ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
Si Utun pingin Semur Jengkol Sama Rambutan


__ADS_3

Setelah drama Deva yang tiba tiba ngidam jengkol membuat Dominic harus memutar otak jenius nya agar dapat cara untuk mendapatkan si bau yang bikin nafsu makan naik drastis. Akhir nya Dom bisa membujuk Deva agar bersabar terlebih dahulu untuk tidak mencicipi jengkol itu sebelum tiba di Kanada.


Harga nya bahkan hampir tembus satu juta perkilo nya disana.( sumber google)


"Abang istirahat aja ya, neng mau bikinin Abang makan malam dulu." Deva menyelimuti Dominic yang sudah berbaring di tempat tidur mereka.


Ya hari ini mereka sudah sampai di Kanada, Deva sempet ngambek saat di NewYork kemarin karena di sana tidak ada jengkol. Pas pulang Ke Kanada Dom memerintahkan Jack dan Basstian untuk mencari buah asli Indonesia itu dan akhir nya setelah berkorban waktu dan keringat mereka mendapatkan jengkol di salah satu Asian Store di kota itu.


"Kamu jangan terlalu capek ya sayang, kasian dede bayi nya. Biarkan Dorothi dan Caroll saja yang memasak nya." Dominic membelai lembut telapak tangan Deva dan sesekali mengecupnya.


"Neng mau nya masak sendiri, aunty Dorothi sama aunty Caroll gak bakalan tau bumbunya. Neng sama Si Utun baik baik aja kok Abang jangan kawatir gitu ah."


Sifat keras kepala Deva sedang mudik sekarang( maklum bentar lagi Ramadhan)


Dom tersenyum lembut sembari membelai perut Deva


"Ya sudah Abang Izinkan, tapi jangan di paksa kan kalau kamu sudah lelah." Deva tersenyum lebar saat mendengar ucapan suaminya.


"Iya Abang ku sayang muaacchh...!" Deva mengecup bibir Dominic dalam dalam sebelum dia ngacir keluar dari kamar itu membuat Dominic tertegun sesaat. Sejak kapan istri imut nya itu menjadi agresif seperti itu. Namun sekian detik kemudian Dom tersenyum dan menggelengkan kepalanya lalu memejamkan kedua manik safir nya untuk berkelana ke alam mimpi


***


"Qil,l ari maneuh isuk mun geus lulus arek lanjut kamana."( Qill , kamu besok kalau udah lulus mau lanjut kemana)


Aqilla menoleh pada Wulan yang ada di samping nya, mereka saat ini tengah ada di dalam kantin sekolah.


"Teing, moal kamana mana mereun."( gak tau, gak kemana mana kali)


"Lah kok kitu sih, urang asup ka Universitas nu aya di kota yuk."( Lah kok gitu sih, kita masuk ke Univrsitas yang ada di kota yuk)


"Kumaha isuk weh Wul, mun bapak boga biaya."( Gimana besok aja Wul,kalau bapak punya biaya)


" Mun teu boga kumaha, maneh arek kawin? jeng saha, jeng si Yugha."( kalau gak punya gimana, kamu mau nikah? sama siapa, sama si Yugha)


Aqilla langsung menoleh pada Wulan dan langsung menyambit mulut lemes sahabat nya itu


"Baham maneuh sih Wul Wul, mun kadengeen batur kumaha. Padu bae sih."( mulut kamu sih Wul Wul, kalau kedengaran orang gimana. Sembarangan aja.)


"Sugan Weh hiii hiii."( kali aja)


Wulan malah terkikik geli melihat wajah sangar Aqilla,dasar sahabat menta di lelepkeun ka walungan( dasar sahabat minta di tenggelamin ke sungai)


Mereka berdua kembali menikmati mie ayam di kantin bik Esih.


Braakkk....


"Allahuakbar ."


"Astagfiroulah."


Ucapan Aqilla dan Wulan serempak ketika tiba tiba ada yang menggebrak meja nya membuat mereka berdua hampir tersedak


"Kamu kenapa sih Sari." Wulan langsung menyodorkan minuman nya pada Aqilla yang tersedak mie ayam karena ulah cewek abg yang bernama Sari itu.


"Urang teu eweh urusan jeng maneuh, urang ukur aya urusan jeng budak ieu."( aku gak ada urusan sama kamu, aku cuma ada urusan sama anak ini)


Jari telunjuk Sari langsung menuding ke arah wajah Aqilla


Plukk...


"Gak usah nunjuk nujuk!" Aqilla menepis jari telunjuk itu sehingga membuat yang punya nya meringis kesakitan.


"Ada urusan apa." Aqilla terlihat santai sembari menegak es teh nya lagi.


