ABANG BULE ITU JODOHKU

ABANG BULE ITU JODOHKU
Akhir Yang Menjadi Sebuah Awal


__ADS_3

7Bulan kemudian


"Abanggg...!" Deva berjalan agak ngangkang dengan perut yang sangat besar. Wajar saja besar wong si Utun nya ada dua.


"Abangggg...! " Deva terus berteriak memanggil suami bule nya itu. Tapi yang di cari tak kunjung menampakan batang nya eh maksud nya batang idung nya. Kan kan kan gagal pokus neng othor jadi nya.


"Ab...!"


"What heppen , aya naon sayang." Belum selesai Deva berucap Dominic dengan cepat memotong nya.


"Abang dari mana sih." Dominic menuntun Deva agar duduk di sofa


"Abang dari depan ngantar Jack ."


Deva mendongakan kepalanya


"Emang nya Jack mau kemana?"


"Dia mau ke spanyol." Dom memberikan satu gelas susu yang sudah dia sediakan untuk Deva tadi


"Lah mau ngapain dia ke Spanyol. Jangan bilang Jack mau ikut Matador gara gara patah hati gak bisa bawa Yushika lagi." Dominic terkekeh mendengar celotehan bumil satu ini


"Ada urusan yang harus dia selesaikan di sana. Sebernarnya Abang yang harus pergi tapi Abang tidak tega ninggalin kamu sayang. Apa lagi si twins sudah mau lahiran, Abang mau jadi Ayah dan suami siaga." Deva mengembangkan senyum nya selebar mungkin dan cup, dia memberi kecupan di rahang suaminya


"Mani amis pisan sih omongan na jiga cai kawung."( manis banget sih ucapan nya kayak air aren)


Dominic terkekeh dan merengkuh tubuh gembul mungil itu


"Tapi Jack gak bakalan bunuh diri kan di sana. Atau jangan jangan Jack mau macarin banteng di Spanyol."


"Mulut nya loh yang. Dia kesana untuk mengurus hotel yang Abang bangun, Jack masih punya akal sehat kok tenang saja. Lagian kenapa kamu khawatir sekali padanya." Dominic memicingkan matanya, ada yang maen maen nih.


"Ya iyah neng khawatir."


"Kenapa? Kamu ada main sama Jack" Dom semakin tidak tenang


Pletak...


"Sungut !" (Mulut)


Dom mengelus bibir nya yang di sentil oleh Deva


"Ati ati loh nanti omongan Abang bisa jadi doa."


Dominic langsung menggelengkan kepalanya kencang kencang


"Ya Allah maafkan saya." Dominic mengadahkan kedua tangan nya seperti sedang berdoa.


" Terus kenapa kamu khawatir pada bujang malang itu."


Deva melirik sinis pada sang suami, cih bujang malang cenah. Anda tidak sadar dirikah, berapa umur anda saat menikahi saya.


Ingin Deva berucap begitu namun hanya dalam hati nya


"Soalnya Jack minjem kolor Abang seminggu yang lalu tapi belum di balikin. Kolor nya baru neng beli lagi, emang ya si Jack tau aja kalo itu kolor mahal."


"HAH."


***


Brakk...


" Jadi yang membunuh putriku Miranda!" Perempuan setengah baya itu murka saat mengetahui siapa yang telah meleyapkan putri satu satunya .


"Kau tenang saja aku sendiri yang akan meleyapkan wanita ular itu."


"Kau harus menepati nya Rivaldo. Demi keadilan untuk putriku."


"Ya aku berjanji padamu."


Wanita paruh baya itu pun menganggukan kepalanya. Dari sorot matanya dia sangat mengharap ucapan pemuda itu bisa terwujud.


"Aku akan menghabisi mu Miranda. Ini sudah saat nya setelah aku lama menunggu."


***


"Dad!"


Fransisco mumutar tubuh nya saat mendengar suara sang putri siapa lagi kalau bukan Miranda.


"Dad kau tidak bisa terus mendiamkan ku . Daddy tahu ini sudah 8 bulan setelah kematian anak haram mu itu. Tapi Daddy terus saja mendiamankan ku!"


