ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
Mantu bule lagi ??


__ADS_3

Tuk....Tuk..Tuk..


Aqilla meletakan tiga cangkir kopi hitam di atas meja, wajah nya masih terlihat masam karena kejadian tadi.


KEJADIAN SEBELUMNYA....


Aqilla masih terdiam saat Basstian mengakui dia sebagai tunangan nya, apa yang harus di lakukan saat ini.


Lidah nya kaku, otak nya berhenti untuk berfikir. huuffttt...Aqilla menghela hafas nya dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan, semoga ini pilihan terbaik.


" Iya...Dia tunangan ku."


Duuuaaarrrrrrr.....Api cemburu langsung membara di mata dan hati Yugha, terlihat Yugha mengepalkan salah satu tangan nya karna tangan yang satu nya masih di gip. Sementara Basstian tersenyum samar, dia tidak menyangka kalau gadis kecil galak nya mau mengakui kalau dia sebagai tunangan nya. Apa ini merupakan lampu hijau untuk nya.


" Haaaa...Haaaaa Jadi ini yang menyebabkan kamu berkali kali menolak ku, terus kata kata bijak yang pernah kamu ucapin itu kemana. Yang kamu bilang tidak mau menjalin hubungan dulu karna kamu mau fokus sama sekolah mu, mana ! ." Yugha terlihat sangat kecewa bahkan dia tertawa hambar saat mendengar pengakuan Aqilla.


Tanpa banyak kata Yugha menjauh dari Aqilla menuju ke arah motor nya.


" Datang lah pada ku disaat dia menyakitimu nanti Qilla." Aqilla membatu mendengar penuturan Yugha, apa kah Yugha menyerah , apa kah Yugha membencinya, entahlah


Saat ini yang terpenting dia harus membereskan masalah ini terlebih dahulu terutama dengan bule sinting tapi ganteng yang ada di hadapan nya sekarang.


Kembali ke waktu sekarang....


"Duh emak belum nyiapin apa apa buat nyambut kedatangan nak Aldi sama Nak Basstian." Emak meletakan dua toples keripik singkong yang satu pedas dan yang satunya tidak.


Basstian dan Aldi hanya tersenyum berbeda dengan gadis yang tengah menatap tajam pada Basstian wajahnya masih di tekuk berlipat lipat.


"Mak Qilla ka kamar heula nyak."( mak Qilla ke kamar dulu ya)


Aqilla melangkahkan kaki nya menuju kamar, setiba nya di dalam kamar Qilla langsung membuka tas slempang kecilnya. Aqilla mengeluarkan sebuah kotak beludru dari sana.


"Maneuh kudu balik deui ka si Basstian." ( kamu harus kembali lagi sama Basstian)


Qilla menggenggam erat kotak belundru indah itu, Aqilla terpaksa mengakui Basstian sebagai tunangan nya di depan Yugha. Karena Aqilla tidak mau Yugha selalu mengejarnya dan memberikan janji janji manis pada nya, Aqilla tahu walaupun dia menjalin hubungan dengan Yugha pada akhirnya hubungan mereka akan kandas karena status sosial.


Dia dan Yugha bagai Langit dan kerak bumi, sangat sangat jauh berbeda. Ibarat Yugha sebagai Naga perkasa apalah daya Aqilla yang hanya sebatas Cacing cau.


Aqilla melirik jam di dinding kamar nya yang menunjukan pukul 3 sore, ini waktu nya dia untuk menyiapkan makan sore untuk orang tua,adik dan kedua tamu nya.


Biarpun Aqilla masih remaja, tapi dia sangat mandiri pekerjaan rumah sudah bisa dia kuasi semua. Ya walaupun masakan nya belum seenak emak dan Deva tapi lumayan lah.


"Jadi nak Basstian sama nak Aldi akan menginap di sini kan." Aldi melirik ke arah Basstian, Basstian terlihat mengangguk pelan mau tidak mau dia juga harus ikut menginap.


"Iya pak , kalau bapak mengijinkan kami untuk menginap kami akan menginap." Bapak pun menganggukan kepalanya tanda setuju. Bapak tidak mungkin membiarkan kedua tamu nya bolak balik kampung ke kota pasti mereka juga lelah.


"Dan besok kita akan langsung berangkat ke kanada." Kali ini Basstian ikut berbicara walaupun masih dengan logat asing nya yang begitu kental, namun bapak dan orang sekitarnya masih mengerti apa yang dia katakan.


🍁🍁🍁


"Kita akan bergerak satu minggu lagi, aku sudah mendapat kabar kalau Dominic akan pergi ke Malibu beberapa hari dan itu waktu yang tepat, singkirkan dia buat seolah olah itu kecelakaan." Pria berkulit hitam yang ada di hadapan nya pun menganggukan kepalanya.


"Jangan sampai gagal Josh , kau tau apa akibat nya bukan." Pria itu mengangguk kembali


"Saya mengerti Tuan Vedro." Vedro tersenyum sinis lalu mengibaskan tangan nya agar asisten nya itu pergi.


