ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
MENEMUKAN MANGSA


__ADS_3

NENG OTHOR BACA KOMENAN ADA READERS YANG BILANG BAHASA SUNDA NYA BIKIN RISIH , NENG OTHOR CUMA MAU BILANG, JANGAN DI BACA! CERITAKU GAK NGERUGIIN ANDA OKEY.


SAYA BANGGA DENGAN BAHASA DAERAH SAYA SENDIRI, KALAU ANDA RISIH TIDAK PERLU MEMBACA NOVEL SAYA. KALAU MASIH NEKAT SIAP SIAP AJA DI TERKAM BLADE!!!


HATUR NUHUN


SELAMAT MEMBACA....


CLEEKK..... pintu ruangan rawat inap yang di tempati Basstian terbuka


"Abang..!" Dominic tersenyum pada sang istri yang tengah duduk di sofa bersama bapak,Zae dan Qilla. Sedangkan emak duduk di pinggir tempat tidur Basstian karena sedang menyuapi nya makan.


Cup...Satu kecupan mendarat di dahi Deva,Dominic tidak peduli tatapan mata semua orang mengarah padanya. Deva bedecak kesal karena suami bule nya tidak kenal tempat.


"Bagaimana keadaan mu Bass."Dominic mendudukan dirinya di sebelah Deva.


"Sudah baikan Boss." Basstian menjawab setelah dia menelan makanan nya


"Tong sok ngomong ari keur makan teh, pamali."( jangan suks ngomong kalau lagi makan tuh, gak boleh)


Basstian mengerenyitkan dahi nya saat Emak memukul pelan lengan nya saat dia berbicara pada Dominic, emak terlihat seperti sedang memarahi anak bujang nya sendiri.


"Tong ngomong sunda atuh mak, Basstian teu ngartien."( Jangan bicara sunda dong mak, basstian gak ngerti)


Deva memperingati emak, memang emak suka salah bahasa karena kebiasaan di kampung bahasa sehari hari nya sunda jadi suka salah waktu dan tempat.


"Ahh iya emak suka lupa." Emak kembali menyuapi Basstian dengan penuh kasih sayang, accciieee camer idaman.


Sebenarnya Emak tadi menyuruh Aqilla untuk menyuapi Basstian, karena lengan tangan kanan nya belum bisa di gerakan tapi karena si gadis tidak mau mungkin karena ego dan malu nya tinggi jadi weh emak yang turun tangga, eh turun tangan.


"Emak BaBas sudah kenyang." Basstian menutup mulut nya saat emak hendak menyuapi bubur yang ada di mangkuk.


"Ini sedikit lagi tanggung, gak boleh di sisain makanan itu harus di habisin kalau enggak nanti gusti Allah marah. Yap abiskeun sakedik deui kasep ( ayo habiskan sedikit lagi ganteng)


Mau tidak mau Basstian harus menghabiskan nasi lembut hambar itu.


"Emak mau ikut pulang gak, Neng mau pulang dulu sama Abang." Deva berdiri dari duduk nya di susul oleh Dominic.


"Enggak , emak mau di sini dulu jagain Nak Basstian sama Qilla. Kalau neng mau pulang bapak sama Zae ikut aja ya, emak mau di sini aja." Aqilla mengerenyit tidak setuju dengan keputusan emak.


"Qilla mau pulang sama teteh."Aqilla kekeh , dia memasukan ponselnya kedalam tas slempang kecil yang ada di pinggang nya.


"Eeehh Qilla nemenin emak di sini buat jagain calon man..Eh jagain nak Basstian maksud nya." Emak melipat bibir nya dalam dalam. Deva ,Zae dan bapak hanya geleng geleng melihat kelakuan emak sedangkan Dominic dan Basstian hanya mengulum senyum. Berbeda dengan gadis kecil itu, dia terlihat menekukan wajah nya berlipat lipat


"Emak mah nyien erak ihh."( emak tuh bikin malu ih) Dengan kesal Aqilla menghempaskan tubuh nya kesofa, sembari menggerutu kesal dengan keputusan emak.


"Ya udah kita pulang ya mak, Assalamualaikum." Deva dan Dominic menyalami takzim Emak yang terlihat membereskan sisa makan Basstian.


πŸ†πŸ†πŸ†


Hosh...Hosh..Hosh...


Suara nafas berat terdengar dari kedua pria tersebut, mereka terpaksa berlari dan meninggalkan mobil mereka di pinggir hutan karena sudah tidak bisa di lewati oleh kendaraan.


"Huu..Huuu...Kau..Kau yakin kita sudah jauh kaburnya." Pria yang ada di sebelahnya menoleh dan


Plakk... Dia mengeplak kepala teman nya itu


"Ya belum bodoh, kau kira mereka tidak akan menemukan kita disini ! mereka pasti akan dengan cepat menemukan kita kalau kau terus memgoceh, ayo jalan lagi ! kalau bukan karena otak bodoh mu itu kita tidak akan mengalami hal memalukan seperti ini. Astaga pemimpin The Devil berlari seperti pengecut, mau di tarok di mana wajahku ini."


