ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
AQILLA si BLACK WIDOW


__ADS_3

**BUDAYAKAN UNTUK VOTE DULU SEBELUM MEMBACA


HATUR NUHUN**...


"Aku mau bicara". Basstian mengalihkan pandangan nya pada pemilik suara yang membuat dia tergila gila.


Saat ini mereka semua tengah berada di halaman belakang penthouse Dominic, mereka tengah menikmati suasana kebersamaan dengan cara makan makan, makanan yang sudah di masak oleh emak tadi sambil bercanda dan mengobrol .


Basstian mengikuti langkah gadis kecil itu , mereka berdua menjauh mencari tempat yang aman untuk bicara.


"Apa maksud nya ini."Gadis itu mengeluarkan kotak beludru yang selama ini dia simpan.


"Apa..?" Basstian bodoh atau memang pura pura bodoh , jelas jelas itu kotak yang sengaja dia tinggalkan di kamar Aqilla.


"Apa nya yang apa, kakak sengaja kan ninggalin ini di kamar aku. Buat apa coba!" Aqilla mendorong kotak itu di dada Basstian namun dia masih terdiam sembari mengulum senyum.


"Aku suka panggilan yang kamu kasih buat aku." Aqilla semakin kesal, kenapa nih bule gak nyambung sih kalo di ajak ngomong.


"Teu nyambung ihh kehel uing mah."( gak nyambung ihh kesel aku tuh)


Aqilla memekik dengan menggunakan bahasa kerajaan nya yang mana malah membuat Basstian terkekeh.


"Itu cincin untuk kamu." Aqilla menoleh sembari memasang wajah garang nya namun malah terlihat lucu di mata Basstian.


"Buat apa".


"Ya buat kita nikah lah, kita kan udah tunangan.... Dua hari yang lalu. Jadi anggap saja itu cincin pertunangan kita."


Basstian berbicara lancar jaya tanpa hambatan, dia tidak harus berbicara balelo atau kaku dalam menggunakan bahasa indonesia karena Basstian berbicara bahasa inggris pun Aqilla dapat mengerti sebab earpiece selalu nemplok di telinganya.


"Haaaa...Kakak jangan ngada ngada deh, emang Qilla kapan bilang mau nikah. Dan soal tunangan itu Qilla mohon maaf aja ya, dan terimakasih sudah membantu jadi tolong ambil lagi cincin ini Aqilla gak mau." Aqilla meraih telapak tangan Basstian lalu dia meletakan kotak itu di tangan nya.


Basstian hanya terdiam, apa kah dia di tolak sebelum bertindak, apa kah tidak ada kesempatan untuk nya. Basstian menghembuskan nafas nya saat Aqilla berbalik untuk meninggalkan nya , namun tidak lama Aqilla berbalik menuju arah nya dan...


Bugghhh....Satu bogeman mentah mendarat di perut keras dan sixpack nya.


"Itu untuk pelukan yang di pesawat kemarin, jangan main peluk peluk anak perawan orang sembarangan !" Basstian meringis , pukulan Aqilla terasa panas di perutnya . Basstian yakin tidak lama perutnya akan membiru, ya ampun tangan sekecil itu kenapa tenaga nya kayak samson pantas saja makan nya banyak.


Aqilla berlalu pergi tanpa rasa bersalah meninggalkan Basstian yang masih memegangi perutnya, Aqilla hanya ingin memberi pelajaran pada pria itu agar tidak sembarangan memeluk anak gadis orang, dengan Aqilla saja yang nota bene tidak terlalu akrab berani memeluk nya , apa lagi dengan wanita yang ada di negara ini yang bersifat bebas.


Aqilla kembali kehalaman belakang di sana masih ada keluarga nya, tidak lama Basstian pun hadir di tengah tengah mereka.


"Ti mana Dek."( dari mana dek)


Emak menghampiri Aqilla yang masih menekuk wajah nya kesal


"Dari toilet." Aqiila berbohong mana mungkin dia bilang pada sang ibu kalau dia habis ngasih onde onde bertulang buat Basstian.


Aqilla terlihat melirik ke arah Basstian yang masih memegangi perutnya, wajahnya terlihat meringis dan sedikit pucat. Apa pukulan nya terlalu keras tadi, perasaan biasa aja. Aqilla mencoba tidak memperdulikan itu toh yang dia lakuin adalah bentuk perlindungan diri untuk nya.


"Kau kenapa Bass." Dominic menepuk pundak adik nya saat melihat Basstian terlihat menahan sakit.


