ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
Kabur


__ADS_3

**NENG OTHOR UPDATE HARI INI, KEMAREN OTAK NYA BUNTU JADI DARI PADA ALUR CERITANYA AMBURASUD MENDING NENG OTHOR BOCAN AJA


SEKARANG LANJUT SELAMAT MEMBACA


JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN DAN KLIK FAVORIT NYA


HATUR NUHUN**.....


Deva terlihat mondar mandir di dalam ruangan itu, sudah hampir 24 jam lebih Deva berada dalam sekapan Valdo.


"Ieu jelma kamana sih, ngomong rek ngabantuan tapi teu datang datang."( ini orang ke mana sih, ngomong mau nolongin tapi gak datang datang)


Deva terus saja bermonolog sendiri, sampai tiba tiba pintu ruangan itu terbuka. Deva yang kebetulan sedang memunggungi pintu pun langsung menoleh dengan manampilkan wajah berbinar. Namun senyuman nya luntur ketika dia melihat siapa yang datang untuk menemui nya.


"Kamu!!"


"Hallo nyonya Vins kita bertemu lagi."


"Nini kunti!"


Orang yang ada di hadapan Deva itu mendudukan dirinya pada kursi yang telah di siapkan oleh salah satu penjaga di sana.


"Mau apa kamu kesini." Deva mencoba setenang mungkin dalam menghadapi wanita medusa yang ada di hadapan nya saat ini.


"Oh ayolah nyonya Vins kita santai sedikit, kita berdua bisa mengobrol atau ngeteh terlebih dahulu."


Prok..Prok..Prok...


Beberapa penjaga membawakan meja dan teh untuk mereka letakan di depan Deva dan si wanita itu.


"Ada yang anda butuh kan lagi nona Rossaline!" Rossaline mengibaskan tangan nya mengisyaratkan agar para penjaga itu untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


"Duduklah." Deva masih belum bergeming di tempatnya membuat Rossaline berdecak kesal.


"Duduklah, kita akan bicara dari hati ke hati." Rossaline menyesap teh nya penuh ke anggunan


"Apa yang kamu mau !" Deva mendudukan diri nya di depan Rossaline mereka hanya terhalang sebuah meja.


Tanpa Deva dan Rossaline sadari permata di cincin Deva bersinar. Deva tidak menyadari nya karena matanya fokus menatap manik abu abu Rossaline, sedangkan Rossaline dengan tenang menyesap teh nya


"Aku mau kita kerja sama. Kita bisa memiliki semua kekayaan Vins asalkan kau mau bekerja sama dengan kami untuk menghancurkan Dominic suamimu."


Di bawah meja sana kedua tangan Deva terkepal kuat, ingin sekali dia meremas mulut wanita sexy yang ada di hadapan nya saat ini.


Dengan senyum manis dan tenang, Deva meraih cangkir teh itu dan menyesap nya mengikuti keanggunan Rossaline.


"Sepertinya menarik ya, Neng akan mempertimbangkan nya..." Sudut bibir Rossaline terangkat sedikit saat mendengar ucapan Deva yang terdengar polos dan mudah di bohongi


"Mempertimbangkan untuk tidak menghajar mu awewe( wanita) sialan!"


Byuurrr... Deva menumpahkan teh panas itu tepat di wajah Rossaline yang mana membuat wanita itu menjerit.


"Aaarrrrgggghhhh....!!"


Mendengar jeritan keras dari dalam para penjaga yang tengah berjaga di depan pintu pun langsung menerobos masuk kedalam.


"Nona Rossaline! apa yang kau lakukan pada nya!" Dua orang penjaga itu menatap nyalang pada Deva yang masih terduduk di kursinya


Bughh.. Bugghh..Bugghh


Kedua penjaga itu tersungkur tidak sadarkan diri


"Urusin nini kunti itu!" Dua penjaga yang kemarin di sogok oleh Deva memukul keras para penjaga yang menatap nyalang pada Deva tadi.


