
**JANGAN LUPA VOTE VOTE VOTE, LIKE LIKE LIKE, KOMEN KOMEN KOMEN
MOHON MAAF KALAU TERJEMAHAN BAHASA SUNDA NYA ADA YANG TIDAK COCOK.
HATUR NUHUN....
AWAS TYPO BERTEBARAN** !!!!
"Aunty Dorothi bawang putih nya dimana?" Deva tengah sibuk mengobrak abrik seisi dapur, hari ini dia tengah memasak sup untuk makan siang suaminya nanti.
Sedangkan Dom saat ini masih berada di kantornya, dia kembali mengambil alih tugas yang di serahkan pada Basstian beberapa hari terakhir.
Setelah perjuang nya dalam mencari bahan bahan untuk membuat rujak bebeg yang di pesan oleh sang kakak Basstian akhirnya mendapat hari libur sehari penuh. Basstian harus mencari bahan bahan mentah buah buahan nya bahkan sampai ke pelosok pedesaan di kanada, apa lagi untuk mencari tongtolang nangka dengan mengkudu yang membuatnya frustasi setengah mati. Sedangkan untuk terasi ,asam jawa, gula merah Basstian bisa membelinya di Asian Store.
"Nyonya bawang putihnya tinggal sedikit, bagaimana ini." Dorothi menunjukan beberapa siung bawang pada Deva.
'Bener bener kudu melak sorangan ieu mah bawang teh." ( benar benar harus nanam sendiri ini mah bawang tuh) Jiwa perkebunan Deva kembali mencuat.
" Heemm... Pakai aja gak papa . Oh ya Aunty apa di dekat rumah ada tanah kosong." Deva kembali memotong dan mengiris bawang merah yang akan di jadikan bawang goreng oleh nya.
Dorothi terlihat seperti sedang mengingat sesuatu
" Seperti nya ada nyonya, dekat sungai buatan yang ada belakang. Seperti nya lahan nya masih kosong, kenapa nyonya ?"
" Eemm... Neng mau nanam bawang, cabe, dan kawan kawan nya. Tolong kalau di sini ada yang jual bibitnya aunty beliin ya, sekalian sama media nya. Nanti neng minta uang nya sama Abang." Dorothi terlihat tersenyum tipis mendengar penuturan nyonya muda nya
Ya ampun seorang nyonya besar klan Vins ingin bercocok tanam, Dorothi tidak habis pikir. Padahal nyonya nya bisa saja tinggal membeli apa pun yang dia inginkan tidak perlu menanam nya terlebih dahulu.
" Aunty...!" Deva menepuk tangan Dorothi yang masih berkelana di alam lamunan.
" Ah ii..Iya nyonya nanti saya menyuruh salah satu tukang kebun di rumah ini untuk mempersiapkan semuanya."
Deva tersenyum manis lalu melanjutkan kegiatan nya
πΎπΎπΎ
Waktu sudah menunjukan pukul satu siang waktu setempat, waktu nya makan siang. Deva sudah selesai memasak untuk suaminya, Deva memasak Sup ayam, perkedel, sambel tomat, tempe goreng tepung.
Siang ini dia memasak banyak sekali karena Basstian dan Jack juga akan ikut makan siang di rumah itu. Tentu saja Deva senang mendengarnya, dia bisa masak banyak hari ini.
Tidak lama terdengar dua mobil Range Rover hitam masuk kedalam kawasan penthouse . Deva dengan cepat melepas apron nya dan melangkah menuju pintu utama.
Clleekk...
Sebelum pintu itu di ketuk Deva sudah membuka nya, dengan menampilkan senyuman manisnya Deva menyambut suami bule nya itu.
" Abang udah pulang, Neng udah masak banyak loh . Yang lain nya mana." Deva celingak celinguk saat tidak melihat Jack dan Basstian.
" Mereka sedang memarkirkan mobil sayang nanti juga kemari, ayo Abang sudah lapar." Deva dengan senang hati menggandeng lengan kekar berotot itu .
"Abang mau sambel nya gak." Deva mengambilkan satu piring nasi dan kawan kawan nya untuk sang suami.
