ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
Duel Hidup dan Mati 2


__ADS_3

Mereka berdua kini sudah saling berhadapan. Berada di atas sebuah tebing yang langsung berhadapan dengan laut dalam di bawah nya.


"Kau bisa mundur Vins kalau kau merasa takut, dan serahkan semua kekuasan mu pada Vedro dengan begitu kau bisa lolos dari kematian mu yang ada di tanganku." Dominic hanya tersenyum tipis mendengar ucapan arogan dari rival nya itu.


"Kau salah Vedro, kematian ku bukan ada di tangan mu tapi di tangan Tuhan. Apa kau merasa seakan akan kau Tuhan di sini, hentikan bualan mu itu dan segera lah di mulai. Aku ingin cepat istrirahat dan menghabiskan waktu bersama istriku." Dominic tersenyum manis serta dengan genit nya dia mengedipkan sebelah matanya pada Deva saat pandangan mereka beradu.


Deva berdecak kesal melihat kelakuan suaminya itu. Kenapa di saat seperti ini suami bule gelo mesum nya itu masih saja genit padanya.


"Habiskan lah waktu mu di akhirat nanti Vins." Vedro sudah mengambil ancang ancang untuk menyerang Dom terlebih dahulu.


Mereka berdua saling menyerang dengan tangan kosong. Dominic memukul telak dia area vital milik Valdo.


"Kau terlalu lamban." Dom tersenyum angkuh saat melihat rivalnya kewalahan dalam menghadapi setiap serangan nya.


Hidup sendiri di usia 10 tahun membuat Dominic harus bisa melindungi dirinya sendiri sebelum dia dewasa. Berbagai macam ilmu beladiri dia tekuni mulai dari tekwondo, karate,boxing,thai boxing dia kuasi mungkin hanya beladiri Silat dari Indonesia yang belum dia kuasi.


"Kau hanya sedang beruntung Vins, jangan sombong dulu." Valdo kembali menyerang dengan gerakan cepat. Satu tendangan telak mengarah dada Dominic, karena Dom sedikit lengah akhir nya tendangan itu tepat mengenai dadanya membuat dia sedikit terhuyung ke belakang.


"Abanggg!!" Deva hendak berlari kearah Dominic saat melihat Dom memegangi dadanya. Namun lengan nya di cekal oleh Basstian sembari menggelengkan kepalanya.


"Neng mau kesana Bass!" Deva melepaskan cekalan Basstian di lengan nya


"Percaya kan semua nya pada Boss kakak ipar, tenang lah ayo duduk!" Deva menatap sendu pada suaminya dan mendudukan kembali tubuhnya di atas sebuah batu.


"Ini mah lebih tegang dari pada lihat Aqilla tanding Silat di Turnamen!" Basstian menoleh pada Deva saat mendengar gumaman nya


"Aqilla di turnamen? memang nya Aqilla bertanding apa di sana." Deva menghela nafas nya kasar kalau mengingat keganasan Aqilla saat melumpuhkan lawan lawan ketika bertanding.


"Aqilla bertanding bela diri Silat, dia selalu mendapat juara saat ikut Turnamen. Sampai sampai banyak yang protes kalau Aqilla tidak boleh diikutkan lagi dalam pertandingan karena keseringan menang."


Gleek... Basstian menelan air ludah nya pahit. Pantas saja dulu pukulan Aqilla membekas di perutnya, dia baru tahu kalau gadis galak dan jutek nya itu bisa beladiri. Astaga kalau Basstian macam macam bisa bisa habis di hajar oleh Aqilla nanti.


Basstian sampai begidig memikirkan nya. Baru memikirkan nya saja sudah mengerikan bagaimana kalau itu kenyataan. Walaupun Bastian sangat menguasai Thai Boxing seperti Dominic tapi dia kan belum mengetahui apa itu Silat, bisa bisa Aqilla lebih jago bela diri nya dari pada dia. Hanya satu biar dia aman dan selamat JANGAN MACAM MACAM!


"Kamu takut ya Bass." Deva terkikik geli saat melihat wajah Basstian yang tiba tiba memucat.


"Bukan cuma takuk kak, aku rasa itu akan menjadi hal yang mengerikan kalau aku membuat masalah dengan gadis kecil itu."