"Ya di depan Bruno bodoh, begitu saja tidak tahu!" Bruno mendelikan matanya menatap horor pada teman nya itu.


"Sialan kau mengataiku bodoh Jer, awas kau ya."

__ADS_1


"Kau juga sering mengataiku bodoh, apa salah nya dasar bodoh!"


"Sialan! kau mengajakku bertengkar huh, Kemari kau !" Bruno memiting leher Jerri yang mana membuatnya terpekik


"Bruno bodoh kau mau membunuhku huh, ketiak mu bau sekali. Kau pria yang sangat jorok." Bukan nya minta ampun Jerry malah membuat Bruno semakin murka


"Nah makan bau ketiak ku yang harum ini, makan makan." Bruno menenggelam kan wajah Jerry ke dalam ketiaknya


Gggrrr....


"Bruno sialan, lepaskan aku! kenapa kau menggeram bodoh." Jerry berusaha melepaskan himpitan di lehernya


"Kau mau membodohiku Huh! Tidak akan Bruno si tampan tidak akan terbodohi oleh si Jerry tikus!'


Gggrrrr....


"Ada yang menggeram di belakang kita bodoh." Jerry berbisik namun masih bisa terdengar oleh Bruno.


"Apa?"


"Ada yang mengeram di belakang kita, kau tau itu apa." Bruno terdiam dan melepaskan pitingan ketiaknya pada leher Jerry.


Gggrrrr....Ggggrrrr....


Suara geraman itu semakin jelas dan mendekati mereka. Bruno dan Jerry saling melihat satu sama lain dan


"Huuuaaaa...Ibuuu!!" Mereka kalang kabut berlari tanpa memperdulikan apa pun yang ada di hadapan mereka. Bruno dan Jerry berlari pontang panting seperti orang yang di kejar kejar hutang.


Di sebelah mereka terlihat sosok hitam legam tengah mengintai sambil berlari hendak menyalip mereka berdua




"Ibuuu toolooonggg...!" Jerry semakin histeris saat melihat jelas sosok hitam itu, seekor Black Phanters menatap mereka tajam


Dengan nafas ngos ngosan Jerry dan Bruno menaiki satu pohon bersama.


"Astaga akhirnya aku selamat ibu." Jerry masih memegangi dada nya yang berdebar debar, apakah dia sedang jatuh cinta sehingga dada nya berdebar.


"Kau sniper tercengeng yang pernah aku lihat Jer." Bruno masih sempat meledek teman nya itu padahal dia juga hampir terkencing di celana saat melihat sosok yang memburu mereka.


"Panther siapa itu, kenapa dia bisa ada di sini." Jerry sudah mengatur nafasnya yang terasa senin kamis itu


Plaakk... Bruno menggeplak kepala Jerry dengan keras


"Ini hutan rimba bodoh, masih saja kau bertanya. Wajar saja hewan itu ada disini, ini tempat tinggalnya." Jerry hanya mengangguk mengiyakan, mereka tidak tahu kalau Panthers itu adalah Blade yang sengaja hendak memburu mereka berdua.


"Apa dia sudah pergi." Jerry celingak celinguk melihat ke bawah pohon, di ikuti oleh Bruno yang juga menundukan kepalanya untuk mengamati sekitar.


"Sepertinya iy....". Omongan Bruno terhenti saat ada suara geraman dari samping pohon yang mereka naiki


Ggggrrr.....



Mereka berdua menoleh ke arah suara geraman itu, dengan jarak hanya beberapa meter mereka berdua bisa melihat Blade sudah berada di atas dahan yang mereka tunggangi saat ini. Bruno dan Jerry lupa kalau Black Panther pintar sekali memanjat pohon, mau itu tinggi atau rendah Phanter sangat lihai memanjat.


"Huuuuaaaaaaa Ibuuuu.....!!!" Jerry memekik lagi kini pekikan


"Habislah kita." Bruno menelan air ludah nya kasar saat melihat sorot mata hewan hitam legam itu, ini lah akhir dari hidup mereka. Mati sebelum menikah dan punya anak, Namun saat Phanter itu hendak menerkan mereka berdua satu seruan menghentikan tindakan hewan itu.


πŸ“²: "BLADE CANTIK BERHENTI, BIARKAN MEREKA YANG MENGURUSNYA. KAU CUKUP JATUHKAN SAJA TUBUH KEDUA BAJINGAN ITU." Dominic menginstruksikan Blade lewat video yang di arahkan ke pada Blade oleh Jack.

__ADS_1


Dengan tidak berperasaan Blade memukul tubuh kedua pria itu dengan lengan depan nya hingga terjatuh dari ketinggian sekitar 3 meter.


Bruukkk.... Bruukk....


