ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
MAU di SUNAT( LAGI)


__ADS_3

Cleekk...


"Selamat sore tuan." Dominic mengalihkan pandangan nya dari ponsel yang sedang dia mainkan ke arah pintu.


"Hm..." Dom hanya berdehem sebagai jawaban nya


Perawat itu berjalan mendekati tempat tidur yang di tempati oleh Dominic sembari melenggak lenggokan tubuhnya.


"Saya akan mengecek luka anda tuan." Dominic menepis kasar tangan perawat itu saat dia dengan kurang ajarnya hendak membuka kancing piyama pasien yang di pakai oleh Dominic


"Biarkan istriku saja yang melakukan nya nanti." Perawat itu menelan air ludah nya kasar saat melihat tatapan tajam yang di layang kan oleh Dominic padanya.


"Tapi istri anda tidak ada di sini tuan, jadi mau tidak mau saya yang harus membuka perban itu." Sang perawat tersenyum manis saat melihat Dominic terdiam.


Deva memang sedang keluar bersama Yushika tadi untuk pergi ke restoran yang ada di lantai bawah rumah sakit ini.


"Terserah ." Dominic hanya pasrah membuat senyum sang perawat mengembang. Mungkin si perawat hanya menjalankan tugas nya, pikir Dominic.


Dengan perlahan satu persatu kancing piyama yang di pakai oleh Dominic terbuka. Terlihat perban putih masih membalut dada nya. Si Perawat sampai susah menelan ludah nya saat dia melihat pahatan sempurna tubuh Dominic. Saat dia hendak menyentuh dada Dom untuk membuka perbannya , tiba tiba...


Cleekk....


"Lagi ngapain kamu!" Seruan kencang dari arah pintu membuat Dominic dan sang perawat melihat ke asal suara


"Sayang." Dominic sedikit tegang saat melihat wajah tidak bersahabat Deva.


"Mau di apain suami saya." Deva tidak mengindahkan panggilan sang suami. Dia langsung mendekati Perawat itu dan segera menjauhkan nya dari Dominic.


"Lagi ngapain kamu sus." Pertanyaan itu kembali terucao dari mulut Deva


"Em- saya sedang mengecek luka tuan Vins saja nyonya." Deva memicingkan matanya ke arah sang perawat lalu kemudian melirik sinis pada Dominic yang terlihat menampilkan senyum tertekan nya, karena aura hitam Deva sangat terasa di sana.


"Beneran, gak bohongkan." Tatapan intimidasi Deva sanggup membuat sang perawat salah tingkah di buatnya.


"Be- benar nyonya!"


"Kenapa kamu gugup gituh, kayak yang lagi kepergok selingkuh sama istri sah aja!" Deva meletakan satu paper bag berwarna coklat di nakas dekat tempat tidur Dominic.


"Ti- tidak apa apa nyonya." Si perawat berusaha menampilkan senyum manis nya pada Deva. Dan mati matian dia mengontrol detak jantung nya. Sungguh aura intimidasi Deva untuk calon pelakor sangat mengerikan.


"Ya udah, kamu boleh keluar." Perawat itu menganggukan kepalanya dan segera berlalu keluar dari ruangan itu dengan cepat.


"Astaga bisa bisa aku mati duluan sebelum mendapatkan suaminya, kecil kecil mengerikan."


***


"Kamu dari mana sayang." Deva menatap Dominic sekilas lalu melanjutkan kegiatan nya untuk mengupas apel.


"Bawah." Dominic menghela nafas nya dalam dalam, dia tahu saat ini istri nya dalam masa mode pundung( ngambek)


"Kenapa narik napas nya sampe pake hah heh hoh gitu, Abang bengek." Dominic memggeleng kaku melihat wajah istri nya saat ini, hasem( masam)


"Aaaaa...". Dom membuka mulut nya minta di suapi potongan buah apel yang sudah di potong oleh Deva


"Kunaon make cicing bae pas tadi si suster ngesot arek nga grepe grepe Abang huh." ( kenapa diam aja pas tadi si suster ngesot mau pegang pegang Abang huh) Bahasa kerajaan Deva mulai muncul ke permukaan.


Dominic menaikan sebelah alis nya saat mendengar ucapan Deva. Dia tidak mengerti apa yang di katakan oleh sang istri.