Deva hanya tersenyum mendengar ucapan Basstian,Deva jadi merindukan adik nya yang galak dan jutek itu kan, merindukan si bungsu yang bawel dan jahil, merindukan emak dan bapak, merindukan sahabat nya Siti Cengceremen. Semoga setelah masalah ini selesai Deva bisa pulang dulu ke Indonesia untuk melepas kerinduan nya.


Manik coklat Deva kembali fokus pada sang suami yang tengah menghadapi serangan demi serangan yang di layangkan lawan nya. Wajah kedua nya sudah banyak lebam, sudut bibir nya berdarah karena terkena pukulan Valdo. Begitu pun dengan Valdo keadaan nya malah lebih parah dari Dominic. Kedua pelipis nya bocor ,hidung nya mimisan wajah nya lebam ,serta sudut kedua bibir nya berdarah.


"Bagaimana? kau sudah menyerah hm." Valdo terlihat sesekali menyeka darah yang keluar dari hidung nya.


"Dalam mimpi mu bangsat!" Valdo kembali mengambil kuda kuda untuk kembali menyerang Dominic.


"Sudah lah aku akan mengampuni mu saat ini. Dan kau bisa menyerahkan dirimu pada polisi setelah ini." Dom terus menangkis serangan demi serangan yang di layangkan oleh Valdo padanya.


"Aku tidak akan menyerah padamu, jangan penah bermimpi! kita akan terus bertarung sampai salah satu dari kita meregang nyawa!"


Bugghh....


satu tendangan telak mengarah di dada Valdo, yang mana membuat nya harus memuntahkah cairan kental berwarna merah.


Deva memejamkan matanya saat melihat rival suaminya terbatuk dan memutahkan cairan merah itu. Dom menyerang telak di area vital Valdo namun dia tidak berniat untuk membunuh nya.


"Bangun lah, aku tidak akan membunuhmu. Karena aku masih punya hati, aku tidak ingin kelak anak anak ku mengenaliku sebagai pembunuh." Dom mencengkram kerah kemeja Valdo untuk membawanya bangkit. Dengan mulut yang di penuhi darah segar Valdo terlihat menyeringai pada Dominic.


"Kau terlalu naif Vins! kau tau siapa yang membunuh kedua orang tua mu serta saudara mu itu hem!...heeee..heee... Klan kami, klan kami Vedro yang sudah menyingkirkan pemimpin klan Vins sebelum nya." Valdo terkekeh melihat wajah dingin Dominic yang menatap tajam padanya.


Bugghh.... Satu pukulan menambah pundi pundi lebam yang ada di wajah Valdo


"Kenapa, Kenapa kalian melakukan itu pada keluargaku!" Dominic berkata pelan namun penuh dengan penekanan


"Kau ingin tahu hem, baiklah akan aku ceritakan. Klan mu terlalu naif dengan klan kami, klan mu tidak mau ikut berkerja sama dalam jaringan bawah tanah yang kami buat. Bahkan Ayahmu malah mengancam kami kalau dia akan menghancurkan klan Vedro kalau sampai klan kami melanggar aturan yang sudah ada. Karena itu Ayah ku serta petinggi yang lain nya merencanakan pembunuhan pada keluargamu inti dari klan Vins, tapi sayang ternyata kau masih selamat ya dari kecelakaan itu. Kami kira kau akan mati bersama keluarga tercinta mu." Valdo terkekeh melihat aura membunuh dari Dominic


"Ayolah membunuh atau di bunuh sudah hal biasa di dalam dunia kita, kalau kau tidak ingin membunuh ku.... biar aku yang membunuhmu."


Jleb....

__ADS_1


Satu buah tikaman mengarah pada dada Dominic membuat dia melepaskan cengkraman nya dan terhuyung kebelakang.


"BOSS!!!"


"BAJINGAN!!" Bukan itu bukan Dominic itu suara Basstian yang langsung berdiri dari duduk nya. Bahkan semua bawahan nya yang sedari tadi menjadi pagar betis untuk Deva pun segera menghampiri Dominic yang sudah terduduk di tanah


Dor..


Satu peluru dia lepaskan ke arah Valdo dan tepat mengenai dada kirinya.


