ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
Bertemu Gadis Galak


__ADS_3

**HATUR NUHUN SADAYANA SUDAH MENDUKUNG CERITA INI, NENG OTHOR NGUCAPIN BANYAK TERIMAKASIH


JANGAN BOSEN BOSEN YA BUAT NGE VOTE,LIKE,SAMA KOMEN NYA


SELAMAT MEMBACA**....


"Aaa lagi ayo". Deva menggelengkan kepalanya saat Dominic terus saja menyuapi bubur tanpa rasa kedalam mulut nya.


"Entos(udah) Abang, gak enak hambar." Deva meraih air minum yang ada di salah satu tangan Dominic. Deva memindahkan mangkok bubur itu dari pangkuan nya.


"Sedikit lagi, ayo biar kamu cepat sehat sayang." Dominic tidak menyerah, Deva hanya mau memakan tiga sendok bubur hambar itu membuat Dominic harus berusaha keras untuk merayunya.


"Gak enak ,Neng mau di kasih sambel sama kecap biar ada rasanya." Ya ampun Dominic sampai tergelak mendengar penuturan Deva, dia kira lagi makan di restoran ya.


"Sayang ini rumah sakit mana mungkin kamu boleh makan sambel, kalau pingin makan sambel nanti setelah kita pulang ok. Nah sekarang habiskan bubur nya agar kamu cepat sehat dan kita segera pulang." Dominic mengangkat satu penuh sendok berisi bubur untuk ia suapkan ke dalam mulut Deva.


"Heunte enak, lewih enakan sangu liwet emak."( Gak enak, lebih enakan nasi liwet emak.)


Deva terus saja mengeluh, bekas operasi nya mulai membaik walaupun masih ngilu dan sakit bila dia bergerak. Dominic dengan sabar terus menyuapi Deva sampai bubur yang ada di mangkuk itu habis.


"Sudah habis , gadis pintar." Satu suapan terakhir masuk kedalam mulut Deva walaupun dia harus terpaksa menelan nya.


"Neng mual." Dominic tersenyum melihat wajah masam istri nya, Dominic juga tahu bagai mana rasa nya makanan rumah sakit itu. Dia juga pernah merasakan nya saat dia masuk rumah sakit waktu kecelakaan bersama kedua orang tuanya yang mengakibatkan dia harus kehilangan mereka selamanya sekitar 12 tahun yang lalu.


Dan sekarang pertanyaan nya, Apakah Dominic pernah masuk rumah sakit lagi? jawaban nya tidak! malahan dia yang suka membuat orang masuk rumah sakit.


Cup...


"Sudah kan gak mual lagi." Dominic malah mengecup bibir tebal sexy itu yang sedari tadi sangat cerewet ditelinganya.


Deva malah semakin mengerucutkan bibir nya


"Neng mau mandi, dari kemarin neng gak mandi." Deva mencoba bangkit dengan hati hati, Dominic dengan sigap membantu sang istri untuk berjalan menuju kamar mandi.


"Mau Abang mandiin." Deva langsung melotot pada Dominic yang mana malah membuat Dom terkekeh


" Neng bisa mandi sendiri, Abang nunggu weh di luar." Deva berjalan hati hati dengan merayap kan tangan nya di dinding. Sebenar Dominic ingin sekali membantu istri nya mandi bukan untuk mencari kesempatan dalam kamar mandi , tapi Dom hanya tidak mau Deva kesusahan saat mandi karena harus membawa infus nya kedalam sana. Emang dasar Deva gadis merekedeweng keras kepala akhirnya sang suami nurut aja lah.


"Ya Allah karek gek sapoe teu ibak, kot geus bau telegu."( Ya Allah baru aja sehari gak mandi, udah bau sigung)


Deva melepaskan baju nya perlahan apa lagi saat dia hendak melepaskan yang terhalang infus. Saat semua kain yang ada di tubuh nya terlepas , Deva mulai mengguyurkan sower pada tubuhnya. Saat Deva meraba perutnya dia kembali menteskan air mata, ikhlas ya dia sudah ikhlas tapi melupakan nya mungkin Deva tidak akan pernah bisa melupakan nya.


Setelah beberapa belas menit akhirnya Deva sudah menyelesaikan mandinya, saat Deva hendak meraih handuk di gantungan ternyata handuk nya tidak ada.


"Kabiasaan lamun rek mandi pasti poho mawa anduk." ( Kebiasaan kalau mau mandi pasti lupa bawa handuk)


Deva mengerutuki kebiasaan buruk nya, dengan sebelah tangan mengangkat botol inpus nya yang sudah di matikan terlebih dahulu, Deva berjalan hati hati menuju pintu. Dengan perlahan dia membuka pintu dan hanya menongolkan kepalanya saja.


"Abanggg...". Deva tidak melihat Dominic di ruangan rawat inap nya.


