
Operasi yang di lakukan oleh Dominic berjalan lancar beberapa jam yang lalu. Donor darah pun berhasil mereka dapatkan dari rumah sakit lain.
Kini dia masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan Deva yang setia menemani nya sembari terus menggenggam erat jari tangan nya.
Cleekk...
Pandangan Deva teralihkan ke arah pintu saat ada seseorang yang masuk
"Kakak ipar makan dulu, sejak tadi kakak tidak makan." Deva masih mengacuhkan perkataan Basstian. Namun seperdetik kemudian dia mengusap perut ratanya, dia ingat bahwa saat ini ada kehidupan lain di dalam tubuhnya yang harus dia jaga. Deva belum memberi tahukan siapa pun soal kehamilan nya, Dia ingin orang pertama yang tahu adalah suaminya.
Deva beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju sofa yang ada di ruangan itu.
Deva membuka bungkusan yang di bawa oleh Basstian. Dengan terpaksa Deva harus memakan serta menelan habis makanan itu. Seandai nya dia sendiri dan tidak ada sang buah hati yang tengah menempati rahim nya saat ini, Deva tidak akan peduli dengan dirinya sebelum dia melihat suaminya sadar.
"Aku sudah memberitahukan Jack soal ini." Deva hanya menganggukan kepalanya. Dia masih kepikiran dengan ucapan Dokter yang menangani Dominic beberapa jam lalu
'Operasi suami anda berjalan lancar nyonya, tapi kemungkinan suami anda akan sadar tapi butuh beberapa hari kedepan. Tusukan itu hampir saja mengenai jantung serta hati nya, jadi pasien sangat membutuhkan istirahat extra.'
Deva tidak bisa membayangkan kalau tusukan belati itu mengenai jantung Dominic, apa yang akan terjadi padanya.
"Aku keluar sebentar ya kak, kalau ada apa apa cepat hubungi saja." Deva menganggukan kepalanya sembari tersenyum tegar.
Setelah menghabiskan makanan nya, Deva pun kembali mendekat ke arah tempat tidur Dominic.
"Abang kenapa gak bangun bangun, neng takut." Air mata Deva kembali tumpah namun dengan cepat dia menyeka nya. Dia tidak boleh cengeng dan lemah ,dia harus kuat demi calon bayinya serta suaminya. Dia tidak boleh stres karena .
"Disini ada dede bayi kita, Abang gak mau ketemu sama bibit unggul si Cau Boma punya Neng apa? Dede bayi pingen ketemu sama Ayah nya." Deva meraih tangan Dom yang terbebas dari infus untuk dia bawa ke arah perut yang masih rata itu.
"Abang bangun." Deva bergumam lirih sembari terisak dan menenggelamkan wajahnya di telapak tangan besar Dominic.
***
BEBERAPA JAM LALU DI TEMPAT LAIN
"AAAAKKHH PELAN PELAN GOBLOG!"
Pekikan keras seorang pria yang sedang menahan sakit ketika seseorang mencoba mengeluarkan pelurunya
"Sedikit lagi tuan."
Tak..
Satu butir peluru yang bersarang di dada sebelah kanan nya pun berhasil di keluarkan oleh salah satu tim medis yang di bawa oleh anak buah Valdo ke markas nya.
"Sudah selesai, luka nya jangan sampai terkena air terlebih dahulu selama tiga hari. Kalau begitu saya permisi." Petugas kesehatan itu pergi setelah menyelesaikan tugasnya. Sebenarnya dia di paksa oleh bawahan Vedro padahal itu melanggar aturan seharus nya Valdo di bawa ke fasilitas kesehatan langsung , tapi karena tidak mau mengambil resiko Valdo menyuruh bawahan nya untuk membawa petugas itu ke markasnya yang ada di NewYork.
BRAKKK...
Suara keras pintu terbuka
"Ya ampun sayang kau kenapa." Pekikan keras dari orang yang membuka pintu itu tadi
Dengan langkah tergesa wanita itu segera menghampiri Valdo yang masih terbaring di atas tempat tidur.
"Aku tertembak ." Wanita itu mengusap lembut perban yang membalut dada Valdo.
"Siapa yang melakukan nya."
"Basstian."
"Bocah itu, lalu apa yang kau lakukan padanya."
"Tidak ada!"
"APAAA!" Wanita itu memekik tak percaya bahwa kekasih nya itu membebaskan orang yang sudah mencelakainya.
"Sudah lah Rossaline, aku sudah membalasnya dengan menusuk tepat di dada seseorang."
"Maksud mu, seseorang siapa?" wanita itu menatap serius ke arah Valdo
__ADS_1
"Dominic, aku berhasil menusuknya tepat di dadanya. Semoga saja di tidak tertolong, aku yakin si brengsek itu akan mati karena kehabisan darah."