"Jangan panggil sodari mu dengan sebutan itu Miranda." Frans sudah geram dengan sikap sang putri


"Itu memang kenyataan nya! Bahkan kau lebih menyayangi anak haram mu dari pada aku putri sah mu. Dengar Dad, aku bisa melakukan apa yang aku lakukan pada Rossaline pada mu juga Dad."


Frans mengepalkan kedua tangannya, Miranda benar benar tidak pandang bulu.


"Lakukan apa pun yang kau mau. Daddy sudah tidak peduli lagi."


***


"Kekasiiiihhh .. Di mana kurang nya aku padamu


Sehinggaaa .. Kau tak dapat melihat cintaaa


Sakitmuuu .. Selalu aku yang ada untuk mu


Senangmuu.. Tak pernah kau bagi untuk ku


Harus nya aku bukan lah si Rinaaa


Orang pertama kau cinta


Harus nya aku bukan si Rinaaa

__ADS_1


Orang yang pertama kau cinta..."


"Asyiikk curhat dong mah."


"Kampret!"


Wulan melempar buku paket yang ada di tangan nya ke arah Aqilla


"Bagas ontohod, teu boga hate! keur nyeri hate mah sia datang ka aing. Ari geus waras kalah ninggalkeun aing! Jingan sia!" ( Bagas sialan, gak punya hati! lagi sakit hati datang pada ku. Kalau udah sembuh malah ninggalin aku! bajingan kamu)


Wulan terus saja mengumpati pria yang bernama bagas itu. Kalian tahu readers bagas adalah salah satu teman si Yugha makanya kelakuan nya 11 12 sama temen nya itu.


"Sabar atuh buk sabar. Jelma( orang) sabar sawah na lebar."


Aqilla menepuk nepuk pundak Wulan agar sahabatnya itu tidak emosi


"Bayangkeun sahabat bayangkeun. Di tinggalkeun pas keur nya'ah nya'ah na kumaha rasa na. Rasa na anjim pisan!" ( Bayangkan sahabat bayangkan. Di tinggalin pas lagi sayang sayang nya gimana rasanya. Rasanya anjim banget)


Ting....


Suara ponsel Aqilla membuatnya tidak melanjutkan ucapan nya untuk membalas ucapan Wulan.


πŸ“©Kak Babas


"Baby."


Aqilla mengerenyitkan dahinya saat membaca pesan dari Basstian


"Sarap yeh jelma." ( sarap nih orang)


πŸ“€To kak Babas


"Naon kak." Send


πŸ“©Kak Babas


"Kangen."


Aqilla malah begidig geli membaca pesan balasan dari Basstian


πŸ“€To kak Babas


"Qilla mah enggakπŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›." send


πŸ“©Kak Babas


"πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­πŸ›«πŸ›«πŸ›«πŸ›«πŸ›« ."


Aqilla malah terkikik sendiri saat membaca pesan balasan dari Basstian tanpa membalas nya lagi.


"Kunaon maneuh seuri sorangan( kenapa kamu ketawa sendiri). oh diriku tau, dirimu menertawai diriku kan kan. Ngaku gak!"


Wulan mengguncang guncang tubuh Aqilla


"Tong sok luhur teing pd teh bisi murag, hayuk ah ka kantin mumpung jamkos."( jangan suka tinggi nian pd tuh takut jatuh. Ayo lah ke kantin mumpung jamkos.)


Wulan malah menenggelamkan wajah nya di atas meja


"Tenang weh nanti kalau ada si Bagas aku tendang biar meledak sekalian."


Wulan pun bangkit dengan semangat 45


"Mie ayam dua mangkok, es teh dua gelas! valid no debat!"


"Mayar sorangan!" ( Bayar sendiri)


Wulan menekuk wajah nya berlipat lipat sembari menurunkan bibir nya


"Canda bayar." Aqilla merangkul pundak sahabat nya itu sembari menyeretnya keluar kelas


Aqilla kini menjadi asisten guru silat di padepokan nya jadi setiap bulan Qilla sudah mendapatkan bayaran nya. Jadi Qilla bisa menabung sendiri dari uang yang di hasilkan nya selama menjadi seorang guru silat bagi adik adik kelas nya.