" Pake tapi sedikit saja." Entah kenapa selama Dominic menikah dengan Deva, dia sangat menyukai masakan nya padahal dulu dia hanya makan salad dan makanan khas Kanada lain nya. Tapi kini dia bahkan lebih suka masakan indonesia, begitu pun juga dengan Jack dan Basstian, bahkan Jack dan Basstian sangat rindu dengan nasi liwet emak dan raginang nya.
" Hallo kakak ipar...!" Seruan seseorang membuat Deva mengalihkan pandangan nya pada sumber suara.
" Hallo Bass." Deva membetulkan letak earpiece nya
(Ada yang mau oleng ke aa BaBas)
Dengan gaya sok cool nya Basstian mendudukan dirinya bersebrangan dengan Dominic.
"Selamat siang kakak ipar." Terlihat Jack baru sampai , terlihat dia membawa dua kunci mobil di tangan nya
(Ada yang mau oleng ke Aa Jack)
Jack menaruh dua kunci mobil itu di atas meja lalu dia mendudukan dirinya di dekat Basstian.
" Selamat siang juga Jack, ayo di makan. Habiskan ya, Abang neng kedapur dulu ya mau ngambil kerupuk." Dominic tersenyum dan mengangguk, Dom tahu kalau sang istri sangat suka kalau dia makan dengan kerupuk .Bahkan para pelayan harus memesan dulu agar bisa mendapatkan nya.
" Jack kau kembali kekantor nanti." Jack yang merasa terpanggil pun menegakan kepalanya saat dia tengah menyuapkan nasinya. Jack benar benar ketagihan makan nasi, dia tidak peduli kalau harus nge gym setiap hari yang penting mulut dan perutnya termanjakan.
" Siap Boss !!" Jack memberikan jempol nya pada Dominic kemudian kembali menikmati makanan yang ada di piring nya.
"Bass nikmati liburan mu yang hanya sehari ini,besok kau kembali lagi bekerja." Basstian yang sedang lahap lahap nya menikmati sup buatan Deva pun hanya mengangguk.
Dominic hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan si adik bungsu angkat nya itu.
"Kakak ipar nanti aku mau bungkus ya supnya." Basstian kembali bersuara saat Deva sudah berada di sana dengan membawa satu toples besar kerupuk.
"Boleh, nanti Neng bungkusin ya. Jack juga mau di bungkusin sup nya." Deva melirik pada Jack yang sedang menenggak air minum nya karna tersedak saat mendengar Basstian berbicara.
"Astaga bocah ini."
"Tidak usah kak, Aku juga harus kekantor." Deva pun menganguk kan kepalanya
"Abang mau kerupuk nya." Deva memegang lengan Dominic lembut.
"Boleh sayang." Mata safirnya masih menatap Basstian yang terlihat cuek saat di beri tatapan tajam oleh sang kakak.
'Kau kira ini rumah makan, main bungkus bungkus saja' begitu arti tatapan Dominic pada Basstian.
__ADS_1
"Abang....!" Deva kini menepuk pelan lengan Dom
" Ah iya, ada apa sayang." Dom terlihat gelagapan
" Abang kenapa lihatin Basstian terus sih, kasian tahu. Itu gak sopan namanya liatin orang lagi makan, kalau Abang mau ambil lagi makanan nya jangan liatin punya orang."
Nah lohkan Deva salah paham, Deva menambahkan sup dan perkedel ke dalam piring Dominic yang mana membuat dia membulatkan matanya.
'Astaga aku harus ngegym nanti malam' Karna tidak mau membuat istrinya kecewa Dominic melahap habis makanan yang ada di piringnya.
***
"Abang kekantor lagi ya." Deva tengah memasangkan jas biru dongker pada Dominic.
" Iya..Abang hati hati , oh ya boleh gak neng belanja." Deva memilin ujung jas yang tengah di pakai oleh Dom. Dia ragu untuk mengatakan nya, tapi dia sedang butuh sesuatu yang tidak mungkin Deva menyuruh orang lain.