Rossaline tersenyum lebar mendengar ucapan Valdo
"Kau memang selalu bisa di andalkan sayang." Rossaline segera mencium lembut bibir Valdo dan Valdo tidak menyia nyiakan itu semua dia pun membalas nya dengan rakus.
Prok
Prok
Prok
Terdengar tepukan tangan dari arah pintu masuk kamar yang tengah mereka tempati membuat mereka berdua terpaksa melepaskan tautan bibir mereka dan segera mengalihkan atensi nya kearah pintu
"Wow... Adegan apa ini!"
"Miranda..."Guman Valdo dan Rossaline bersamaan
"Jadi ini kelakuan kalian berdua di belakang ku hem. Hei kau jalang busuk, setelah ibu jalang mu itu merebut Daddy ku dari ibuku sekarang kau ingin merebut kekasih ku dari juga huh."
"Miranda hentikan ocehanmu itu!"
"DIAMMM!" Miranda mengikis jarak semakin mendekati Valdo dan Rossaline
Greep... Miranda menjambak kasar dan kencang rambut pirang panjang milik Rossaline hingga wanita itu berteriak kesakitan.
"Aakkhhh!!!"
"Sakit hum." Miranda semakin kencang menarik rambut Rossaline membuat wanita itu mendongakan wajah nya
"APA YANG KAU LAKUKAN MIRANDA! LEPASKAN ROSSALINE SEKARANG JUGA!" Valdo berusaha untuk bangun namun karena luka nya belum sembuh dia masih tidak bisa melakukan lebih selain berteriak pada Miranda
"Kau membela nya huh! KAU MEMBELANYA SIALAN! KAU MEMBELA JALANG BUSUK INI SETELAH APA YANG AKU KORBAN KAN UNTUK SELAMA INI BAJINGANN!"
DOR...
Miranda mengarahkan senjatanya ke arah Valdo dan melepaskan satu timah panas ke samping kiri kepalanya. Hanya berjarak beberapa centi meter saja dari kepala Valdo.
"Lepaskan hm." Miranda berdecis melihat wajah Rossaline yang terlihat menantang nya.
"Baiklah aku akan melepaskan mu...( dia menjeda), Melepaskan nyawamu dari raga mu."
DOR...
Valdo menegang saat melihat Miranda menembak tepat di pelipis Rossaline yang membuat wanita sexy itu tersungkur seketika
"ROSSALINE!!!" Valdo berusaha turun dari tempat tidurnya namun di tahan oleh Miranda.
"Jalang mu sudah mati , jadi mulai sekarang kau adalah milik ku dan budak ku Vedro. Jangan main main dengan ku kalau kau tidak ingin satu peluruku menembus jantung mu juga. Cepat sembuh dan jalankan rencana kedua untuk mengambil alih semua aset Vins ." Dengan santai Miranda memasukan kembali senjatanya kedalam tas mahal miliknya dan melangkah keluar dari kamar itu.
"Bereskan bangkai jalang yang ada di dalam." Bawahan Valdo pun hanya mengangguk patuh pada Miranda. Mereka tahu Miranda adalah wanita ambisius dan licik sama seperti Ayahnya dia akan melakukan segala cara sampai tujuan nya berhasil, termasuk membunuh saudara tirinya sendiri.
"Rossaline....Awas kau Miranda, aku akan membalasmu!"
***
Clekk....
Pintu kamar mandi terbuka, Deva sudah selesai membersihkan diri.
"Kak ini yang kakak ipar pesan tadi." Basstian menyerahkan satu paperbag besar pada Deva
"Terimakasih Bass!" Basstian menganggukan kepalanya dan kembali duduk di sofa.
Deva membuka paper bag yang di bawakan oleh Basstian, ternyata isinya adalah satu perangkat alat sholat dan sebuah Al-Qur'an.
Deva segera memakai mukena itu dan mendudukan diri di sebuah kursi di sisi tempat tidur Dominic.
__ADS_1
Dengan berawal mengucap Bassmalah Deva mulai melantunkan ayat ayat suci Al-Quran di dekat telinga Dominic. Dengan bacaan fasih dan benar Deva melantunkan nya dengan hati ikhlas, dia bermunajat pada sang Khalik lewat doa. Deva memohon dan meminta agar Tuhan segera memberikan kesehatan dan kesadaran pada suaminya.
Basstian yang mendengar Deva melantunkan ayat ayat suci yang belum dia mengerti pun hanya tertegun. Entah kenapa hatinya begitu tentram saat mendengarnya.
Dengan di iringi isakan kecil Deva mengakhiri ngaji nya. Dia menatap lekat wajah suaminya yang masih terpasang alat alat medis ,begitu juga di dada serta perutnya.
"Abang cepet sadar ya, neng udah kangen. Abang jangan tidur terus, kalau Abang tidur terus nanti neng marah loh sama Abang! Neng gak bakalan ngasih jatah buat Si Cau Boma selama sebulan kalo Abang gak bangung bangun." Deva menenggelamkan wajahnya di lengah kekar Dominic yang tengah dia peluk.