"Jauhan A Yugha!! A Yugha teh kabogoh uing, ulah sok atel jadi bikang teh."( jauhin A Yugha!! A Yugha tuh pacar aku, jangan suka gatel jadi cewek tuh)


Aqilla langsung menatap tajam pada abg yang mungkin seumuran dengan nya itu


"Punteun nyak nyai( permisi ya nyai), Seorang Aqilla tuh sangat di haram kan untuk bergatel ria. lamun lalaki nu ngarana si Yugha eta kabogoh maneuh, mohon ditalian cing pageh lamun henteu cangcang cing tarik beheng na amih teu ngider ka bikang lain."( Kalau cowok yang namanya si Yugha itu pacar kamu, mohon di taliin yang kencang kalau gak iket yang kencang lehernya biar gak kelayapan ke cewek lain)


Aqilla bangkit dari duduk nya, dia sudah tidak berselera lagi untuk menghabiskan makanan nya. Apa lagi mereka kini menjadi pusat perhatian warga sekolah .


"Hayuk Wul." (Ayo Wul)


Aqilla meraih tangan Wulan agar mereka segera meninggalkan tempat itu. Namun saat mereka hendak keluar lelaki yang bernama Yugha itu menghalangi jalan mereka berdua

__ADS_1


"Qilla?" Yugha mencoba meraih lengan Aqilla namun dengan cepat Aqilla menepisnya


"Urus pacar kamu, bilangin jangan sok sokan ngelabrak orang kalo gak punya nyali." Aqilla melirik Sari yang masih terdiam di tempat, wajah nya terlihat memerah entah karna malu atau sedang marah.


"Dia bukan pacar aku Qill, sumpah!" Lagi lagi Aqilla menepis tangan pria tampan sejuta modus crocodile itu.


"Sabodo teing!" Aqilla menabrak tubuh Yugha dengan keras karena menghalangi jalan nya diikuti oleh Wulan. Dan sempat sempat nya Wulan mengacungkan satu jari tengah nya ke arah Yugha saat dia melewati pria remaja itu.


Brukkk....


Yugha menendang keras meja yang ada disana. Dia tidak peduli kalau meja itu rusak toh dia bisa mengantinya dengan mudah, terpenting sekarang dia bisa meluapkan emosinya.


Yugha menatap langsung ke arah gadis remaja yang tadi sempat melabrak Aqilla.


"Kalau ngomong pake otak, siapa yang mau jadi pacar mu. Bangun!!! belum malam udah mimpi." Gadis remaja yang bernama Sari itu pun terlihat menundukan kepalanya, mati matian dia menahan air matanya. Dia terlihat baper saat beberapa hari yang lalu Yugha dan teman teman nya berkunjung ke kelasnya dan sempat dekat dengan dia. Dari itulah si Sari terbawa perasaan.


***


"Abang bangun...". Deva membelai lembut kepala suami bule nya itu


"Engghhhh..." Dom menggeliat pelan saat merasakan ada sentuhan di wajah nya. Dengan perlahan Dom membuka kedua netra safirnya.


"Sayang... Sudah pukul berapa ini." Dominic mencoba bangun dari tidur nya, dengan suara khas bangun tidurnya serak serak sexy membuat Dominic semakin Errrhh di mata Deva.


"Udah mau malam, Abang mandi dulu ya biar seger." Dom menganggukan kepalanya, dia memang ingin mandi sekarang agar tubuhnya kembali segar.


Deva dengan telaten membuka satu persatu kancing kemeja yang di pakai oleh suaminya itu. Dia juga membuka perban yang melingkar di tubuh atas suaminya agar tidak basah. Dan untung nya jahitan Dominic sudah mengering makanya dia sudah bisa mandi.


"Ayo neng udah siapin air angetnya." Deva memapah tubuh besar tinggi suaminya dengan agak kesusahan karena perbandingan tinggi serta besar tubuh mereka berdua.


"Abang bisa jalan sendiri, kamu duduk saja. Kasian dede bayi nya." Deva mendongakan wajah nya menatap ke arah Dominic


"Neng gak papa Abang, si Utun juga sehat sehat aja. Kan Utun ganteng nya Mimih." Dominic tersenyum saat melihat Deva seperti sedang berbicara pada bayi mereka yang masih ada di dalam perut sang istri.


Setelah membawa Dominic kekamar mandi, Deva pun segera keluar dari sana.


"Kalo udah selesai Abang panggil Neng ya." Tidak ada sahutan dari dalam


"Abanggg, ngadenge teu!"( dengar gak) belun ada sahutan


"Iya sayang Abang denger kok!"


Deva mendesah pelan lalu menuju Walkin closet untuk mengambil pakaian untuk Dominic.


10 menit kemudian Dominic keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membelit pinggangnya.



Dominic semakin mengikis jarak pada Deva yang sedang merapihkan tempat tidur mereka dengan membelakangi nya.


"Abang kangen." Dominic langsung memeluk tubuh mungil itu dari belakang membuat Deva terkejut


"Astagfirouloh..!" Deva langsung mengelus dada nya yang mendadak berdetak dua kali lebih cepat.


"Abang mah ngagetin aja sih." Deva menepuk lengan Dominic yang melingkar mesra di perutnya.


"Abang kangen kamu." Dom mulai mengecupi pundak Deva yang masih terbungkus piyama bergambar pisang.


"Abang geli ih, cepet pake baju dulu." Deva membalikan tubuhnya agar menghadap sang suami.