" Kamu mau beli apa sayang." Dom meraih tangan mungil yang tengah bermain di ujung jasnya lalu mengecup nya penuh cinta.
" Eemm...Neng mau beli....Daleman." Deva berbisik ragu saat mengatakan kata 'Daleman' diakhir kalimatnya.
Dom yang mendengar itu menampilkan senyum mesum nya.
"Pergilan, beli yang paling bagus dan mahal. Abang mau melihat kamu memakainya nanti malam." Bisikan seduktif Dominic membuat Deva meremang dan memerah.
Buuugghh... Deva memukul pelan dada Dominic yang mana malah membuatnya tertawa.
"Tapi pergi nya dengan Dorothi ok. Nanti kamu di antar oleh Pedro, dia akan menjadi supir mu kemana pun kamu pergi. Kamu gak mabuk kan kalau naik mobil."
Deva hanya mengagukan kepalanya ragu
"Semoga aja." Lirih nya,mau gimana lagi si cimol gak ada mau gak mau dia naik mobil kalau mau kemana pun.
" Ya sudah Abang pergi dulu ya. Hati hati kabarin Abang kalau ada sesuatu."
Cup..Cup..Cup..Cuuppp...
Dom mengecup seluruh wajah istri imut nya itu tanpa terlewat ,dan sedikit lebih lama saat dia mengecup basah bibir tebal sexy yang selalu memabukan nya.
Deva melambaikan tangan nya pada sang suami. Setelah mobil Dom dan Basstian menghilang dari pandangan nya Deva baru masuk kedalam.
"Aunty Dorothi anter Neng belanja ya."
Dorothi yang sedang membereskan meja makan pun menoleh
" Sekarang nyonya." Deva mengangguk dan segera bergegas menuju lantai atas.
"Selamat siang nyonya." Seorang pemuda mungkin usia nya sama dengan Basstian menyapa nya sopan saat Deva dan Dorothi masuk kedalam mobil.
"Selamat siang." Deva membalas sapaan orang yang sedang ada di belakang kemudi itu.
Deva melirik pada Dorothi meminta nya untuk menjelaskan karna Deva belum tahu dia harus berbelanja kemana.
"Kita kepusat perbelanjaan Ped, Ayo cepat ." Dorothi akhir nya memberi arahan pada Pedro..
Deva tengah menahan nafas nya dalam dalam, semoga dia tidak mabuk kali ini.
πππ
Setelah perjalanan beberapa belas menit akhirnya mereka sampai juga di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
"Kau mau ikut Ped." Dorothi menanyakan itu saat dia melihat Pedro terus mengikuti mereka.
"Aku harus memastikan keselamatan Nyonya Vins." Dorothi terdiam dia tidak bisa melarang saat berhubungan dengan sang nyonya.
"Tidak apa apa aunty, biarkan Pedro ikut." Deva sebenarnya agak risih sih kalau harus di ikuti begini, apa lagi dia harus berbelanja keperluan pribadi nya.
Mereka terus berjalan menuju lantai atas di ikuti oleh Pedro yang menjadi pengawal setia bagi kedua wanita beda usia itu.
"Aunty Neng mau beli dalaman wanita." Deva berbisik saat dia melihat satu toko yang menjual berbagai macam dalaman.
Begitu banyak Store yang menjual keperluan yang sedang di butuhkan oleh Deva hingga membuat Deva sedikit bingung.
"Aunty kita harus kemana." Deva pusing bahkan pusing pas dia turun dari mobil tadi tidak sepusing saat ini.
"Kita kesana saja ayo nyonya." Dorothi membawa Deva menuju lingerie store yang paling besar di sana dan bermerk .
Sedangkan pedro dia memilih menunggu para wanita itu di depan store seperti seorang petugas keamanan, tidak lupa matanya lirik sana sini saat melihat beberapa wanita yang melirik genit dan menggoda padanya.
Jiwa Fuckboy nya kembali meronta, Pedro malah sengaja membalas tatapan genit mereka dengan senyum termanis nya .
