
NENG OTHOR SELALU NGINGETIN UNTUK PARA READERS TERSAYANG JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN NYA, BIAR NENG OTHOR TAMBAH SEMANGAT BIKIN CERITANYA
INI UDAH HARI SENIN LOH YUK KASIH VOTE NYA BUAT NENG, JANGAN JADI PEMBACA GELAP NANTI MATA NYA BISULAN LOH ππππ
HATUR NUHUN
TONG POHO, AWAS LAMUN POHO NYAK !!!
Tiiiitttt.....
klik....
"Ada apa."
"Tuan , tuan Jack dan tuan Basstian sudah kembali."
Dominic meletakan alat komunikasi itu ketempatnya, Dom melirik jam dinding ternyata sudah hampir subuh waktu setempat.
Dominic melihat ke arah tempat tidur disana ada seorang wanita mungil yang tengah membalut tubuhnya dengan selimut tebal padahal AC di dalam kamar itu sudah Dominic matikan, tapi tetap saja Deva selalu merasa kedinginan.
tanpa berniat untuk membangunkan istrinya Dominic keluar dari kamar, dia ingin segera menemui kedua mertua dan kedua adik ipar nya di bawah.
Jack ,Basstian dan bapak terlihat menurunkan barang barang yang mereka bawa dari bagasi mobil.
"Ya Allah ieu imah atawa museum sih, kot gede pisan gusti."( Ya Allah ini rumah atau museum sih, besar banget gusti)
Emak terperangah melihat penthouse milik menantu bule nya itu.
"Lamun Zae maen ucing sumput di die jiga nya moal bakalan katimu sing saminggu gek, nyak mak" ( Kalau Zae main kucing sumput di sini kayaknya gak bakalan ketemu sampe satu minggu juga, ya mak)
Emak hanya menganggukan kepalanya saat mendengar celotehan bujang kecilnya.
"Qilla mah jadi sien sih mak."( Qilla tuh jadi takut sih mak)
"Kunaon dek?" ( kenapa dek)
"Sien di sulur keun."( takut di tumbalin) Aqilla tanpa berdosa berfikiran seperti itu, qilla mengira kalau kakak ipar bule nya melakukan pesugihan.
"Jurig nage sienen ka teteh mah."( Setan nya juga takut sama teteh tuh)
Kali ini Zae malah yang menimpali ocehan Aqilla.
"Kunaon sienen ka teteh."( Kenapa takut sama teteh)
"Dak rarai teteh mah lewih sungil ti jurig." ( karena muka teteh lebih angker dari setan)
"ZAENUDIIIINNN....!" Aqilla melempar sepatu yang dia pakai ke arah Zae, namun sebelum sepatu itu menyentuh nya Zae sudah berlari ke arah Bapak yang sedang membawa barang barang mereka.
Mereka yang ada di sana hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dua saudara yang seperti tom and jerry itu.
πππ
"Selamat datang tuan,nyonya, nona, serta tuan kecil." Emak mengerenyitkan keningnya dalam saat mendengar wanita yang tengah membukakan pintu untuk mereka itu berbicara bahasa yang tidak di mengerti oleh nya.
"Ngomong naon sih pak."( ngomong apa sih pak)
Emak berbisik pada bapak yang ada di samping nya, namun bukan jawaban yang emak dapat tapi gelengan kepala dari bapak.
" Mari silahkan masuk." kali ini Jack yang mempersilahkan mereka masuk dengan menggunakan bahasa indonesia.
Dorothi yang paham kalau tamu tuan nya belum bisa berbahasa inggris hanya tersenyum dan mengangguk hormat.
"Bapak ,Emak." Emak langsung mendongakan kepalanya ke asal suara, ternyata di sana sudah ada Dominic yang tengah terburu buru untuk menuruni anak tangga.
Dominic segera memberi salaman takzim kepada emak dan bapak saat dia sudah sampai di dekat kedua mertuanya.