" Aku..Aku sakit perut kak, ya sakit perut. " Basstian mencoba meyakinkan Dominic yang terlihat sedang menyelidik.


"Yakin?" Dom tidak percaya begitu saja, kalau memang sakit perut kenapa Basstian tidak ke toilet saja. Namun saat dia melihat Basstian menganggukan kepala Dominic mencoba mempercayai nya dan dia pun berlalu menuju Deva yang tengah memakan kripik singkong yang emak bawa dari kampung.


" Seperti nya enak, kenapa Abang gak di bagi."Deva yang sedang duduk langsung menoleh ke samping saat ada seseorang yang menyomot keripik dari tangan nya.


"Abang mau." Deva menyerahkan toples kaca yang ada di pangkuan nya dan dengan senang hati Dominic menerimanya sembari sesekali dia menyuapi Deva keripik


"Bagaimana kalau besok kita mengajak emak sama Bapak jalan jalan." Deva terlihat langsung sumringah saat mendengar suaminya akan mengajak keluarganya jalan jalan.


"Abang mau ngajak jalan jalan, tapi apa neng boleh ikut." Wajah yang tadi nya senang kini terlihat sendu, kalau mereka semua jalan jalan apa dia juga boleh ikut secara belum genap dua minggu Deva beristirahat selepas operasi.


"Boleh , asal kamu pake kursi roda agar kamu tidak kelelahan." Deva menghela nafasnya panjang, sebenarnya dia malas untuk pake kursi roda . Deva berfikir kaki nya masih sehat untuk apa pakai kursi roda seperti dia lumpuh saja, tapi dari pada tidak ikut mending iyain aja deh.


Deva menganggukan kepala nya dan tersenyum lembut pada Dominic.


"Iya neng gak papa pake kursi roda, terus kita mau kemana jalan jalan nya." Dominic terlihat berfikir sembari memakan keripik yang ada di pangkuan nya


"Bagaimana kalau kita ke Air Terjun Niagara, kamu belum pernah kesana kan. Abang juga pernah janji sama kamu kalau Abang mau ngajak kamu kesana." Deva menganggukan kepalanya semangat dia ingin sekali ke air terjun terbesar sedunia itu


"Neng mau...". Dominic tersenyum dan mengecup pucuk kepala Deva tanpa memperdulikan orang orang yang sedang menatap mereka.


"Panon(mata) suci Zae ternoda." Zae memekik sembari menutup kedua mata nya menggunakan telapak tangan nya.


"Hadeuh kabiasan teu nyaho tempat ." ( hadeh kebiasaan gak tau tempat) Aqilla menggerutu pelan sembari memainkan ponselnya, bukan malu dan berhenti Dominic malah memberikan kecupan berkali kali di pucuk kepala Deva yang membuat Deva risih.


"Abangg...Jilbab neng rusak ih." Dominic semakin tertawa saat melihat wajah masam sang istri, emak dan bapak yang melihat kedua anak mereka pun ikut tersenyum bahagia, semoga anak dan menantu nya itu selalu bahagia.


***


Tap


Tap


Tap


Suara sepatu pantofel hitam mengkilat menghentak di lantai sebuah lorong.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Cleekk....


"Tuan...". pria berkulit hitam itu membungkukan tubuhnya saat berhadapan dengan pria bertatto yang tengah menghisap cerutunya.


"Ada kabar apa Josh." Dia masih terlihat santai dan arogan menempatkan kedua kaki nya di meja.


"Seperti nya kita tidak mungkin bisa menjalankan rencana kita Tuan." Pria bertatto itu mendelikan mata nya pada sang asisten


Braakkk....Dengan keras dia menggebrak meja kaca yang ada di hadapan nya hingga retak


"Kenapa, apa kau tidak becus untuk menjalakan perintahku !!" Dia membentak sang asisten yang hanya bisa menundukan kepalanya. dia sudah tau pasti akan begini hasilnya.


"Bukan bagitu Tuan, Vins tidak akan ke malibu minggu ini. Jack menggantikan nya karena dia harus menunggui istri nya yang baru saja keguguran." Pria bertatto itu melirik ke arah Josh dengan seringai di wajahnya.


"Baiklah aku akan bersabar, setidak nya aku akan membiarkan dia berduka terlebih dahulu untuk calon anak nya sebelum berduka untuk dirinya dan istri tercintanya."


Josh pun menganggukan kepalanya undur pamit dari pria yang menjadi atasan nya itu.


"Sebentar lagi Vins, tunggu sebentar lagi Vedro akan berkuasa di atas segalanya haaaa...haaaa".