"Maaf nyonya waktunya saya membersihkan tubuh pasien." Deva mendongakan wajahnya saat dia merasa ada yang menepuk pundak nya
"Ada apa sus." Deva menyusut kasar air matanya
"Saya harus membersihkan tubuh pasien terlebih dahulu." Suster itu hendak membuka kancing piyama rumah sakit yang di kenakan oleh Dominic.
"Kamu siapa berani megang suami saya huh." Deva mecekal tangan suster itu ,tidak ada kata neng di sana berarti Deva sedang dalam mode buruk.
"Saya hanya ingin membersihkan tubuh pasien saja nyonya." Suster itu terlihat memaksa
"Memang nya kamu siapa, istrinya, ibu nya! bukan kan! Saya istrinya jadi saya yang berhak atas suami saya. Lebih baik kamu pergi, urus saja pasien kamu yang lain."
Suster itu terlihat mencebikan bibir nya saat melihat kemurkaan wanita mungil di hadapan nya
"EH KUNAON MANEUH CAK CEK CAK CEK HUH, MENTA DI JEJELAN CABE KU AING!" ( eh kenapa kamu cak cek cak cek huh, minta di jejelin cabe sama aku)
Basstian yang melihat situasi semakin tidak kondusif pun segera mengambil tindakan
"Lebih baik kau pergi sebelum kakak ipar ku menelan mu hidup hidup." Basstian segera membuka kan pintu ruangan itu dan meminta suster centil itu untuk segera meninggalkan mereka
"Heh kunaon maneuh indit."(heh kenapa kamu pergi)
Deva kembali berucap saat melihat suster itu pergi dari ruangan suaminya
"Sudah lah kakak ipar jangan membuang tenagamu hanya untuk wanita tidak tahu diri seperti dia."
Deva menghembuskan nafasnya berkali kali, mencoba menetralkan emosinya. Entah semenjak hamil yang kedua ini Deva selalu saja emosian jangan jangan besok anak nya pemarah lagi. Amit amit ulah sampe( jangan sampe) .
Deva kembali mendekat ke tempat tidur. Dia melepaskan satu persatu kancing piyama rumah sakit yang di pakai oleh suaminya.
"Bass bantuin Neng lepasin lengan bajunya." Basstian pun mendekat untuk membantu Deva melepaskan lengan baju yang ada di tangan terinfus.
Deva memeras handuk yang sudah di celupkan pada air hangat dan memulai untuk mengelap tubuh atletis suaminya. Pantesan aja si suster ngesot ngotot pingin ngelapin tubuh Dominic, roti lapis nya bikin ngiler. Deva aja jadi mupeng lihat nya, apa jangan jangan gara gara hormon juga Deva jadi mesum gini.
Dengan perlahan Deva mengelap lembut wajah, lengan, leher dan dada serta perut Dominic. Deva mengusap lembut dada suaminya yang masih terbalut perban dan matanya kini terarah fokus pada tatto naga yang ada di dadanya.
"Bass sejak kapan Abang masang tatto di sini." Basstian menegakan wajahnya ke arah Deva saat sang kakak ipar bertanya padanya
"Kalau tidak salah saat dia masih berusia 17 tahun, katanya Jack sih. Aku belum tahu kak soalnya pas aku di angkat adik oleh Boss dulu, aku sudah melihat dia bertatto di dada dan punggungnya."
Deva menganggukan kepalanya dan kembali mengelap lembut bagian perut Dominic.
"Pasti sakit." Deva bergumam lirih namun masih terdengar oleh Dominic
"Tidak sesakit di tinggalkan oleh orang yang kita cintai." Deva menoleh pada Basstian yang terlihat fokus pada laptop dan ponselnya
"Ya ampun kamu were naon Bass."( mabok apa bass) Deva terkekeh mendengar ucapan Basstian yang terdengar seperti orang yang baru saja putus cinta.
'Apa pun yang terjadi neng gak bakalan ninggalin Abang, Abang juga harus janji gak bakalan ninggalin kita berdua. Abang harus kuat, Abang harus sembuh. Kita selalu nunggu Abang di sini, Abang cepet bangun ya jangan tidur terus.'
Deva merintih dalam hati melihat kondisi Dominic yang masih terbaring lemah di ranjang mewah rumah sakit.
CUP...CUP...CUP...
"Abang cepet bangun ya."
HOLLA NINI KUNTI SATU NYA UDAH PUNAH, KINI DATANG LAGI SI SUSTER NGESOT.
HAYUK ATUH ABANG GERA BANGUN KASIAN NENG DEVA.
HAMPURA NYAK BARU UP, SOALNYA KEMAREN NENG OTHOR SIBUK BANGET DARI PAGI SAMPE SORE.
JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN NYA YA
__ADS_1
HATUR NUHUN....