"Kenapa Abang diem aja waktu mau di pegang pegang sama si suster ngesot tadi." Dengan sekali tarikan nafas Deva mengulang lagi pertanyaan nya


"Kan gak jadi megang nya sayang. Kamu juga kan keburu datang jadi perawat itu gak jadi pegang pegang Abang nya." Dom menyomot potongan apel yang ada di tangan Deva


"Oh jadi kalo tadi neng gak datang Abang mau di pegang pegang sama tuh suster ngesot." Deva geram segeram geram nya, apa lagi dia tahu kalau suster itu sering curi pandang pada suami nya saat Dominic masih koma sampe sekarang.


"Eng-enggak gituh msksud Abang sayang, maksud Abang...."


"Maksud Abang apa hm". Ucapan Dom terpotong oleh Deva membuat Dominic menggaruk tengkuk nya serba salah.


"Abang tau ini apa." Dominic menganggukan kepalanya saat Deva menunjukan sesuatu pada nya


" Banana". (pisang)


"Ini apa."


"Anggur."


"Abang lihat baik baik ya!"

__ADS_1


Sreetttt.... pluk..


"Itu yang akan terjadi sama si Cau Boma Abang kalo Abang berani macem macem sama neng, paham."


Tubuh Dominic menegang dan langsung melipat kaki nya rapat rapat seakan sedang melindungi aset masa depan nya. Dom menggeleng kencang saat melihat pisang itu terpotong jadi dua bagian.


"Neng cuma bakalan nyisain telor nya doang buat Abang. Masih mau macem macem hm." Dominic kembali menggelengkan kepalanya saat Deva memandang nya dengan tajam


"Wani siah macem macem ka Neng Deva, di sunatan deui ku aing."(Berani macem macem sama neng Deva, di sunatin lagi sama aku)


🌹🌹🌹


"Dimakan." Yushika menganggukan kepalanya saat dia di paksa untuk memakan salad dan daging panggang oleh Jack.


"Terimakasih Tuan." Jack tidak menjawab dia malah fokus pada makanan nya


Ting... Ponsel Yushika berbunyi tanda ada pesan masuk


"Waktu liburan mu sudah habis sayang, waktunya kau pulang. Kita harus menikah"


Yushika hampir tersedak saat dia membuka dan membaca pesan itu


"Ada apa?" Yushika tersadar saat Jack bertanya padanya


"Em ti- tidak ada apa apa tuan,hanya orang iseng ya orang iseng." Jack melirik Yushika dengan sudut matanya. Yushika terlihat sangat gugup bahkan dia merasa sudah tidak selera lagi untuk memakan makanan yang ada di depan nya


"Ranveer sialan!" Yushika memotong daging itu keras keras hingga menimbulkan suara dipiring nya


"Kalau kau sedang kesal jangan di lampiaskan pada orang lain. Kalau piring itu pecah apa kau mau menggantinya."


Yushika menjadi salah tingkah saat Jack mengomeli nya saat dia tidak sengaja menekan pisau daging keras keras di piring nya.


"Maaf tuan Jack saya tidak sengaja." Yushika mulai memakan lagi makanan nya yang tadi sempat dia jadikan sebagai pelampiasan.


***


"Rossaline... Kenapa kamu meninggalkan Mami sayang kenapa." Seorang wanita paruh baya memeluk erat peti jenazah berwarna putih itu.


Jenazah Rossaline sudah di pulangkan oleh Valdo kerumah nya di Onterio Kanada tepat nya di rumah ibu kandung nya.


Hanya terlihat Valdo dan beberapa kerabat dekat dari ibu nya Rossaline yang datang ke pemakaman.


"Aku akan membalas kematian Rossaline pada mu Miranda, kini targetku bukan hanya Vins tapi juga dirimu Bicth!"


Valdo mengepalkan sebelan tangan nya karena sebelahnya lagi masih di gendong akibat tembakan yang di berikan oleh Basstian sekitar beberapa hari yang lalu.


"Ayo Aunty, Jenazah Rossaline harus segera di kebumikan." Salah satu kerabat mencoba menenangkan ibu dari Rossaline


"Aku akan menghabisi wanita yang sudah membunuh putriku." Ibu Rossaline terus meracau tak jelas saat melihat peti jenazah sang putri mulai masuk kedalam liang lahat.


Ibu Rossaline tahu kalau yang membunuh Rossaline adalah Miranda yang tak lain adalah sodara tirinya. Dia tahu karena Valdo sudah menceritakan semuanya pada nya saat Valdo mengantarkan sang kekasih kerumah ibu kandung nya.


***


"Udah...!" Deva merapihkan perban putih yang melingkar di atas perut Dominic tepat di dada nya.