"Tuan!!" Valdo pun tersungkur akibat peluru yang di lepaskan oleh Basstian.


Deva masih mematung, dia begitu syok melihat kejadian ini. Ini tidak seperti yang di bayangkan nya


"Hueekk...!" Dominic memuntahkan cairan kental berwarna merah dari mulut nya membuat kesadaran Deva pulih dan memjerit histeris


"ABANGGGG!!" Deva segera berlari menubruk tubuh lemah Dominic


"Abang.. Abang...ini neng ! Abang bangunnnn! KENAPA KALIAN DIAM SAJA, CEPAT BAWA SUAMIKU KERUMAH SAKIT!!" Deva berteriak sekencang nya sembari memangku kepala Dominic di pahanya. Dia tidak peduli banyak darah mengenai nya.


Bruummm.....


Semua orang menoleh saat mendengar suara mobil yang menjauh dari lokasi


"SIALANNN!!" Basstian mengumpat keras saat melihat mobil itu semakin jauh dengan membawa Valdo yang dia tembak sebelum nya. Mereka fokus pada Dominic hingga Valdo di bisa di bawa pergi oleh anak buahnya.


"Hallo...Bawa Hellikoptermu CEPAT!!" Basstian ingin sekali membanting ponselnya saat ini. Kenapa mereka tidak membawa dua mobil tadi, mobil mereka sudah di pakai untuk membawa Black dan Blade tadi dan belum kembali.


"Abang... Abang buka matanya, jangan tidur kalau Abang tidur neng bakalan marah sama Abang, buka matanya buka!" Tangisan Deva semakim kencang saat melihat Dominic semakin memejamkan matanya.


"BASS!!"


Basstian langsung menoleh dan berjongkok di dekat Deva dan Dominic.


"Iya kakak ipar." Tubuh Basstian sedikit bergetar saat melihat darah Dominic mengalir semakin banyak.


"BASSTIANN!!!" Deva berteriak marah saat Basstian malah terdiam dengan tatapan yang kosong. Namun setelah itu dia dengan cepat membuka satu persatu kancing kemeja hitam yang di pakai oleh Dominic.


Deva melepaskan sebentar tekanan tangan nya di luka Dominic saat Basstian mencopot kemeja yang di pakai oleh suaminya.


Deva semakin histeris saat melihat luka tikaman yang ada di dada sebelah kiri Dominic. Dengan cepat dia merebut kemeja itu dari tangan Basstian dan segera menyumpalkan kembali untuk menekan luka itu.


Darah masih saja kaluar, kemeja itu tidak mampu menahan mya. Dengan sebelah tangan nya Deva berusaha melepas pasminah yang melekat di kepalanya.


Namun tangan nya cepat di tahan oleh Basstian


"Jangan kak!" Basstian tahu kalau Deva berniat melepas penutup kepalanya. Dengan cepat Basstian melepaskan kemeja maroon yang dia pakai dan menyerahkan nya pada Deva ,alhasil dia kini harus bertelanjang dada.


"Pakai ini, jangan pernah kakak ipar melepas hijab . Kalau tidak ingin kakak ku murka nanti." Deva segera meraih kemeja itu dan menambahkan nya pada kemeja yang tengah menekan luka Dominic.


"Abanggg...!" Deva merengkuh kepala Dominic sembari menekan kuat luka itu di bantu oleh Basstian.


"Sssttt...Jangan nangis..Aa..Abang ti..tidak..a..apa..apa." Bukan nya berhenti Deva malah semakin histeris.


"Abang jangan tidur!" Dom tersenyum tipis


"Aa..Abang tidak ti..tidur so..soalnya..Abang ta..kut kamu marah nan..ti Abang ti..tidak di be..ri jatah." Dominic malah terkekeh membuat Deva ingin mengigitnya gemas. Di saat seperti ini saja suaminya itu masih saja mesum


"ABANGGGG!!!"


πŸ’πŸ’πŸ’


Setelah menunggu lama akhirnya mereka sampai di salah satu rumah sakit di kota New York. Rumah sakit LENOX HILL



Tim medis segera menuju ambulan yang membawa Dominic. Setelah mereka di terbangkan oleh Hellikopter dari hutan itu setelah mereka sampai di perkotaan Dominic harus segera di pindahkan pada ambulance karena di sekitar rumah sakit tidak ada landasan untuk pemberhentian Hellikopter.