🍁🍁🍁


"Sudah siap semua." Mereka semua yang ada di dalam mobil itu mengangguk. Di dalam mobil ada Deva,emak, bapak dan Dorothi serta Dom yang menjadi supir pribadi mereka hari ini. Deva meminta Dominic untuk membawa Dorothi karena nanti saat mereka selesai jalan jalan Deva ingin membeli perlengkapan berkebun nya, alhasil dia harus membawa aunty Dorothi karena dia yang tahu tempatnya.


sedangkan di mobil lain Aqilla dan Zae serta Basstian, karena mobil Dominic tidak muat untuk mereka semua akhirnya Basstian harus membawa mobil sendiri.


Sebenarnya Aqilla menolak untuk bersama Basstian, dia menyuruh Dorothi dan Zae yang ikut mobil itu namun karena bujuk rayu sang teteh akhirnya dia pasrah dari pada gak jadi ikut


Sekitar 5 jam 36 menit waktu yang harus mereka tempuh dari Ottawa Kanada menuju Niagara Amerika serikat menggunakan mobil dengan jalanan lenggang kalau jalanan tengah ramai waktu yang mereka tempuh lebih panjang.


Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan akhir nya mereka sampai di Air Terjun Niagara




Niagara adalah Air Terjun terbesar di sungai Niagara yang berada di garis perbatasan internasional antara negara bagian Amerika Serikat New York dengan provinsi Kanada Ontario.


"Waaaahhhh....". Mereka semua bersorak saat keluar dari mobil, masih jauh saja sudah mendengar deras nya aliran air terjun itu.


Deva di dudukan oleh Dominic di kursi roda yang sudah mereka siapkan sebelum nya, dengan hati hati Dom mendorong kursi roda Deva menuju keluarganya yang tengah menunggu . Aunty Dorothi dan emak membawakan barang barang mereka di bantu oleh bapak dan Basstian, halal aa BaBas mau caper sama calon mertua ya aaacciiee yang di tolak kemaren.


"Kamu pusing sayang." Deva mendongakan kepalanya menatap manik safir Dominic, Deva menganggukan kepalanya. Dominic pun hanya tersenyum lalu mengecup lembut pucuk kepala Deva.


"Iya Abang." Deva memang agak pusing tapi tidak seperti dulu, kali ini pusing nya masih bisa dia tahan bahkan masih bisa makan dan minum biasanya kalau dia sudah mabuk perjalanan jangan kan makan dan minum bernafas aja langsung mual.


Mereka semua mengikuti langkah nya Dominic , sesampai nya di sana Dominic mengajak mereka berfoto, menaiki kapal yang khusus membawa mereka untuk mendekat pada Air Terjun.


Setelah seharian lamanya mereka memutuskan untuk kembali ke Ottawa, tapi karena waktu masih sore Dom mengajak mereka untuk makan dan berwisata di kota Ottawa.


Dominic membawa mereka ke OTTAWA TULIP FESTIVAL





Ternyata pas sekali di Ottawa tengah di adakan festival bunga tulip yang hanya ada setahun sekali. Emak begitu heboh melihat bunga tulip warna warni yang bermekaran


"Pak emak hayang bibit nak." ( pak emak mau bibit nya)


Bapak menghela napanya saat emak berjingkrak bersama Aqilla dan Zae seperti bocah yang dapat mainan baru


"Cabut weh mak urang karungan, engke di bumi aa bule urang pindah keun terus bawa ka dayeuh urang."( Cabut saja mak kita karungin, nanti di rumah aa bule kita pindahin terus bawa ka kampung kita)


Zae terus mendokrin emak untuk mencabut bunga bunga indah itu


Plaakkk...Satu geplakan agak keras mendarat di kepala Zae


"Ulah sok ngajaran emak nu macem macem Zaenudin, maen cabut cabut weh emang na eta kembang nu melak maneuh."( jangan suka ngajarin emak yang macam macam Zaenudin , main cabut cabut saja memang nya itu bunga yang nanam kamu)


"Nyeuri teteh." ( Sakit teteh) Zae mengelus kepala belakang nya yang di geplak oleh Qilla tadi


"Cicing, hayang di alungkeun ka walungan jero tuh ku teteh."( diam, mau di lemparkan ke sungai dalam itu sama teteh)


Zae hanya cemberut mendengar ancaman Aqilla, Zae tau teteh nya yang satu ini lebih kejam dari pada ibu tiri.