"Sini neng pakein perban sama kaos Abang dulu." Deva menuntun Dominic agar duduk di sisi tempat tidur. Dengan patuh Dom mengikuti kemauan sang istri


"Kenapa Abang gak manggil neng tadi. Kan neng udah bilang suruh manggil kalo udah selesai mandinya." Deva dengan telaten membalut kan perban ke dada Dominic yang terluka, walau pun luka nya sudah kering namun masih harus di tutup perban


"Abang kangen." Dom memeluk pinggang Deva dari depan


"Allahulaillahailla huallayulkoyum.....!" Deva malah membaca kan ayat kursi sembari memegang kening Dominic


"Kenapa Abang malah di doain sih." Dominic mengerenyitkan dahinya saat mendengar Deva membacakan ayat suci Al Quran.


"Sugan weh( kirain aja) Abang lagi ketempelan jurig cai ( setan air) di kamar mandi tadi." Deva kembali melanjutkan kegiatan nya


"Ck..!" Dom malah berdecak melihat istrinya tidak peka


"Abang kenapa cak cik cek sih, udah ketemu ini kenapa masih kangen. Aneh ih Abang mah, udah ayo pake daleman sama celana nya dulu." Deva memberikan satu dalaman dan celana pendek selutut pada Dominic.

__ADS_1


"Yankkk...." Dom merengek seperti anak kecil


"Hm.."


"Ayo yank."


"Apa?" Deva mengerenyitkan dahinya saat mendengar ucapan suaminya yang ambigu


"Itu..!"


"Naon sih( apa sih) , Cepet ah neng udah lapar pingen makan sama semur jengkol. Hayuk atuh Abang lila pisan sih make calana teh ( hayuk dong Abang lama banget sih pake celana tuh)


Dominic hanya mendesah pasrah melihat ketidak pekaan sang istri. Dia juga kasihan pada istrinya yang saat ini terlihat lapar, Dia tidak boleh egois sekarang. Proritas utama nya saat ini adalah Deva dan calon dede bayi yang ada di dalam perut sang istri


"Ayok ayok, Abang juga ingin ngerasain jengkol. Abang penasaran rasanya."


Deva meraih tangan besar Dominic dan tersenyum senang


"Pasti Abang bakalan ketagihan deh, neng yakin."


Dom menganguk nganggukan kepalanya dan membelai lembut pucuk kepala Deva sembari memberi kecupan berkali kali di atas kepala yang sudah terbalut hijab itu


"Abang."


"Hm.. Apa sayang."


Dominic meraih lengan mungil itu dan sesekali mengecupnya saat mereka berada di dalam lift untuk turun ke lantai dasar.


"Neng boleh minta sesuatu." Deva mendongakan wajah nya kearah Dominic


"Kamu mau apa sayang." Dom menarik pelan hidung minimalis Deva


"Jangan di tarik hidung nya, gak bakalan jadi mancung juga." Deva mengelus hidung nya


"Iya iya ,maafin Abang. Jadi kamu mau apa hm."


Deva terlihat ragu untuk mengucapkan nya. Takut kemauan nya itu tidak ada di kota ini.


"Mau apa sayang, bilang atuh." Dom malah mengikuti logat sunda Deva dengan masih kaku


"Eemmm...Neng mau..Rambutan." Deva memelankan suaranya di akhir kalimat


"Mau apa?"


Ting... Lift terbuka dan sampai di lantai dasar


"Kamu mau apa sayang. Bilang yang kencang atuh Abang gak denger."


Deva terlihat menekuk wajahnya,Lalu kemudian dia menarik nafasnya dalam dalam


"Rambutan!!! neng mau makan rambutan Abanggggg!!!"


"Ram..Rambo.. ram apa?"


"Kok rambo sih, Rambutan!!! Buah yang ada bulu nya. lihat di google gera( cepet)." Deva malah memberikan ponselnya pada Dominic. Dengan pasrah Dom menerima ponsel itu dan dengan cepat dia mensearch yang namanya Rambutan.



"Buah apa ini?" Deva segera meraih ponsel dari tangan Dom


"Ya ini buah rambutan." Dom terlihat menganggukan kepalanya. Demi si Utun apa pun akan dia lakukan, sekalipun Deva meminta oseng oseng tetelan mobil Dom akan memberikan nya.


"Hayuk ah, semur jengkol neng udah manggil manggil itu."



**HOLLA PARA READERS MON MAAP NENG UP NYA MALEM YAK KARENA KUOTA TIBA TIBA LUDES JADI KUDU BELI DOLO TADI.


EH LIAT SEMUR JENGKOL JADI LAPER NENG OTHOR. HAYUK AH URANG TUANG SING SE'ER!


JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN NYA YA


HATUR NUHUN SADAYANA...


NENG DEVA MAH NGIDAM NYA BERBAU MAKANAN INDONESIA MAKANYA LIDAH SI UTUN NANTI FASIH BAHASA INDONESIA DAN SUNDA**.

__ADS_1


__ADS_2