"Makasih sayang." Cup Dominic malah mengecup basah pipi Deva saat wanita mungil itu menunduk untuk membetulkan perban nya yang belum rapih


"Sami sami." Deva menyimpan perlengkapan itu di atas nakas samping suaminya. Deva mendudukan dirinya di samping Dominic dan segera mengancingkan satu persatu kancing piyama yang di pakai oleh nya.


"Pasti tadi tuh suster ngesot udah liat perut sawah Abang deh." Dominic mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Deva


"Perut sawah." Beo nya


"Ck... Ini!" Deva menujuk langsung ke arah perut kotak kotak milik Dominic


"Ini kayak sawah yang ada di deket kebun Bapak, kotak kotak!" Deva dengan gemas menekan nekan otot perut itu dengan jari telunjuk nya


"Geli sayang." Dom meraih tangan mungil Deva yang bermain nakal di perutnya. Bagaimana tidak nakal tangan yang awal nya hanya menekan nekan dengan telunjuk, kini dia sudah mengelus lembut dan sensual di perut berotot Dominic . Yang mana membuat Dominic mati matian harus menahan sesuatu yang ada di dalam dirinya.


"Issh...Kalo di pegang sama Neng bilang nya geli, tapi kalo di pegang sama si sunget tadi gak bilang geli." Deva merajuk, entah kenapa hormon kehamilan nya menjadikan Deva over thinking dan selalu emosian.


"Kapan?"


"Tadi!!"


"Masa sih." Dom malah menggodanya membuat Deva semakin berdecak kesal

__ADS_1


"Teing ah!" ( gak tau ah)


Deva melipat kedua tangan nya di dada dan membuang wajahnya kearah lain


"Sayang...".


"...."


"Kok marah sih."


"......"


"Kesayangan nya Abang."


"....."


"Jangan ngambek atuh, nanti hidung nya tambah pesek loh." Dom malah menusuk nusuk pelan pundak Deva


"Naon sih ih."( apa sih ih) Deva menepis telunjuk Dominic yang menusuk pundak nya


"Jangan marah dong."


"Neng gak marah cuma lagi pundung( ngambek) aja!"


Dominic tau kalau Deva sedang marah padanya saat ini


"Kalau kamu gak marah sama Abang, sini dong jangan jauh jauh nanti kangen." Sejak kapan seorang Dominic bisa ngealay kayak gituh


"Embung ah."( gak mau ah)


Deva tetap teguh pada pendirian nya


"Sini dong sayangku, cintaku, ratu ku,hidupku, Abang gak bisa jauh dari kamu." Dominic kembali ngealay berusaha untuk membujuk si singa betina.


"Modus, gombalan receh tak berdolar."


Dom ingin tertawa saat melihat wajah masam Deva


"Ini gak receh, nanti Abang kasih yang dolar buat kamu tapi kesini dulu jangan jauh jauh." Dengan masih menampilkan wajah jual mahalnya Deva bergeser mendekat pada Dominic dan grep...


Tubuh mungil Deva langsung di rengkuh oleh Dominic


Cup..Cup...Cup..Cup..Cup..Cup


Dominic memberikan bertubi tubi kecupan di seluruh wajah Deva yang mana membuat nya memekik keras


"ABANGGG....!"


"Apa hem...!" Dom terus saja menciumi Deva bahkan sampai Deva terkikik geli


"Abang getek ih."( abang geli ih)


"Emang nya mau beli apa kalau punya dolar hem." Dom mengeratkan pelukan nya di perut Deva sembari sesekali mengelus perut rata Deva


"Sayang nya Daddy mau minta apa hm." Dom mengelus lembut perut Deva yang sudah ada isinya itu


"Kita mau jengkol Daddy." Deva bersuara mirip anak kecil


"Hah..!"




**Kita up dua hari sekali ya gaes jadi mohon tidak untuk mendesak neng othor buat up. Cukup suport aja , karena di pastikan cerita ini akan di up sampai END ya. Mohon sabar dan terimakasih atas pengertian nya


SETELAH CERITA INI END NANTI NENG OTHOR BAKAL BIKIN SESI KEDUA NYA YA**



**ON GOING SEMOGA CEPET TERREALISASIKAN READERS DOAIN OTAK NENG OTHOR SELALU SEHAT DAN LANCAR MIKIRNYA YA


HATUR NUHUN


JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN NYA KAWAN...


SEE YOU NEXT PART**....

__ADS_1


__ADS_2