam yang menutupi sesuatu itu
dan setelah kain penutup itu di buka terpampanglah sesuatu yang tidak pernah di bayangkan oleh Deva
(Anggap aja lagi di dalam kandang)
"Kyyyaaaa...Naon eta....!!!" ( kyaaa...Apa itu) Deva langsung menjerit saat melihat sorot mata Blade menatap nya tajam, untung saja Blade masih berada di dalam kandang. Seumur umur Deva baru melihat hewan yang hitam legam kayak areng itu.
" jadi itu kucing cantik kesayangan Abang! Astagfirouloh . Jadi Neng kudu nangkep makhluk hideng lestreng jiga areng eta, Embuungggggg!!!" ( jadi neng harus meluk makhluk hitam legam kayak areng itu, gak mauuuu...!!" )
Deva memeluk tubuh tinggi tegap yang ada di samping nya saat ini, Dominic dan Jack tidak dapat menahan tawa nya lagi saat Deva mulai mengeluarkan bahasa kerajaan nya yang terdengar lucu bagi Dom walaupun dia belum memahami sepenuhnya. Tapi Dom tahu kalau saat ini Deva tengah kesal padanya.
"Ada apa sih kenapa suaranya sampai ke dapur." Emak terlihat berlari keluar saat mendengar jeritan Deva
"Kyyyaaaaa..... Mahkluk naon eta." ( Kyaaa...Makhluk apa itu) Kali ini Aqilla menjerit saat mata nya langsung bersitubruk dengan mata kucing Blade saat dia keluar dari dalam rumah.
"Astagfiroulohalazdhim...!" Emak beristigfar saat melihat Blade yang tengah menatap ke arah mereka
" Hei..Hei..Semua nya dengar, itu adalah Blade Kucing cantik kesayangan Dominic. Ayo siapa dulu yang mau kenalan." Deva melototkan matanya saat menatap wajah menyebalkan sang suami
"Neng mah teu sudi biarpun di kasih duit juga, neng masih sayang tangan sama nyawa ." Deva memukul lengan Dominic yang terlihat terkekeh melihat wajah kesal istrinya
"Itu teh makhluk apa a, kot mani hideng lestreng." ( hitam legam banget)
Dominic menoleh pada Aqilla yang terlihat merapatkan tubuhnya ke arah Deva
"Jiga ucing ceu Yayah nyak ,tapi ieu mah mani gede."( kayak kucing nya ceu yayah ya, tapi ini mah gede banget)
Emak ikut menyuarakan suaranya saat Blade mulai menjilati tangan nya sendiri
"Mak mobilan Zae diman.... Huuuaaaaaaa naon eta!!!" ( Huuuaaa apa itu)
Zae berteriak kencang sebelum meneruskan kalimatnya saat melihat Blade , dan itu membuat Blade mengeram keras
"Emaakkkkk.....!!!" Jeritan Zae dan geraman Blade saling bersahutan membuat Dominic dan Jack tertawa keras
Bugghh...satu pukulan mendarat di dada Dominic
"Gak ada yang lucu." Deva memerengutkan wajahnnya saat melihat wajah Dominic yang terlihat senang.
"Ok..ok...Maafin Abang,tapi Abang punya sesuatu buat kamu."
Deva memicingkan sebelah matanya
" Kali ini Abang serius, bukan kucing seperti Blade lagi." Deva masih memicingkan mata mya tanda tak percaya
Seorang anak buah nya membawakan kotak agak besar menuju Deva dan Dominic
"Buka...". Deva berjongkok dan membuka kotak itu ragu ragu. Namun karena penasaran Deva pun segera membukanya
Seekor kucing lucu berawarna putih berbulu tebal sangat tepat dengan ekspentasi nya dia keluarkan dari kotak. Kucing berjenis ras Persia Himalaya berwarna putih kini sudah berada di dalam pangkuan nya.
"Ya Ampun mani lucu pisan." Emak segera berjongkok mendekati Deva saat melihat makhluk lucu imut itu.
"Ehemm...Jadi gak ada yang berminat buat kenalan atau meluk Blade gitu, lihatlah wajah nalangsanya melihat kalian mengabaikan nya." Dominic mendramatrisir keadaan, dari mana dia menyimpulkan wajah Blade nalangsa, wajah horor gitu di bilang nalangsa
"Engak, neng mau yang ini aja. Yang item serem mah buat Abang aja." Deva mengendong kucing putih itu lalu berlalu masuk kedalam di ikuti oleh Emak dan Aqilla.
"Sabar nyak Blade". Zae pun ikut prihatin melihat nasib Blade karena tidak ada yang mau memeluk atau mengendong nya
Dominic mengacak ngacak rambut Zae dan membawanya kembali masuk kedalam.
"Bawa Blade kembali dan jangan lupa beri dia bonus!" Dominic mengingatkan pada Jack sebelum dia benar benar masuk kedalam penthouse nya.
**HOLLA SIAPA NIH YANG MAU PELUK CIUM BLADE YANG CANTIK DAN SEXY
__ADS_1
YUK NENG BUKA ANTRIAN NYA**....