πŸ‰πŸ‰πŸ‰


"Abang mau kemana?" Dominic menghentikan langkah nya saat Deva sudah berada di belakang nya.


"Abang mau lihat Blade dulu ya. Kata penjaganya Blade sakit tidak mau makan." Dominic terlihat sangat khawatir sekali saat mendengar Blade tidak mau makan


"Neng boleh ikut."


Dom mendekat lalu berjongkok menghadap perut besar Deva


"Jangan ya, kamu gak usah ikut . Abang gak mau nanti kamu gak nyaman di sana, Abang juga cuma sebentar kok sayang. Mungkin Blade cuma mau di jenguk Daddy nya saja."


Deva menganggukan kepalanya walaupun bibir nya sudah dia majukan 5 centi


"Para jagoan Daddy jangan pada nakal ya. Daddy tinggalin sebentar kalian jangan pada keluar dulu. Kalau mau keluar tunggu Daddy pulang okey." Dominic membelai perut besar Deva dengan lembut sembari berbicara sendiri seolah tengah membujuk anak anak nya.


"Kok manggilnya Daddy sih kayak si Blade aja. Neng gak mau ah si Utun Utun di samain sama si Blade manggil Daddy. Emang nya mereka anak kucing apa." Deva benar benar tidak suka kalau nanti anak anak nya manggil sang Ayah Daddy. Dia tidak mau anak anak nya di sama kan dengan Blade dan Black


"Iya iya enggak atuh. Terus mau manggil nya apa sayang ku."


"Eemm....Apa ya? " Deva saja belum tau anak anak nya harus manggil apa pada suami nya kelak yang penting jangan Daddy. Mau itu papa, pipi, popo,popa, popi,pipo yang penting jangan Daddy!


Dominic mengerenyitkan dahinya saat melihat sang istri masih berfikir keras


"Besok aja deh kalo udah lahir. Neng juga masih pusing nyari nya."


Dominic menanggapinya dengan senyuman yang lebar. Sabar sabar kata Aqilla orang sabar sawahnya lebar.


"Ya sudah Abang pergi dulu ya. Jangan banyak bergerak, jangan naik tangga, jangan ke kebun,jangan ke kamar mandi sendiri minta antar Dorothi atau Caroll, dan jangan lupa kabarin Abang kalau ada apa apa kamu paham sayang."


Deva menganggukan kepalanya dengan malas. Pasti setiap suami nya hendak pergi petuah itu selalu dia dengar.


"Kalau neng rebahan terus nanti lahiran nya susah. Lebih bagus neng banyak gerak biar aktif mereka nya."

__ADS_1


"Iya iya, yang penting jangan cape cape. Minum susu nya jangan lupa."


"Iya Abang iya."


"Ya udah Abang pergi dulu."


Cup.. Cup..Cup..Cup..Cup..Cup


Dominic mengecup seluruh area wajah Deva. Mulai dari dahi kedua pipi hidung dagu , yang terakhir dan agak lama bibir tebal sexy milik Deva


🌹🌹🌹


" Kalian sudah membawanya." Mereka pun serempak menganggukan kepalanya


"Ok mari kita mulai."


Tap


Tap


Tap


suara langkah terdengar di lorong kumuh tersebut


Kriieeett....


Suara decitan pintu usang yang ada di ruangan itu pun terdengar nyaring.


"APA MAU MU BRENGSEK!!"


Pria itu menyeringai saat dia mendengar bentakan dari wanita yang tengah terikat di kursi


"Tenang lah Miranda sayang, aku hanya ingin bermain sedikit dengan mu. Setelah itu aku akan mempertemukan mu dengan sodari mu yang kau benci itu."


