
Dengan terburu buru Aqilla mengangkat rok kebayanya agar dia bisa berjalan dengan mudah. Sembari membawa gulungan kertas hasil dia belajar selama tiga tahun di sekolah.
"Emmaaakkk...!" Seruan keras Aqilla membuat atensi semua orang yang berada di sana mengarah padanya.
"Aduh dek tong lulumpatan kitu atuh, engke kasarub samping na malah tisusruk ."( aduh dek jangan lari lari kayak gituh, nanti keslimpet kain nya malah kesusruk)
Aqilla hanya menyengirkan bibir nya mendengar sang Emak mengomel karena melihat dia setengah berlari dengan susah payah.
"Qilla udah lulus mak, seneng banget pokokna mah."
Emak hanya tersenyum sembari membelai lembut pucuk kepala putri kedua nya itu. Ada rasa haru di dalam hati Emak melihat Aqilla begitu bahagia telah menyelesaikan pendidikan nya. Seketika Emak teringat dengan Putri sulung nya, dulu Deva tidak bisa melanjutkan pendidikan nya karena ekonomi mereka sedang buruk. Tapi dengan lapang dada Deva menerima semua itu, di saat semua teman sebayanya melanjutkan sekolah Deva malah bekerja kekota hanya untuk membantu perekonomian keluarganya.
Dan kini sang putri sulung sudah memetik kebahagiannya sendiri bersama orang yang bisa menerima dia apa adanya. Gadis kampung sederhana, yang udik bahkan naik mobil saja dia mabuk sudah di persunting oleh pria bule yang tidak pernah ada ada benak orang tuanya. Bahkan kini menantu bule nya itu membiayai semua kebutuhan Aqilla dan Zae bahkan Emak dan Bapak.
Aqilla bahkan sudah di daftarkan oleh menantu bule nya itu di Universitas ternama diNegaranya. Emak hanya bisa meneteskan air mata saat mengingat itu semua. Perempuan paruhbaya itu pun tidak lupa mengucap banyak rasa syukur pada Sang Pencipta atas segala rizki dan nikmat nya.
"Bapak mana mak." lamunan emak buyar saat Aqilla menepuk tangan nya.
"Bapak gak bisa ikut soalnya harus ngewakilin Zae ngambil ijasah di sekolah nya."
Aqilla yang mengerti hanya bisa beroh ria sembari mengangguk anggukan kepalanya. Namun tiba tiba mata nya menyipit saat melihat seseorang tengah berjalan padanya dengan gagah dan santai. Dengan wajah fokus kedepan orang itu berjalan angkuh tanpa memperdulikan tatapan kagum dan lapar yang ada di sekeliling nya.
Kaca mata hitam, setelan jas tuxedo berwarna hitam terpasang apik di tubuh kekar tinggi tegap nya. Aqilla yang melihat itu pun bahkan tidak bisa berkedip sama sekali. Entah kenapa baru kali ini dia merasakan aura yang berbeda keluar dari orang itu.
"Congratulations on your success".
Dengan gentle dia memberikan satu buah buket bunga uang dolar, bukan buket bunga pada umum nya orang itu memberikan sesuatu yang tidak pernah orang lain lakukan sebelum nya di acara itu.
"Makasih, kapan kakak datang." Aqilla menerima buket itu dengan senyum merekah. Entah karena isi buket nya atau karena orang yang memberikan nya hanya seorang Aqilla yang tau.
"Mungkin dua jam yang lalu, aku langsung kesini dari toko bunga." Entah kenapa Aqilla malah tersenyum melihat buket yang ada di tangan nya itu. Benar benar beda di saat orang laine memberikan bunga eh ini orang malah ngasih nya dolar.
"Kak Babas gak bakalan bangkrut kan ngasih buket ini ke Qilla." Orang yang di panggil Babas itu hanya menaikan sebelah alis nya, lalu tidak lama dia terkekeh membuat orang yang ada di sekitar mereka menoleh seketika. Bahkan emak yang belum sadar kalau Basstian ada di sini pun segera menoleh saat mendengar kekehan orang yang emak kenal.
"Ya Allah jang Babas Emak." Seruan Emak membuat atensi Basstian serta lain nya mengarah pada wanita paruh baya yang tengah berjalan cepat ke arah pria bule jangkung yang sedari tadi menjadi pusat perhatian. Basstian segera membalas pelukan wanita paruhbaya itu setelah mereka saling mendekat.
"Gimana kabar Emak mertua." Emak tersenyum mendengar bisikan bule yang tengah memeluk nya itu.
"Alhamdulilah sehat calon mantu, inget masih calon." Basstian hanya tersenyum sembari menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Udah atuh pelukan nya, malu ih di lihatin sama orang." Emak dan Basstian menegakan tubuhnya masing masing setelah melepas rangkulan mereka berdua. Benar saja orang orang di sana terlihat kasuk kasuk sembari melihat pada mereka entah apa yang sedang mereka pikirkan dan bicarakan.