Didalam Store Deva dan Dorothi tengah memilih milih apa yang Deva ingin kan
"Cantik, berapa ya ". Deva menyentuh satu pasang underware yang tergantung di rak, Kemudian dia membolak balik kan untuk mencari harganya.
"50$." Deva bergumam pelan,lalu dia mengeluarkan ponselnya. Mulut Deva menganga lebar saat mengetahui harga sepasang Underware itu.
"Si gelo mani 750 rebu harga cangcut jeng kutang gek."(gila masa 750 ribu harga cd sama bh aja)
Jiwa diskonan Deva mulai meronta
__ADS_1
" Coba mun meli di pasar menang sabaraha losin ieu." ( coba kalau beli di pasar dapat berapa lusin ini) Deva terus saja bermonolog sendiri saat melihat harga harga semua underware yang dia lihat.
"Nyonya, apa nyonya sudah mendapatkan yang anda cari." Dorothi mendekat saat melihat Deva masih terlihat bingung.
"Eemm...Belum aunty, Aunty apa tidak ada toko yang lebih murah di sini." Deva berbisik pelan pada Dorothi.
" Nyonya disini semua nya sama ,Nonya pilih saja tidak apa apa."
"Tapi disini mahal mahal Aunty." Deva berbisik lagi
"Tidak apa apa, saya yakin Tuan juga tidak akan melarang nya. Bahkan kalau nyonya mau Tuan bisa membeli store ini untuk nyonya." Deva membulatkan matanya seketika.
"Eehh...Jangan jangan ! Neng mau pilih yang di butuhin neng aja, jangan sampe Abang memborong nya. Aunty tunggu sebentar ya." Dorothi mengangguk dan tersenyum melihat kelakuan nyonya nya itu.
Deva kembali masuk lebih dalam lagi ke toko, dia mengambil sekitar satu lusin pasang underware. Setelah merasa cukup Deva kembali ke arah Dorothi yang sedang menunggu nya.
" Aunty." Dorothi bangkit dari duduknya
"Sudah mendapatkan apa yang nyonya butuhkan." Deva mengangguk yakin dan mereka berdua menuju ke kasir untuk membayar.
"Totalnya 600$." kurang lebih sekitar 9 juta rupiah Deva menghabiskan nya hanya untuk membeli satu lusin underware.
Deva menyerahkan satu buah kartu pada sang kasir yang sudah di berikan oleh Dom, itu adalah uang jajan dan belanja yang di berikan oleh Dominic untuk Deva. Totalnya pokoknya banyak deh.
"Wah wah gadis kampungan sedang berbelanja." Deva menoleh saat mendengar seseorang berseru keras di belakang nya. Ternyata salah satu wanita yang pernah berseteru dengan nya saat di rumah.
"Nini kunti..!" Deva tidak menperdulikan nya dia masih fokus pada pembayaran barang yang sudah di belinya.
"Terimakasih, semoga kembali lagi." Kasir itu menyerahkan kartu milik Deva, namun sebelum Deva menerimanya ada tangan yang dengan cepat merampas kartu itu dari sang kasir.
"Wooww...Apa Dominic yang memberikan nya untuk mu, ck ck ck.. Ternyata selain kampungan kau juga matrealistis ya." Wanita itu malah menjatuhkan kartu milik Deva
"Apa mau mu nona Miranda." Dorothi tidak tahan melihat sang nyonya di permalukan di depan umum. Deva yang melihat Dorothi emosi langsung menggenggam tangan nya lalu tersenyum, mengisyaratkan bahwa dia baik baik saja.
Deva maju selangkah mendekat pada wanita itu, Dia membenarkan earpiece nya terlebih dahulu karna dia juga melihat di sebelah telinga Miranda juga memakainya.
" Diam kau pelayan !" Miranda membentak Dorothi membuat Deva memajukan langkahnya.
" Kau punya masalah dengan ku madam, bukan dengan aunty Dorothi. Dan sepertinya mulutmu yang sexy itu perlu di bersihkan ya agar tidak seenaknya menghina orang tanpa berkaca terlebih dahulu." Deva mengeluarkan satu pasang underware nya dan dengan tidak di sangka sangka dia menjejalkan kain itu kemulut Miranda yang ternganga hendak membalas omongan Deva.