"Gimana perjalan nya, apa menyenangkan." Dominic membawa mereka untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Emak mabok, kepala emak pusing untung si Zae gak ikut ikutan mabok kayak emak. Kalau dia ikut mabok kayak emak bisa riweh." Dominic tersenyum lebar mendengar penuturan emak mertuanya itu.
__ADS_1
"Hei Zae , Gimana? kamu gak mabuk kan." Dominic mendekati Zae yang terlihat agak sayu mungkin kecapekan dan mengacak ngacak rambut nya.
"Zae gak mabok aa bule, cuma takut pas pesawat nya mau terbang, asa arek murag komo pas pesawat na rek turun asa ngalenyap yeh hate."( Berasa mau jatuh apa lagi pas pesawat nya mau turun berasa dag dig dug nih hati)
Dominic mengerenyitkan dahi nya saat Zae menggunakan bahasa sunda di kalimat terakhirnya, namun Dom masih tetap tersenyum walaupun dia belum mengerti apa yang di ucapkan adik iparnya itu.
"Zae mana ngarti atuh aa bule nya kalau kamu ngomong sunda." Zae hanya nyengir kuda saat mendapat teguran dari Emak.
"Hee..Hee..Zae poho eh lupa, dak kebiasan kalau ngomong suka sunda terus." Dominic kembali mengacak ngacak rambut hitam lebat adik ipar nya itu.
"Ya sudah emak sama bapak istirahat saja dulu,lagian ini masih jam 2 pagi waktu kanada. Deva juga masih tidur dan saya juga belum memberi tahu dia kalau emak sama bapak ke Kanada, buat kejutan." Emak dan bapak tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
mereka berempat menuju kamar masing masing yang sudah di persiapkan sebelum nya. Dan aneh nya Zae memilih tidur bersama Jack dan Basstian bukan memilih bersama emak dan bapak, ada apakah sebenarnya? apa sedang ada konspirasi di antara mereka ? ho ho ho kita lihat saja nanti.
Dominic pun kembali kekamar nya di lantai 3 sedangkan emak ,bapak serta yang lain nya Dominic tempatkan di lantai satu agar mereka lebih luasa bergerak.
Cleekk...Dominic membuka pintu itu , dia mengikis jarak pada Deva yang masih terlelap.
"Abang punya kejutan buat kamu sayang..". Dominic berbisik lembut di telinga Deva yang mana malah membuat Deva terusik dari tidur nya. Deva membalikan tubuhnya ke arah Dom lalu memeluk tubuh Dominic seperti bantal guling.
Dominic terkekeh dan membalas pelukan istri imut nya itu.
Di lain kamar namun di rumah yang sama...
"Kenapa kau membawa bocah ini masuk ke kamar kita." Jack menggerutu pada Basstian saat dia membiarkan Zae untuk tidur di kamar yang mereka tempati.
"Hei bocah ini calon adik iparku, kalau kau tak terima silahkan kau tidur di luar sana." Basstian malah memeluk Zae yang sudah terlelap di samping nya saat ini.
"Astaga, kenapa aku harus mempunyai dua saudara yang menjadi budak cinta sih." Jack bergumam kecil namun masih bisa terdengar oleh Basstian.
"Makanya cari wanita sana,hilangkan predikat jomblo mu itu."Basstian malah mengejek kejombloan kakak nya itu, dia tidak sadar kalau dia juga masih jomblo.
"heh.. Jomblo teriak jomblo." Jack merebahkan tubuhnya di samping Basstian dengan melipat satu tangan nya dan dia letakan di atas kening.
"Jack...."
"Hmm...".
"merasakan apa." Jack mulai jengah mendengar celotehan Basstian yang sangat mengganggu
"Kau tidak merasakan bahwa kita bertiga seperti keluarga bahagia, ada anak, ibu dan ayah." Celotehan tak berfaedah Basstian membuat Jack melototkan matanya.