"Aya nu timburuan." ( ada yang cemburuan)
Emak dan Basstian terkikik geli melihat wajah masam gadis berkebaya itu.
"Ck..!" Mendengar decakan Aqilla malah membuat Emak tertawa girang. Oh ayolah Aqilla bukan cemburu tapi malu pada orang orang yang tengah menjadikan mereka pusat perhatian.
"Hayuk pulang." Aqilla segera menarik lengan Emak agar mengikuti nya dan di susul oleh Basstian yang berjalan santai sembari memakai kembali kaca mata hitam nya dia mengikuti langkah kedua wanita beda usia yang tengah berbicara berdua entah apa yang mereka bicarakan.
Sesampainya di parkiran Aqilla segera mengeluarkan motor matic merah nya. Sedangkan Basstian terlihat menuju lapangan bola di mana dia memarkirkan mobil yang dia bawa kesekolah itu.
"Emak arek milu Qilla apa jeung si kakak." ( emak mau ikut Qilla apa sama si Kakak)
Qilla sudah siap dengan helm bogo biru langit bergambar setiker anak ayam kuning. Emak terlihat menyingkabkan rok kain batik nya agar bisa menaiki motor matik Qilla.
__ADS_1
"Emak milu jeung kamu weh, takut mabok naek mobil mah." (, emak ikut sama kamu aja, takut mabuk naik mobil mah)
Aqilla hanya menganggukan kepalanya. Keluarganya memang rata rata pada musuhan sama yang namanya mobil. Kecuali si adek bungsu Zaenudin. Kayak nya dia berpotensi menjadi orang kaya pas besar nanti di sebabkan dia tidak pernah pusing klenger apa lagi mabok saat di bawa naik mobil dan sejenisnya bahkan dari dia orok. Kalau emak bapak Deva dan dirinya jangan kan jauh baru masuk mobil aja itu perut rasanya udah di aduk aduk aja.
Emang dasar udik gak ada modal jadi orang sugih. Tapi kenyataan nya sang teteh Deva kini menjadi orang yang bisa naik turun mobil bahkan pesawat, apa teteh nya itu masih suka mabok mobil juga.
Tinnn...Tiinn....
Lamunan Aqilla terhenti saat mendengar klakson mobil dari arah pinggir nya. Rupanya Basstian sudah berhasil keluar dari area lapangan yang di jadikan parkiran khusus untuk mobil.
"Emak sama kamu masuk mobil." Aqilla dan emak terlihat saling tatap tatapan kemudian menggeleng bersamaan membuat Basstian berdecak. Ini nih yang bikin dia kesel, setiap Basstian membawa mobil dan mengajak keluarga gadis nya untuk naik mobil pasti jawaban nya menggeleng kecuali si Zae pastinya. Bahkan mobil Pajero putih yang di belikan oleh Dominic tidak pernah mereka pakai malah di sewain sama emak di jadikan mobil rental. Alesan nya gak bisa bawa nya, terus mabok kalau naik mobil.
Dominic bahkan sudah tidak tau lagi harus gimana lagi membujuk bapak agar bisa menyetir sendiri. Alhasil Kakak angkat nya itu mengiyakan kalau mobil itu di rentalkan dari pada rusak tidak pernah di pakai.
"Qilla sama Emak naik motor aja. Kakak duluan aja kerumah nya." Basstian menghela nafas nya pasrah lalu mengangguk.
"Titip buket nya aja, jangan sampe rusak loh awas!" Basstian menerima buket itu dan meletakan nya di bangku penumpang tepat di sisinya.
Basstian keluar terlebih dahulu menuju pintu gerbang sekolah SMA itu. Namun sejenak dia memarkirkan mobil nya di pinggir jalan menunggu Aqilla terlebih dahulu. Basstian melihat gadis itu terlihat cantik dengan kebaya nya. Dia sudah tidak sabar untuk memperistri gadis jutek itu.
Setelah Aqilla keluar dari gerbang dan melajukan motor nya barulah Basstian mengikutinya dari belakang.
🌾
🌾
🌾
Sesampainya di rumah Aqilla segera memarkirkan motornya di bawah pohon mangga samping rumah nya.
Aqilla mencopot heels nya dan berjalan tanpa alas kaki menuju rumah. Basstian yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
"Assalamualaikum...!"
"Waalaikumsalam."
Aqilla masuk di ikuti oleh Basstian di belakang. Emak keluar dari dapur membawakan dua cangkir kopi hitam dan setoples keripik singkong. Emak bahkan belum mengganti pakaian nya saat ini.