"Aaawwwwhhh..." . Jerry dan Bruno menggerang saat merasakan tubuh nya terhempas ke bawah dengan keras dan cepat.


"Bawa mereka." Jack membalikan badan nya di ikuti oleh Blade yang tentunya masih dalam pemgawasan sang Daddy, kalau tidak bisa bisa anak buahnya di terkam oleh kucing besar itu.


Sesampainya di mobil dengan patuh dia masuk di kursi samping pengemudi padahal Jack yang hendak duduk di sana.


"Dasar kucing sialan ." Jack mengumpat saat Blade menyerobot antrian, Gak indonesia banget ya si Blade.


Gggrrrr.... seakan mengerti dia tengah di bicarakan Blade mengeram pada Jack, dan itu membuat Jack terdiam langsung.


"Baiklah baiklah, lakukan apa pun yang kau mau Blade."


Karena anak buat Dom yang menyupiri tidak berani berada di samping Blade,akhirnya mau tidak mau Jack pula lah yang menyupiri sendiri dari pada tidak bisa pulang dan harus semalaman bersama Blade si kucing hitam besar .


Dengan bantuan Dominic yang masih memantau Blade lewat Video di laptop nya , Jack pun menjalankan mobil itu sembari mencuri pandang pada Blade. Ati ati loh entar Jack jatuh cinta sama si cantik Blade kalo di lirik terus.


Jack menghembuskan napasnya saat melihat Blade anteng dan terpaku kepada Laptop yang ada di depan nya dia seakan tengah mendengar dan berbincang dengan Dominic. Padahal saat pemburuan Blade tidak naik mobil bersama mereka, dia berlari sendiri untuk memburu kedua makhluk itu tapi kenapa saat mereka pulang Blade tidak mau berjalan sendiri, atau mungkin Blade lelah.


🌾🌾🌾


"Abang lagi ngomong sama siapa sih." Deva meletakan kopi yang dia bawa ke atas nakas


Dominic tersenyum lalu menepuk tempat kosong yang ada di sebelahnya. Deva dengan senang hati duduk manis di sana.


"Abang sedang berbicara dengan Blade." Deva mengerutkan dahi nya


"Blade? siapa dia." Dominic menutup laptop nya dan segera merengkuh tubuh mungil yang ada di samping nya itu.


"Kucing cantik kesayangan Abang." mata Deva berbinar saat mendengar Dominic mempunyai kucing, Deva membayangkan kalau kucing itu pipinya tembem, hidung nya pesek, bulu nya tebel dan halus seperti yang sering dia lihat di tv.


"Abang punya kucing." Dominic menganggukan kepalanya dan tersenyum manis


"Dimana, neng pingen lihat. Abang di mana kucing nya." Dominic terkikik geli melihat wajah penasaran istrinya.


"Ihh Abang mah malah seuri ( ketawa), di mana kucing nya neng mau lihat, pasti kucing nya lucu, pipi nya gembul, hidung nya pesek bulu nya tebel dan halus. Iiihhh neng jadi pengen meluk ." Deva mengeratkan pelukan nya di tubuh Dominic seakan suaminya itu kucing yang tengah ia bayangkan.


Cup..Cup..Cup..Cup.. Dominic malah mengecupi seluruh wajah Deva tanpa memperdulikan pertanyaan yang Deva lontarkan untuk nya.


"Nanti kamu juga akan tahu sayang, Eemm kamu berapa hari lagi selesai pemulihan nya hum." Deva mendongakan wajah nya ke arah Dominic yang terlihat imut di mata Deva kalau sedang memohon seperti itu.


"Eemmm...Berapa ya." Deva berpura pura berpikir dan menghitung


"Jangan coba coba mengerjai Abang ya." Dominic tahu Deva akan mengerjai nya


"Eemm sekitar Dua bulan lagi,sabar ya. Tapi kalau Abang udah gak kuat hayuk!" Deva menegakan tubuh nya dan hendak menarik lengan kekar itu. Namun Dominic malah menarik lengan Deva agar duduk dan kembali mendekap nya.


Cup... Dominic memberikan satu kecupan di pucuk kepala Deva yang terbalut hijab.


"Abang masih bisa menahan nya, Abang tidak mau egois hanya karena tidak bisa menahan nafsu yang nanti nya bisa menyakitimu." Deva tersenyum mendengar penuturan suami bule nya itu.


"Neng sayang sama Abang, Love you." Cup...Deva mendongak dan mencium bibir Dominic sekilas saat Dom menundukan wajah nya.


Cuppp..


"Love you to Honey." Dominic mengecup kening Deva agak lama, dan Deva sangat terlihat menikmati moment tersebut dia bahkan sampai memejamkan mata nya.



DALAM EKSPETASI NENG DEVA,IMUT, GEMES, GEMBUL,PESEK, BERBULU LEBAT, NYAMAN DI PELUK

__ADS_1



REALITA SESUNGGUH NYA YANG AKAN DIA LIHAT....


__ADS_2