Ting...Sebuah pesan masuk di ponselnya


πŸ“© Miranda: "Aku merindukan mu, apa kau tak merindukan ku Tuan Vedro."

__ADS_1


Rivaldo Vedro tersenyum keji ketika membaca pesan dari Miranda, wanita cantik dan sexy yang bukan hanya haus akan kekuasaan tapi juga haus akan belaian pria. Valdo berhasil memperdaya wanita itu begitu pun dengan saudara tirinya, Rossaline. Namun sesaat ingatan Valdo melayang saat mengingat bayangan seorang wanita mungil yang menatap tajam pada nya tanpa rasa takut, Valdo tersenyum tipis saat melihatnya.


"Kau begitu manis, tapi sayang nya aku harus melenyapkan mu. Andai saja kau bukan bagian dari Vins." Valdo menegak minuman berwarna merah yang ada di hadapan nya sampai habis.


Di tempat lain di waktu yang sama....


"Sudah selesai." Deva menganggukan kepalanya, hari ini dia keluar dari rumah pesakitan itu. Deva sudah tidak tahan dia ingin makan makanan yang layak menurutnya tidak hanya bubur bubur bubur dan bubur hambar lagi kayak hati jomblo.


"Nanti kalau udah sampai neng mau buat soto ayam." Dominic tersenyum mendengar penuturan sang istri


"Apa pun yang kau inginkan buatlah sayang, Ayo Jack sudah menunggu di loby." Dominic meraih tangan mungil itu untuk ia genggam. Deva tersenyum teduh saat Dominic menggenggam lembut jemarinya.


Dengan langkah perlahan Deva melangkah kan kaki nya, dia tidak mau naik ke kursi roda alasannya agar kaki dan langkahnya tidak kaku. Dan dengan terpaksa Dominic menuruti kemauan nya.


"Selamat Siang kakak ipar." Jack membukakan pintu mobil untuk Deva dan Dominic.


"Siang juga Jack." Dengan suara yang masih pelan Deva membalas sapaan adik angkat suaminya itu.


Dominic membantu Deva untuk masuk kedalam mobil dengan menggenggam tangan nya erat saat Deva dengan pelan pelan mendudukan tubuhnya di kursi penumpang.


"Tidurlah nanti kalau kita sudah sampai Abang bangunin." Deva mengangguk kemudian menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami yang selalu membuat nya nyaman. Tidak lupa Dominic memberikan beberapa kecupan di pucuk kepala Deva yang terbalut hijab.


Bagaimana dengan Jack saat melihat adegan romantis sepasang anaka manusia itu, Jack hanya meratapi kejombloan nya. Jack yang selama ini cuek dengan statusnya kini makin ingin mengakhiri predikat jomblo nya, tapi dengan siapa?


Tidak lama mereka tiba di Penthouse milik Dominic,Jack memasuki pintu gerbang yang terbuka otomatis melalui sensor panas. Hanya ada beberapa penjaga yang berjaga di sana mungkin hanya ada sekitar 10 penjaga di Penthouse mewah milik Dom itu.


Deva terlihat masih memejamkan matanya membuat Dominic tidak tega untuk membangunkan nya. Seakan sedang membawa setumpuk kapas yang ringan Dominic menggedong tubuh mungil Deva di depan nya.


Terlihat Dorothi dan Carol membukakan pintu untuk Tuan nya sembari membungkukan sedikit kepalanya


"Selamat dat...". Sapaan mereka terhenti saat Jack memberi peringatan untuk tidak berisik dengan menempelkan telunjuk nya ke bibir.


Dorothi dan Carol segera menghampiri Jack yang tengah kesusahan membawa barang barang setelah Dominic agak jauh dari mereka.


"Kita doakan saja agar semua nya baik baik saja, dan satu lagi siapkan dua buah kamar serta bahan makanan khas indonesia karna mertua Boss akan datang." Dorothi dan Carol mengangguk cepat sembari membawa tas berisi baju dan kebutuhan Deva selama di rumah sakit.


🌾🌾🌾


"Teh...". Aqilla masih sibuk dengan ponselnya dan tidak menggubris panggilan adiknya


"Teh...". sekali lagi Zae memanggilnya


"Aya naon sih Zaenudin Abraham."( Ada apa sih Zaenudin Abraham)


Aqilla mulai kesal karna Zae terus saja memanggil nya


"Itu si aa bule Babas tadi neangan teteh."( Itu si aa bule babas tadi nyariin teteh)


Aqilla mendelikan matanya pada sang adik yang malah tersenyum tak berdosa.


"Peduli teing."(Peduli amat) Qilla kembali Fokus pada ponselnya, dia tengan bertukar pesan dengan sahabatnya si Wul Wul.