"Zae ikut aa BaBas saja yuk." Basstian menghampiri Zae yang sedang menekuk wajahnya, dengan semangat dia meraih uluran tangan Basstian dan kurang ngajarnya dia mengejek Aqilla dengan menjulurkan lidah sembari menarik kulit mata nya kebawah.


"Awas siah."( awas kamu) Aqilla memberi kode bogeman pada Zae yang terkikik melihat wajah masam Aqilla.


"Kamu mau bunga tulip sayang." Deva sudah turun dari kursi roda nya dia berjalan pelan di bantu oleh Dominic.


"Emang boleh neng nyabut bunga di sini." Dominic terkekeh sembari membetulkan jilbab pasminah Deva yang sedikit berantakan karena tertiup angin.


"Bukan bunga yang ini, tapi nanti kita beli bibit nya okay. Kamu bisa menanam nya di rumah nanti, bukan nya kamu mau berkebun di halaman belakang." Deva tersenyum ke arah Dominic sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang yang sandaranmable itu.


"Eemm...Neng juga mau nanam cabe, tomat, daun bawang, seledri ,sawi, bayam, kangkung, paprika yang kayak cabe tapi besar itu, enak tapi gak pedes jadi neng mau nanam cabe sendiri . Terus nanti di sebelah kanan deket sungai buatan neng mau tanamin macem macem bunga, boleh kan."

__ADS_1


Dominic tersenyum mendengar penuturan sang istri yang mulai melupakan kesedihan nya saat ini.


Cupp...Dominic mengecup basah dahi Deva saat dia mendongakan wajah nya pada Dominic.


"Boleh sayang, apa pun yang kamu mau." Deva tersenyum sembari mengeratkan pelukan nya di pinggang sang suami.


***


"Teteh ngapain ngikutin kita sih." Basstian menoleh ke arah belakang saat Zae terdengar berbicara dengan seseorang.


Basstian tersenyum tipis saat melihat seorang gadis kecil diam diam mengikutinya dan Zae.


"Saha nu nuturkeun sih, ih gr."( Siapa yang ngikutin sih, ih gr)


Aqilla jadi salah tingkah saat ketahuan kalau dia sedang mengikuti mereka.


"Halah ngaku weh."( halah ngaku aja)


Aqilla semakin gusar saat Zae terus mengintimidasi nya


"Naon sih ih."( apa sih ih) Aqilla segera kabur dari sana saat Basstian menatap nya lekat, padahal Aqilla hanya ingin menanyakan ke adaan Basstian saja. Apa perut yang di tonjok kemarin baik baik saja? Tapi kenapa gengsi nya tinggi banget saluhur gunung tilu ( setinggi gunung tiga)


Basstian yang melihat Aqilla berlalu pergi hanya mendesah kecewa, apa sebegitu tidak mau nya Aqilla dekat dengan nya. Apa Basstian harus menyerah, apa dia harus menunggu nya beberapa tahun lagi untuk mengungkapkan rasa cinta nya pada gadis galak itu.


***


"Kalian pesan saja ya Abang mau ketoilet dulu." Deva mengangguk,untung Deva sudah tahu makanan halal yang ada di restoran ini. Apa lagi di bantu oleh Dorothi dan Basstian saat mereka memesan nya.


Deva masih duduk di kursi roda di sebelah Aqilla sedangkan di sebelah satunya kursi kosong milik Dominic yang sedang ke toilet.



Mereka memesan makanan halal yang ada di restoran itu, bahkan Dorothi dan Basstian pun antusias ingin mencicipi makanan yang telah mereka pesan




Makanan yang berbahan daging ayam , sapi, ikan serta nasi dan kawan kawan nya.


Tidak lama Dominic kembali, dia terlihat sudah mengganti kemeja maroon dengan kaos abu abu nya.


"Abang mau yang mana." Deva menawarkan makanan yang ada di hadapan nya


"Abang mau yang kamu makan saja." Deva tersenyum dia tahu saat ini Dominic ingin di suapi oleh nya, dengan senang hati dia menyuapi si bayi gerang nya tanpa memperdulikan tatapan mata orang orang sekitar, anggap aja mereka makhluk halus yang lagi ngontrak.


Setelah mereka selesai makan terlihat di luar hujan deras,akhirnya Dominic dan rombongan memilih untuk tetap berada di dalam restoran dengan menambah pesanan makanan penutup seperti eskrim dan cup cake.


Drrrtt...Drrrtt...Ponsel yang ada di saku celananya berbunyi


"Sebentar ya Abang terima telpon dulu." Dominic menjauh dari mereka yang masih mengobrol bahkan Dorothi pun ikut larut dalam celotehan khas emak yang sesekali membuatnya tertawa saat mendengar terjemahan di earpiece milik nya.