Dominic segera di bawa ke ruang operasi oleh tim medis. Deva dan Basstian masih mengikuti tim medis yang membawa Dominic.

__ADS_1


"Anda tidak boleh masuk nona" Langkah Deva tertahan saat salah satu suster tidak mengijinkan nya masuk ke dalam ruangan.


"Sudah kak, kita tunggu saja di sini." Deva pun pasrah dia mendudukan dirinya di kursi yang ada di sana


"Tuan ini pakaian anda dan nyonya." Salah satu bawahan nya membawakan sebuah papare bag


"Kakak ipar ganti dulu, pakaian mu penuh dengan darah." Deva mendongakan wajahnya menatap pada Basstian


"Seharus nya kamu yang pake baju Bass . Kamu gak lihat tuh para suster lihatin kamu terus." Basstian menggaruk tengkuk nya dan tersenyum kikuk pada Deva.


Clekk...


pintu ruangan terbuka saat Deva hendak melangkah kan kaki nya


"Keluarga pasien."


"Saya Dok, saya istrinya."


Dokter itu terlihat menghela nafasnya sejenak


"Nyonya suami anda kehilangan banyak darah, kami membutuhkan golongan darah O+. Saat ini kami sedang mencari kerumah sakit lain karena rumah sakit kami sedang tidak ada stok persedian golongan darah tersebut."


Deva bergetar saat mendengar ucapan sang Dokter


"Terus bag....!"


"Saya akan mendonorkan darah untuk suami saya Dok." ucapan Basstian terpotong saat Deva kembali berucap. Deva ingat saat Dominic mendonorkan darah nya ketika dia oprasi beberapa bulan yang lalu.


"Baik kalau begitu kami akan memeriksa anda terlebih dahulu."


Deva melupakan tujuan pertamanya untuk berganti baju. Saat ini yang dia fikirkan adalah suaminya.


***


"Bagai mana sus?" Deva menurunkan lengan bajunya saat suster sudah menyelesaikan pemeriksaan tekanan darah nya.


"Tekanan darah anda normal nyonya, tapi anda tidak bisa mendonorkan darah saat ini."


Deva masih tidak mengerti saat mendengar ucapan suster itu. Kenapa dia tidak bisa mendonorkan darah nya kalau tekanan darah nya normal


"Kenapa sus, kenapa saya tidak bisa mendonorkan darah saya padahal tekanan darah saya normal. Apa ada masalah dengan kesehatan saya sus." Suster itu tersenyum mendengar penuturan panik wanita mungil di hadapan nya.


"Anda sehat nyonya, malah sangat sehat. Masalah nya anda sekarang tengah mengandung jadi medis tidak menyarankan anda untuk mendonorkan darah anda sekarang."


Deva masih terdiam saat mendengar ucapan suster itu


"Nyonya anda baik baik saja."


"Sa..Saya kenapa Sus." Suster itu tersenyum tulus pada Deva


"Anda sedang mengandung nyonya, mungkin usianya sekitar 6 mingguan." Tanpa terasa air matanya menetes ,Deva mengusap perut datar nya yang terlapisi oleh blouse yang terkena darah Dominic.


"Saya hamil." Suster itu menganggukan kepalanya


"Sekarang nyonya lebih baik ganti pakaian terlebih dahulu lalu istirahat. Dokter menyaran kan itu tadi biarpun kandungan anda kuat tapi anda harus tetap menjaga kesehatan anda serta kandungan anda nyonya."


Deva pun menganggukan kepalanya dan segera pamit untuk keluar dari ruangan itu.


"Abang, Neng hamil. Kita bakalan punya dede bayi lagi, Abang harus kuat demi kita."


Deva bergumam lirih sembari mengelus perut ratanya dan bergegas kembali keruangan di mana suami nya berada.


**ADUH UJAN UJAN GINI ENAK NYA MINUM ES TEH SAMA SEBLAK CEKER PEDES, SAMBIL NULIS PLUS REBAHANπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN NYA BUAT NENG DEVA YA...


BABAYYYYY...


HATUR NUHUN**...

__ADS_1


__ADS_2