"Otak mu seperti nya sudah gila Bass, aku saran kan besok pagi kau pergi ke psikolog . Dan satu lagi , aku masih normal walaupun aku jomblo, aku tidak doyan dengan batang mu itu !" Basstian terkekeh melihat kekesalan kakak nya yang terlihat menyelimuti tubuh nya sampai ke kepala
"Ya aku mungkin sudah gila, gila karena seorang gadis kecil yang galak. Kenapa aku seperti pedofil menyukai gadis kecil." Basstian tertawa kecil saat mengingat Aqilla,dan tak lama dia pun ikut menyusul Zae dan Jack ke alam mimpi.
πΊπΊπΊ
Pagi menjelang, suasana di lantai bawah penthouse itu terasa begitu ramai apa lagi dengan kehadiran penghuni baru di sana. Emak dan Aqilla tengah sibuk di dapur di temani oleh Dorothi, mereka terlihat sedang mengobrol riuh terlihat sangat heboh emak emak beda negara itu.
Ada yang tanya kenapa Emak dan Dorothi bisa berkomunikasi jawaban nya adalah karena Emak, Aqilla dan bapak sudah di beri earpiece oleh Jack saat mereka bertemu tadi kecuali Zae yang masih tertidur walaupun jam sudah menunjukan pukul 6 pagi.
"Kamu dari mana asal nya teh." Dorothi tersenyum lembut pada wanita yang menyandang setatus sebagai mertua dari tuan nya itu. Ternyata ibu nyonya nya sama ramah nya seperti sang nyonya.
"Saya dari Afrika selatan nyonya." Emak memganggukan kepalanya mengerti
"Dek emak asa jadi si Marimar di geroan nyonya."( Dek berasa jadi si Marimar di panggil nyonya) Emak terkikik geli sembari berbisik kepada Aqilla yang tengah membuat kopi hitam yang di bawa emak dari indonesia.
"Marimar ? saha si Marimar, emang di dayeuh urang aya nu ngarana si Marimar mak" ( Marimar ? siapa marimar, memang nya di kampung kita ada yang namanya si marimar mak)
Aqilla mengerutkan dahi nya heran, perasaan di kampung nya tidak ada perempuan yang bernama Marimar.
"Ya Allah Dek, ieu yeh nu teu pernah nonton sinetron dak nontona hape weh hayuh."( ya Allah dek, ini nih yang gak pernah nonton sinetron karena nonton nya hp aja terus.)
"Lah terus naon urusana si Marimar jeng sinetron."( lah terus apa urusan nya si marimar sama sinetron)
"Si Marimar teh nu maen sinetron tapi nu pilem na ti luar negri."( si marimar tuh yang main sinetron tapi yang Film nya dari luar negri)
Ini apa lagi udah sinetron di tambah Film lagi bikin Aqilla makin riweh mendengarnya. Tapi tunggu Film dari luar negri? Ahh Aqilla paham sekarang.
__ADS_1
"Lain sinetron mereun mak lamun ti luar negri mah, tapi Telenovela mak , Telenovela . Sinetron mah nu aya nyanyian ku menamgissss eta karek ngarana sinetron" ( bukan sinetron kali mak kalau dari luar negri tuh, tapi telenovela mak , telenovela , sinetron tuh yang ada nyanyian ku menangisss itu baru namanya sinetron)
Aqilla menekan kata TELENOVELA dan SINETRON disana sembari menghembuskan nafasnya kasar.
"Teing ah emak mah nyahok na sinetron, teu nyaho naon eta tela telean ."( gak tau ah emak tuh taunya sinetron, gak tau apa itu tela telean )
Aqilla segera menghindari emak yang masih mengoceh sendiri dengan bahasa kerajaan nya sedangkan Dorothi hanya terseyum walaupun dia tidak mengerti apa yang mereka katakan.
***
"Pagi sayang...". Deva menggeliat di dalam selimut tebal berwarna toska itu. Deva tersenyum saat melihat sang suami sudah segar karena terlihat baru saja selesai mandi.
"Abang udah mandi." Deva menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Dominic tersenyum sembari mendekat kearah Deva
cup.. Satu kecupan basah ia daratkan di kening Deva
"Hmm...Kamu cepetan mandi, Abang punya kejutan buat kamu di lantai bawah."