Dengan cepat mereka mengikat tubuh mereka dengan kencang dan menyumpal mulut nya. Kemudian mereka mengangkat tubuh Rossaline yang tidak sadarkan diri akibat pukukan mereka.


Rossaline di ikat di kursi yang di duduki nya tadi


"Kami hanya bisa membantumu sampai di sini nyonya!"

__ADS_1


Deva menganggukan kepalanya tanda mengerti


"Ini adalah kunci motor, anda bisa mengendarai motorkan?" Deva kembali menganggukan kepalanya


"Pergilah ke arah selatan, anda akan menemukan pemukiman di sana. Pergilah nyonya waktu anda tidak banyak dan ingat janji anda pada kami setelah anda berhasil selamat, kalau tidak kami akan terus menghantui anda seumur hidup."


"Iya iya gak usah di ingetin neng juga belum pikun." Deva segera menyambar kunci yang di pegang oleh penjaga itu


"Dan hatur nuhun nyak, Semoga kamu cepet dapat jodoh dan hidayah biar cepet insap. Tapi bensin nya full kan." Penjaga itu mendengus kesal membuat Deva segera lari terbirit birit dari sana.


Hosh..Hosh..Hosh...


"Mana motorna sih." Deva melihat sekeliling hutan semua, dan saat dia memicingkan matanya dia melihat sebuah motor trail lengkap dengan helm nya. Dengan langkah cepat dia menghampiri motor yang suka di pakai oleh para pria itu.



"Nu bener bae masa neng kudu naek motor ieu, eling teu sih tuh penjaga!" ( yang benar aja masa neng harus naik motor ini, sadar gak sih tuh penjaga)


"Mana make kopling deui, mana kopling mana rem yeh."( Mana pake kopling lagi, mana kopling mana rem nih)


Deva terus saja bermonolog sendiri karena kebingungan untuk mengendarai motor trail itu. Dari jaman baheula Deva cuma tahu nya motor biasa tanpa kopling plus si cimol motor matik kesayangan nya. Kali ini dia kudu dan harus bisa mengendarai motor yang berkopling , siap siap jungkir balik aja kalo dia nekan kopling nya tiba tiba . Untung Deva kemaren pas di culik pakai celena kulot cream plus blouse navi dengan pasminah cream jadi Deva bisa leluasa mengendarainya.


"Mohon kerja sama nya ya Tong, jangan nyusahin Neng di jalan!" Deva mengelus motor itu seakan akan dia tengah berbicara dengan makhluk bernyawa. Deva meraih helm fullface yang ada di atas motor itu dan segera memakinya.


"Gelo ieu helm kot bau telegu pisan, apa tara di kumbah sih."( Gila ini helm bau sigung banget, apa gak pernah di cuci sih)


Deva hampir muntah ketika mencium bau apek plus kawan kawan nya dari dalam helm yang tengah dia pakai. Deva memasukan kunci motor itu dan meng onn kan nya.


Brumm..Brumm..Brumm..


Deva menggas Motor Trail merah itu dengan kencang


"Kiri kanan kiri kanan, mana arah selatan nyak." Deva kini malah bingung menentukan arah mana yang akan dia tuju


"Cing cirip pit tulang bajing kajepit!" Deva malah mengundi arah sekarang


"Ok kita kearah sana Tong, Bissmilah!"


Deva menekan tuas kanan motor itu keras keras


"Kenapa motor nya loncat sih."Deva menekan tuas kopling terlalu kencang dan mengoper gigi motor nya kasar alhasil dia hampir aja tisusruk( terjungkal)


"Ok Neng coba lagi, Bissmilah slow aja." Dengan pelan dia menstater motor nya dan dengan lembut serta perlahan Deva memasukan gigi sembari menekan tuas kopling motor itu lembut dan hati hati.