"Bapak mana mak." Basstian bertanya setelah dia mendudukan dirinya di sofa ruang tamu
"Bapak masih zduhuran sebentar." Basstian hanya mengangguk paham, sebenarnya saat ini Basstian belum melakukan khitan namun sedikit demi sedikit dia mempelajari tentang agama islam. Basstian bertekad setelah dia berhasil meluluhkan gadis nya dia akan segera berkhitan dan menjadi mualaf. Saat ini hatinya masih fokus dalam pengejaran hati sang gadis karena dia tahu kalau hati Aqilla belum sepenuhnya milik dia.
Tidak lama Aqilla keluar dengan baju santai panjangnya tidak lupa jilbab instan biru yang menutupi kepalanya saat ini.
"Hayuk atuh silahkan di minum kopinya." Basstian tersadar saat mendengar suara emak, dan Aqilla sudah duduk bersebrangan dengan nya.
"Aku kesini mau jemput kamu, kata kakak ipar Aqilla lulus tes di salah satu Universitas di sana. Apa emak sama bapak sudah tau dan sudah mengijinkan." Aqilla terlihat melirik emak dengan sudut matanya. Terlihat emak menganggukan kepalanya.
"Emak sama bapak udah tau, Aqilla juga kayak nya udah siap soalnya dari jauh jauh hari si Adek udah masukin barang barang nya ke dalam tas kayak mau pindahan aja." Emak tetawa di sela sela ucapan nya, tidak lama bapak keluar dari kamar dan ikut bergabung bersama mereka. Obrolan mereka kembali berlanjut penuh dengan senyum dan tawa dan tidak tahu kedepan nya akan seperti apa.
***
Tok Tok Tok
"Assalamualaikum..."
Terdengar suara ketukan pintu oleh seseorang dari luar. Zae yang terlihat sedang nonton tv segera bangkit menuju pintu depan.
__ADS_1
Clekk...
Zae sedikit terkejut siapa yang bertamu saat ini. Ternyata salah satu laki laki yang mengejar ngejar teteh galak nya itu.
"A Yugha, mau nyari teh Qilla ya." Orang yang di panggil Yugha itu pun tersenyum sembari menggaruk tengkuk nya.
"Mangga masuk A."
Setelah tamu itu masuk Zae segera berlari menuju kamar Aqilla.
"Teh ada yang nyari di depan." Suara keras Zae membuat semua penghuni rumah keluar dari tempat persembunyian masing masing begitu pula dengan Basstian yang sedang beristirahat di dalam kamar Zae.
"Aya naon sih."( ada apa sih)
Aqilla keluar dengan muka bantal nya. Zae hanya menyedikan bahunya acuh lalu menghilang di ujung pintu menuju dapur
"Saha sih." Karena penasaran Aqilla bergegas menuju ruang tamu. Tanpa Aqilla ketahui diam diam Basstian mengintilinya dari belakang.
"A Yugha." Merasa terpanggil Yugha mengangkat kepalanya lalu tersenyum manis saat orang yang dia tunggu akhirnya mau menemui nya.
"Qill."
"Ada apa A." Yugha terlihat menghirup nafasnya dalam dalam, lalu tiba tiba meraih tangan Aqilla membuat gadis itu tersentak.
"Aku mau ngomong sama kamu."
"ngomong aja tapi jangan kayak gini." Yugha tidak memperdulikan nya dia masih setia menggenggam tangan kecil Aqilla. dan sepertinya adegan itu membuat orang yang tengah kepo terbakar cemburu.
"Aku bakalan sekolah jauh, Papa ngirim aku buat lanjutin kuliah di luar kota...." Dahi Aqilla berkerut tidak paham kemana arah pembicaraan lelaki yang tengah menggenggam tangan nya itu.
"Terus urusan nya sama aku apa?"
Terlihat laki laki itu menghela nafas nya kasar sembari mengeratkan pegangan tangan nya di tangan Aqilla.
"Aku... Aku mau melamar kamu sebelum aku pergi. Agar tidak ada yang bisa ngambil kamu dari aku Aqilla."
Jederrrr....
Anjayyy iyeh lalaki langsung to the point
Aqilla hanya mematung tanpa tahu harus menjawab apa, bahkan tanpa sadar dia membalas rematan tangan Yugha dengan erat. Qilla bimbang, Qilla dilema,Qilla galau pemirsa tolong bantu Qilla.
Sedangkan orang yang tengah menguping pembicaraan mereka mengepalkan kedua tangan nya erat erat.
"****...!"
***BAKAL ADA EXTRA PART NYA LAGI LOH INI JADI PANTENGIN TERUS YAAAAA
JANGAN LUPA VOTE LIKE KOMEN OKEEEYYYYYY
NANTI KAN CERITA AQILLA YAAA BAKALAN COMINGSON TUNGGU AJA HOKEEEYYYYYYY
BABAYYYYYY***....
__ADS_1