"Kejutan." Deva membeo dan diangguki oleh Dominic , tanpa bertanya lagi Deva segera bangkit dari posisinya. Deva melangkahkan kaki nya perlahan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Cleekk...Deva menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit untuk membersihkan diri, dia langsung menuju walk in closet yang tersedia di kamarnya.
Deva memilih gamis simple dan nyaman untuk dia pakai saat ini dengan di padukan hijab segi empat motif berwarna abu abu.
"Sudah selesai". Deva tersenyum dan mengangguk saat sang suami menghampirinya.
"Udah." Dominic tersenyum lembut dan tidak lupa dia memberikan kecupan lembut di pucuk kepala Deva.
Dominic keluar dari kamar dengan mengandeng lembut tangan Deva menuju lift yang ada di lantai 3 .
Ting...Lift yang mereka naiki sudah berada di lantai dasar, dengan langkah masih pelan Deva di bantu oleh Dominic untuk memegangi tubuhnya.
Dan disaat mereka sampai di ruangan tengah khusus keluarga, Deva membatu saat melihat keluarganya ada di sini.
"Abangg...". Dominic tersenyum melihat keterkejutan sang istri,lalu di menganggukan kepala nya untuk meyakinkan Deva bahwa yang dia lihat bukan mimpi.
"Kejutan untuk mu sayang ." Dominic berbisik lembut di telinga yang terbalut hijab itu, tanpa menunggu Deva langsung memeluk erat tubuh kekar tegap milik Dominic.
"Hatur nuhun Abang, terimakasih." Deva terisak di dalam pelukan Dominic, dan tanpa menunggu Deva melepaskan pelukan nya kemudian dengan langkah yang tertatih Deva menuju keluarga nya yang tengah berkumpul.
"Emak, Bapak." Emak dan bapak menoleh saat ada yang memanggil mereka.
"Neng...". Emak dan bapak bangkit dari duduknya dan segera menghamburkan pelukan kepada putri sulung mereka.
"Neng emak kangen kamu." Deva semakin terisak didalam pelukan emak.
"Neng juga kangen emak." Deva beralih menatap sang bapak
" Neng juga kangen sama bapak." Deva juga memeluk bapak yang ada di samping emak, mereka bertiga berpelukan untuk melepas rindu.
"Kamu udah sehat." Deva melepaskan pelukan nya dan menatap emak serta bapak secara bergantian lalu dia menganguk pelan.
"Emak udah tau." Deva bergumam lirih, hati nya kembali sedih saat mengingat kejadian itu.
"Entos, tong di sedihan terus karunya si dede na ikhlaskeun, engke gek gusti Allah bakalan ngagantian deui kunu lewih alus." ( sudah, jangan di sedihin terus kasian si dede nya ikhlasin, nanti juga gusti Allah bakal memgganti nya lagi sama yang lebih baik.)
Deva tersenyum dalam tangis nya kemudian dia kembali memeluk tubuh wanita yang sudah melahirkan nya itu.
"Neng nyaah ka emak." ( neng sayang sama emak)
Deva bergumam lirih dengan air mata yang tidak bisa di ajak kompromi.
"Sudah jangan nangis terus, calik yuk ( duduk yuk)". Bapak menuntun emak dan Deva untuk duduk, kemudian mata nya memuju anak mantu nya yang masih mematung di tempat.
"Sini atuh nak, ngapain masih di sana." Domimic tersadar saat bapak memanggilnya, dengan cepat dia melangkah ke arah keluarga nya sembari menyeka air mata yang sedari tadi dia tahan.
"Aku akan membuat kalian bahagia, tidak akan aku biarkan orang lain menyakiti keluargaku."
__ADS_1
Dominic bertekad dalam hati saat melihat keluarga nya tertawa dan bercanda saat ini, bahkan Jack dan Basstian sepertinya sudah mulai akrab dengan keluarga istrinya.