Setelah perjuangan nya mengendarai motor trail yang tidak pernah dia kendarai bahkan menyentuhnya pun Deva tidak pernah. Alhasil dengan keyakinan nya Deva bisa menguasi motor itu dengan mulus. Deva mengarahkan motor yang dia kendarainya itu ke arah yang sudah dia undi sebelum nya tadi.


🐉🐉🐉


"Boss kita sudah menemukan lokasi kakak ipar." Basstian menyerahkan sebuah laptop yang memperlihatkan sebuah peta yang terdapat satu tanda titik merah besar yang menandakan keberadaan Deva.


"Kita kesana segera."


Basstian menganggukan kepalanya, namun saat dia hendak melihat laptop itu Basstian melihat tanda titik merah bergerak


"Boss sepertinya kakak ipar di pindahkan lagi."Dominic dengan cepat merebut laptop yang tengah di pegang oleh Basstian


"Shiitt! mereka akan membawanya kemana lagi." Dom terus memantau titik merah yang terus bergerak cepat


"Sepertinya mereka membawa kakak ipar ke arah barat Boss, di sana adalah sebuah hutan yang bertebing curam!"


wajah Dominic menegang seketika saat mendengar ucapan Basstian. Apa yang ingin mereka lakukan pada istrinya itu di sana, apa mereka akan membunuh istrinya? Tidak tidak Dominic tidak akan membiarkan itu terjadi


"CEPAT LEPASKAN BLACK DAN BLADE CEPATTTT!!!" Suara mengelegar Dominic membuat Basstian dan ke lima bawahan nya sedikit terlonjak kaget.


Salah satu dari mereka mengeluarkan dua buah kandang besi yang diangkut oleh Hellikopter yang mereka tumpangi tadi


Kini Dom dan Basstian masih berada di rumah persinggahan nya yang ada di NewYork. Rumah yang biasa dia gunakan untuk menginap ketika dia berkunjung ke kota itu.


***

__ADS_1


Sudah satu jam Deva mengendarai motornya namun dia belum juga menemukan pemukiman yang di maksud oleh penjaga itu tadi


"Mana dayeuh na! beki kadie beki ka leweng gening." ( mana pemukiman nya makin kesini makin ke hutan aja)


Deva berkali kali menghembuskan nafasnya dan yang paling membagongkan jalan dan arah yang di pilih Deva kini menuju ke arah sebuah jurang terjal mengarah ke laut lepas.


"Itu laut." Deva memelankan laju motor nya ketika beberapa puluh meter lagi dia bersilaturahmi dengan bibir jurang.


Deva melepaskan helm nya dengan gaya slowmotion


"Wow..." Deva menatap lautan luas yang membentang sejauh mata memandang




Deva bahkan melupakan sejenak tujuan nya saat melihat ciptaan Tuhan yang maha indah tengah ada di hadapan nya.


Namun dia tersadar saat berlian cincin yang ada di jari manis nya bersinar saat dia hendak mengangkat tangan nya ke udara.


"Abang.." Deva bergumam lirih, entah kenapa dia malah teringat dengan suaminya. Pasti saat ini suami bule nya itu tengah khawatir dan kebingungan mencarinya. Deva yakin Jack dan Yushika tidak akan diam saja mereka pasti sudah memberitahukan pada suami nya bahwa dia menghilang saat di supermarket.


***


Bugh..Bugh..Bugh..Bugh...


pukulan berkali kali di layangkan oleh Valdo pada ke empat bawahan nya


"DASAR BODOH!!! MENJAGA WANITA LEMAH ITU SAJA KALIAN TIDAK BECUS!!! BAHKAN DIA BISA BISA NYA MENYAKITI ROSSALINE!!! APA KALIAN BOSAN HIDUP HUH!!!"


Bugh..