"Haduh lamun si teteh Qilla teu daekeun nimuan aa bule babas bisa gagal yeh perjanjian."( haduh kalau si teteh Qilla gak mau nemuin aa bule babas bisa gagal nih perjanjian)


Zae memutar otak kecilnya agar Aqilla mau menemui Basstian.


"Teh di geroan emak tuh, kot teu ngadenge ." ( Teh di panggil emak tuh,masa gak kedengeran)


Qilla langsung bangkit dari tidurnya saat mendengar bahwa emak memanggilnya. Dengan cepat dia bangkit dari rebahan nya untuk menuju keluar kamar.

__ADS_1


"Yess berhasil, mobil remot kontrol baru, mobil remot kontrol baru." Zae meloncat kegirangan saat Aqilla keluar dari kamarnya.


"Emak manggil Qilla." Aqilla langsung to the point saat bertemu emak di ruang tengah, dan terlihat bapak serta bastian tengah membereskan barang yang akan mereka bawa besok kedalam mobil.


"Henteu, saha nu ngageroan." ( enggak , siapa yang manggil) Emak kembali memasukan beberapa bungkus keripik singkong ke dalam kardus besar.


Aqilla pun ikut terduduk di sisi emak sembari membantu emak memasukan bungkusan keripik itu.


tanpa Qilla sadari manik mata berwarna hijau milik pria yang hendak masuk kedalam rumah terus saja menatapnya intens. Dan itu tertangkap langsung oleh mata Emak, sepertinya emak tahu sekarang kalau pria bule yang menyandang status sebagai adik menantunya itu menyimpan rasa pada sang anak gadis.


Emak menghembuskan nafasnya, apa emak bakalan punya anak mantu import semua tidak adakah yang mencintai produk lokal anak anak perempuan nya ini.


"Dek...". Qilla menoleh pada emak yang ada di hadapan nya


"Kulan mak."( apa mak)


"Emak arek nanya, bae ulah."( Emak mau tanya, boleh tidak)


"Arek nanya naon mak, tong nu aneh aneh engke Qilla teu bisa ngajawab na."( Mau tanya apa mak, jangan yang aneh aneh nanti Qilla gak bisa jawab nya)


Emak mendekatkan dirinya pada Aqilla terlihat hendak berbisik bisik.


"lamun maneuh dek, arek mere minantu lokal atawa nu import ka emak." (kalau kamu dek mau ngasih menantu lokal atau yang import buat emak)


Qilla melirik pada sang emak yang tengah tersenyum tak berdosa melihat wajah heran anak gadis nya.


"Emak sehat kan." Aqilla menempelkan punggung tangan nya di dahi emak lalu menempelkan nya pada dahinya


"Teu panas kok."( gak panas kok)


Emak merasa heran dengan kelakuan Aqilla, memang nya dia sakit sampai Aqilla melakukan itu.


"Emak waras, sehat walafiat lahir batin."


"sugan weh emak eker kasurupan bebegig."( Kirain aja emak lagi kesurupan hantu)


Plaakk...Emak mengeplak ringan pundak Aqilla membuat si empunya meringis.


"Nyeuri emak ih, panangan emak mah panas."( sakit emak ih, tangan emak tuh panas)


Aqilla mengusap ngusap bekas pukulan sang emak di pundaknya


"Entong sok ngalihkeun omongan, jawab weh maneuh rek mere emak minantu lokal atawa nu import."( jangan suka ngalihin pembicaraan, jawab aja kamu mau ngasih emak menantu lokal atau import)


"Emak kunaon sih, ih sok rada aneh. Pan emak tos menang minatu import ti teh Deva." ( Emak kenapa sih, ih suka agak aneh. Kan emak udah dapat mantu import dari teh Deva)


Aqilla mulai kesal dengan perdebatan ini, dia dengan cepat memasukan keripik keripik itu kedalam kardus


"Tapi emak mau mantu import lagi." Emak sengaja berbicara bahasa indonesia karena emak melihat Basstian masuk kedalam bersama bapak, emak berharap pria bule itu mendengarnya .


Aqilla hanya menghela napasnya kasar, apa ini yang dulu di rasakan oleh Deva. Sumpah gak enak banget, please deh Aqilla masih bocah dia belum pantes bahas munta mantu sekarang nanti juga akan ada waktunya.


"Tempo isuk weh mak, lamun jodoh arek kumaha deui."( Lihat besok saja mak, kalau jodoh mau gimana lagi)


Emak tersenyum kemenangan mendengar penuturan sang anak gadisnya, apakah emak bakalan dapat mantu import untuk ke dua kalinya.


Jack : Thor kasih aku jodoh donk, bosen nih jomblo terus. Aku juga pingen ngerasaan peluk cium grepe grepe gitu.


Neng othor : Eeeiitttssss mulai nakal ya, mau neng othor jetot perut bantal nya hah. Tapi kalo mau sama neng othor mah teu nanaon hayuk ahhh.....!

__ADS_1


Jack : πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”


Neng othor : sok jual mahal lu bule !! ( mode ngambek)


__ADS_2