"Abangg...". Deva mulai kedinginan , kalau saja itu di kamar pribadinya pasti Deva akan segera keluar dari kamar mandi tanpa merasa ragu.


saat hendak memanggil untuk ketiga kali nya pintu ruangan rawat inap nya terbuka.


Cleekk....


Ternyata Dominic membawa sebuah papare bag dan seikat buket bunga



Deva masih bersandar di belakang pintu, dia mencoba menegakan tubuh nya yang masih lemah itu.


"Abang...". Dom yang baru saja meletakan paper bag beserta buket bunga di tempat tidur langsung berjalan menuju kamar mandi.


" Sayang, mandi nya sudah belum." Dominic ragu untuk masuk kedalam, kalau dia memaksa masuk pasti istrinya bakalan tausiyah panjang kali lebar kali tinggi dengan menggunakan bahasa kerajaan nya yang belum Dominic mengerti semua.


"Abang.. Ambilin neng handuk." Ya ampun apa Deva lupa untuk membawa handuk tadi, Dominic hanya menggeleng kebiasaan buruk istrinya patut di waspadai saat sedang bersama nya .


Dominic meraih handuk besar dan lebar dari gantungan dekat kamar mandi, mau tidak mau suka tidak suka Deva harus rela kalau suaminya masuk kedalam kamar mandi.


"Sayang...". Deva menoleh saat Dominic sudah masuk ke dalam, Deva terduduk di atas kloset karena kaki nya gemetaran menahan berat badan nya di tambah dia juga mulai kedinginan.


Dominic segera membungkus tubuh polos Deva yang terlihat menggigil.


" Kenapa gak panggil Abang." Dominic segera menggendong Deva, wajah Deva memucat karena kedinginan.


Dominic mendudukan Deva di atas kasur, dia membantu sang istri untuk menggunakan pakaian nya. Dengan telaten Dom memakai kan ****** ***** dan bra pada Deva tanpa berkeinginan meminta lebih.


Dominic perlahan memasangkan baju atasan Deva saat hendak memasukan lengan yang terpasang infus ,agar selang infus nya tidak tertarik. Setelah semuanya selesai Deva bersandar pada dada bidang Dominic, Sementara Dom dia masih sibuk merapihkan rambut Deva yang tidak tertutup hijab itu.

__ADS_1


"Sudah selesai, eeemm sudah wangi lagi." Deva tersenyum saat Dominic terus mengendus pipi dan lehernya.Deva malah memejamkan mata seolah tengah menikmati suasana ini.


"Itu bunga siapa." Deva bergumam sembari memejamkan matanya.


Dominic menghentikan kegiatan kesukaan nya itu, dia malah memeluk Deva sedikit erat sembari memberi kecupan di pundak tertutup kain itu.


" Bunga buat istri Abang yang paling cantik." Deva membuka mata saat mendengar suami bule nya tengah menggombali dirinya.


"Cantik dong, kan neng Deva istrinya Dominic." Deva malah meningkatkan rasa percaya dirinya setinggi pohon singkong.


Dominic yang mendengar celotehan istrinya pun terkekeh dan kembali mencumbui wajah Deva membuat nya terkikik geli.


"Tapi neng gak mau bunga itu, neng mau nya bunga Bank."


🌺🌺🌺


Di lain tempat di waktu yang sama terlihat sepasang anak manusia tengah memadu kasih. Entah sudah berapa jam mereka melakukan nya tanpa lelah.


"Kau memang hebat di bandingkan dari kakak tirimu Ross." Wanita itu tersenyum manis dan tanpa malu dia meraup habis bibir pria yang ada di dalam kekuasan nya.


"Kau memuji ku Val, bukan nya saat kau tidur dengan Miranda pun kau berkata seperti itu." Pria itu terkekeh dan menggelengkan kepalanya


"Dia tidak pernah tahu kalau aku sering tidur dengan mu sayang, dan tak kan pernah tahu." Rossaline hanya memutar mata nya malas, kenapa dia bisa jatuh pada pesona seorang Rivaldo Vedro. Pria bastard , licik, berengsek, pencinta wanita, yang sayang nya sangat tampan.


" Terserah aku tidak peduli dia tahu atau tidak , yang terpenting sekarang apa rencana mu untuk menghancurkan Vins selanjutnya." Rossaline turun dari tubuh polos Valdo dan duduk di pinggir tempat tidur mewah itu.


"Aku akan menghancurkan nya sehancur hancurnya, lalu merampas semua yang dimiliki oleh Vins serta meleyapkan yang seharusnya di lenyap kan . Semuanya,agar tidak akan ada Vins Vins berikut nya bila Dominic mati, bukan begitu." Rossaline tersenyum mendengar penuturan pria penuh pesona di hadapan nya saat ini.