Valdo kembali melayangkan pukulan nya ke salah satu dari mereka. Valdo tidak menyadari dua orang bawahan nya saling beradu tatap lalu kemudian mereka memalingkan wajahnya ke arah berlawanan


"AKU TIDAK MAU TAU, CARI WANITA SIALAN ITU SAMPAI DAPAT. KALAU TIDAK SIAP SIAP SAJA KEPALA KALIAN AKAN TERPAJANG DI LEMARI KACAKU."


Setelah mengucapkan Itu Valdo melangkahkan kaki nya keluar dari bangunan tua yang menjadi tempat terburuk bagi Deva, di ikuti oleh bawahan nya yang sudah menyiapkan satu buah mobil Range Rover Sport berwarna putih



"Let's game!" Valdo menampilkan senyum smirke nya saat melihat tanda merah yang di serahkan oleh bawahnya. Ternyata diam diam Valdo menempelkan alat pelacak pada tubuh Deva saat dia pingsan satu hari yang lalu.


***


"Posisi kakak ipar berhenti di daerah ini Boss!" Dominic meraih tab yang ada di tangan Basstian. Dia melihat titik Deva berhenti tidak bergerak lagi, itu bukannya membuat Dom lega namun malah membuat dia semakin khawatir pada keadaan sang istri.


"Percepat laju mobilnya." Bawahan Dom yang mengendarai mobil itu pun segera menambah kecepatan nya.


Mobil Range Rover Sport hitam luxury itu membelah hutan untuk mencari keberadaan sang nyonya besar Vins yang menjadi aset berharga klan Vins. Di ikuti oleh kedua anak asuh Dominic untuk mencari sang Mommy





Sementara itu Deva masih terduduk di atas motor nya sembari memejamkan kedua matanya. Menikmati semilir angin yang menyejukan hati serta jiwanya. Sudah lama Deva tidak merasakan kesegaran alam sesudah dia menginjakan kaki nya di Benua ini , Deva rindu kampung halaman nya, Deva rindu sahabat nya, Deva rindu semua yang ada di sana.


Tanpa dia sadari satu titik bulir air mata nya menetes saat dia masih memejamkan rapat manik coklat tua nya itu.


Deva membuka matanya saat dia mendengar sayup sayup suara kendaraan mulai mendekat ke arah nya. Dengan cepat Deva memakai kembali helm fullface nya dan segera memutar balikan motor trail nya ke arah tadi karena tidak mungkin dia berjalan luruh karena di depan nya jurang curam yang tinggi dan langsung mengarah ke laut.


Deva menstater motor nya dengan cepat dia melajukan motor nya berbelok ke arah hutan saat dia tidak sengaja melihat ada jalan setapak di sana. Deva yakin itu adalah suara mobil yang tengah mengejarnya siapa lagi kalau bukan Valdo. Deva menyesal sudah membuang buang waktu nya tadi, dengan kecepatan tinggi Deva membelah jalan kecil itu, untung saja saat di kampung Deva sudah terbiasa dengan jalanan berbatu,licin dan becek seperti ini.


Saat jalan setapak itu habis dan mengembalikan Deva ke jalan utama Deva terlihat bernafas lega. Namun Deva segera mengerem mendadak saat dia melihat satu buah mobil menuju ke arah nya yang tengah berlawanan dengannya. Deva menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskan nya perlahan.


Sebenarnya berapa mobil sih yang tengah memburunya saat ini, astaga Deva merasa seperti penjahat kelas import sekarang atau bahkan seperti agen FBI. Deva tidak mematikan mesin motornya bahkan dia sudah siap menerjang siapa saja yang berani menghalangi jalan nya saat ini. Hingga dia melihat seseorang keluar dari mobil itu...


DEG....

__ADS_1


**HOLLA BUNASARAN YAK, SAMA NENG OTHOR JUGA ! JADI TETAP PANTENGIN TEROS YAAAAAAA GAAEEESSSSS


BABAYYYY...SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA**


__ADS_2