Namun karna dia kalah cepat dengan gerakan tangan Deva walaupun Deva harus berjingjit , Miranda tidak berkutik sama sekali.
"Eeemmm....eeemmmm...!" Miranda terus meronta saat Deva terus saja menjejalkan underware berwarna merah itu kedalam mulut nya.
"Mulut mu itu pantas nya memakai dalaman, supaya tidak asal menganga." Deva melepaskan tangan nya saat underware itu masuk semua kedalam mulut Miranda. Dorothi dan para pembeli lain di buat ternganga melihat kelakuan bar bar Deva. Wanita mungil berhijab yang menjejalkan dua buah underware kedalam mulut wanita cantik. Bahkan sampai ada yang merekam nya untuk di abadikan.
'Sungut luhur jeng sungut handap sarua na'( mulut atas sama mulut bawah sama saja)
"Ayo Aunty, neng sudah selesai." Deva membawa tiga paperbag di tangan nya.
"Miranda ada apa ini." Seorang pria mungkin umurnya sama dengan Dom menghampiri Miranda yang masih memgeluarkan underware dari dalam mulutnya.
"Wanita kampung itu yang melakukannya." Miranda menunjuk Deva yang hampir keluar dari toko dengan tatapan menyalang penuh amarah.
laki laki itu pun segera mengikuti arah yang di tunjuk oleh Miranda
"Tunggu nona bertutup kepala." Deva menghentikan langkahnya saat dia merasa terpanggil.
"Kenapa anda melakukan hal itu pada wanita itu." Deva berbalik saat mendengar suara laki laki yang memanggilnya sudah berada di belakang nya.
Deva dengan berani menatap manik mata abu abu itu dengan tatapan tajam.
" Tanyakan saja pada wanita mu itu." Si pria mengerenyitkan dahinya karna dia tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh wanita mungil di hadapannya.
"Maksud nyonya 'tanyakan saja pada wanitamu itu tuan'." Dorothi yang paham ketidak tahuan pria ini segera menterjemaahkannya dalam bahasa inggris.
"Apa maksudmu." Lelaki itu semakin menatap tajam pada Deva
"Valdooo...". Miranda memanggil lelaki itu dengan nama Valdo.
"Ayo Aunty neng capek mau tidur." Deva tidak mengubrisnya perkataan laki laki itu.
" Hei tunggu...". langkah Deva terhenti saat lengan nya ada yang mencekal.
"Tolong lepaskan tangan anda dari nyonya saya tuan." Dorothi mencekal balik lengan kekar lelaki itu.
Deva menatap lelaki jangkung itu, ada apa dengan bule satu ini.
" Lepaskan tangan anda." Deva terbata saat berbicara menggunakan bahasa inggrisnya
"Ada apa ini nyonya." Pedro segera menghampiri kedua wanita yang tengah di jaganya.
" Aku mau pulang Ped." Deva terlihat sedikit pucat kepalanya kembali pusing.
Bruugghhh...Tubuh kecil Deva runtuh seketika kalau saja tidak ada Pedro mungkin bisa langsung membentur lantai.
"Nyonyaaa....". Dorothi terlihat sangat panik melihat Deva tak sadarkan diri
'matilah kau Pedro, siap siap saja kau di penggal oleh Boss mu' pedro begidig ngeri membayangkan apa yang akan terjadi pada nya setelah ini sembari dia mengangkat tubuh nyonya nya itu.
Dorothi dan pedro membawa Deva dari sana untuk segera di larikan ke rumah sakit.
Sedangkan laki laki yang tadi hendak berdebat dengan Deva terlihat mematung
'Siapa wanita mungil itu kenapa dia berani pada Miranda, padahal tubuhnya mungil tapi keberanian nya besar juga. Menarik' Laki laki yang di panggil Valdo oleh Miranda tadi hanya menyunggingkan senyum.
__ADS_1
NENG OTHOR MAH GAK MAU OLENG AH, MAU LURUS LURUS AJAππππ TAKUT TI SUKSRUK...