"HaaaHaaa....!" Pria itu menaikan sebelah alis nya saat mendengar wanita itu tertawa


"Astaga Vedro, kau menculik ku hanya untuk membunuhku dan kau berharap aku akan bertemu dengan anak haram Daddy ku itu haaa haaaa....! Kau bercanda."


Valdo mengepalkan kedua tangan nya. Wanita ular ini memang sudah tidak waras nyawa sudah di ujung penantian saja masih bisa tertawa.


"Tertawa lah Miranda, tertawalah semaumu sebelum malaikat maut menjemput mu." Miranda sedikit meringis saat Valdo mencengkram dagu nya kasar


"Bukan menjemputku... Tapi menjemput mu!"


Dugh...


Satu tendangan Miranda mengarah ke arah pangkal paha Valdo ,hingga membuatnya melepaskan cengkraman nya dan menekuk lututnya di lantai


"AAAKKHHH...WANITA SIALAN!! MATI SAJA KAU SIALAN!!" Valdo merasakan sakit dan ngilu di area pangkal pahanya. Astaga masa depan nya terancam semoga dia tidak impoten setelah mendapatkan tendangan dari Miranda.


Miranda berhasil melepaskan ikatan dari tangan nya setelah dia berhasil mengambil pisau yang ada di balik pinggang nya yang dia selipkan di celana jeans yang dia pakai.


"Bagai mana nikmat bukan." Miranda berjongkok di depan Valdo yang masih memegangi asetnya


"Wanita sialan." Desis Valdo saat Miranda berada tepat di depan wajah nya


"Mengumpat lah sesuka mu sebelum malaikat maut menjemput mu Honey."


"God Bye!"


Dor...


"LETAKAN SENJATAMU NONA!"


Miranda menoleh ke arah belakang tubuhnya. Ternyata sudah ada beberapa polisi dan seorang wanita paruhbaya di sana dan Miranda mengenal wanita itu.


"Jalang sialan." Miranda menajamkan matanya pada wanita paruhbaya itu


Dor...


Satu timah panas berhasil menembus dahi wanita paruhbaya itu


"MIRANDAAA!!!"


"Daddy."


Dorr...


Satu timah panas tertanam di kaki sebelah kanan Miranda namun tidak membuat nya merintih atau menjerit kesakitan. Bukan raga nya yang sakit tapi hati nya yang sakit saat melihat Ayah nya merengkuh tubuh kaku wanita jalang itu. Dugaan dia benar selama ini Ayah nya masih ada main dengan wanita itu.


"Bawa dia." Miranda di bawa oleh petugas tanpa perlawanan dan


Cuuiihh....


Miranda meludahi Franssisco tepat saat dia melewati pria paruhbaya yang tengah merengkuh tubuh kaku wanita yang di tembak tepat di dahi nya oleh Miranda.


"Kalian sangat cocok, keluarga bajingan dan jalang. Semoga kalian bertiga cepat berkumpul di neraka haaa haaa." Tawa Miranda menggema di ruangan itu bahkan masih terdengar saat dia sudah di bawa oleh para petugas.


**END....


TAPI BOONG**....



Potongan dialog...


Bruukkk....


"Londo edan motomu picek opo yo! wong sak ngene gede ne sek di tumbur wae!" ( bule gila mata mu buta apa ya! orang segini besar nya masih di tumbur aja) Raden Ajeng Ayunda Maheswaridiningrat


"Dasar awewe gelo jalan sa kitu lega na masih weh ngahakan jalan batur."( dasar cewek gila jalan segitu besar nya masih aja makan jalan orang.) Alltezha Devajuan Vins


Bagai mana ketika dua orang anak manusia bertemu dalam satu sekolah juga satu lingkungan hidup. Bagaiana jadinya saat dua sifat saling bertemu, dua bahasa saling beradu bacot saat mereka berdebat.


Saksikan lah hanya di sini dong dimana lagi, Semoga cepet publis ya ceritanya. Neng Othor tamatin yang ini dulu okey okey.

__ADS_1


**HATUR NUHUN JANGAN LUPA VOTE,LIKE DAN KOMEN NYA


BABAYYYYYY**.....


__ADS_2