Rossaline berfikir setidaknya kalau Dominic mati rasa sakit hati nya selama ini akan terbalaskan.


" Kapan kita akan mulai." Rossaline mulai merangkak mendekati pria bertato itu


"Secepatnya." Dan terjadilah apa yang mereka mau untuk kesekian kalinya.


πŸ’πŸ’πŸ’


"Aku sudah sampai Boss." Basstian mengirimkan pesan pada Dominic saat dia sudah sampai di indonesia. Saat ini ia tengah berada di dalam mobil bersama Aldi, mereka hendak menuju kampung Deva untuk menjemput keluarga Deva.


"Akhirnya kita akan bertemu lagi gadis kecil ku yang galak." Basstian tersenyum sendiri saat membayangkan wajah jutek Qilla saat berhadapan dengan nya


dilain tempat


"Entos mak."( udah mak)


Aqilla mengeluarkan tas baju kecilnya dan keluar dari kamar.


"Mak Qilla mau ngambil kardus dulu ya di si Wul Wul." Aqilla keluar dari rumah dan membawa cimol untuk pergi ke rumah Wulan.


Dengan kecepatan sedang Qilla mengendari cimol, karna rumah wulan tidak terlalu jauh tidak lama dia sampai, hanya qilla malas saja untuk berjalan makanya dia bawa cimol.


"Punten..( permisi)." .Aqilla mengetuk pintu rumah wulan


"Mangga (silahkan)." terdengar suara seruan dari dalam rumah


"Qilla, arek nyandak kardus nyak."( mau ngambil kardus ya,)


Aqilla mengangguk saat ibu nya wulan bertanya, tanpa lama ibu nya wulan masuk kedalam dan saat dia keluar sudah membawa satu buah kardus yang agak besar.


"Ieu cekap teu." (ini cukup gak)


"Cekap bik, hatur nuhun." ( cukup bik, terimakasih)


"Sami sami, tong poho oleh oleh na jang bibik nya engke mun uih ti kanada teh". ( sama sama, jangan lupa oleh oleh nya buat bibik nanti kalau pulang dari kanada)


Aqilla tersenyum dan mengangkat jempolnya. Dengan hati hati Aqilla mengendari cimol dengan pelan, dan tanpa direncanakan Aqila malah bertemu dengan laki laki yang selalu memgharapkan cintanya.


"Aqilla...". Aqilla tidak menghiraukan panggilan itu dia tetap tenang mengendarai si cimol, sampai tiba tiba ada sebuah motor sport menghalangi jalan nya hingga Qilla harus mengerem mendadak .


"Ari maneh hayang paeh nyak." ( kamu itu mau mati yak)


Aqilla benar benar sedang dalam mode bertanduk saat ini.


Laki laki itu turun dari motornya, tangan sebelah kirinya masih di gip, tapi entah kenapa dia masih nekat naik motor walaupun di bonceng oleh teman nya


"Qill... Tolong dengerin dulu, kemarin itu bukan pacar aku sumpah." Aqilla mengerinyitkan dahinya saat mendengar penuturan lelaki di hadapan nya itu.


"Lah kenaon maneuh, were gadung. arek itu kabogoh maneh, atawa pamajikan maneuh sakali pun abi mah teu peduli." ( Lah kenapa kamu, mabok gadung. Mau itu pacar ku, atau istri kamu sekali pun aku tuh gak peduli)


Qilla hendak menstater si cimol lagi tapi kunci motornya langsung diambil oleh laki laki itu.

__ADS_1


" Hayang maneuh naon sih Yugha hah, kunaon sok ngaganggu urang terus."( mau kamu apa sih Yugha, kenapa suka mengganggu aku terus)


Qilla benar benar kesal dengan kelakuan lelaki remaja bernama Yugha itu.


"Aku mau kamu terima cinta aku, aku akan bikin kamu bahagia Qilla please. Apa pun yang kamu mau akan aku turutin." Yugha mencoba meraih tangan qilla namun dengan cepat Aqilla menepis nya.


"Selain lengen maneuh nu potong, otak maneuh gek jiga nya geser tina tempat na nyak. Pan abi teh geus pernah ngomong, urang masih leutik tong loba neko neko sakola kabener heula. Paham teu sia teh sih basa manusa." ( selain tangan kamu yang patah, otak kamu juga kayaknya geser dari tempatnya ya. Kan aku sudah pernah bilang, kita masih kecil jangan banyak neko neko macem macem sekolah yang bener dulu. Pahan gak kamu tuh sih bahasa manusia.)


Yugha hanya terdiam mendengar penuturan Qilla, Yugha tahu mereka masih belum pantas membangun hubungan yang serius tapi sungguh Yugha tidak mau Qilla di tikung oleh orang lain. Bila perlu Yugha akan menikahi qilla saat ini agar gadis galak itu akan menjadi milik nya sampai kapan pun. Sebagai putra tungga dari seorang juragan sawit Yugha bisa melakukan apapun saat ini.