"Wah wah gadis kampung beserta keluarga kampung nya di sini, hei kau kenapa? kau lumpuh sampai memakai kursi roda." Semua orang yang ada di sana melirik ke arah Deva dan yang lain nya, Miranda terlihat soalah olah terkejut melihat ke adaan Deva saat ini.


"Nona Miranda jaga sikap Anda!" Basstian bangkit dari duduk nya , dia segera menghampiri Miranda yang mengoceh tak berfaedah


"Ohhh ada kau juga Bass, di mana Boss mu aku ingin sekali bertemu dengan nya. Aku ingin sekali mengucapkan bela sungkawa atas kehilangan calon anak yang dia nanti nantikan selama ini. Kasihan ya coba saja kalau aku yang menikah dengan nya sudah pasti kami sudah punya anak, tubuh ku yang sehat dan tidak berpenyakitan seperti wanita lumpuh itu pasti bisa menghasilkan keturunan untuk Klan Vins yang unggul." miranda tersenyum sinis pada Deva yang masih terdiam


"Miranda...!"


"Nona Miranda...!"


Basstian dan Dorothi menyentak miranda bersamaan, Deva hanya menghela nafasnya kalau saja dia sedang tidak sakit sudah dia sumpal mulut nini kunti itu dengan sambal yang ada di hadapan nya.


Emak dan Bapak hanya terdiam syok melihat kejadian ini, Zae pun tidak paham apa yang sedang terjadi kali ini. Sedangkan Aqilla?


Bbbyyuuurrrr..... Satu ember air menguyur tubuh sexy miranda, air yang berwarna coklat itu tumpah habis di tubuhnya yang mana membuat dia menjerit.


"Aaaakkkhhhh....!" Miranda mengibas ngibaskan baju nya yang basah serta menjadi transparan, Emak bahkan langsung menutup mata bapak menggunakan tangan nya serta Dorothi yang langsung menutup mata Zae yang berkedip kedip lucu sedangkan Basstian dia langsung memalingkan wajahnya.


Brraakk... Ember itu di lempar di hadapan Miranda yang tengah menjerit karena kedinginan. entah dari mana dia memdapatnya neng othor pun teu nyahok.


"Berani kau menghina kakak ku. Hei kau !! kau fikir dirimu yang berpenampilan seperti bebegig( jurig/setan) sawah ini pantas bersanding dengan kakak ipar ku. Ngaca dong ngaca apa kau tidak punya kaca di rumah lihat penampilanmu, pake baju kurang bahan, bedak 5 centi tebelnya, bibir jontor kayak di sentup tawon, rambut kayak habis kena semprot situ katarak atau gimana."


Aqilla berkacak pinggang sembari mengitari tubuh lembab dan basah Miranda


"KAU !!! DASAR BOCAH KURANG AJ ...". Miranda memekik keras kepada Aqilla namun sebelum dia menyelesaikan ucapan nya suara bariton keras mengalihkan pandangan mereka dari miranda


"Ada apa ini...!" Dominic terlihat menggertakan rahang nya melihat Miranda ada di tengah tengah keluarga sang istri.


"Abang....". Deva bangkit dari duduknya untuk mendekati sang suami, Deva tahu pasti Dominic akan murka melihat miranda disini.


Miranda yang melihat Deva bangun dari duduk nya pun ternganga apa lagi melihat Deva bisa berjalan, dia pikir wanita kampungan itu akan lumpuh setelah kehilangan bayinya karena dia melihat Deva duduk di kursi roda, tapi ternyata?


"Kenapa? Kau terkejut melihat kakak ku bisa berjalan, kau pikir kakak ku lumpuh huh. Makanya lihat pake mata buta lu yak ! jangan kau fikir kami anak kampung takut sama wanita bule jadi jadian macam dirimu, hati hati anda ya !!"


Widih ada gunanya juga jadi anak tik tok, kata kata pedas itu selalu ada di beranda tiktok Aqila untuk haters para k- popers


"Miranda ....." Kali ini suara berat nan sexy itu mengintimidasinya, Miranda bahkan di buat begidig mendengar suara Dominic yang menahan amarah yang siap meledak


**HAYOK LOH MIRANDA ATI ATI LU, AQILLA LEBIH BAR BAR DARI PADA DEVA LOH, DI CAPLOK LU ENTAR


KABURRRRRR**......

__ADS_1


__ADS_2