"Qill..Aku cuma mau kita men...." Omongan Yugha terhenti saat mereka melihat satu mobil RANGE ROVER hitam mengkilap membunyikan klakson nya.


tin...tin...


Qilla dan Yugha langsung menoleh pada arah suara, tanpa berlama lama keluarlah seseorang dari dalam mobil. Seorang pria menggunakan jas hitam, kemeja serta celana bahan hitam membuatnya tampak mempesona di mata wanita kecuali Aqilla tentunya.


"Aqilla..." . Pria itu mengembangkan senyum yang amat manis berlainan dengan Qilla yang menekuk wajahnya berlipat lipat.


SEBELUMNYA...


"Bass bangun kita sudah sampai." Aldi menepuk lengan Basstian untuk membangunkan nya saat mereka telah sampai di gapura kampung.


Sepanjang perjalanan yang kurang lebih menempuh waktu 3 jam Basstian memilih untuk tidur agar tubuhnya bisa kembali segar setelah melakukan perjalanan beberapa puluh jam dari Kanada- Indonesia, di tambah lagi dia langsung menuju kampung Deva tanpa istirahat terlebih dahulu.


"Ki..ta..Su..dah..sampai ". Basstian sedikit terbata saat berbahasa indonesia, Dia bertekad untuk belajar bahasa indonesia dan bahasa sunda demi Dede Aqilla tentunya.


"Sebentar lagi." Basstian mengangguk dia merentangkan tangan nya untuk meregangkan otot otot nya yang kaku.


saat sedikit lagi sampai di kediaman mertua kakak nya, tidak sengaja Basstian dan Aldi melihat seorang gadis kecil sedang tarik menarik sesuatu dengan seorang laki laki remaja.


Saat mobil sudah semakin mendekat Basstian bisa melihat dengan jelas siapa gadis kecil itu.


"Aqilla." Basstian bergumam dan dia langsung menepuk bahu Aldi agar menghentikan laju mobilnya.


Sesaat setelah Aldi menghentikan mobilnya pas di dekat kedua remaja itu, Basstian buru buru keluar dari mobil.


Aqila menekuk wajahnya saat dia tahu siapa yang keluar dari mobil mewah itu.


"Bule sinting, beuki riweh weh." ( Bule sinting, makin ribet aja,)


"Kamu kenal sama bule itu Qill." Yugha menatap tajam pada Aqilla saat Basstian memanggil nama nya.


Tanpa menjawab pertanyaan Yugha Aqilla dengan cepat merebut kunci motor yang ada di tangan Yugha saat dia sedang lengah.


"Lain urusan maneuh, rek kenal atawa heunte lain urusan maneuh."( bukan urusan kamu, mau kenal atau gak bukan urusan kamu)


Aqilla menstater motor matic nya namun lengan nya di tarik kencang oleh Yugha.


"Aya naon deui sih Yugha..!!!" Qilla menggertakan gigi nya saat Yugha kembali menghalanginya, dan semakin mencengkram kuat lengan kecil Qilla membuat Aqilla sedikit meringis.


"Siapa dia." Sorot mata Yugha menampakan kecemburuan nya, begitu pula dengan Basstian dengan cepat dia melangkah mendekati Aqilla dan Yugha.


"Lepas tangan mu." Dengan bahasa indonesia yang masih terbata dan logat asing yang amat kental Basstian menepis tangan Yugha yang mencengkram lengan Qilla.


"Aqilla kamu tidak apa apa." Qilla memutar bola matanya malas


' jalu di mana mana sarua bae.' ( laki laki di mana mana sama saja)


"Siapa dia Qill." Yugha mengulangi pertanyaan nya yang belum Qilla jawab dan sebelum Aqilla menjawab Basstian sudah menyela nya.


"Aku tunangan nya." Dengan santai Basstian mengaku tunangan Aqilla membuat dia membulatkan matanya,Begitu pun dengan Yugha dia terlihat menatap tajam pada Aqilla.


" Apa kah itu benar Qill." Aqilla masih bungkam , otak nya tidak bisa berfikir saat ini.


"Tunangan? ari si gelo tunangan ti mana ceunah , Dasar bule sinting.'( tunangan? dasar si gila tunangan dari mana sih, dasar bule edan) Qilla terus mengumpat di dalam hatinya saat ini


Apakah Qilla akan mengelak atau dia akan memanfaatkan situasi ini untuk bisa menjauhkan Yugha dari nya.



(Aa BaBas)



(Aqilla si gadis galak)



(Aa Yugha, Astagfirouloh jang jadi mantu mak aja nyok nyok!)

__ADS_1


HAYOK QILLA OLENG KE MANA NIH?


__ADS_2